KAK LUSY, tetep aja komponen yg paling diharapkan oleh Muslimin ialah
bidadari yg tidak perlu buang air, mens dan paling penurut untuk
memuaskan nafsu seksuil laki2.

Kalo di janna ternyata ada hal2 yg tidak sekedar memuaskan nafsu
kedagingan, maka Aulloh itu plin-plan mengijinkan Muslim punya kekuatan
seksuil 100 orang dan berzina dan bahkan dilayani oleh laki2 muda yg
tampan spt 'lulu' .

Sekali germo selalu germo!

Gabriela Rantau
--- In zamanku@yahoogroups.com, Lusy Anita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Tulisan dibawah disajikan untuk menjawab tuduhan Kristen tentang
Syurga Islam yang katanya hanya untuk kedagingan saja. Konsep syurga
Islam jauh lebih luas pengertiannya dibandingkan dengan tulisan dibawah.
>
>
> MENJAWAB SOAL SYURGA
>
> Seringkali para misionaris mempersoalkan syurga versi "Islam" yang
menawarkan kenikmatan-kenikmatan yang memanjakan hawa nafsu
("kedagingan" menurut bahasa)
> tak jarang tidak sekedar mempersoalkan namun banyak sekali artikel
yang menyerang tentang masalah ini.
>
> Dalam hal ini saya coba menyampaikan jawaban pembuka dengan ilustrasi
cerita yang menarik yang dibuat oleh seorang Muslim (sdr Archa,forum
swaramuslim), yang menceritkan tentang "sorga Impian" menurut banyak
orang
>
> SURGA IMPIAN
>
> Seorang Arab Badui bermimpi, diperlihatkan kepadanya gambaran surga.
Si Arab betul-betul terpesona karena situasi yang terlihat memenuhi
`dahaga terhadap kenikmatan' dia sebagai manusia gurun, yang
setiap hari melihat padang pasir dan batuan padas. Surga yang dilihatnya
dalam mimpi berupa `jannah', taman, kebun yang subur diisi pohon
rindang, bunga yang harum dan embun dikala pagi. Dia menemukan banyak
pohon buah-buahan siap dipetik, ada jeruk, apel, pepaya, semangka
tergantung didahan yang merunduk seolah-olah mengundang untuk diraih.
Tidak lupa didalam surga tersebut mengalir sungai-sungai nan jernih,
alirannya menimbulkan suara gemercik yang menyegarkan.
>
> Tatkala terbangun, si Arab merasa sangat bahagia dan dia bersyukur
karena sebagai muslim Tuhannya telah memberikan gambaran surga begitu
indah yang salah satunya tercantum dalam Al-Qur'an surat Al Baqarah
25 : "…..bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir
sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam
surga-surga itu,…."
>
> Pada suatu kesempatan, si Arab datang ke Indonesia untuk berlibur,
dari berbagai kunjungannya ke objek-objek wisata, dia menyempatkan diri
mengunjungi satu taman bunga di puncak. Tentunya dia sangat terpesona
karena hal ini tidak pernah dilihatnya dikampung halamannya. Dengan
penuh rasa bahagia si Arab menyapa seorang bapak penjaga taman : "
Indah sekali taman ini, seperti gambaran surga yang pernah saya
impikan.."
>
> Penjaga taman berpaling dengan rasa ingin tahu : "bagaimana
gambaran surga yang ada dalam mimpi Anda?" tanyanya kepada si Arab.
Berceritalah si Arab tentang mimpinya, bagaimana surga yang di lihat itu
penuh dengan bunga-bunga dan buah-buahan beserta sungai-sungai yang
mengalir di dalamnya..
>
> Mendengar cerita tersebut, penjaga taman terlihat tidak begitu
antusias, dia berkata : "Surga dalam mimpi Anda tidaklah
mempesonakan saya, apa enaknya?? Saya disini sudah melihat bunga dan
buah setiap hari, selalu menghirup udara segar dipagi hari, dan masalah
sungai? Tahukah Anda rumah saya dekat dari sini, berada dipinggir sungai
yang jernih, setiap bangun pagi saya selalu mendapatkan suara gemercik
air, lantas apa enaknya surga seperti mimpi Anda?..."
