Orientalisme dan Al Qur’an
 
Kalangan orientalis seperti Arthur Jeffery dan kawan-kawan bersemangat ingin 
“mengkorupsi” keotentikan Al-Quran. Namun hingga kini tetap kokoh 
 







“Sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan studi terhadap teks Al-Qur’an 
sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa 
Ibrani-Arami dan kitab suci kristen yang berbahasa Yunani”
kutipan ini adalah pernyataan Alphonse Mingana, seorang pendeta Kristen asal 
Iraq dan mantan guru besar di Universitas Birmingham, Inggris. Pernyataan itu 
ia sampaikan tahun 1927.
 
Mengapa  pendeta Kristen yang juga orientalis ini mengatakan seperti itu? Tentu 
saja, ia bukan sedang bergurau. Pernyataan orientalis-missionaris satu ini 
karena dilatarbelakangi oleh kekecewaan sarjana Kristen dan Yahudi terhadap 
kitab suci mereka dan juga disebabkan oleh kecemburuan mereka terhadap umat 
Islam dan kitab suci nya Al-Quran. 
 
Perlu diketahui mayoritas ilmuwan dan cendekiawan Kristen telah lama meragukan 
otentisitas Bible. Mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa Bible yang ada 
di tangan mereka sekarang ini terbukti bukan asli alias palsu. Terlalu banyak 
campur-tangan manusia di dalamnya, sehingga sukar untuk dibedakan mana yang 
benar-benar Wahyu dan mana yang bukan. 
 







Pernyataan ini pernah disampaikan oleh Kurt Aland dan Barbara Aland, dalam The 
Text of the New Testament (Michigan: Grand Rapids, 1995). Menurut Barbara, 
sampai pada permulaan abad keempat, teks Perjanjian Baru dikemmengembangkan 
secara leluasa. Yang jelas banyak yang melakukan koreksi. 
Pandangan seperti ini tidaklah sendiri. Saint Jerome, seorang rahib Katolik 
Roma yang belajar teologi juga mengeluhkan fakta banyaknya penulis Bible yang 
diketahui bukan menyalin perkataan yang mereka temukan, tetapi malah menuliskan 
apa yang mereka pikir sebagai maknanya. Sehingga yang terjadi bukan pembetulan 
kesalahan, tetapi justru penambahan kesalahan.
 
“Mereka menuliskan apa yang tidak ditemukan tapi apa yang mereka pikirkan 
artinya; selagi mereka mencoba meralat kesalahan orang lain, mereka hanya 
mengungkapkan dirinya sendiri,” ujar Jerome sebagaimana dikutip dalam The Text 
of the New Testament: Its Transmission, Corruption and Restoration (1992).
 
Disebabkan kecewa dengan kenyataan semacam itu, maka pada tahun 1720 Master of 
Trinity College, R. Bentley, menyeru kepada umat Kristen agar mengabaikan kitab 
suci mereka, yakni naskah Perjanjian Baru yang diterbitkan pada tahun 1592 
versi Paus Clement. Seruan tersebut kemudian diikuti oleh munculnya “edisi 
kritis” Perjanjian Baru hasil suntingan Brooke Foss Westcott (1825-1903) dan 
Fenton John Anthony Hort (1828-1892). 
Tentu saja Mingana bukan yang pertama kali melontarkan seruan semacam itu, dan 
ia juga tidak sendirian. Jauh sebelum dia, tepatnya pada tahun 1834 di Leipzig 
(Jerman), seorang orientalis bernama Gustav Fluegel menerbitkan ‘mushaf’ hasil 
kajian filologinya. Naskah yang dibuatnya itu ia namakan Corani Textus 
Arabicus.  Naskah ini sempat dipakai “tadarrus” oleh aktivis Jaringan Islam 
Liberal (JIL). Selain Flegel, datang Theodor Noeldeke yang berusaha 
merekonstruksi sejarah Al-Quran dalam karyanya Geschichte des Qorans (1860), 
sebuah upaya yang belakangan ditiru oleh Taufik Adnan Amal, juga dari Jaringan 
Islam Liberal (JIL). 
 







