hm, konon hal ini dibisniskan juga.

agar konsumsi dunia menurun, harus ada seleksi. manusia-manusia
pemangsa tak berguna [useless eater] harsu dimusnahkan, setidaknya
ditekan angkanya. tapi, kalau dengan perang aksi penyerangan pasti
akan kena pasal pelanggaran HAM, biar lebih ber"adab", canggih dan
ilmiah, bahkan mendatangkan profit, caranya antara lain dengan
memasukkan virus-virus penyakit tertentu ke dalam obat-obatan
[terutama yang disuntikkan] agar yang "terkena motif" dalam waktu
tertentu meninggal, yang dalam prosesnya pasti butuh obat untuk
mempertahankan diri dan kesehatannya, jadi WHO bisnis obat juga ya
lewat serum, dll, dll...

dan, siapa warga dunia tidak berguna [useless eater} ? kebanyakan
adalah dari teman, tetangga atau bahkan mungkin kita juga...warga
negara berkembang...lewat makanan instant, bumbu snack, pasta gigi,
serum, jarum suntik, cairan vaksin...

mau tahu apakah anda terkena motif? segera ke laboratorium klinik,
periksa darah...


2008/8/7 sangkakala . <[EMAIL PROTECTED]>:
> Hmm.. sebuah ulasan yg mencerahkan sehingga saya forward lagi...
>
> Apa penyebab pemanasan global?
>
> Jawabannya gampang sekali... yaitu : MASS CONSUMPTION... KONSUMSI MASSAL..
> KONSUMSI APAPUN... KONSUMSI BESAR-BESARAN PRODUK APAPUN SECARA MASSAL...
>
> Inilah sesungguhnya biang dari kerusakan global itu... kita mengkonsumsi
> apapun secara lapar dan kadang memaksa diri demi sebuah image bahwa kita
> orang yg mengikuti zaman, trend dan kecendrungan pasar..
>
> rumusan ini adalah salah satu tujuan utama Kapitalisme yaitu menciptakan
> manusia-manusia yg lapar, haus dan dahaga melahap apa saja produk
> pabrik-pabrik pemodal sesuai dgn sila pertama kapitalisme Global yaitu:
> KEUNTUNGAN YG MAHA BESAR DAN PEMENUHAN SYAHWAT HEDONISME  DALAM RANGKA
> PEMENUHAN KEBAHAGIAAN MATERI DAN INDERAWAI YG SEHEBAT-HEBATNYA.. I
>
> ni sesuai dgn semangat pragmatisme ala negeri si laknat Bush dimana
> tujuannya adalah New world order, NOVUS ORDO SEKLORUM atau Tata dunia baru
> dgn sekelompok pemodal selaku monster-monster ekonomi yg kekuasaannya
> melebihi negara bangsa di dunia....
>
> Maka untuk melemahkan Negara bangsa dilakukan apa yg dinamakan Privatisasi
> asset-asset Negara  juga Deregulasi dgn tujuan membikin pemerintah tidak
> punya lagi otorita dan wewenang dan pasar bebas dgn tujuan menembus pasar
> antar negara tanpa ada proteksi dan hambatan-hambatan.. tujuannya dalam
> rangka MASS CONSUMPTION.. konsumsi massal tanpa kenal bangsa, ras dan warga
> negara...
>
> Dan ironinya makin kita doyan konsumsi apapun terutama: rokok, AC, Frezzer,
> mobil, Motor, kayu, minyak bumi, komputer,lampu listrik,  dll..dll..dll maka
> bumi ini akan makin panas.. makin panas dan makin panas dari hari kehari...
> kepulan dan hawa panas yg keluar dari materi-materi tsb mempengaruhi iklim
> secara global.. 6 milyar umat yg bermental materialist dan konsumtif
> betul-betul adalah bencana kemanusiaan dimasa mendatang...