>
> "Kalau Anda ingin tahu gambaran surga yang saya inginkan" dia
melanjutkan : "Lihatlah pengunjung-pengunjung itu, sebagian mereka
ada wanita muda yang baru tumbuh, datang bersama keluarga ataupun
rombongan. Banyak yang berwajah cantik, dibalut baju yang agak terbuka
memamerkan bahu mereka yang putih. Mereka hampir semuanya memakai celana
jin ketat, tergambar lekuk-lekuk pinggul mereka yang padat. Rasanya
ingin sekali saya menerkam mereka satu-persatu, menyeret mereka kebalik
pepohonan dan melakukan hubungan sex sepuas-puasnya. Sayang sekali saya
tidak boleh melakukan hal itu, Islam melarang keras, malah kita
diharuskan menjatuhkan pandangan kalau kebetulan melihat `panorama
segar' seperti itu. Hukum yang ada juga akan mengganjar saya
kepenjara". Si penjaga taman berkata lagi :" tahukan Anda surga
seperti apa yang saya bayangkan?, isinya adalah perempuan-perempuan muda
yang segar, berwajah cantik-cantik dan manja. Saya akan melakukan
hubungan
>  sex dengan mereka dan di surga tersebut, sex bebas dilakukan, tidak
ada lagi ganjaran dosa."
>
> Pada suatu kesempatan. Si penjaga taman bercerita tentang surga
impiannya kepada temannya, seorang lelaki penata rambut. Dia ceritakan
bahwa dia ingin melakukan hubungan sex sesukanya, dengan wanita-wanita
yang tersedia disana dan yang paling penting, hal itu tidak lagi menjadi
dosa. Namun si penata rambut mencibir dengan gayanya yang kemayu, Ha..
rupanya dia seorang banci: "Saya tidak tertarik dengan surga
Anda..", dan berkata: "Surga yang dipenuhi wanita-wanita muda
tidak akan membuat saya bahagia, justru yang saya inginkan adalah surga
yang diisi oleh laki-laki tampan berbadan kekar, dadanya bidang penuh
otot-otot yang kenyal. Tiap hari saya akan berkencan dengan mereka,
`bersodomi-ria', dan homoseksual tidak lagi diharamkan di
surga…itulah yang saya impikan".
>
> " Apa enaknya surga yang dipenuhi laki-laki tampan?, saya bisa
mendapatkannya setiap hari di dunia", demikian reaksi sang
`tante girang' begitu mendengar cerita si penata rambut tentang
surga yang dia impikan. "tahukan Anda apa yang menjadi masalah saya
sekarang?" dia melanjutkan : "lihatlah, usia saya sudah
menjelang 50 tahun, sekalipun saya mati-matian merawat diri, indikasi
ketuaan sudah mulai menyerang, kulit mulai bergelombang, lemak
dipinggang datang tanpa permisi. Sekalipun saya sudah mengalokasikan
anggaran `maintainance and repair' dua kali lipat, namun saya
pesimis bisa menahan hukum alam ini". Suatu waktu nanti, laki-laki
muda yang saya kencani akan menyingkir, mereka tentunya lebih memilih
tante lain yang lebih muda. "Jadi surga yang saya impikan, adalah
surga dimana saya tidak bisa menjadi tua, selalu remaja dan cantik abadi
dan saya bisa memamerkan kecantikan abadi saya kepada orang lain dengan
bangga".
>
> Tante girang tersebut kemudian bercerita kepada temannya, seorang
wanita, bintang film cantik yang masih muda. Artis ini tertawa renyah
mendengar surga impian sang tante, dia kemudian berkata : " awet
muda jelas menjadi keinginan saya juga, namun saya masih muda dan belum
bisa merasakan bagaimana hebatnya mendapat serangan ketuaan seperti itu.
Yang jelas sekarang saya ingin menikmati hidup sepuas-puasnya. Saya
ingin berjalan-jalan keseluruh dunia, pagi hari saya sarapan di sebuah
hotel mewah di London, sorenya berdiri memandang matahari terbenam di
jendela cottage di Hawaii. Kalau lagi suntuk, saya menyepi di villa
kepunyaan saya di Malibu, atau sebuah `penthouse' di tengah kota
Manhattan. Suatu saat saya akan menghabiskan duit, berbelanja di Ginza,
Tokyo atau sekedar menikmati pergaulan di cafÈ-cafÈ Los Angeles
dengan teman-teman artis-artis Hollywood. Begitu pagi hari saya
terbangun, saya menemukan rekening saya di Bank telah bertambah karena
>  bunga deposito, lebih besar jumlahnya dari uang yang saya habiskan
kemaren". Si artis melanjutkan angan-angannya dengan pandangan
menerawang : "Sayang sekali saya tidak sekaya itu, jadi kalau Anda
menanyakan surga seperti apa yang saya dambakan, seperti itulah, saya
ingin punya harta yang tak terbatas dan saya bisa menikmatinya
sepuas-puasnya".