Kemudian muncul Theodor Noeldeke yang ingin merekonstruksi sejarah Al-Quran 
dalam karyanya Geschichte des Qorans (1860), sebuah upaya yang belakangan 
ditiru oleh segelintir kaum Liberal di Indonesia. 
Juga Arthur Jeffery yang datang tahun 1937 yang berambisi membuat edisi kritis 
Al-Quran, mengubah Mushaf Utsmani yang ada dan menggantikannya dengan mushaf 
baru.
 
Orientalis asal Australia yang pernah mengajar di American University Cairo dan 
menjadi guru besar di Columbia University ini, konon ingin merestorasi teks 
Al-Quran berdasarkan Kitab al-Masahif karya Ibn Abi Dawuud as-Sijistaani yang 
ia anggap mengandung bacaan-bacaan dalam ‘mushaf tandingan’ (ia istilahkan 
dengan ‘rival codices’). Jeffery bermaksud meneruskan usaha Gotthelf 
Bergstraesser dan Otto Pretzl yang pernah bekerja keras mengumpulkan foto 
lembaran-lembaran (manuskrip) Al-Quran dengan tujuan membuat edisi kritis 
Al-Quran (tetapi gagal karena semua arsipnya di Munich musnah saat Perang Dunia 
ke-II berkecamuk), sebuah ambisi yg belum lama ini di “amini” kan oleh Taufik 
Amal dari JIL. Saking antusiasnya terhadap qira’aat-qira’aat pinggiran alias 
‘nyleneh’ (Nichtkanonische Koranlesarten) Bergstraesser lalu mengedit karya Ibn 
Jinni dan Ibn Khalaawayh.  
 
Kajian orientalis terhadap kitab suci Al-Quran tidak sebatas mempertanyakan 
otentisitasnya. Isu klasik yang selalu diangkat adalah soal pengaruh Yahudi, 
Kristen, Zoroaster, dan sebagainya terhadap Islam maupun isi kandungan Al-Quran 
(theories of borrowing and influence). Sebagian mereka bahkan berusaha 
mengungkapkan apa saja yang bisa dijadikan bukti bagi ‘teori pinjaman dan 
pengaruh’ itu, terutama dari literatur dan tradisi Yahudi-Kristen (semisal 
Abraham Geiger, Clair Tisdall, dan lain-lain). Ada pula yang membandingkan 
ajaran Al-Quran dengan adat-istiadat Jahiliyyah, Romawi dan lain sebagainya. 
Biasanya mereka katakan bahwa cerita-cerita dalam Al-Quran banyak yang keliru 
dan tidak sesuai dengan versi Bible yang mereka anggap lebih akurat.
 
Sikap anti-Islam ini tersimpul dalam pernyataan negatif seorang orientalis 
Inggris yang banyak mengkaji karya-karya sufi, Reynold A. Nicholson, “ 
“Muhammad picked up all his knowledge of this kind [i.e. Al-Quran] by hearsay 
and makes a brave show with such borrowed trappings-largely consisting of 
legends from the Haggada and Apocrypha.” Tapi, bagaimanapun, segala upaya 
mereka tak ubahnya bagaikan buih, timbul dan pergi begitu saja, berlalu tanpa 
pernah berhasil mengubah keyakinan dan penghormatan umat Islam terhadap kitab 
suci Al-Quran, apatah lagi membuat mereka murtad. 
 
Kekeliruan & Khayalan Orientalis 
 
Al-Quran merupakan target utama serangan missionaris dan orientalis 
Yahudi-Kristen, setelah mereka gagal menghancurkan sirah dan sunnah Rasulullah 
saw.. Mereka mempertanyakan status kenabian beliau, meragukan kebenaran riwayat 
hidup beliau dan menganggap sirah beliau tidak lebih dari legenda dan cerita 
fiktif belaka. Demikian pendapat Caetani, Wellhausen, dan lain-lain. Karena itu 
mereka sibuk merekonstruksi biografi Nabi Muhammad saw. khususnya dan sejarah 
Islam umumnya. Mereka ingin umat Islam melakukan hal yang sama seperti mereka 
telah lakukan terhadap Nabi Musa dan Nabi Isa a.s. Bagi mereka, Musa atau 
‘Moses’ cuma tokoh fiktif belaka (invented, mythical figure) dalam dongeng 
Bibel, sementara tokoh ‘Jesus’ masih diliputi misteri dan cerita-cerita 
isapan-jempol.
 
