http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008081510011240

      Jum'at, 15 Agustus 2008 
     
      OPINI 
     
     
     
Belum Merdeka 100% 

      Dodi Hermanto

      Mahasiswa Sosiologi FISIP Unila


      Merdeka! Merdeka! Merdeka! Itulah kata-kata yang diteriakan rakyat 
Indonesia ketika Soekarno membacakan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 
pada 17 Agustus 1945. Perlawanan yang dilakukan seluruh rakyat Indonesia dahulu 
terhadap penjajah asing memang tidak sia-sia. Setelah 350 tahun lebih bangsa 
Indonesia berjuang, membuahkan hasil manis yaitu kemerdekaan bagi Indonesia.

      Ternyata, proklamasi kemerdekaan tidaklah menjadikan Indonesia sebagai 
bangsa yang benar-benar merdeka. Lepas dari penjajahan asing, kita lalu dijajah 
bangsa sendiri.

      Presiden Soekarno yang semula dianggap tokoh yang mampu membawa Indonesia 
ke arah yang lebih baik, pada akhirnya beliau terjerumus dalam kediktatoran. 
Demokrasi Terpimpin yang digaungkan Soekarno hanya dijadikan alat untuk 
mengamini kebijakan-kebijakan yang dibuatnya. Tak jarang kebijakan-kebijakan 
tersebut membawa keuntungan bagi beberapa pihak saja sehingga menimbulkan 
pergolakan politik dan beberapa pemberontakan di daerah-daerah.

      Puncak pergolakan politik tersebut adalah munculnya pemberontakan 
G30S/PKI pada 1966 yang menyebabkan lengsernya Soekarno dan digantikan Soeharto 
dengan berdasarkan pada Supersemar, yang hingga sekarang masih diragukan 
kebenarannya.

      Masa pemerintahan Presiden Soeharto berlangsung 32 tahun. Selama itu pula 
kita merasakan sebagai bangsa yang damai dan sejahtera. Namun, tanpa disadari 
kita telah dininabobokan dan membuat kita tidak menyadari keadaan sesungguhnya.

      Pada kenyataannya, kemiskinan di mana-mana. Utang negara yang melimpah 
ruah serta dibelenggunya kebebasan berpolitik dan pers. Banyak tokoh politik 
yang menetang kebijakan rezim ini ditangkap dan ditahan sebagai tahanan 
politik, serta KKN yang menyengsarakan rakyat Indonesia itulah yang 
sesungguhnya terjadi.

      Pada 1998 bergulirlah era reformasi. Rezim Orde Baru tumbang oleh 
parlemen jalanan yang terdiri dari mahasiswa, buruh, para aktivis, dan 
ormas-ormas yang merupakan elemen penting penggerak kesadaran masyarakat saat 
itu. Mereka menumbuhkan harapan baru, dengan lengsernya rezim Orde Baru akan 
membawa perubahan lebih baik bagi bangsa Indonesia.

      Namun, kenyatannya reformasi hanyalah sebuah slogan yang gaungnya begitu 
terdengar hebat, tapi masih disisipi kroni-kroni Orde Baru yang justru 
menghambat laju reformasi. Selain itu, banyak terjadi bencana alam yang 
memperparah kondisi ekonomi bangsa kita yang sejak awal reformasi digaungkan 
memang telah terpuruk.

      Tanpa terasa, 63 tahun sudah kita merdeka dan 10 tahun sudah kita 
memasuki era reformasi, tetapi kita masih menjadi bangsa yang terbelakang dalam 
segala bidang terutama bidang ekonomi. Kebijakan-kebijakan yang dibuat 
pemerintah bukannya mendatangkan keuntungan bagi kita, melainkan makin 
mendatangkan keuntungan bagi investor asing.

      Tanpa disadari kita telah membuka celah bagi bangsa asing untuk kembali 
menjajah bangsa kita. Penjajahan dengan cara yang lebih halus melalui sektor 
ekonomi oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat.

      Dengan kedok membantu kita untuk perbaikan ekonomi, para investor asing 
mulai berusaha menguasai sektor-sektor penting ekonomi bangsa kita. Investor 
tersebut hanyalah berusaha mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa 
mempedulikan kesejahteraan masyarakatnya. Inilah model penjajahan dalam bentuk 
baru yang dinamakan neokolonialisme dan neoimperialisme.

      Fakta yang jelas terlihat kini adalah penguasaan sektor tambang oleh PT 
Freeport. Lebih 50% sahamnya dimiliki investor asing. Setiap tahun keuntungan 
yang diperoleh bernilai triliunan rupiah, tapi tidak sampai 10% keuntungan 
tersebut dirasakan bangsa kita.

      Semoga dengan peringatan HUT RI ke-63 ini dapat menjadi sarana 
introspeksi diri bangsa kita bahwa sesungguhnya masih banyak yang harus 
dibenahi di negeri kita ini. Sesungguhnya kemerdekaan yang telah dirasakan 
selama ini bukanlah kemerdekaan dalam arti sebenarnya. Merdeka dalam arti 
sebenarnya adalah bangsa kita mampu menentukan sendiri nasib bangsa kita tanpa 
campur tangan asing. Ingat! Kita karus merdeka 100%. n
     

<<bening.gif>>

Kirim email ke