>
> "Surga impianmu itu aneh", demikian tanggapan Pak Konglomerat
sambil rebahan di kasur hotel, setelah lelah berkencan dengan si artis.
Mereka memang sering bertemu secara rahasia, mojok disuatu tempat
tersembunyi. Buat keduanya hubungan yang mereka bangun sesuai kebutuhan
masing-masing, suatu `simbiosis mutualisma' demikian istilah
biologinya. "Harta yang kamu mimpikan sudah saya punya", dia
melanjutkan, " bahkan saat inipun saya tidak tahu berapa jumlah uang
yang saya miliki karena setiap menit bertambah terus, saya punya rumah
dimana-mana, villa di penjuru dunia, mampu membeli apapun yang saya
inginkan. Namun lihatlah, ketika kita memesan makanan `room
service', saya harus memilih-milih dulu, kebanyakan menu yang
tersedia tidak boleh saya makan. Mau nasi maksimum jumlahnya harus
segenggam. Gara-gara kencing manis dan kolesterol, saya tidak bebas lagi
menikmati apa yang saya miliki. Sampai mau kencanpun saya dihantui
pikiran, apa saya
>  ini masih perkasa??, Pak Konglomerat mengeluh :" maka surga yang
saya impikan adalah tempat dimana saya tidak pernah sakit, selalu dalam
kondisi prima dan segar. Tidak ada lagi pantangan makan, boleh
beraktifitas semaunya, itulah surga buat saya"..
>
> Pak Konglomerat bercerita tentang surga impiannya kepada seorang
petinju, kebetulan sang petinju baru menyelesaikan pertandingan 12
rondenya, namun dia dipukul KO di ronde keempat. Dengan wajah lembam, si
petinju mendengar cerita Pak Konglomerat sampai akhirnya dia menimpali :
"Itu bukan surga saya, lihatlah, saya seorang yang berbadan sehat
dan stamina prima. Tiap hari saya latihan keras meningkatkan kondisi,
saya jarang sakit. Namun saya baru dihabisi oleh lawan saya yang lebih
kuat, Cuma bertahan sampai ronde keempat". Sambil meringis kesakitan
si petinju berkata lagi : " Surga yang saya impikan adalah kejayaan,
suatu tempat dimana saya menjadi petinju tak terkalahkan sekalipun telah
melakukan banyak pertandingan dengan jago-jago tinju termahsyur. Setiap
lawan menggigil ketakutan begitu tahu akan berhadapan dengan saya. Dan
ketika saya berjalan dikeramaian, semua mata memandang saya dengan
kagum, beberapa malah menegur saya dengan memanggil
>  ramah..hai Champ..!, itulah surga yang saya inginkan."
>
> Suatu ketika orang-orang ini bertemu, terjadi perdebatan hangat ketika
mereka sampai kepada topik pembicaraan mengenai surga. Tentunya
masing-masing bertahan dengan persepsinya sendiri terhadap apa yang
mereka inginkan. Kelihatan bahwa akhirnya yang berada `diatas
angin' adalah si Arab badui, karena dia sering menyitir ayat-ayat Al
Qur'an mengenai surga, bahwa surga adalah jannah (taman, kebun),
makan buah-buahan sepuas-puasnya dan sungai-sungai yang mengalir. Merasa
tidak puas, akhirnya mereka bersepakat untuk pergi mencari seorang
ustadz menanyakan soal rumit ini.
