Tulisan ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm

Catatan A. Umar Said


Tentang 17 Agustus, Bung Karno
dan hari depan bangsa



Sebentar lagi Hari Kemerdekaan 17 Agustus yang ke-63 akan tiba. Sudah
sepantasnyalah bahwa kita semua memperingati hari yang bersejarah ini,
dengan bermacam-macam cara kita masing-masing, dan juga merenungkan berbagai
hal yang berkaitan dengannya. Dalam tulisan yang kali ini, disajikan kepada
para pembaca berbagai bahan sebagai sumbangan untuk sama-sama merenungkan
apa arti proklamasi 17 Agustus bagi bangsa Indonesia, dan apa perspektifnya
untuk kemudian hari. Sudah jelas bahwa kita bisa memandang 17 Agustus dari
banyak segi, dan dari sudut pandang yang bermacam-macam. Yang berikut di
bawah ini adalah sebagian dari begitu banyaknya dan bermacam-macamnya
berbagai  pandangan itu.



Seperti yang bisa sama-sama kita saksikan dewasa ini dimana-mana,   sebagian
terbesar rakyat kita (sekitar 80%)  masih belum merasakan hasil kemerdekaan,
karena dirundung oleh kemiskinan yang parah dan pengangguran yang meluas
sekali. Sebagian terbesar rakyat kita terpaksa menderita karena kecilnya
pendapatan untuk hidup sehari-hari (kurang dari 2 US$ sehari), dan sulit
untuk mendapat pengobatan kalau sakit.  Tetapi, sebaliknya, kita juga bisa
sama-sama menyaksikan bahwa segolongan kecil dari lapisan atas atau kalangan
elite masyarakat, justru bisa hidup bermewah-mewah secara keterlaluan, dan
menumpuk harta haram secara besar-besaran dengan korupsi atau
perbuatan-perbuatan lainnya yang tidak halal.



Hal lain yang juga sangat menyedihkan adalah banyaknya kasus korupsi yang
mencerminkan kebejatan moral dan kebobrokan iman dari kalangan atas di
bidang eksekutif, legislatif, judikatif, dan juga di kalangan parpol-parpol
dan agama. Kebejatan moral dan kebobrokan iman yang sudah sangat menjijikkan
ini  kelihatan jelas sekali kalau kita ingat bahwa Gubernur Bank Indonesia,
yang gaji sebulannya lebih dari Rp 100 juta,  tetapi toh masih mau „main
kotor” dalam kasus uang haram dari dana BI sebesar Rp 100 miliar. Atau,
juga jelas sekali dalam kasus „korupsi berjemaah” di kalangan 52 anggota DPR
yang umumnya bergaji antara Rp 50 sampai RP 80 juta sebulannya. Korupsi
massal  di kalangan anggota DPR, yang terdiri dari wakil-wakil parpol yang
ikut dalam Pemilu yang lalu adalah puncak dari kemerosotan moral  di
kalangan „wakil rakyat”.



Separuh umur RI dirusak oleh Orde Baru


Kita semua bisa mencatat bahwa setengah dari umur Republik kita yang 63
tahun ini, yaitu selama 32 tahun,  telah dikangkangi  - dan dibikin rusak
atau bobrok -  oleh rejim miiliter Suharto dkk, yang bersekongkol dengan
nekolim, terutama AS. Jangka waktu 32 tahun adalah lama sekali bagi RI yang
berumur 63 tahun. Dan sekarang ini, banyak orang melihat atau merasakan
sendiri betapa hebatnya kerusakan dan atau kebobrokan yang telah dibikin
selama 32 tahun oleh rejim Orde Baru. Negara Republik Indonesia sekarang
dalam proses kebangkrutan. Buktinya, lebih dari sepertiga daratan negeri ini
dikuasai sekitar seribu pemegang kuasa pertambangan dan kontrak karya.
Sembilan dari sepuluh ladang minyak dan gas bumi dikuasai perusahaan lintas
negara sehingga hasilnya tidak pernah bisa dinikmati secara maksimal oleh
rakyat Indonesia sendiri.



