BETUL2 susah menjadi umat Kristiani di sebagian besar wilayah NKRI. Di
Bekasi Barat ada sebuah jemaat Kristiani yg selama bertaon2 sudah
membeli sebidang tanah dari poenduduk setempat. Penjual tanah dan para
keluarga yg hampir semuanya Islam yg bertempat tinggal di sekitar tanah
yg dibeli dan diketahui akan didirikan gereja di atassnya sangat
akomodatif dan mendukung pembangunan gereja di sana.

Sayangnya pihak pemerintah selama selama 15 taon tidak mengeluarkan ijin
pembangunan gereja tsb. Walhasil selama 15 taon itu jemaat Kristiani
tsb. tidak dapat membangun gereja mereka.  Jadi persetujuan warga di
sekeliling lokasi tempat ibadah non-Muslim tidak menjamin pembangunan
gereja, vihara dsb.

Umat Kristiani adalah umat minoritas di sebagian besar wilayah RI. Jadi
persyaratan 60 keluarga di satu lokasi sering tidak mudah dipenuhi.
Faktor kemampuan keuangan untuk membeli tanah di mana lebih dari 60
keluarga Kristiani bermukim juga berperan penting. Yg sering terjadi
sebuah gereja dapat didirikan krn 1) Ada tanah yg bisa dibeli krn murah
dan sekitarnya tidak banyak keluarga (Islam) yg tinggal, misalnya daerah
persawahan; 2) Ketika panitia pembangunan gereja sudah berhasil
mengumpulkan dana dan siap membangun gereja, kawasan pertanian itu sudah
menjadi kawasan pemukiman dan hampir semua penduduknya beragama Islam.
Mereka bukan penduduk asli kawasan itu dan pendatang baru itu justru
menyatakan penolakan didirikannya gereja di sana; 3) Pihak pemerintah
setempat tidak akan mengeluarkan izin bangunan gereja kalo panitia tidak
dapat memberitahu bulan apa dan taon berapa gereja akan dibangun.
Pemerintah setempat tidak mau mengeluarkan izin peruntukan sebidang
tanah untuk dibangun menjadi gereja sesuai dg praktik tata-kota yg baik
dan efisien.

Sebuah gereja yg sudah beroperasi dan dengan izin selama beberapa taon
(di kawasan pertanian) diharuskan menghentikan kegiatan keagamaannya
(termasuk ibadah Hari Minggu) . Pemerintah setempat mengatakan bhww izin
yg diberikan bertalian dg kondisi kawasan pd waktu izin dikeluarkan.
Sekarang krn para penghuni yg baru mendirikan perumahan sesudah gereja
itu beberapa taon berjalan, telah menyatakan keberatan adanya dgereja di
kawasan itu!

Setau aku di daerah2 mayoritas non-Muslim spt di Sulawesi Utara, di
Ambon, di Papua dan di Bali, misalnya, beratus2 masjid telah didirkan dg
tidak ada masalah. Tidak pernah ada protes, tidak ada penutupan, tidak
ada tindak2 kekerasan dan perusakan --- alangkah baiknya dan adilnya
kalau temat2 ibadah non-Islam bisa juga dibangun dg tanpa masalah tanpa
takaut dirusak, ditutup, dibakar dsb.

After all bangsa Indonesia apapun agama-kepercayaannya dilindungi hak2
beragama dan melakukan ibadah mereka oleh UUD '45 dan juga oelh UN
Charter on HUman Rights (Pemerintah RI juga merupakan signatory)

Gabriela Rantau
--- In zamanku@yahoogroups.com, Grove <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Warga Tolak Pembangunan Gereja Gagal Penuhi 60 Pemeluk SKB
>
>
> Kendari (ANTARA News) - Puluhan warga Kelurahan Punggolaka, Kota
> Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) menolak pembangunan gereja di
> lingkungan mereka, karena dinilai tidak memenuhi salah satu syarat
> yang tercantum dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri.
>
> Namun, aksi penolakan warga tersebut tidak mengganggu jalannya proses
> peletakan batu pertama yang dilakukan Walikota Kendari, Asrun yang
> didampingi camat Puuwatu dan lurah Punggolaka serta panitia
> pembangunan Gereja di Kendari, Kamis.
>
> Tokoh masyarakat setempat, Muh Amin Tombili mengatakan, pembangunan
> rumah ibadah harus berpedoman pada SKB tiga menteri, antara lain di
> sekitar pembangunan rumah ibadah harus dihuni minimal 60 warga
> penganut agama yang bersangkutan.
>
> "Silahkan membangun jika persyaratan yang diamanatkan dalam SKB pada
> Bab IV pasal 13 dan 14 tentang pendirian rumah ibadah dipenuhi," ujar
> Amin Tombili.
>
> Pihaknya mengakui, panitia pembangunan sudah tiga kali melakukan
> sosialisasi dengan tokoh agama dan masyarakat setempat, namun tidak
> pernah menghasilkan kesepakatan, sehingga rencana pembangunannya
> dianggap bertentangan dengan keputusan warga setempat.
>
> "Kami tidak bermaksud menghalang-halangi pembangunan gereja ditempat
> ini, tetapi kami ingin sebelum dibangun pihak panitia sudah memperoleh
> dukungan dari warga setempat," katanya.
>
> Warga hanya mengetahui bahwa lokasi pembangunan gereja tersebut selama
> ini dipasangi papan bertuliskan "jual tanah kapling", sehingga warga
> kaget saat mengetahui di lokasi tersebut akan dibangun gereja,
> sementara penganut gama Kristen di wilayah tersebut hanya sekitar 10
> kepala keluarga (KK).
>
> Ketua RT setempat, H Wahid mengakui sosialisasi yang dilakukan panitia
> dengan warga sekitar tidak pernah mencapai kesepakatan, sehingga
> pembangunannya diprotes.
>
> Pihaknya membantah jika salah seorang warganya ikut memberikan tanda
> tangan sebagai wujud dukungan dibangunnnya gedung gereja wilayah
> tersebut.(*)
>

Kirim email ke