>
> Kebetulan ustadz yang pertama kali mereka temukan adalah seorang
`ustadz tekstual', tamatan madrasah ibtidaiyah di kampung,
`ustadz kaki lima' demikian menurut sebagian orang. Setelah
semuanya menceritakan permasalahan dan pendapat mereka, giliran ustadz
bingung karena ini betul-betul masalah yang tidak dia sangka-sangka dan
belum pernah ditanyakan orang-orang sebelumnya. Namun sebagai seorang
muslim tekstual, dia kemudian meraih Al-Qur'an dari rak buku dan
berdo'a, mudah-mudahan Allah membuka pikirannya dan mampu memberikan
jawaban yang benar. Kemudian sang ustadz membuka Al Qur'an, terbuka
pada surat An Nahl ayat 31 :
>
> "(yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di
bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa
yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada
orang-orang yang bertakwa"
>
> Merasa belum puas, sang ustadz mencoba lagi membalik-balikan halaman
Al Qur'an tersebut dan dia kemudian berhenti pada surat Al Furqaan
ayat 16:
>
> "Bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehendaki, sedang
mereka kekal (di dalamnya). (Hal itu) adalah janji dari Tuhanmu yang
patut dimohonkan (kepada-Nya)"
>
> Karena sudah puas dan yakin akan bisa memberikan jawaban, Pak ustadz
kita kemudian berkata : "Sekarang saya minta Anda semua
berkonsentrasi dan pejamkan mata". Agak terheran, mereka semua
mengikuti perintah ustadz tersebut. "Sekarang bayangkanlah surga
seperti apa yang kalian impikan" ustadz melanjutkan : "
Sudah…!?", Mereka semua mengangguk karena sudah membayangkan
kondisi seperti apa yang mereka inginkan di surga. Ustadz kemudian
berkata : " Nah.. apa yang sudah kalian bayangkan, kalikan sepuluh
kali lipat, ketahuilah… kalian akan mendapatkan surga lebih dari
itu,
> karena dalam Al Qur'an, Allah telah berfirman sebanyak dua kali..
mereka akan mendapat segala apa yang mereka kehendaki…"
>
> Entah apa yang terjadi selanjutnya, namun setelah peristiwa dengan
sang ustadz tersebut, sangat ajaib karena mereka semua telah berobah. Si
Arab Badui menjadi seorang yang sangat rajin beribadah bahkan
orang-orang sering menemukannya tengah beriktikaf di Mesjidil Haram,
shalat dan berdo'a sebanyak mungkin. Si penjaga taman berubah
menjadi seseorang yang berusaha menjaga pandangan dan pikirannya dari
hal-hal yang mengundang nafsu syahwat, si penata rambut mendadak jadi
orang sholeh menjauhkan diri dari tindakan homoseksual, si tante girang
betul-betul berhenti memelihara `daun muda' malah dia kemudian
aktif menggalang kelompok pengajian ibu-ibu dengan aktifitas sosial yang
sibuk, si artis telah memakai jilbab, tidak mau lagi mengumbar aurat,
dia sekarang memilih-milih peran membintangi film yang bermutu dan jauh
dari adegan membuka `sekwilda'- sekitar wilayah dada. Pak
Konglomerat terlihat makin giat berusaha dan berekspansi, namun satu
hal,
>  semua hasil keutungannya ternyata disalurkan kebeberapa yayasan
sosial yang dia bentuk sendiri, yang bergerak di bidang bantuan bea
siswa, anak terlantar, dakwah agama dan bencana alam, sedangkan dia
sendiri menjalani hidup zuhud, sederhana dengan harta, rumah, pakaian
secukupnya. Dan si petinju, dia tetap menjalani profesinya sebagai
petinju, namun soal kalah menang bukan lagi menjadi beban pikirannya.
Dia lebih berkonsentrasi untuk menempa dirinya sendiri agar tidak jadi
bulan-bulanan lawannya, berlatih giat setiap hari, tidak kecewa kalau
kalah dan tidak berbangga hati secara berlebihan kalau memperoleh
kemenangan.