Dalam logika mereka, jika ada upaya pencarian ‘Jesus historis’, mengapa tidak 
ada usaha menemukan fakta sejarah hidup Nabi Muhammad saw? Demikian seru 
mereka. 
 







Muncullah Arthur Jeffery yang menulis The Quest of the Historical Mohammad, 
dimana ia tak sungkan-sungkan menyebut Nabi Muhammad saw sebagai “kepala 
perampok” (robber chief). Usaha Jeffery tersebut diteruskan oleh F. E. Peters 
dan belum lama ini dilanjutkan oleh seseorang yang menyebut dirinya “Ibn 
Warraq.”
Missionaris-orientalis tersebut tidak menyadari bahwa tulisan mereka sebenarnya 
hanya menunjukkan hatred (kebusukan-hati) dan kebencian mereka terhadap tokoh 
dan agama yang mereka kaji, sebagaimana disitir oleh seorang pengamat; “The 
studies carried out in the West … have demonstrated only one thing : the 
anti-Muslim prejudice of their authors.”
 
Sikap semacam ini juga nampak dalam kajian Orientalis terhadap hadits. Mereka 
menyamakan Sunnah dengan tradisi apokrypha dalam sejarah Kristen atau tradisi 
Aggada dalam agama Yahudi. Dalam khayalan mereka, teori evolusi juga berlaku 
untuk sejarah hadits. Mereka berspekulasi bahwa apa yang dikenal sebagai hadits 
muncul beberapa ratus tahun sesudah Nabi Muhammad saw. wafat, bahwa hadits 
mengalami beberapa tahap evolusi. Nama-nama dalam rantai periwayatan (sanad) 
mereka anggap tokoh fiktif. Penyandaran suatu hadits secara sistematik (isnad), 
menurut mereka, baru muncul pada zaman Daulat Abbasiyyah. Karena itu, mereka 
beranggapan bahwa dari sekian banyak hadits hanya sedikit saja yang sahih, 
manakala sisanya kebanyakan palsu. Demikian pendapat Goldziher, Margoliouth, 
Schacht, Cook, dan para pengikutnya.
 
Pendapat ini telah banyak dikutip. Diantaranya dalam Muhammedanische Studien 
(Halle, 1889), On Muslim Tradition,” Muslim World, II/2 (1912): 113-21; Alter 
und Ursprung des Isnad ,” Der Islam, 8 (1917-1 juga Joseph Schacht dalam , A 
Revaluation of Islamic Traditions.” (Journal of the Royal Asiatic Society 
(1949)). 
 
Umumnya para orientalis-missionaris menghendaki agar umat Islam membuang 
tuntunan Rasulullah saw. sebagaimana orang Kristen meragukan dan akhirnya 
mencampakkan ajaran Jesus. 
 
Keaslian Al-Quran & Kesalahan Orientalis
 
Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dan perlu senantiasa diingat. 
Pertama, Al-Quran pada dasarnya bukanlah ‘tulisan’ (rasm atau writing) tetapi 
merupakan ‘bacaan’ (qira’ah atau recitation) dalam arti ucapan dan sebutan. 
Proses pewahyuannya maupun cara penyampaian, pengajaran dan periwayatannya 
dilakukan melalui lisan dan hafalan, bukan tulisan. Sejak zaman dahulu, yang 
dimaksud dengan ‘membaca’ Al-Quran adalah “membaca dari ingatan (qara’a ‘an 
zhahri qalbin, atau to recite from memory).” Adapun tulisan berfungsi sebagai 
penunjang semata. Sebab ayat-ayat Al-Quran dicatat—yakni, dituangkan menjadi 
tulisan diatas tulang, kayu, kertas, daun, dan lain sebagainya—berdasarkan 
hafalan, bersandarkan apa yang sebelumnya telah tertera dalam ingatan sang 
qari’muqri’.
 
