Agama apa yang dibicarakan oleh Gatra? 

  ----- Original Message ----- 
  From: Lusy Anita 
  To: zamanku@yahoogroups.com ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Friday, August 08, 2008 6:44 AM
  Subject: Re: [zamanku] Sisi Gelap Itu Jangan Ditutupi


        Walaupun ada beberapa fakta yang agak menyimpang tapi saya memandang 
positif terhadap upload tulisan tsb karena selama ini Kristen menuduh bahwa 
Islamlah sebagai sumber sisi gelapnya.

        Memang menjadi fakta sejarah bahwa beberapa pemimpin khilafah pasca era 
Kulafaur Raasyidin mengalami degradasi moral dan aqidah tetapi semata-mata hal 
itu akibat sifat tamak dan euforia pemimpin2 tsb. Masa2 seperti itu juga pernah 
dialami oleh pihak Kristen yang merupakan sisi gelap Kristen.

        Tidak semua pemimpin khilafah pasca era kulafaur raasyidin mengalami 
degradasi moral dan aqidah tetapi masih banyak pemimpin khilafah yang masih 
memegang nilai2 Islami sesuai nilai2 yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w. 
sehingga Islam memasuki era kegemilangannya kembali sebagai agama rahmatan lil 
'alamin.

        Yang menjadi keberatan Muslim sekarang ini terhadap tuduhan2 keji 
Kristen bukan dalam rangka menutupi sisi gelap tsb melainkan menolak mentah2 
tunduhan Kristen yang secara membabi buta menuduh bahwa penyebabnya agama Islam 
itu sendiri. Seharusnya Kristen bersikap fair apakah sisi gelap tsb merupakan 
cerminan dari agama Islam atau sikap dasar para pemimpin khilafah yang telah 
mengalami degradasi moral dan aqidah.

        --- On Fri, 8/8/08, Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

          From: Sunny <[EMAIL PROTECTED]>
          Subject: [zamanku] Sisi Gelap Itu Jangan Ditutupi
          To: [EMAIL PROTECTED]
          Date: Friday, August 8, 2008, 12:51 PM


          http://www.gatra. com/artikel. php?id=117175


          Sisi Gelap Itu Jangan Ditutupi

          Kekuasaan, dalam bentuk apa pun, hampir selalu dibangun dengan 
kekerasan, tidak terkecuali oleh mereka yang memakai jubah agama yang 
mengatasnamakan Tuhan. Tidak ada satu agama pun yang bisa melepaskan diri dari 
kelakuan penguasa yang amoral, tetapi sering didukung oleh fatwa ulama yang 
membenarkan sang penguasa untuk bertindak kejam.

          Adapun era Nabi Muhammad SAW tampaknya sebuah perkecualian. Perang 
memang terjadi, tetapi semata-mata untuk mempertahankan diri, demi tegaknya 
keadilan, keamanan, kebenaran, dan persamaan. Kebijakan Nabi selalu diarahkan 
untuk terwujudnya nilai-nilai mulia sebagai cerminan rahmat Allah untuk seluruh 
manusia, termasuk mereka yang tidak beriman.

          Di era Al-khulafaa' al-raasyiduun (632-661), pilar-pilar moral itu 
sampai batas-batas tertentu masih bertahan, khususnya sampai masa 'Umar ibn 
Khattab (634-644). Era berikutnya, keadaan sudah mulai kacau, tetapi belum 
seburuk era sesudah itu, era Umayyah (661-750) dan era 'Abbasiyah (750-1258). 
Khalifah 'Usman bin 'Affan dan Khalifah 'Ali bin Abi Thalib sama-sama berkuah 
darah di tangan umat kaum muslimin sendiri yang tidak puas dengan kebijakan 
yang ditempuh.

          Oleh sebab itu, saya sudah lama berpendapat agar umat Islam jangan 
"memberhalakan" masa silam, seakan-akan semuanya itu bebas dari cacat. 
Tampaknya sudah menjadi aksioma bahwa setiap kekuasaan sering benar bersahabat 
dengan kekerasan. Agama dalam banyak kasus hanya dipakai untuk menopang sistem 
kekuasaan yang korup sekalipun.

          Dalam buku-buku sejarah muslim, kejahatan yang ditonjolkan adalah 
yang sudah sangat keterlaluan. Misalnya, kepala Hussein dipersembahkan kepada 
Yazid bin Mu'awiyah di Damaskus, dan Yazid bukan main senangnya karena 
saingannya dari Bani Hasyim, musuh bebuyutan Bani Umayyah, telah dapat 
dilumpuhkan. Sedangkan Hassan, abang Hussein, sebelumnya malah berdamai dengan 
Mu'awiyah bin Abi Sufyan, pendiri dinasti, saingan ayahnya, 'Ali bin Abi 
Thalib, dengan imbalan tertentu, mungkin demi menjaga keutuhan umat yang sudah 
sangat sulit dipertautkan gara-gara kekuasaan.

          Yazid yang juga dipanggil oleh pendukungnya sebagai amir al-mu'miniin 
(pemimpin kaum beriman) dikenal sebagai pemabuk ulung dalam pesta-pora, main 
perempuan, dan sangat kejam. Tidak saja Hussein yang dibinasakan, siapa saja 
yang tidak patuh kepadanya harus dipancung dengan pedang. Adalah penulis Mesir, 
Faraj Fouda (dibunuh di kantornya pada 8 Juni 1992 karena dituduh murtad), 
dalam karyanya, al-Haqiiqa al-Ghaaibah (Kebenaran yang Hilang) --sebentar lagi 
penerbit Paramadina akan mengedarkan terjemahannya- - yang dengan sangat berani 
membongkar sisi-sisi gelap sejarah Arab muslim di masa lampau itu.

          Fouda memusatkan perhatian pada era Al-khulafaa' al-raasyiduun, 
Umayyah, dan 'Abbasiyah. Tentu sisi positifnya tidak kurang, seperti semakin 
meluasnya radius pengaruh Islam. Di era 'Abbasiyah, perkembangan ilmu 
pengetahuan, kesenian, filsafat, sufisme, dan teknologi sungguh spektakuler, 
sehingga dalam perspektif ini, dunia Islam adalah dunia yang paling maju ketika 
itu. Tentang segi gemerlapan ini telah banyak ditulis orang, dan sebagian umat 
Islam malah mengidolakannya.

          Fouda menengok dari sudut yang buram, berdasarkan sumber-sumber Arab, 
seperti Ibn Atsir, al-Mas'udi, Ibn Katsir, al-Thabari, al-Suyuthi, 
al-Syaristani, al-Dinuri, dan banyak yang lain. Sumber-sumber Barat 
dikesampingkan, sekalipun penulis Barat itu sebenarnya juga mengambil dari 
sumber-sumber Arab, tentu dengan tafsirannya sendiri. Tentang Yazid, di sisi 
keganasannya, Ibn Katsir mengungkapkan penyimpangan kelakuannya dengan mencium 
mayat kekasihnya yang meninggal mendadak karena tercekik. Kita kutip:

          "Pada suatu hari, Yazid juga pernah mengutarakan hasratnya untuk 
tinggal berdua saja dengan Habbabah di istananya, untuk selamanya, tanpa ada 
yang lain tersisa. Ia pun mewujudkan impiannya itu. Di istananya yang megah, 
didatangkanlah Habbabah seorang diri. Berbagai kasur nan empuk digelar, 
permadani dibentang. Tatkala mereguk nikmat kebersamaannya dengan Habbabah dan 
dalam suasana romansa dan cinta, ia melemparkan anggur ke mulut Habbabah yang 
sedang tertawa. Kontan, ia tersedak, lalu mati. Selama berhari-hari, Yazid tak 
putus mencium dan memeluk mayat Habbabah. Ketika mayat itu telah membusuk, 
barulah ia memerintahkan penguburannya. Setelah mayat itu dikubur, ia pun 
menginap di sana selama berhari-hari. Sejak itu, ia tidak keluar rumah kecuali 
lembap kelopak matanya" (lihat Fouda, halaman 104-105).

          Kecuali 'Umar bin 'Abdul 'Aziz, khalifah-khalifah yang lain, baik 
Umayyah maupun 'Abbasiyah, hampir semua berkubang dalam kemewahan, kekejaman, 
dan pesta-pora. Saya harap, pengusung bendera khilafah juga mau membaca karya 
Fouda ini sebagai cermin untuk berkaca. Di mata Shah Wali-Allah, kekhilafahan 
pasca-Al-khulafaa' al-raasyiduun hanya berbeda sedikit dari kekaisaran Romawi 
dan kekaisaran Persi kuno.

          Ahmad Syafii Maarif
          Guru Besar Sejarah, pendiri Maarif Institute
          [Perspektif, Gatra Nomor 38 Beredar Kamis, 31 Juli 2008] 
       



   

Kirim email ke