Hmm.. sebuah ulasan yg mencerahkan sehingga saya forward lagi...
 
Apa penyebab pemanasan global?
 
Jawabannya gampang sekali... yaitu : MASS CONSUMPTION... KONSUMSI MASSAL.. 
KONSUMSI APAPUN... KONSUMSI BESAR-BESARAN PRODUK APAPUN SECARA MASSAL...
 
Inilah sesungguhnya biang dari kerusakan global itu... kita mengkonsumsi apapun 
secara lapar dan kadang memaksa diri demi sebuah image bahwa kita orang yg 
mengikuti zaman, trend dan kecendrungan pasar..
 
rumusan ini adalah salah satu tujuan utama Kapitalisme yaitu menciptakan 
manusia-manusia yg lapar, haus dan dahaga melahap apa saja produk pabrik-pabrik 
pemodal sesuai dgn sila pertama kapitalisme Global yaitu: KEUNTUNGAN YG MAHA 
BESAR DAN PEMENUHAN SYAHWAT HEDONISME  DALAM RANGKA PEMENUHAN KEBAHAGIAAN 
MATERI DAN INDERAWAI YG SEHEBAT-HEBATNYA.. I
 
ni sesuai dgn semangat pragmatisme ala negeri si laknat Bush dimana tujuannya 
adalah New world order, NOVUS ORDO SEKLORUM atau Tata dunia baru dgn sekelompok 
pemodal selaku monster-monster ekonomi yg kekuasaannya  melebihi negara bangsa 
di dunia....
 
Maka untuk melemahkan Negara bangsa dilakukan apa yg dinamakan Privatisasi 
asset-asset Negara  juga Deregulasi dgn tujuan membikin pemerintah tidak punya 
lagi otorita dan wewenang dan pasar bebas dgn tujuan menembus pasar antar 
negara tanpa ada proteksi dan hambatan-hambatan.. tujuannya dalam rangka MASS 
CONSUMPTION.. konsumsi massal tanpa kenal bangsa, ras dan warga negara... 
 
Dan ironinya makin kita doyan konsumsi apapun terutama: rokok, AC, Frezzer, 
mobil, Motor, kayu, minyak bumi, komputer,lampu listrik,  dll..dll..dll maka 
bumi ini akan makin panas.. makin panas dan makin panas dari hari kehari... 
kepulan dan hawa panas yg keluar dari materi-materi tsb mempengaruhi iklim 
secara global.. 6 milyar umat yg bermental materialist dan konsumtif 
betul-betul adalah bencana kemanusiaan dimasa mendatang...
 
dan yg terjadi adalah efek el nino dan la nina secara ekstrim diberbagai negara 
... petani jadi kesusahan menentukan musim tanam, pelaut ragu-ragu naik kapal, 
dan efek ini berpengaruh juga pada masyarakat kecil yaitu hujan terlalu lama 
berujung banjir dan pedagang kaki lima mungkin hanya duduk melamun depan TV 
kapan hujan akan berhenti... 
 
Maka untuk selamatkan bumi, sistem Kapitalisme ini perlu diganti... konsumsi 
perlu dikurangi dan kalau perlu dikendalikan.. kesejahteraan tidak identik dgn 
kemakmuran maupun kecukupan... sejahtera itu adalah Ikhlas lahir bathin 
menerima hidup apa adanya tanpa mesti mengejar-ngejar mimpi..
 
Dan untuk mengganti sistem berarti perlu pengambilalihan kekuasaan global, 
pemutarbalikan hegemoni global.. Dan itu berarti penguasa dunia saat ini perlu 
diturun panggungkan...mungkin ada baiknya umat yg religius lebih baik daripada 
umat yg lapar mengkonsumsi apapun... religi bisa membawa kita untuk legowo, 
sabar dan nerimo juga ikhlas menjalani hidup...
 
Kita mau ngejar apa???? kiamat kubro?? Pasti terjadi kalau bumi sudah muak dgn 
kita yg orang-orang konsumtif tanpa peduli bumi yg terus menerus dipanasi dgn 
produk-produk bikinan manusia..

Sang
 
Bunderan Mangga Indramayu
 
=======================================================

Apa Penyebab Utama Pemanasan Global?
 
by: Chindy Tan 
 
Dalam laporan PBB (FAO) yang berjudul Livestock's Long Shadow: Enviromental 
Issues and Options (Dirilis bulan November 2006), PBB mencatat bahwa industri 
peternakan 
menghasilkan emisi gas rumah kaca yang paling tinggi (18%), jumlah ini melebihi 
gabungan dari seluruh transportasi di seluruh dunia (13%). 

