Pemuasan Sex Tak Harus Menikah !!!                         
                                              
Untuk memuaskan kebutuhan sex tidak perlu harus menikah dulu karena
dalam menikah ada ikatan hukum yang lebih rumit dari sekedar kebutuhan
sex saja.  Bahkan dalam pernikahan bisa saja pasangannya tidak mampu
memenuhi kebutuhan sex yang tentunya tidak bisa dipecahkan dengan
jalan perceraian karena perceraian itu hanya melepaskan ikatan
pasangan tetapi tidak melepaskan ikatan hukum dalam tanggung jawab
suami secara financial ekonomi kepada isteri dan anak2nya.

Di Amerika, perceraian itu hanyalah melepaskan ikatan hukum dari
masing2 pasangan untuk menikah lagi dengan yang lainnya, namun sama
sekali tidak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab ekonomi
finansial dari suami kepada isteri dan anak2nya.

Berbeda dengan perceraian dalam Islam, sekali bercerai, maka lepaslah
tanggung jawab apapun dan sama sekali tidak ada lagi tanggung jawab
apalagi ikatan hukumnya.  Suami tidak bisa dituntut untuk membayar
biaya hidup dari isteri yang sudah diceraikannya dan biaya anak2nya.

PERCERAIAN dalam Islam sangat menakutkan isteri2 merupakan malapetaka
bagi wanita, dan menjadi alat bagi suami untuk menterror isteri2nya. 
Karena bercerai dalam Islam akan merusak kehidupan wanita yang
diceraikannya, bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sekalipun
tidak memungkinkan sama sekali.

Sangat berbeda dengan perceraian yang terjadi di Amerika maupun
negara2 maju yang justru merupakan malapetaka bagi suami atau laki2
karena selain harta bendanya harus dibagi dua sama rata, ditambah lagi
kewajiban suami untuk memberi jaminan hidup kepada isterinya dan
anak2nya hingga berumur 18 tahun.  Bagi isteri atau wanita di Amerika,
bercerai bukanlah malapetaka seperti dalam komunitas Islam.


> Aisyah 2006 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Bagi sex maniac 1 wanita memang tidak cukup.
> Makanya mereka terus bergerilya menghalalkan
> segala cara termasuk agama supaya mereka bisa
> halal dan terpuaskan sex maniacnya.

Sex maniac sekalipun tidak bisa dijadikan alasan untuk mengizinkan
pelacuran ataupun poligamy, karena banyak cara untuk mengobati, banyak
cara untuk mengatasi, dan banyak cara untuk memuaskannya.

Di Amerika dan semua negara2 maju, masalah sex maniak bukanlah
merupakan masalah besar karena banyak sekali cara2 mengatasinya
seperti melepaskannya melalui pornografi, melalui blue filem, melalui
hubungan sex dengan teman2 sendiri yang juga sex maniac, bisa dengan
masturbasi, atau melakukan hubungan sex dengan boneka2 yang banyak
dijual di toko2 di Amerika yang tentu ber-beda2 kualitasnya tergantung
harganya, dan banyak sekali berbagai alat2 untuk wanita maupun laki2
yang berfungsi untuk memuaskan sex yang dijual di toko2 sex dimana
pembelinya dibatasi umur diatas 18 tahun.

Yang jadi masalah justru negara2 seperti Indonesia ini, semua yang
terkait urusan sex dilarang, tapi pelacuran dan poligamy malah diizinkan.

Kita tak perlu prejudice menuduh orang lain ataupun pasangan kita
sebagai sex maniac, karena pada dasarnya berhubungan sex merupakan hal
yang sangat menyenangkan terutama tentunya dengan pasangan yang juga
menyenangkan kita.  Kita sulit mendapatkan kepuasan sex apabila
diperkosa, atau memperkosa, atau dipaksa, atau dengan pelacur, atau
dengan memperjual belikan sex.

Oleh karena itu, marilah kita mencari kepuasan sex dengan cara2
terhormat yang tidak melanggar hukum, yang tidak melanggar nilai2
kemanusiaan, yang tidak merendahkan martabat pasangan kita.

Banyak pasangan suami isteri di Amerika secara periodik melakukan
pertukaran suami isteri dengan teman2 atau kerabat2 terdekatnya
sekedar untuk menghindari kebosanan sex, namun secara etika moral hal
ini harus dirahasiakan antar mereka saja dan tidak boleh disebar
luaskan kepada lingkungannya yang bisa menyebabkan jatuhnya martabat
seseorang sehingga menjadi pelanggaran HAM yang bisa dituntut ke
Pengadilan.

Janganlah menjadikan kebutuhan sex ini sebagai hal yang tabu, atau
menjadikannya hanya merupakan kebutuhan untuk laki2 dengan mengabaikan
kebutuhan sex untuk wanita.

Ny. Muslim binti Muskitawati.






Kirim email ke