>
> dan yg terjadi adalah efek el nino dan la nina secara ekstrim diberbagai
> negara ... petani jadi kesusahan menentukan musim tanam, pelaut ragu-ragu
> naik kapal, dan efek ini berpengaruh juga pada masyarakat kecil yaitu hujan
> terlalu lama berujung banjir dan pedagang kaki lima mungkin hanya duduk
> melamun depan TV kapan hujan akan berhenti...
>
> Maka untuk selamatkan bumi, sistem Kapitalisme ini perlu diganti... konsumsi
> perlu dikurangi dan kalau perlu dikendalikan.. kesejahteraan tidak identik
> dgn kemakmuran maupun kecukupan... sejahtera itu adalah Ikhlas lahir bathin
> menerima hidup apa adanya tanpa mesti mengejar-ngejar mimpi..
>
> Dan untuk mengganti sistem berarti perlu pengambilalihan kekuasaan global,
> pemutarbalikan hegemoni global.. Dan itu berarti penguasa dunia saat ini
> perlu diturun panggungkan...mungkin ada baiknya umat yg religius lebih baik
> daripada umat yg lapar mengkonsumsi apapun... religi bisa membawa kita untuk
> legowo, sabar dan nerimo juga ikhlas menjalani hidup...
>
> Kita mau ngejar apa???? kiamat kubro?? Pasti terjadi kalau bumi sudah muak
> dgn kita yg orang-orang konsumtif tanpa peduli bumi yg terus menerus
> dipanasi dgn produk-produk bikinan manusia..
> Sang
>
> Bunderan Mangga Indramayu
>
> =======================================================
> Apa Penyebab Utama Pemanasan Global?
>
> by: Chindy Tan
>
> Dalam laporan PBB (FAO) yang berjudul Livestock's Long Shadow: Enviromental
> Issues and Options (Dirilis bulan November 2006), PBB mencatat bahwa
> industri peternakan
> menghasilkan emisi gas rumah kaca yang paling tinggi (18%), jumlah ini
> melebihi gabungan dari seluruh transportasi di seluruh dunia (13%).
> PBB juga menambahkan bahwa emisi yang dihitung hanya berdasarkan emisi CO2
> saja, padahal industri peternakan juga merupakan salah satu sumber utama
> pencemaran tanah dan air bersih. Peternakan melepaskan 9 % karbondioksida
> dan 37 % gas metana (23 kali lebih berbahaya dari CO2). Selain itu, kotoran
> ternak menyumbang 65 % nitrooksida (296 kali lebih berbahaya dari CO2),
> serta 64 % amonia penyebab hujan asam
>
> www.pemanasanglobal.net
> Alarm tanda bahaya dampak pemanasan global berbunyi semakin nyaring.
> Pola pencairan es di Kutub merupakan salah satu indikatornya. Perubahan
> demi perubahan melaju dalam hitungan bulan. Tanggal 18 Maret 2008, Jay
> Zwally, ahli iklim NASA, memprediksi es di Arktika hampir semua akan
> mencair pada akhir musim panas 2012. Hanya dalam waktu dua bulan prediksi
> itu bergeser. Tanggal 1 Mei 2008 lalu, prediksi terbaru dilansir NASA:
> mencairnya semua es di Arktika bisa terjadi di akhir tahun 2008 ini.
> Sederet tanda-tanda bahaya yang telah terjadi sebelumnya adalah volume es
> di Arktika pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari empat tahun
> sebelumnya. Es di Greenland yang telah mencair mencapai 19 juta ton.
> Fenomena terbaru lainnya, pada tanggal 8 Maret 2008 beting es Wilkins di
> Antartika yang berusia 1500 tahun pecah dan runtuh seluas 414 kilometer
> persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya atau sepertiga luas Jakarta).
