----- Original Message ----- 
  From: Harry fadil 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Cc: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Friday, August 22, 2008 6:33 PM
  Subject: [mediacare] Melihat Dunia (Islam) Setelah Olimpiade Beijing - Mas 
Ulil -


        Melihat Dunia (Islam) Setelah Olimpiade Beijing
        21 Agustus 2008 11:45:45

        Oleh: Ulil Abshar Abdalla  (www.gusmus.net)

        Kepada kaum Islamis yang “sok yakin” dan “ge-er” bahwa Islam akan 
menjadi kekuatan dunia baru, saya mengatakan: tengoklah India dan Cina itu! 
Mereka bekerja keras untuk membangun ekonomi, merebut peluang dalam pasar 
global, bukan mengumbar retorika semata.



        PADA tahun 80an, setelah hancurnya Uni Soviet, banyak kalangan ideolog 
gerakan Islamisme yang meramal bahwa kapitalisme di mana Amerika menjadi simbol 
utamanya akan segera rontok. Dari reruntuhan dua “ideologi” dan kekuatan besar 
itu, mereka meramalkan (atau “wishful thinking”?) bahwa Islam akan tampil 
sebagai kekuatan baru yang menggantikan keduanya.



        Apakah mimpi mereka itu sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda akan 
terwujud? Marilah kita tengok dunia sekitar. Yang paling gampang adalah dengan 
melihat event yang sekarang sedang digelar di Cina, yaitu Olimpiade Beijing 
2008. Pembukaan Olimpiade di Beijing pada 8/8/08 yang lalu begitu megah sekali, 
seolah-olah negeri Cina hendak mendeklarasikan diri bahwa kami adalah kekuatan 
baru di panggung dunia. Apa yang dikatakan oleh negeri Cina itu bukan sekedar 
mimpi atau “wishful thinking”, tetapi kata-kata yang disokong dengan sebuah 
bukti nyata.



        Sekarang kita lihat sendiri, kekuatan baru yang akan menjadi pesaing 
utama Amerika Serikat tampaknya bukan negeri-negeri Islam atau “Islam” secara 
umum. Pesaing baru itu datang dari dua negeri yang jauh dari tradisi Islam, 
yakni Cina dan India.



        Fareed Zakaria menulis buku baru (yang tampaknya kurang terlalu 
sukses), “Post American World”, dunia paska-Amerika. Menurut dia, konstelasi 
kekuatan dunia saat ini pelan-pelan mulai memperlihatkan gejala baru, yaitu 
merosotnya peran Amerika, dan dari sanalah lahir dunia baru, dunia 
paska-Amerika. Tetapi, dunia baru ini bukan ditandai dengan merosotnya peran 
Amerika secara total, atau “the declining West”. Yang terjadi adalah munculnya 
beberapa kekuatan baru dalam bidang-bidang tertentu atau “the emerging rest”. 
Dunia tidak lagi uni-polar, tetapi multipolar.



        Visi dunia yang dibayangkan kalangan Islamis masih “old-fashioned”, 
alias kuno dan antik, yaitu dunia dengan kekuatan tunggal yang dominan di semua 
bidang. Kalangan Islamis bermimpi Islam atau “negeri Islam” memerankan kekuatan 
hegemonik seperti yang diperankan oleh Amerika sekarang. Dengan kata lain, 
dengan seluruh kebencian mereka terhadap Amerika, mereka sebetulnya “kesengsem” 
atau jatuh cinta pada peran yang dimainkan Amerika saat ini, dan karena itu 
mereka bermimpi suatu saat Islam akan menggantikan peran itu.



        Saya kira, mimpi seperti itu menjadi tidak relevan dalam jangka 
panjang. Pertama, mimpi itu sendiri jelas “mimpi”, sebab hingga sekarang kita 
belum melihat tanda-tanda sedikitpun bahwa negeri-negeri Islam akan menjadi 
kekuatan baru, entah dalam bidang militer, teknologi, kebudayaan, apalagi 
ekonomi, terlebih-lebih olah-raga.



        Hingga sekarang, negeri seperti Saudi Arabia masih bergelut dengan 
pertanyaan utama: bolehkah perempuan ikut olah-raga? Dalam Olimpiade Beijing 
saat ini, kontingen olah-raga Saudi Arabia sama sekali tak menyertakan 
perempuan. Alasannya jelas karena masalah agama: menurut Islam versi mereka, 
perempuan tak layak, atau tepatnya diharamkan ikut olah-raga.



        Dalam bidang ekonomi, tak ada satu negeri Islampun yang bisa disebut 
sebagai kekuatan yang signifikan saat ini. Negeri-negeri Arab teluk seluruhnya 
menggantungkan pertumbuhan ekonominya pada sumber alam, yaitu minyak, bukan 
karena kerja keras penduduknya sendiri. Secara budaya, kita juga jarang melihat 
produk-produk budaya “populer” yang meng-global yang berasal dari dunia Islam. 
Dalam bidang sastra misalnya, karya-karya yang mampu menembus pasar dunia yang 
muncul dari luar tradisi kesusasteraan Barat umumnya berasal dari para penulis 
India. Penulis Muslim yang mampu menembus pasar itu adalah Orhan Pamuk yang 
berasal dari Turki, negeri Muslim yang sekuler yang justru dibenci oleh 
kalangan Islamis di mana-mana.



        Dalam pandangan saya, visi dunia ke depan yang lebih masuk akal dan 
realistis adalah dunia yang multi-polar, dunia dengan sejumlah kekuatan yang 
menyebar. Hingga saat ini, Amerika masih menjadi kekuatan utama dalam hampir 
semua bidang. Tetapi, kekuatan-kekuatan baru mulai pelan-pelan muncul ke 
permukaan. Dalam jangka panjang, kekuatan-kekuatan baru yang lain tentu akan 
bermunculan. Setelah Cina dan India, mungkin akan muncul kekuatan-kekuatan lain 
dari kawasan Amerika Latin. Begitu seterusnya.



        Dalam konstelasi dunia yang cenderung multi-polar itu, kita belum 
belihat negeri-negeri Islam muncul ke permukaan sebagai calon “kekuatan baru”. 
Jangankan menjadi calon kekuatan “tunggal”, bahkan kekuatan yang setara dengan 
Cina atau India sekarang pun tidak sama sekali. Oleh karena itu, ramalan kaum 
Islamis bahwa Islam akan menggantikan komunisme dan kapitalisme sebagai 
satu-satunya kekuatan baru di panggung dunia hanyalah mimpi yang mendekati 
“wishful thinking”.



        Ada dua tantangan besar yang dihadapi oleh dunia Islam saat ini sebelum 
berharap menjadi kekuatan atau “kutub” baru dalam konstelasi kekuatan dunia. 
Pertama di sektor ekonomi. Pelajaran yang bisa kita ambil dari Cina dan India 
–keduanya saat ini berhasil menjadi contoh kesuksesan baru di bidang ekonomi– 
adalah keduanya berhasil mengintegrasikan diri dalam pasar global, merebut 
peluang-peluang baru di sana, tanpa kehilangan kemandirian sebagai suatu 
entitas politik yang memiliki kepentingan nasionalnya sendiri.



        Saya belum melihat model Amerika Latin yang menempuh suatu eksperimen 
baru melalui apa yang disebut dengan “neo-sosialisme” –model yang beberapa hari 
lalu dipuji oleh harian Kompas itu– sebagai model yang “workable” dan masih 
terlalu dini untuk dinilai. Terus terang, saya skeptis dengan model Amerika 
Latin itu. Sebagaimana diperlihatkan oleh Venezuela melalui figur utamanya Hugo 
Chavez, model sosialisme (entah lama atau baru) selalu membutuhkan kekuatan 
negara yang besar untuk mengontrol arah kebijakan ekonomi yang dipaksa 
mengikuti jalur tertentu.



        Dengan kata lain, dalam sosialisme (sekali lagi, entah lama atau baru) 
selalu ada kecenderungan kepada “planisme” atau peran negara yang besar sekali 
sebagai “perancang utama”. Kekuatan negara di sini secara empiris tentu 
diterjemahkan melalui kekuatan yang besar yang diberikan kepada kepala negara. 
Itulah yang menjelaskan kenapa tahun lalu Hugo Chavez meminta kekuasaan yang 
lebih besar melalui serangkaian amandemen atas konstitusi. Kekuatan negara yang 
besar semacam ini, sebagaimana kita ketahui dari pengalaman selama ini, akan 
berujung kepada hal yang sederhana: korupsi. Petuah lama dalam dunia politik 
berlaku di sini: power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely!



        Contoh yang diperlihatkan oleh Cina dan India sekali lagi 
memperlihatkan bahwa kedua negara itu sukses sebagai kekuatan ekonomi bukan 
karena memerankan diri sebagai “trouble maker” dalam pergaulan ekonomi global. 
Mereka menjadi sahabat yang baik, membuka diri pada pasar global, merebut 
peluang di sana, seraya tak kehilangan independensi. Dengan kata lain, mereka 
sukses bukan dengan memusuhi pasar, tetapi justru mengintegrasikan diri di 
dalamnya. Model Cina dan India patut dipertimbangkan oleh negeri-negeri Islam.



        Kepada kaum Islamis yang “sok yakin” dan “ge-er” bahwa Islam akan 
menjadi kekuatan dunia baru, saya mengatakan: tengoklah India dan Cina itu! 
Mereka bekerja keras untuk membangun ekonomi, merebut peluang dalam pasar 
global, bukan mengumbar retorika semata. Jika Islam hendak maju, tiada cara 
lain kecuali bekerja keras seperti dua negeri tersebut, bukan bekerja keras 
untuk mendirikan sebuah “khilafah” yang tak jelas juntrungannya itu. 
Kesampingkan mimpi kalian itu, wahai kaum Islamis! Bangunlah, sebab 
negeri-negeri lain mencapai kemajuan bukan dengan mimpi semata, tetapi dengan 
kerja keras.



        Tantangan kedua adalah di bidang politik. Dunia Islam cepat atau lambat 
harus membangun suatu sistem yang demokratis. Sistem otoriter yang sekarang ini 
ada di hampir semua negeri-negeri Islam menjadi batu sandungan yang amat serius 
yang merintangi gerak mereka untuk tampil kekuatan yang dipertimbangkan dalam 
dunia internasional.


        Meskipun Cina sukses sebagai kekuatan ekonomi, saya masih menyimpan 
keragu-raguan, karena negeri itu masih diperintah oleh satu partai, dan karena 
itu sistem politik mereka masih berwatak otoriter.

        Saya sendiri berpandangan bahwa kebebasan ekonomi tak bisa 
terus-menerus ditegakkan dalam sistem politik yang tak bebas. Kebebasan hanya 
bisa hidup dalam sebuah sistem politik yang bebas. Oleh karena itu, kapitalisme 
tidak bisa tidak kecuali hidup dalam sistem demokrasi. Sebab, keduanya mewakili 
ide dan cita-cita yang sama, yaitu kebebasan. Kapitalisme adalah lambang 
kebebasan ekonomi, sementara itu demokrasi adalah lambang kebebasan politik. 
Kedua kebebasan itu seharusnya dilengkapi dengan kebebasan lain di bidang 
ekpresi budaya. Itulah sebabnya ide tentang multikulturalisme menjadi sangat 
penting (meskipun ide ini di beberapa negeri Barat mendapat serangan hebat 
karena menimbulkan sikap-sikap “political correctness” yang cenderung 
relativis).

        Dalam tesis saya, ketiga sistem itu saling sejalan dan “kongruen”. Oleh 
karena itu, kesuksesan ekonomi di Cina saat ini adalah model yang tak seimbang, 
karena kebebasan ekonomi tak disertai dengan kebebasan politik. Cepat atau 
lambat, kebebasan ekonomi yang sekarang diterapkan di tanah Cina akan membawa 
dampak yang tak terhindarkan, yaitu tuntutan untuk membuka kebebasan di sektor 
politik. Jika seseorang sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya, sudah tentu daftar 
kebutuhan dia akan bertambah lagi, termasuk kebutuhan untuk memiliki kebebasan 
di sektor politik.

        Seorang teman saya dari Malaysia beberapa tahun lalu bilang bahwa 
justru karena masyarakat sudah kenyang perutnya, mereka tidak peduli pada 
hal-hal yang lain; mereka justru menjadi apatis dan apolitis. Perkembangan 
politik di Malaysia sekarang, saya kira, menolak apa yang ia katakan itu. 
Setelah Malaysia secara relatif berhasil mencapai kemakmuran, masyarakat di 
sana mulai menuntut sistem politik yang lebih longgar.

        Saya menunggu fase baru di Cina, yaitu geliat demokrasi yang tak bisa 
dihindarkan justru karena mereka sukses secara ekonomi. Sambil menunggu fase 
itu, negeri-negeri Islam tetaplah layak menengok Cina sebagai suatu model yang 
sukses di bidang ekonomi. Tentu bukan model yang ditiru mentah-mentah, tetapi 
model yang bisa menjadi bahan perbandingan.

        Yang jelas, tantangan terbesar umat Islam saat ini adalah kemiskinan. 
Oleh karena itu, pembangunan ekonomi menjadi masalah utama yang harus mereka 
pecahkan. Meminjam istilah yang populer di Amerika, “It’s economy, stupid!”

        Penulis adalah pemerhati sosial-keagamaan. Tulisan ini pernah dimuat di 
Koran Tempo


       


------------------------------------------------------------------------------
  Get your new Email address! 
  Grab the Email name you've always wanted before someone else does!  

Kirim email ke