>
> Mereka semua mendadak jadi ahli ibadah, rajin sholat, puasa, zakat dan
hampir semuanya berhasil menunaikan ibadah haji. Mereka menjadi pribadi
yang disenangi di lingkungannya, ramah, suka menolong, selalu aktif
dalam kegiatan sosial, betul-betul menjadi rahmat bagi lingkungan. Pada
akhir dua pertiga malam, mereka selalu bangun melakukan shalat tahajud,
bersujud dihadapan Allah sedalam-dalamnya bahkan kerap diiringi oleh
airmata yang mengalir, mereka berdo'a dengan penuh harap :"
Yaa.. Allah, ijinkanlah kami ini menjadi hambamu yang patuh, berilah
kami kekuatan untuk menghindari semua larangan-larangan-Mu,
selamatkanlah kami dari kehidupan dunia yang menjerumuskan ini…dan
limpahkanlah kepada kami surga-Mu, surga yang kami impikan……
>
> Demikianlah ilustrasi cerita yang ditulis oleh sdr Archa
>
> Kisah diatas merupakan kisah "tentang impian beberapa Manusia"
yang saya kutip dari artikel dari www.swaramuslim.net sebagai gambaran
bahwa setiap manusia punya harapan dan dambaan yang ia harap untuk
didapatkan tetapi ternyata kenikmatan-kenikmatan keduniawain tersebut
menggambarkan secara jelas bahwa semua adalah kenikmatan tersebut kalau
dinilai dari sudut pandang kedunawian adalah kenikmatan semu /
fatamorgana!
>
> Tetapi seperti apa gambaran Syurga menurut Islam?
> Gambaran syurga didalam Islam sering digambarkan seperti apa yang
diharapkan orang-orang dalam kisah tersebut,yaitu : sungai yang
mengalir,taman-taman yang indah,tentang bidadari dll
>
> Seakan-akan gambaran syurga Islam bersifat Dunawiyah semata!
> Sehingga sering dipersoalkan oleh mereka-kereka orang luar terutama
oleh orang-orang Kristen,yang menurut mereka syurga Islam hanya bersifat
memenuhi "kedagingan"semata!
>
> Tetapi benarkah demikian?
>
> Maka untuk menjawab tentang apa yang mereka persoalkan maka cara yang
paling tepat adalah memahami Syurga menurut Islam secara utuh = tidak
hanya memahami ayat-ayat Al-Qur'an maupun Hadist tentang syurga
tidak secara sepotong tetapi secara utuh!
> Dan setidaknya di kisah diatas disinggung sedikit bahwa "gambaran
Syurga menurut Islam " adalah :
>
> *** "Bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehendaki,
sedang mereka kekal (di dalamnya). (Hal itu) adalah janji dari Tuhanmu
yang patut dimohonkan (kepada-Nya)"…….****
>
> Jadi apa saja yang dikehendaki /diinginkan akan diberikan!
>
> Apakah ia ingin seperti malaikat atau tidak ingin kawin dan dikawinkan
(barangkali ada manusia yang ingin masuk syurga punya keinginan seperti
itu ) akan dikabulkan.
>
> Di dalam Islam jangankan hanya keinginan seperti Malaikat,sejak awal
penciptaan Manusia sudah ditegaskan bahwa kedudukan "manusia justru
lebih tinggi dari Malaikat"! karena tujuan manusia pertama
diciptakan sangat jelas yaitu sebagai "khalifah" di Bumi!
>
> Tetapi kedudukan lebih tinggi bagi manusia-manusia seperti kita
dibutuhkan sebuah perjuangan /amal perbuatan dan keihklasan!
>
> Dan keduanya harus seiring sejalan,karena punya perjuangan yang
sungguh-sungguh tetapi tanpa didasari keihklasan maka perjuangan
tersebut akan begitu mudahnya perjuangan tersebut dikotori oleh
perjuangan-perjuangan yang menyimpang!
>
> Dan keikhlasan tanpa disertai perjuangan sama juga O(kosong),karena
Manusia sejak awal diciptakan sebagai khalifah,yang harus dinamis dalam
melaksanakan kehidupan dan tidak statis,yang ia tidak berbuat apa-apa.
>
> Tetapi kalau ia tidak mampu menjadi khalifah yang baik,bukan menjadi
"pengelola dunia yang baik" maka kedudukannya jatuh ke derajat
yang sangat rendah,bahkan kedudukannya lebih rendah dari pada binatang!
>
> Dan Sang Pencipta tahu betul dengan "karakteristik ciptaannya"
yaitu apa-apa yang ia dambakan agar bisa memotivasi mereka untuk
senantiasa berjuang dengan dasar Ikhlas dan Ikhlas dalam perjuangan!
>
> Jadi dalam memahami tentang "teks-teks" tentang syurga didalam
Islam jangan hanya dipahami secara "tekstual .hurufiah" tetapi
hendaknya dipahami betul kontekstual dan maknawiyah kata-kata di dalam
ayat-ayat AL Qur'an maupun Hadist! Karena di ayat lain Al Qur'an
maupun Hadist menjelaskan:
>
> [56:60]Kami telah menentukan kematian diantara kamu dan Kami
sekali-kali tidak dapat dikalahkan
> [56:61] untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu
(dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) DALAM KEADAAN YANG
KAMU TIDAK KETAHUI.