PBB juga menambahkan bahwa emisi yang dihitung hanya berdasarkan emisi CO2 
saja, padahal industri peternakan juga merupakan salah satu sumber utama 
pencemaran tanah dan air bersih. Peternakan melepaskan 9 % karbondioksida dan 
37 % gas metana (23 kali lebih berbahaya dari CO2). Selain itu, kotoran ternak 
menyumbang 65 % nitrooksida (296 kali lebih berbahaya dari CO2), serta 64 % 
amonia penyebab hujan asam 
 
www.pemanasanglobal.net 
Alarm tanda bahaya dampak pemanasan global berbunyi semakin nyaring.  
Pola pencairan es di Kutub merupakan salah satu indikatornya. Perubahan  
demi perubahan melaju dalam hitungan bulan. Tanggal 18 Maret 2008, Jay 
Zwally, ahli iklim NASA, memprediksi es di Arktika hampir semua akan 
mencair pada akhir musim panas 2012. Hanya dalam waktu dua bulan prediksi 
itu bergeser. Tanggal 1 Mei 2008 lalu, prediksi terbaru dilansir NASA: 
mencairnya semua es di Arktika bisa terjadi di akhir tahun 2008 ini.  
Sederet tanda-tanda bahaya yang telah terjadi sebelumnya adalah volume es 
di Arktika pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari empat tahun 
sebelumnya. Es di Greenland yang telah mencair mencapai 19 juta ton. 
Fenomena terbaru lainnya, pada tanggal 8 Maret 2008 beting es Wilkins di 
Antartika yang berusia 1500 tahun pecah dan runtuh seluas 414 kilometer 
persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya atau sepertiga luas Jakarta). 
Ada 400 miliar ton gas Metana di dasar laut Kutub yang dapat memusnahkan 
kehidupan di Bumi   
 
Efek domino apa yang membayang bila es di Arktika mencair semua? Mencairnya es 
di Arktika tidak akan menaikkan level permukaan air laut, melainkan akan 
mempercepat siklus pemanasan global itu sendiri. Bila es di Arktika mencair 
semua, 80% sinar matahari yang sebelumnya dipantulkan akan diserap 95% oleh air 
laut. Konsekuensi lanjut adalah potensi terlepasnya 400 miliar ton gas metana 
atau 3000 kali dari jumlah gas metana di atmosfer. Gas metana dapat terlepas 
akibat mencairnya bekuan gas metana yang stabil pada suhu di bawah dua derajat 
celcius. Seperti diketahui, gas metana memiliki efek rumah kaca 25 kali lebih 
besar dari gas CO2. Salah satu skenario yang mungkin terjadi adalah terulangnya 
bencana kepunahan massal yang pernah terjadi pada 55 juta tahun yang lalu 
dikenal dengan masa PETM (Paleocene-Eocene Thermal Maximum). Saat itu, gas 
metana yang terlepas ke atmosfer mengakibatkan percepatan pemanasan global 
hingga mengakibatkan kepunahan massal. Bukti
 

geologi lain menunjukkan kepunahan massal juga pernah terjadi 251 juta tahun 
lalu, pada akhir periode Permian. Akibat terlepasnya gas metana, lebih dari 94% 
spesies mengalami kepunahan massal. Kematian massal terjadi mendadak karena 
turunnya level oksigen secara ekstrem. 
 
Membaca fakta-fakta di atas, satu hal yang patut digarisbawahi adalah  
tenggat waktu yang semakin sempit. Dr. Rajendra K. Pachauri, Ketua  IPCC, 
menekankan bahwa dua tahun ke depan merupakan masa tenggat penting untuk 
menghambat laju pemanasan global yang bergerak dengan sangat cepat. James 
Hansen, ahli iklim NASA, mengatakan bahwa kita telah berada di titik sepuluh 
persen di atas batas ambang kemampuan Bumi mencerna CO2. Artinya, kita telah 
melampaui titik balik. Pada level saat ini, tindakan yang harus diambil 
bukan lagi mengurangi, melainkan menghentikan. 

Kita butuh kecepatan dan ketepatan membaca masalah hingga dapat memilih 
solusi yang efektif. Solusi yang mampu berpacu dengan waktu untuk 
memperlambat laju pemanasan global. Berkaitan dengan ini, dalam konferensi 
persnya di Paris, 15 Januari 2008, Pachauri mengimbau masyarakat dunia dalam 
tingkat individu untuk: pertama, jangan makan daging. Kedua, kendarai sepeda. 

Ketiga, jadilah konsumen yang hemat. 
Mengapa ?"jangan makan daging" berada pada urutan pertama? Fakta berbicara, 
seperti 
laporan yang dirilis Badan Pangan Dunia – FAO (2006) dalam Livestock's Long 
Shadow – Environmental Issues and Options, daging merupakan komoditas 
penghasil emisi karbon paling intensif  18%), bahkan melebihi kontribusi 
emisi karbon gabungan seluruh kendaraan bermotor (motor, mobil, truk, 
pesawat, kapal, kereta api, helikopter) di dunia (13%). Peternakan juga 
adalah penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 70% persen bekas 
hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Setiap 
tahunnya, penebangan hutan untuk pembukaan lahan peternakan berkontribusi 
emisi 2,4 miliar ton CO2. 
 
Memelihara ternak membutuhkan energi listrik untuk lampu-lampu dan peralatan 
pendukung peternakan, mulai dari penghangat ruangan, mesin pemotong, mesin 
pendingin untuk penyimpanan daging. Mesin pendingin merupakan mata rantai 
paling tidak efisien energi listrik. Hitung saja mesin pendingin mulai dari 
rumah jagal, distributor, pengecer, rumah makan, pasar hingga sampai pada 
konsumen. Mata rantai inefisiensi berikutnya adalah alat transportasi untuk 
mengangkut ternak, makanan ternak, sampai dengan elemen pendukung lain dalam 
peternakan intensif seperti obat-obatan, hormon dan vitamin. 

Mata rantai lain yang sangat tidak efisien tapi telah berlaku demikian 
kronis adalah pemanfaatan hasil pertanian untuk peternakan. Dua pertiga 
lahan pertanian di muka Bumi ini digunakan untuk peternakan. Sebagai contoh, 
Eropa mengimpor 70% protein (kedelai, jagung dan gandum) dari pertanian 
untuk peternakan. Indonesia sendiri pada tahun 2006 mengimpor jagung untuk 
pakan ternak 1,77 juta ton. Prediksi produksi pakan ternak naik dari 7,2 
juta ton menjadi 7,7 juta ton, kata Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan 
Unggas-Paulus Setiabudi (Kompas, 8 November 2007). Sementara itu, menurut 
data Indonesian Nutrition Network (INN), setengah dari penduduk Indonesia 
mengalami kelaparan tersembunyi (16 Sept 2005), sebagaimana yang dikemukakan 
oleh Menteri Kesehatan DR. dr. Fadillah Supari, SPJP(K). 
 
Tanggal 30 April 2008 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak segenap 
bangsa ini untuk bersama saling membahu menghadapi krisis pangan dunia. Akar 
masalah kelangkaan pangan jika dicermati salah satunya adalah krisis manajemen 
lahan itu sendiri. Secara matematis, inefisiensi pemakaian lahan pertanian 
untuk pakan ternak tercermin dari perhitungan kalori yang "terbuang" untuk 
membesarkan ternak cukup. Pakan yang selama ini diberikan kepada ternak dapat 
memenuhi kebutuhan kalori 8,7 miliar orang! Berarti masih ada kelebihan kalori 
untuk 2,1 miliar orang. Sebenarnya tidaklah sulit untuk memahami mendesaknya 
perubahan pola makan ini, yakni perubahan ke pola makan yang mata rantainya 
pendek. Perut manusia bisa langsung mencerna kedelai, jagung dan gandum tanpa 
harus melalui perut ternak terlebih dahulu. Tidakkah beralih ke pola makan 
bebas daging justru dapat menjadi solusi ketimpangan akses pangan seluruh 
dunia? 
 
Pertanian untuk pakan ternak itu sendiri merupakan penyumbang 9% CO2 
(karbondioksida), 65% N2O (dinitrooksida) dan 37% CH4 (metana). Perlu diketahui 
efek rumah kaca N2O adalah 296 kali CO2, sedangkan CH4 adalah 25 kali CO2. Satu 
lagi masalah industri peternakan yang sangat krusial yakni, inefisiensi air. 
Sekian triliun galon air diperuntukkan untuk irigasinya saja. Sebagai gambaran 
sederhana, untuk mendapatkan satu kilogram daging sapi mulai dari pemeliharaan, 
pemberian pakan ternak, hingga penyembelihan seekor sapi membutuhkan satu juta 
liter air! Data yang dihimpun Lester R. Brown, Presiden Earth Policy Institute 
dan Worldwatch Institute, memaparkan dalam bukunya "Plan B 3.0 Mobilizing to 
Save Civilization" (2008) bahwa karena untuk memproduksi satu ton biji-bijian 
membutuhkan seribu ton air, tidak heran bila 70% persediaan air di dunia 
digunakan untuk irigasi. 
 
Jejak emisi gas rumah kaca daging terukur jelas. Dr Rajendra memberi  
ilustrasi konversi energi untuk memelihara sampai menghasilkan sepotong  
daging sapi, domba atau babi sama besar dengan energi yang dibutuhkan untuk  
menyalakan lampu 100 watt selama 3 minggu. Satu kilogram daging menyumbang  
36,4 kg CO2, tidak heran bila data dari film dokumenter "Meat The Truth" 
menyebutkan emisi CO2 seekor sapi selama setahun sama dengan mengendarai 
kendaraan sejauh 70.000 km. Penelitian di Belanda (www.partijvourdedie.en.el) 
mengungkapkan, seminggu sekali saja membebaskan piring makan dari daging 
masih 7,6 kali lebih cepat dibandingkan gerakan hemat energi skala rumah 
tangga dalam setahun. 
 
Penelitian paling gres yang dilakukan Prof. Gidon Eshel dan Pamela A. Martin 
("Diet, Energy and Global Warming") merunut kontribusi setiap potongan 
daging terhadap emisi karbon. Penelitian ini diakui secara ilmiah dan 
dipublikasikan dalam jurnal bergengsi para ilmuwan Earth Interaction Vol. 10 
(Maret 2006). Jumlah gas rumah kaca yang diemisikan oleh daging merah, ikan, 
unggas, susu dan telur jika dibandingkan dengan diet murni nabati/vegan, 
ternyata jika satu orang dalam setahun mau mengganti diet hewani mereka ke 
diet nabati murni/vegan akan mencegah emisi CO2 sebesar 1,5 ton. Lima puluh 
persen lebih efektif daripada upaya mengganti mobil Toyota Camry ke mobil  
Toyota Prius hybrid sekalipun yang ternyata hanya mampu mencegah 1 ton emisi 
CO2. 
 
Objektivitas akan menuntun kita untuk mengakui pola konsumsi daging sebagai 
kontributor terbesar emisi gas rumah kaca. Pilihan kita tidak banyak, 
mengingat tenggat waktu yang demikian sempit. Mengutip tulisan Senator 
Queensland, Andrew Bartlett, bahwa seluruh dunia tidak mesti menjadi 
vegetarian atau vegan untuk menyelamatkan planet kita, tapi kita harus 
mengakui fakta-fakta ilmiah ini, bahwa jika kita tidak mengurangi konsumsi 
produk hewani, kesempatan kita untuk menghentikan perubahan iklim adalah 
nihil. Menurut Bartlett, tidak ada langkah yang lebih murah, lebih mudah dan 
lebih cepat untuk dilakukan yang dapat mengurangi kontribusi tiap individu 
terhadap emisi gas rumah kaca selain memangkas jumlah konsumsi daging dan 
produk susu dan olahannya. 
 
Aksi untuk hemat bahan bakar kita masih banyak bergantung pada fasilitas 
umum. Upaya yang paling bisa kita lakukan adalah menggunakan kendaraan umum. 
Namun, sudah menjadi rahasia umum, tidak mudah untuk menggunakan kendaraan 
umum jika berhadapan dengan kepentingan keamanan, dan untuk ini kita masih 
bergantung pada kebijakan pemerintah. Aksi hemat energi dalam konteks yang 
paling ideal bergantung pada teknologi. Sumber energi paling ramah 
lingkungan yakni tenaga angin, air, dan matahari, masih jauh membutuhkan 
teknologi dan biaya yang tidak kecil. Butuh waktu yang panjang dan upaya 
ekstra untuk menggerakkan kesadaran massal untuk hemat energi, hemat listrik, 
hemat bahan bakar karena harus berhadapan dengan kebiasaan dan perilaku yang 
telah mengakar. 
 
Mengubah pola makan juga berhadapan dengan kebiasaan yang telah mengakar. 
Namun, memegang sendok dan akhirnya menjatuhkan pilihan apa yang akan 
dimasukkan ke mulut kita, sepenuhnya berada di kendali kita. Langsung bisa 
dilakukan! Jarak antara piring dan mulut kita mungkin hanya sejarak panjang 
sendok, membalikkan isi sendoknya hanya butuh waktu sekedipan mata, tapi 
kendalinya ada pada mindset tiap kita. Sejenak, biarkan kepala dingin hadir. 
Mari dengan mata jernih melihat realitas, mengakui fakta betapa tekanan pola 
konsumsi daging sedemikian hebatnya pada daya dukung Bumi. Sejenak merasakan 
beban berat Bumi ini mungkin akan menggeser pilihan kita ke pola konsumsi tanpa 
daging, pola yang jauh lebih ramah Bumi. 
 
Selebritis Vegetarian Indonesia 
 
 
 


      

Kirim email ke