> Ada 400 miliar ton gas Metana di dasar laut Kutub yang dapat memusnahkan
> kehidupan di Bumi
>
> Efek domino apa yang membayang bila es di Arktika mencair semua? Mencairnya
> es di Arktika tidak akan menaikkan level permukaan air laut, melainkan akan
> mempercepat siklus pemanasan global itu sendiri. Bila es di Arktika mencair
> semua, 80% sinar matahari yang sebelumnya dipantulkan akan diserap 95% oleh
> air laut. Konsekuensi lanjut adalah potensi terlepasnya 400 miliar ton gas
> metana atau 3000 kali dari jumlah gas metana di atmosfer. Gas metana dapat
> terlepas akibat mencairnya bekuan gas metana yang stabil pada suhu di bawah
> dua derajat celcius. Seperti diketahui, gas metana memiliki efek rumah kaca
> 25 kali lebih besar dari gas CO2. Salah satu skenario yang mungkin terjadi
> adalah terulangnya bencana kepunahan massal yang pernah terjadi pada 55 juta
> tahun yang lalu dikenal dengan masa PETM (Paleocene-Eocene Thermal Maximum).
> Saat itu, gas metana yang terlepas ke atmosfer mengakibatkan percepatan
> pemanasan global hingga mengakibatkan kepunahan massal. Bukti
> geologi lain menunjukkan kepunahan massal juga pernah terjadi 251 juta tahun
> lalu, pada akhir periode Permian. Akibat terlepasnya gas metana, lebih dari
> 94% spesies mengalami kepunahan massal. Kematian massal terjadi mendadak
> karena turunnya level oksigen secara ekstrem.
>
> Membaca fakta-fakta di atas, satu hal yang patut digarisbawahi adalah
> tenggat waktu yang semakin sempit. Dr. Rajendra K. Pachauri, Ketua  IPCC,
> menekankan bahwa dua tahun ke depan merupakan masa tenggat penting untuk
> menghambat laju pemanasan global yang bergerak dengan sangat cepat. James
> Hansen, ahli iklim NASA, mengatakan bahwa kita telah berada di titik sepuluh
> persen di atas batas ambang kemampuan Bumi mencerna CO2. Artinya, kita telah
> melampaui titik balik. Pada level saat ini, tindakan yang harus diambil
> bukan lagi mengurangi, melainkan menghentikan.
> Kita butuh kecepatan dan ketepatan membaca masalah hingga dapat memilih
> solusi yang efektif. Solusi yang mampu berpacu dengan waktu untuk
> memperlambat laju pemanasan global. Berkaitan dengan ini, dalam konferensi
> persnya di Paris, 15 Januari 2008, Pachauri mengimbau masyarakat dunia dalam
> tingkat individu untuk: pertama, jangan makan daging. Kedua, kendarai
> sepeda.
> Ketiga, jadilah konsumen yang hemat.
> Mengapa ?"jangan makan daging" berada pada urutan pertama? Fakta berbicara,
> seperti
> laporan yang dirilis Badan Pangan Dunia – FAO (2006) dalam Livestock's Long
> Shadow – Environmental Issues and Options, daging merupakan komoditas
> penghasil emisi karbon paling intensif  18%), bahkan melebihi kontribusi
> emisi karbon gabungan seluruh kendaraan bermotor (motor, mobil, truk,
> pesawat, kapal, kereta api, helikopter) di dunia (13%). Peternakan juga
> adalah penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 70% persen bekas
> hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Setiap
> tahunnya, penebangan hutan untuk pembukaan lahan peternakan berkontribusi
> emisi 2,4 miliar ton CO2.
>
> Memelihara ternak membutuhkan energi listrik untuk lampu-lampu dan peralatan
> pendukung peternakan, mulai dari penghangat ruangan, mesin pemotong, mesin
> pendingin untuk penyimpanan daging. Mesin pendingin merupakan mata rantai
> paling tidak efisien energi listrik. Hitung saja mesin pendingin mulai dari
> rumah jagal, distributor, pengecer, rumah makan, pasar hingga sampai pada
> konsumen. Mata rantai inefisiensi berikutnya adalah alat transportasi untuk
> mengangkut ternak, makanan ternak, sampai dengan elemen pendukung lain dalam
> peternakan intensif seperti obat-obatan, hormon dan vitamin.