>
> Jadi dalam hal ini bagaimana keadaan "manusia di akhirat
nanti" tidak diketahui oleh Manusia sama dengan belum pernah
terlihat oleh mata. Terdengar oleh telinga dan terbayang dalam pikiran
manusia!
>
> Lalu bagaimana penjelasan-penjelasan ayat-ayat lain tentang keadaan
syurga yang ada sungai mengaliur dibawahnya. Bidadari dll?
>
> Semua itu adalah penjelasan untuk kadar kemampuan manusia dalam
memahami tentang kenikmatan!
>
> Maka bisa kita logikakan seperti menjelaskan "manfaat
computer' pada orang primitive!
> Tentu saja penjelasannya menyesuaikan dengan kemampuan pikir obyek
"yang dijelaskan"
>
> Bukankah salah satu tujuan beragama ada untuk mendapatkan kenikmatan
Abadi??
> Bagaimana agar Manusia termotifasi untuk mendapatkannya??
> Salahkah untuk memberi iming-iming agar manusia termotifasi
mendapatkannya sesuai dengan :kenikmatan yang dipahami didunia??
> Agar manusia bersemangat mendapatkannya??
> Maka justru sangat konyol sekali kalau ada yang menilai
"penjelasan-penjelasan " tersebut di ukur dengan norma
"keduniaan" sekarang!
> Saya akan memberi ilustrasi bahwa sebuah pekerjaan yang sama dilakukan
waktu yang berbeda maka nilai pekerjaan tersebut berbeda nilainya!
> Dan ilustrasi yang saya berikan tidak jauh dari "ilustrasi yang
sering di permasalahkan" yaitu mengenai hubungan Intim antara
laki-laki dan wanita!
>
> Karena saya yakin yang aktif diforum ini orang-orang dewasa,jadi
ilustrasi ini tidak akan disalah pahami!
>
> 1. Persoalan intim tersebut jangankan melakukan membicarakan saja
termasuk tabu kalau yang berbicara adalah "anak yang belum cukup
umur"
> 2 . orang yang sudah cukup umur dan punya pasangan, dan Ia melakukan
hubungan tersebut tetapi hubungan tersebut belum di syahkan oleh agama
yang diyakininya maka ia sudah berbuat Dosa besar = zina
> 3. orang yang sudah cukup umur dan sudah menikah tetapi ia berhubungan
intim bukan dengan pasangan yang syah menurut keyakianannya maka sama
saja berbuat dosa besar = zina
> 4. orang yang sudah cukup umur dan ia sudah punya pasangan tetap
tetapi ia tidak mau menggauli pasangannya maka inipun juga telah berbuat
dosa
> 5. orang yang sudah cukup umur dan berhubungan intim dengan pasangan
yang syah maka itu sama sekali tidak dosa tetapi justru ia sedang
melakukan salah satu kewajibannya sebagai suami istri.
>
> Sekarang kita kaji secara ilmiah apakah berhubungan intim yang
dilakukan suami istri yang syah dengan orang yang berhubungan intim yang
dilakukan dengan pasangan yang bukan suami istri??
> Adakah perbedaanya?
> Tidak ada bukan??
>
> Jadi kesimpulannya sesuatu tindakan /perbuatan tidak bisa dinilai
secara generalisir sama dengan jika kita menilai apa yang terjadi
"di akhirat" dengan ukuran dunia!
> Itu sama saja menilai hubungan intim wanita suami istri yang syah
dinilai dari sudut pandang / ukuran "orang yang belum menikah !
> Jadi kalau ada orang yang mempersoalkan gambaran "syurga didalam
Islam" di ukur dengan penilaian dunia alangkah konyolnya penilaian
tersebut………………………
>
> Justru kalau mau fair berdiskusi atau berharap akan mendapatkan "
kebenaran atau pencerahan " maka alangkah baiknya kalau yang tidak
setuju berani memberikan perbandingan dengan konsep Syurga menurut
keyakinannya"
> Kemudian tinggal terserah pembaca yang akan menilai Syurga yang mana
yang membuat ia bersemangat untuk mendapatkannya…..
>

Kirim email ke