Proses transmisi semacam ini, dilakukan dengan isnaad secara mutawaatir dari 
generasi ke generasi, terbukti berhasil menjamin keutuhan dan keaslian Al-Quran 
sebagaimana diwahyukan oleh Malaikat Jibrial a.s kepada Nabi sallallaahu 
‘alaihi wa-sallam dan diteruskan kepada para Sahabat, demikian hingga hari ini.
 
Ini berbeda dengan kasus Bibel, di mana tulisan—manuscript evidence dalam 
bentuk papyrus, scroll, dan sebagainya—memegang peran utama dan berfungsi 
sebagai acuan dan landasan bagi Testamentum alias Gospel.
Jadi seluruh kekeliruan dan kengawuran orientalis bersumber dari sini. 
Orientalis seperti Jeffery, Wansbrough dan Puin, misalnya, berangkat dari 
sebuah asumsi keliru, menganggap Al-Quran sebagai ‘dokumen tertulis’ atau teks, 
bukan sebagai ‘hafalan yang dibaca’ atau recitatio. Dengan asumsi keliru ini 
(taking “the Qur’an as Text”) mereka lantas mau menerapkan metode-metode 
filologi yang lazim digunakan dalam penelitian Bibel, seperti historical 
criticism, source criticism, form criticism, dan textual criticism.
 
Akibatnya, mereka menganggap Al-Quran sebagai karya sejarah (historical 
product), sekedar rekaman situasi dan refleksi budaya Arab abad ke-7 dan 8 
Masehi. Mereka juga mengatakan bahwa mushaf yang ada sekarang ini tidak lengkap 
dan berbeda dengan aslinya (yang mereka sendiri tidak tahu pasti!), dan 
karenanya perlu membuat edisi kritis (critical edition), merestorasi teks 
Al-Quran dan menerbitkan naskah baru berdasarkan manuskrip-manuskrip yang ada..
 
Kedua, meskipun pada prinsipnya diterima dan diajarkan melalui hafalan, 
Al-Quran juga dicatat dengan menggunakan berbagai medium tulisan. Sampai 
wafatnya Rasulullah saw., hampir seluruh catatan-catatan awal tersebut milik 
pribadi para Sahabat Nabi dan karena itu berbeda kualitas dan kuantitasnya satu 
sama lain. Karena untuk keperluan masing-masing (for personal purposes only), 
banyak yang menuliskan catatan tambahan sebagai keterangan atau komentar 
(tafsir/glosses) di pinggir ataupun di sela ayat-ayat yang mereka tulis. Baru 
di kemudian hari, ketika jumlah penghafal Al-Quran menyusut karena banyak yang 
gugur di medan perang, usaha kodifikasi (jam’) Al-Quran mulai dilakukan oleh 
sebuah tim yang dibentuk atas inisiatif Khalifah Abu Bakar as-Siddiq sehingga 
Al-Quran dikumpulkan menjadi sebuah mushaf, berdasarkan periwayatan langsung 
(first-hand) dan mutawattir  dari Nabi saw. Setelah wafatnya Abu Bakar 
as-Siddiq r.a. (13 H/ 634 M), mushaf tersebut
 disimpan oleh Khalifah Umar r.a. sampai beliau wafat (23 H/ 644 M), lalu 
disimpan oleh Hafsah, sebelum kemudian diserahkan kepada Khalifah Utsman r.a.. 
Pada masa beliaulah, atas desakan permintaan sejumlah Sahabat, sebuah komisi 
ahli sekali lagi dibentuk dan diminta mendata ulang semua qira’at yang ada, 
serta memeriksa dan menentukan nilai kesahihan periwayatannya untuk kemudian 
melakukan standarisasi bacaan demi mencegah kekeliruan dan mencegah 
perselisihan. Hasilnya dibukukan dalam beberapa mushaf standar yang 
masing-masing mengandung qira’at-qira’at mutawattir yang disepakati kesahihan 
periwayatannya dari Nabi saw. Jadi, sangat jelas fakta sejarah dan proses 
kodifikasinya. 
 
Para orientalis yang ingin mengubah-ubah Al-Quran biasanya akan memulai dengan 
mempertanyakan fakta sejarah ini seraya menolak hasilnya, menganggap bahwa 
sejarah kodifikasi tersebut hanyalah kisah fiktif, dan mengatakan bahwa proses 
kodifikasi baru dilakukan pada abad ke-9 Masehi. Jeffery, misalnya, seenaknya 
mengatakan,  “That he [i.e. Abu Bakr ra.] ever made an official recension as 
the orthodox theory demands is exceedingly doubtful.” Ia juga mengklaim bahwa 
“…the text which Uthman canonized was only one out of many rival texts, and we 
need to investigate what went before the canonical text.”
 
Ketiga, salah-faham tentang rasm dan qira’at. Sebagaimana diketahui, tulisan 
Arab atau khat mengalami perkembangan sepanjang sejarah. Pada kurun awal Islam, 
Al-Quran ditulis ‘gundul’, tanpa tanda-baca sedikitpun.
Sistem vokalisasi baru diperkenalkan kemudian. Meskipun demikian, rasm Utsmani 
sama sekali tidak menimbulkan masalah, mengingat kaum Muslimin saat itu belajar 
Al-Quran langsung dari para Sahabat, dengan cara menghafal, dan bukan dari 
tulisan. Mereka tidak bergantung pada manuskrip atau tulisan.
 
Orientalis seperti Jeffery dan Puin telah salah-faham dan keliru, lalu 
menyimpulkan sendiri bahwa teks gundul inilah sumber variant readings 
–sebagaimana  terjadi dalam kasus Bibel– serta keliru menyamakan qira’aat 
dengan ‘readings’, padahal qira’aat adalah ‘recitation from memory’ dan bukan 
‘reading the text’.
 
Mereka tidak tahu bahwa dalam hal ini kaedahnya adalah: tulisan harus mengacu 
pada bacaan yang diriwayatkan dari Nabi sallallaahu ‘alaihi wa-sallam 
(”ar-rasmu taab’iun li ar riwaayah“) dan bukan sebaliknya.
Orientalis seperti Jeffery dan kawan-kawan yang bersemangat ingin “mengkorupsi” 
keotentikan Al-Quran tidak mengerti atau sengaja tidak peduli bahwa Al-Quran 
tidak sama dengan Bibel; Al-Quran bukan lahir dari manuskrip, tapi sebaliknya; 
manuskrip lahir dari Al-Quran.
 







Buku berjudul asli “Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran”, ini merupakan 
kumpulan berbagai artikel Dr. Syamsuddin Arief dari berbagai media massa.. 
Meliputi; jurnal, harian, majalah, seminar dan colloquia. Meski demikian, 
isinya tidak mengurangi ketajaman dan keutuhan isi kandungannya, yang secara 
keseluruhan merefleksikan worldview Islam dengan jelas dan gamblang.
 
Tulisan-tulisan ini ditulis disela-sela kesibukannya semasa menjadi mahasiswa 
S3 di ISTAC Malaysia dan juga ketika menempuh program doktoralnya yang keduanya 
di “sarang” orientalis di Frankfrut Jerman. Buku ini merupakan monograf 
perdananya yang kebetulan diterbitkan bertepatan dengan ulang-tahun INSISTS 
yang kelima pada 9 Februari lalu, momentum yang menandai pertautan antara 
penulis buku ini dan INSISTS sendiri. [syam/malki/cha/www.hidayatullah.com] 
 


      

------------------------------------

Ingin bergabung di zamanku? Kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Klik: http://zamanku.blogspot.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/zamanku/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/zamanku/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke