Aisyah Bhutta Islamkan Orangtua dan 30 Temannya              [PDF] 
<http://www.mualaf.com/kisah-a-pengalaman/muallaf-foreigner/2/548-aisyah\
-bhutta-islamkan-orangtua-dan-30-temannya?format=pdf>              
[Print] 
<http://www.mualaf.com/kisah-a-pengalaman/muallaf-foreigner/2/548-aisyah\
-bhutta-islamkan-orangtua-dan-30-temannya?tmpl=component&print=1&page=>
[E-mail] 
<http://www.mualaf.com/component/mailto/?tmpl=component&link=aHR0cDovL3d\
3dy5tdWFsYWYuY29tL2tpc2FoLWEtcGVuZ2FsYW1hbi9tdWFsbGFmLWZvcmVpZ25lci81NDg\
tYWlzeWFoLWJodXR0YS1pc2xhbWthbi1vcmFuZ3R1YS1kYW4tMzAtdGVtYW5ueWE%3D>
Kisah Mualaf        <http://www.mualaf.com/kisah-a-pengalaman>
-                           Kisah Foreigner       
<http://www.mualaf.com/kisah-a-pengalaman/muallaf-foreigner>
Monday, 14 April 2008 07:15       Aisyah Bhutta (34), dulu, ia bernama
Debbie Rogers. Kini hidup tenteram dan bahagia setelah memeluk Islam. Di
apartemennya yang terletak di Cowcaddens, Glasgow, ia melewati hari-hari
dengan amalan Islam. Rumahnya pun telah dihiasi dengan nuansa Islam. Di
dinding tergantung kaligrafi Al-Quran. Ada juga poster bergambar kota
suci Mekkah. Lalu jam yang disetel khusus dengan suara azan yang
senantiasa mengingatkanAisyah dan keluarganya tiap masuk waktu shalat.
Wajahnya kini terbungkus rapi oleh jilbab yang makin menunjukkan
kesalehannya. Dia sangat gigih dalam berdakwah. Tidak saja untuk
keluarganya dan kerabat bahkan tetangga-tetangga juga tak luput dari
dakwahnya. Alhasil, dia dapat mengislamkan orangtua, kerabat dan 30
temannya. Berikut kisahnya seperti dilansir dari Islamweb.com.


Bagi seorang gadis Kristen taat seperti Debbie Rogers, masuk Islam lalu
menikah dengan pria Muslim, adalah suatu hal yang luar biasa. Tak hanya
itu, ia juga telah mengislamkan kedua orantuanya, beberapa orang
saudaranya. Dan yang menakjubkan ia telah mengajak sedikitnya 30 orang
teman dan tetangganya masuk Islam!

Debbie Rogers dulunya berasal dari keluarga Kristen yang taat. Mereka
aktif dalam aneka kegiatan gereja. Kala remaja lainnya asyik dengan
idola mereka, misalnya mengoleksi poster penyanyi kesayangan mereka,
katakanlah seperti penyanyi terkenal George Michael atau asyik dengan
hura-hura sepanjang malam. Maka Debbie Rogers justru sebaliknya. Di
dinding kamarnya penuh dengan poster Yesus. Musiknya adalah musik
bernuansa rohani, bernada puji-pujian bagi Yesus. Itulah aktifitasnya
sebelum kenal Islam.

Tapi akhirnya dia "lelah" sendiri. Ia merasa tak mendapatkan
apa-apa dari apa yang dipelajarinya. Bahkan banyak sekali daftar
pertanyaan tentang paham Kristen yang tak berjawab. Debbie Rogers
kemudian berkenalan dengan seorang pria keturunan Pakistan, Muhammad
Bhutta namanya. Pria yang mengenalkan Islam padanya dan dikemudian hari
menjadi suaminya. Tapi jangan dikira ia masuk Islam gara-gara jatuh
cinta dengan Muhammad.

Terkesan dengan shalat

"Waktu itu saya masih kecil. Baru berumur 10 tahun. Kebetulan
keluarga kami punya toko dan Muhammad adalah salah satu pelanggan
tetapnya. Saya sering mengintip Muhammad kala shalat di belakang toko
kami.

"Dari wajahnya saya melihat pancaran kedamaian. Tampaknya dia sangat
ikhlas dan menikmati shalatnya. Kala saya tanya, dia bilang dia
orangIslam. Apa itu Islam?" tanya Aisyah kecil heran.

Berselang beberapa lama, dengan bantuan Muhammad, Aisyah cilik mulai
mendalami Islam lebih jauh. Sekitar lima tahunan ia pelajari kitab suci
tersebut dan menariknya dia telah mampu membaca seluruh isi Al-Quran
dengan bahasa Arab.

"Semua saya baca. Sungguh sangat menarik sekali. Serasa menancap di
hati," kenangnya.

Alhasil, di usianya yang ke-16 Debbie Rogers pun mengucap dua kalimah
syahadat. "Ketika saya mengucapkan kalimah itu, serasa seperti baru
melepaskan beban berat yang lepas dari pundak saya. Luar biasa. Saya
merasa seperti seorang bayi yang baru dilahirkan," ujarnya. Ia
lantas mengganti namanya, Debbie Rogers menjadi Aisyah.

Meskipun Aisyah sudah memeluk Islam, namun bakal calon mertuanya --ayah
kandung Muhammad-- tidak setuju putranya menikah dengan wanita Barat.
Orangtua Muhammad masih berpikiran tradisional yang menganggap perempuan
Barat sulit menerima Islam. Dan, menurut mereka, malah nanti Muhammad
yang dibawa ke jalan yang tidak benar. Mereka takut nanti nama keluarga
menjadi jelek di mata masyarakat Islam. Namun tekad Muhammad sudah
bulat. Iman Aisyah harus diselamatkan.

Muhammad melaksanakan pernikahan di mesjid setempat. Bahkan pakaian
nikah yang dikenakan Aisyah dijahit sendiri oleh ibu kandung Muhammad
dan saudaranya yang menyelinap secara sembunyi-sembunyi. Sebab bapaknya
menolak menghadiri acara sakral dalam hidup anaknya itu. Halnya Michael
dan Marjory Rogers, orangtua Aisyah, turut hadir di pernikahan anaknya.
Mereka mengaku terkesan dengan baju nikah Aisyah.

Hubungan hambar dengan bapaknya akhirnya mencair. Ceritanya, nenek
Muhammad datang khusus dari Pakistan untuk menjenguk cucunya yang baru
menikah. Bagi neneknya, pernikahan dengan perempuan Barat juga masih
tabu. Namun, semuanya berubah tatkala nenek Muhammad berjumpa dengan
Aisyah. Dia sangat takjub dengan perempuan Skotlandia itu yang sudah
mampu membaca Al-Quran dan menariknya lagi Aisyah bisa bercakap dalam
bahasa Punjab. Perlahan Aisyah telah jadi bagian dari keluarga besar
Muhammad.

Islamkan orangtua

Enam tahun kemudian, Aisyah mulai menjalankan misi sulit, yakni
mengislamkan kedua orangtua dan anggota keluarganya. Aisyah dan suaminya
menceritakan apa itu Islam. Aisyah sendiri kini telah berubah banyak dan
hal itu tentu bagian dari dakwah kepada kedua orangtuanya. Misalnya kini
dia jadi anak yang sopan, tidak suka membantah kata-kata orangtuanya
seperti dulu.

Kesan perubahan sikap dan tingkah laku sang anak rupanya merasuk ke hati
sang ibu. Tak lama, ibunya memeluk Islam dan berganti nama menjadi
Sumayyah.

"Bahkan ibu kini sudah mengenakan jilbab. Ibu shalat tepat waktu.
Kini tak ada yang menarik baginya kecuali senantiasa berhubungan dengan
Allah," tuturAisyah bangga.

Akan halnya dengan ayah Aisyah, ternyata sangat sulit untuk diajak. Ibu
Aisyah turut membantu mengenalkan sang ayah kepada Islam. "Ibu dan
saya sering berdiskusi tentang Islam. Nah satu hari kami duduk-duduk di
dapur. Lalu ayah berkata; Apa yang kalimat yang kalian ucapkan ketika
masuk Islam? Spontan saya dan ibu melompat ke atasnya," cerita
Aisyah sumringah. Ayah pun memeluk Islam.

Lalu, tiga tahun kemudian, abang kandung Aisyah juga mengucap dua
kalimah syahadah. Uniknya sang abang memeluk Islam melalui telepon,
karena ia tinggal agak jauh. Aisyah makin bersemangat tatkala melihat
istri abangnya, diikuti oleh anak-anaknya juga memeluk Islam. Bahkan
keponakan istri si abang juga masuk Islam. Bukan main bahagianya Aisyah.

Membuka kelas Islam

Saya belum mau berhenti berdakwah. Keluarga sudah, lalu saya beralih
kepada para tetangga di Cowcaddens. Kawasan ini perumahannya sangat
padat, bahkan bisa dikatakan kumuh. Tiap hari Senin selama 13 tahun saya
membuka kelas khusus tentangIslam bagi wanita-wanita Skotlandia yang ada
di situ," kisah Aisyah mengenang. Sejauh ini dia sudah berhasil
mengislamkan tetangga sekitar 30 orang.

"Latar belakang mereka macam-macam. Trudy misalnya, dia seorang
dosen di Universitas Glasgow. Trudy adalah seorang Katolik yang awalnya
mengikuti kelas saya untuk mengumpulkan data penelitian yang sedang
dikerjakannya. Namun setelah berjalan enam tahun Trudy memutuskan
memelukIslam. Menurutnya Kristen sulit diterima akal dan
membingungkan," sebut Aisyah. Trudy sendiri mengaku masuk Islam
karena terkesan dengan kuliah Aisyah yang mudah diterima dan masuk akal.

Disamping siswa non-Muslim, kelas binaan Aisyah juga dipenuhi oleh
gadis-gadis Islam yang telah terkena polusi pemikiran Barat. Menurut
Aisyah, justru mereka yang patut diselamatkan. Aisyah pun fleksibel
dalam kuliahnya. Dia menerima secara terbuka setiap pertanyaan dan
mengajak peserta berdiskusi.

Suami Aisyah, Muhammad Bhutta (43), tampaknya tidak begitu tertarik
untuk berdakwah di kalangan warga asli Skotlandia. Dia konsentrasi pada
usaha restorannya. Fokus suami Aisyah adalah keluarga dan usaha. Suami
nya yang bertugas memberikan ajaran Islam kepada kelima anaknya. Tumbuh
dengan akhlak dan nuansa Islam, itulah obsesi Aisyah dan suaminya akan
anak-anak mereka. Bahkan Safia, anaknya tertua yang berusia 14 tahun
menjadi sebab masuk Islamnya seorang wanita tua.

Ceritanya, suatu hari Safia melihat seorang nenek di jalan, dia tergerak
untuk membantu si nenek dengan membawakan belanjaannya. Sang nenek
rupanya terkesan. Tak berapa lama si nenek pun ikut kelas Aisyah Bhutta,
dan beberapa waktu kemudian akhirnya bersyahadat.

"Muhammad orangnya romatis," ujar Aisyah tersipu. "Saya
seakan telah mengenalnya selama berabad-abad. Jadi tak mungkin
terpisahkan. Dia bukan hanya kawan dalam hidup di dunia ini, tapi yang
lebih penting lagi semoga juga kawan di surga nanti dan selama-lamanya.
Itulah hal terindah," tutup Aisyah. [Zulkarnain
Jalil/www.hidayatullah.com]
Shalom,
Tawangalun.

Kirim email ke