Lebih dari 37 juta orang masih hidup dalam kategori miskin, yang masih harus
ditambah lebih dari tiga juga korban bermacam bencana. Satu dari sepuluh
orang Indonesia hidup tanpa pekerjaan. Mereka yang bekerja sebagai buruh
kini harus menghadapi ancaman dari pasar tenaga kerja yang fleksibel. Sistem
kontrak dan outsourcing mengancam keamanan kerja dan membuat jutaan orang
hidup tanpa kepastian sementara pengusaha menikmati keuntungan berlipat. Di
pedesaan, petani yang merupakan separuh penduduk Indonesia memberikan
sumbangan besar terhadap perekonomian tapi tidak mendapat perhatian.



Di Indonesia jumlah orang yang bertahan hidup dengan pendapatan kurang dari
Rp 20.000 per hari sudah melebihi separuh, dan masuk ke dalam jajaran
penduduk miskin dunia. Sementara 20.000 orang terkaya menguasai lebih dari
separuh pendapatan nasional. Akibat dari ketimpangan ini kita saksikan
setiap hari. Di Koja, Jakarta Utara, seorang ibu membakar diri bersama dua
anaknya, sementara di Jawa Timur, seorang anak gantung diri karena tidak
kuat menahan lapar. Dari seminar pemiskinan dan kekerasan terhadap perempuan
yang berlangsung kemarin kita mendapat gambaran nyata bagaimana perempuan
dan anak menjadi korban utama ketika negara tidak lagi menjalankan tugasnya,
yakni menjamin kesejahteraan rakyat. (Yang ditulis dengan huruf miring
adalah kutipan dari Resolusi Konperensi Warisan Otoritarianisme II :
Demokrasi dan Tirani Modal Kampus Universitas Indonesia, Depok, 5-7 Agustus
2008)



Pengkhianatan besar terhadap cita-cita Bung Karno


Mengingat itu semua, dalam memperingati 17 Agustus perlu sekali kita ingat
kembali jasa-jasa dan  cita-cita para perintis kemerdekaan dan para pejuang
45, dan sekaligus juga ingat kepada pengkhianatan Suharto dkk bersama rejim
militer Orde Barunya terhadap cita-cita besar Bung Karno dan
pemimpin-pemimpin lainnya untuk menjadikan negara Republik Indonesia sebagai
negara yang adil dan makmur, yang betul-betul berpedoman Bhinneka Tunggal
Ika dan sungguh-sungguh mentrapkan Pancasila.



Kita masing-masing bisa merasakan bahwa Hari Ulangtahun yang ke 63 republik
kita ini kita peringati  dalam situasi dimana kerusakan moral besar-besaran
sedang mengganas, terutama di kalangan atas di bidang eksekutif, legislatif,
dan judikatif, termasuk di kalangan parpol dan agama. Kerusakan akhlak dan
bejatnya iman ini dapat kita saksikan sehari-hari dalam pers dan tayangan
televisi. Kerusakan akhlak dan kebejatan iman ini tercermin dalam
merajalelanya korupsi, yang dilakukan oleh lapisan atas (terutama oleh
orang-orang GOLKAR serta golongan-golongan lainnya yang sehaluan atau
berpandangan sama).



Rusaknya akhlak dan kebejatan iman yang sebagian tercermin dalam banyaknya
korupsi ini adalah satu tanda jelas bahwa negara dan bangsa kita sedang
menghadapi proses pembusukan yang parah sekali. Karena itu, adalah wajar dan
sah-sah saja kalau ada orang yang bertanya-tanya mengapa negara dan bangsa
kita sekarang ini menjadi begini rusak? Apa-apa sajakah sebabnya, dan
siapa-siapa sajakah yang harus bertanggungjawab atas segala hal yang buruk
itu? Bagaimanakah  perspektif di kemudian hari? Dan apa sajakah yang harus
dilakukan untuk mengadakan perbaikan atau perubahan?



Jelas sekali bahwa banyak sekali atau sebagian terbesar dari masalah-masalah
parah atau persoalan-persoalan besar yang kita hadapi sekarang ini pada
pokoknya adalah disebabkan oleh sisa-sisa kesalahan atau warisan negatif
dari  sistem Orde Baru, yang diteruskan oleh berbagai pemerintahan
pasca-Suharto yang berganti-ganti.  Banyak sekali kebejatan moral
besar-besaran yang kita lihat dewasa ini tidak nampak selama berbagai
pemerintahan di bawah pimpinan Bung Karno.

Dalam banyak hal, terdapat perbedaan yang besar sekali antara pemerintahan
Sukarno dan pemerintahan rejim militer Suharto.



„Di bawah Bendera Revolusi”-nya Bung Karno



Dalam kesempatan memperingati 17 Agustus seperti kali  ini, kita ingat bahwa
Bung Karno selalu menggunakan kesempatan yang penting ini untuk menyampaikan
pidato kenegaraannya, yang pada umumnya berisi pendidikan politik dan
mengandung berbagai ajaran revolusioner dan pengabdian kepada perjuangan
untuk kepentingan rakyat banyak. Bolehlah dikatakan bahwa jiwa, atau
pandangan Bung Karno mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan perjuangan
bangsa Indonesia untuk masyarakat adil dan makmur, untuk persatuan bangsa
antara golongan nasionalis, agama dan komunis, untuk nasionalisme
kerakyatan, untuk perjuangan terhadap nekolim, semuanya itu ertuang dengan
jelas dan bagus sekali dalam pidato-pidatonya ini.  Dengan membaca
pidato-pidatonya untuk menyambut 17 Agustus, yang dikumpulkan dalam buku „Di
bawah Bendera Revolusi” kita bisa melihat betapa besar jiwa perjuangan Bung
Karno dan betapa pula jauhnya dan luasnya pandangannya mengenai perjuangan
untuk membela kepentingan rakyat banyak. Tidak perlulah kiranya untuk
ditegaskan lagi di sini bahwa juga dalam hal ini, ada perbedaan yang jauh
sekali antara Bung Karno dan Suharto (dan tokoh-tokoh lainnya).



Kita sama-sama ingat bahwa selama Orde Baru (dan selama beberapa
pemerintahan pasca-Suharto) hari Ulangtahun Proklamasi 17 Agustus pada
umumnya telah diperingati dengan pemandulan jiwa revolusioner, dengan
pembiusan semangat anti-nekolim, dengan „penguburan” segala yang berkaitan
dengan jasa-jasa dan gagasan-gagasan besar Bung Karno. Itulah sebabnya, maka
dalam jangka yang lama sekali, peringatan 17 Agustus telah dirayakan oleh
pendukung-pendukung Suharto terbatas sebagai upacara ritual, yang kosong
jiwanya atau enteng-enteng saja isinya, karena  kehilangan jiwa asli 17
Agustus, yaitu jiwa perjuangan untuk mengabdi kepada revolusi dan
kepentingan rakyat banyak. Orde Baru beserta para pendukung setianya telah
membunuh revolusi rakyat Indonesia atau mengubur jiwa revolusionernya.



Kejahatan Suharto adalah pengkhianatan terhadap 17 Agustus


Kali ini, ketika memperingati HUT 17 Agustus yang ke 63 ini, terasa sekali
bahwa kita kehilangan seorang pemimpin bangsa, seorang tokoh yang amat
tinggi kewibawaannya, seorang yang  menjadi panutan,  seorang yang
sungguh-sungguh membuktikan diri sebagai pengabdi rakyat, seorang yang bisa
mempersatukan sebanyak mungkin golongan masyarakat. Sekarang terasa sekali
bahwa bangsa kita memerlukan adanya pemimpin yang sosoknya seperti Bung
Karno, dan bukannya yang seperti Suharto yang dulunya berasal dari serdadu
kolonial Belanda (KNIL) dan yang kemudian menjadi diktator kejam yang luar
biasa korupnya. Kejahatan besar Suharto dkk terhadap HAM yang dilakukan
sekitar peristiwa 65, dan dibarengi oleh perlakuan tidak manusiawi terhadap
para korban Orde Baru (termasuk para tapol) adalah pengkhianatan besar
terhadap isi dan jiwa proklamasi 17 Agustus.



Sesudah negara kita dirusak besar-besaran oleh Orde Baru selama separuh dari
umur Republik kita, dan digantikan oleh berbagai pemerintahan yang
meneruskan kesalahan atau dosa-dosanya, maka terasa sekali kebutuhan  yang
sangat mendesak akan adanya perubahan-perubahan fundamental dalam kekuasaan
politik. Tanpa adanya perubahan  atau pergeseran kekuasaan politik, dan
menggantikannya dengan kekuasaan politik yang baru dan pimpinan nasional
yang baru,  serta politik yang baru pula, maka Republik Indonesia akan tetap
rusak dan terus bobrok seperti yang telah terjadi selama lebih dari 40 tahun
sejak berkuasanya Orde Baru.



Perubahan-perubahan penting di dunia dan di Tiongkok


Pentingnya perubahan atau penggantian kekuasaan politik  di Indonesia ini
terasa lebih jelas lagi kalau kita ingat bahwa situasi dunia pun sudah
mengalami perubahan-perubahan yang tidak kecil. Perang dingin sudah lama
selesai dalam bentuknya yang lama, dan Amerika Serikat yang tadinya
merupakan kekuatan raksasa yang menguasai dunia sekarang sudah makin loyo,
sedangkan India, Tiongkok, dan Vietnam, yang tadinya dimusuhi Amerika
Serikat sekarang muncul sebagai kekuatan baru di dunia berkat
kemajuan-kemajuan ekonominya yang spektakuler.  Kebesaran, dan kemegahan,
atau kehebatan yang ditunjukkan oleh penyelenggaraan Olimpiade yang ke-29 di
Peking adalah salah satu di antara banyak pertanda atau bukti tentang
besarnya perubahan yang terjadi di dunia, terutama di Tiongkok.



Ketika memperingati HUT 17 Agustus yang ke 63, kita pantas prihatin karena
adanya kenyataan bahwa kita sudah ketinggalan jauh dari India, Tiongkok dan
Vietnam yang sama-sama dilahirkan sesudah akhir Perang Dunia ke-2. Walaupun
di negara-negara itu masih terdapat banyak kesulitan dan masalah berat,
namun dapat dilihat dengan jelas sekali  bahwa mereka telah dapat meraih
kemajuan-kemajun besar dalam berbagai bidang. Ini berlainan sama sekali
dengan apa yang terjadi di Indonesia, yang sekarang dirundung oleh berbagai
krisis (antara lain : krisis moral, politik, ekonomi, sosial, yang bersumber
dari persoalan-persoalan parah di bidang eksekutif, legislatif, dan
judikatif). Kita saksikan dengan sedih  maraknya pertentangan agama yang
meruncing karena kefanatikan yang menyesatkan di samping adanya permusuhan
yang berdasarkan  kesukuan.



Peran angkatan muda untuk perubahan fundamental


Mengingat pengalaman lebih dari 40 tahun sejak tampilnya Orde Baru, sampai
sekarang, maka jelaslah bahwa perspektif atau hari kemudian negara dan
bangsa kita akan tetap terpuruk seperti sekarang ini dengan masih
dikuasainya pemerintahan dan kehidupan politik oleh „orang-orang lama”, yang
kebanyakan adalah orang-orang Golkar dan mantan militer (dan para pendukung
setia Orde Baru lainnya) , yang pada umumnya sudah terbukti tidak bisa –
atau,  tidak mau ! – mendatangkan perbaikan bagi bangsa dan negara. Sekarang
tambah lebih meyakinkan  lagi bagi kita semua bahwa perbaikan fundamental
atau perubahan besar demi kepentingan rakyat banyak tidak bisa diharapkan
datang dari orang-orang yang berjiwa pro Suharto dan yang bersikap anti
ajaran atau anti gagasan besar Bung Karno.



Dengan mengingat itu semua, nyatalah bahwa kekuasaan politik baru, yang
dipegang oleh generasi muda bangsa kita adalah satu-satunya harapan bagi
terjadinya perubahan fundamental dan besar-besaran yang bisa menyejahterakan
kehidupan rakyat dan mempersatukan bangsa di bawah naungan Bhinneka Tunggal
Ika dan Pancasila, seperti yang dicita-citakan Bung Karno dan para „founding
fathers” lainnya. Generasi muda yang berjiwa revolusioner dan berorientasi
pro-rakyat dan anti-neoliberalisme akan merupakan pendobrak sistem politik
yang busuk yang sudah mengangkangi negara dan merusak bangsa selama lebih
dari 40 tahun.



Munculnya generasi baru dalam kekuasaan politik yang baru pula dapat
diharapkan bisa menghilangkan beban-beban politik atau ideologis yang
menjadi sumber berbagai penyakit dan pertentangan  sekitar peristiwa 65.
Bersatunya generasi muda di sekitar gagasan-gagasan anti-neoliberalisme atau
ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno merupakan sambutan terhadap
perkembangan situasi di dunia seperti yang terjadi di banyak negeri Amerika
Latin, terutama Venezuela, Bolivia, Argentina, Equador dan Kuba, yang sedang
berusaha membangun Sosialisme Abad ke-21.



„Tokoh-tokoh lama” harus minggir atau mundur



Dari sudut pandang yang demikian ini maka nyatalah bahwa adalah tugas
strategis seluruh kekuatan demokratik di Indonesia untuk terus-menerus
memupuk dan mendorong generasi muda (yang rata-rata masih di bawah 40 tahun)
untuk mempersiapkan diri guna mengambil alih peran „ kaum tua” dari kalangan
lama, yang sudah terbukti gagal dalam tempo 40 tahun menyejahterakan
sebagian terbesar rakyat kita. Sebab, pengalaman selama 40 tahun sejak Orde
Baru sudah memberikan pelajaran yang pahit sekali kepada rakyat bahwa dengan
pola atau sistem politik lama seperti yang sudah dijalankan oleh Orde Baru
beserta berbagai pemerintahan yang berikutnya maka keadaan negara kita tidak
mungkin akan menjadi makin  baik, melainkan sebaliknya.



Hanya dengan kekuasaan politik yang baru, yang menjalankan politik yang baru
pula di berbagai bidang, maka hari depan negara dan bangsa kita akan menjadi
lebih baik dari pada yang sekarang, dan yang sudah  terbukti gagal selama 40
tahun untuk menyejahterakan kehidupan rakyat banyak. Dan untuk tercapainya
perubahan fundamental yang demikian ini para politisi dan para „tokoh-tokoh”
lama harus minggir atau mundur, untuk memberikan kesempatan kepada  angkatan
muda bangsa membenahi kerusakan-kerusakan yang telah terjadi akibat busuknya
sistem politik dan buruknya moral  selama 40 tahun.



Di tangan angkatan muda yang revolusioner --  artinya yang mendambakan
perubahan besar-besaran  dan fundamental  -- demi kepentingan orang
banyaklah terletak hari kemudian yang lebih baik bagi bangsa Indonesia!



Paris, 14 Agustus 2008





















No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.524 / Virus Database: 270.6.1/1608 - Release Date: 12/08/2008
16:59

Kirim email ke