> Mata rantai lain yang sangat tidak efisien tapi telah berlaku demikian
> kronis adalah pemanfaatan hasil pertanian untuk peternakan. Dua pertiga
> lahan pertanian di muka Bumi ini digunakan untuk peternakan. Sebagai contoh,
> Eropa mengimpor 70% protein (kedelai, jagung dan gandum) dari pertanian
> untuk peternakan. Indonesia sendiri pada tahun 2006 mengimpor jagung untuk
> pakan ternak 1,77 juta ton. Prediksi produksi pakan ternak naik dari 7,2
> juta ton menjadi 7,7 juta ton, kata Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan
> Unggas-Paulus Setiabudi (Kompas, 8 November 2007). Sementara itu, menurut
> data Indonesian Nutrition Network (INN), setengah dari penduduk Indonesia
> mengalami kelaparan tersembunyi (16 Sept 2005), sebagaimana yang dikemukakan
> oleh Menteri Kesehatan DR. dr. Fadillah Supari, SPJP(K).
>
> Tanggal 30 April 2008 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak
> segenap bangsa ini untuk bersama saling membahu menghadapi krisis pangan
> dunia. Akar masalah kelangkaan pangan jika dicermati salah satunya adalah
> krisis manajemen lahan itu sendiri. Secara matematis, inefisiensi pemakaian
> lahan pertanian untuk pakan ternak tercermin dari perhitungan kalori yang
> "terbuang" untuk membesarkan ternak cukup. Pakan yang selama ini diberikan
> kepada ternak dapat memenuhi kebutuhan kalori 8,7 miliar orang! Berarti
> masih ada kelebihan kalori untuk 2,1 miliar orang. Sebenarnya tidaklah sulit
> untuk memahami mendesaknya perubahan pola makan ini, yakni perubahan ke pola
> makan yang mata rantainya pendek. Perut manusia bisa langsung mencerna
> kedelai, jagung dan gandum tanpa harus melalui perut ternak terlebih dahulu.
> Tidakkah beralih ke pola makan bebas daging justru dapat menjadi solusi
> ketimpangan akses pangan seluruh dunia?
>
> Pertanian untuk pakan ternak itu sendiri merupakan penyumbang 9% CO2
> (karbondioksida), 65% N2O (dinitrooksida) dan 37% CH4 (metana). Perlu
> diketahui efek rumah kaca N2O adalah 296 kali CO2, sedangkan CH4 adalah 25
> kali CO2. Satu lagi masalah industri peternakan yang sangat krusial yakni,
> inefisiensi air. Sekian triliun galon air diperuntukkan untuk irigasinya
> saja. Sebagai gambaran sederhana, untuk mendapatkan satu kilogram daging
> sapi mulai dari pemeliharaan, pemberian pakan ternak, hingga penyembelihan
> seekor sapi membutuhkan satu juta liter air! Data yang dihimpun Lester R.
> Brown, Presiden Earth Policy Institute dan Worldwatch Institute, memaparkan
> dalam bukunya "Plan B 3.0 Mobilizing to Save Civilization" (2008) bahwa
> karena untuk memproduksi satu ton biji-bijian membutuhkan seribu ton air,
> tidak heran bila 70% persediaan air di dunia digunakan untuk irigasi.
>
> Jejak emisi gas rumah kaca daging terukur jelas. Dr Rajendra memberi
> ilustrasi konversi energi untuk memelihara sampai menghasilkan sepotong
> daging sapi, domba atau babi sama besar dengan energi yang dibutuhkan untuk
> menyalakan lampu 100 watt selama 3 minggu. Satu kilogram daging menyumbang
> 36,4 kg CO2, tidak heran bila data dari film dokumenter "Meat The Truth"
> menyebutkan emisi CO2 seekor sapi selama setahun sama dengan mengendarai
> kendaraan sejauh 70.000 km. Penelitian di Belanda
> (www.partijvourdedie.en.el)
> mengungkapkan, seminggu sekali saja membebaskan piring makan dari daging
> masih 7,6 kali lebih cepat dibandingkan gerakan hemat energi skala rumah
> tangga dalam setahun.
>
> Penelitian paling gres yang dilakukan Prof. Gidon Eshel dan Pamela A. Martin
> ("Diet, Energy and Global Warming") merunut kontribusi setiap potongan
> daging terhadap emisi karbon. Penelitian ini diakui secara ilmiah dan
> dipublikasikan dalam jurnal bergengsi para ilmuwan Earth Interaction Vol. 10
> (Maret 2006). Jumlah gas rumah kaca yang diemisikan oleh daging merah, ikan,
> unggas, susu dan telur jika dibandingkan dengan diet murni nabati/vegan,
> ternyata jika satu orang dalam setahun mau mengganti diet hewani mereka ke
> diet nabati murni/vegan akan mencegah emisi CO2 sebesar 1,5 ton. Lima puluh
> persen lebih efektif daripada upaya mengganti mobil Toyota Camry ke mobil
> Toyota Prius hybrid sekalipun yang ternyata hanya mampu mencegah 1 ton emisi
> CO2.
>
> Objektivitas akan menuntun kita untuk mengakui pola konsumsi daging sebagai
> kontributor terbesar emisi gas rumah kaca. Pilihan kita tidak banyak,
> mengingat tenggat waktu yang demikian sempit. Mengutip tulisan Senator
> Queensland, Andrew Bartlett, bahwa seluruh dunia tidak mesti menjadi
> vegetarian atau vegan untuk menyelamatkan planet kita, tapi kita harus
> mengakui fakta-fakta ilmiah ini, bahwa jika kita tidak mengurangi konsumsi
> produk hewani, kesempatan kita untuk menghentikan perubahan iklim adalah
> nihil. Menurut Bartlett, tidak ada langkah yang lebih murah, lebih mudah dan
> lebih cepat untuk dilakukan yang dapat mengurangi kontribusi tiap individu
> terhadap emisi gas rumah kaca selain memangkas jumlah konsumsi daging dan
> produk susu dan olahannya.
>
> Aksi untuk hemat bahan bakar kita masih banyak bergantung pada fasilitas
> umum. Upaya yang paling bisa kita lakukan adalah menggunakan kendaraan umum.
> Namun, sudah menjadi rahasia umum, tidak mudah untuk menggunakan kendaraan
> umum jika berhadapan dengan kepentingan keamanan, dan untuk ini kita masih
> bergantung pada kebijakan pemerintah. Aksi hemat energi dalam konteks yang
> paling ideal bergantung pada teknologi. Sumber energi paling ramah
> lingkungan yakni tenaga angin, air, dan matahari, masih jauh membutuhkan
> teknologi dan biaya yang tidak kecil. Butuh waktu yang panjang dan upaya
> ekstra untuk menggerakkan kesadaran massal untuk hemat energi, hemat
> listrik,
> hemat bahan bakar karena harus berhadapan dengan kebiasaan dan perilaku yang
> telah mengakar.
>
> Mengubah pola makan juga berhadapan dengan kebiasaan yang telah mengakar.
> Namun, memegang sendok dan akhirnya menjatuhkan pilihan apa yang akan
> dimasukkan ke mulut kita, sepenuhnya berada di kendali kita. Langsung bisa
> dilakukan! Jarak antara piring dan mulut kita mungkin hanya sejarak panjang
> sendok, membalikkan isi sendoknya hanya butuh waktu sekedipan mata, tapi
> kendalinya ada pada mindset tiap kita. Sejenak, biarkan kepala dingin hadir.
> Mari dengan mata jernih melihat realitas, mengakui fakta betapa tekanan pola
> konsumsi daging sedemikian hebatnya pada daya dukung Bumi. Sejenak merasakan
> beban berat Bumi ini mungkin akan menggeser pilihan kita ke pola konsumsi
> tanpa daging, pola yang jauh lebih ramah Bumi.
>
> Selebritis Vegetarian Indonesia
>
>
>
> 

------------------------------------

Ingin bergabung di zamanku? Kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Klik: http://zamanku.blogspot.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/zamanku/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/zamanku/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke