2/08/08 01:15
Diteliti Akulturasi Islam Tionghoa

Surabaya (ANTARA News) - Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas 
Kristen (UK) Petra Surabaya Lindayani meneliti akulturasi kebudayaan Islam 
Tionghoa di Surabaya yang akhirnya menjadi karya tugas akhir (TA) dan lulus 
dengan predikat cumlaude..

"Keberadaan etnis Tionghoa sebagai etnis minoritas dipandang secara eksklusif 
dengan stereotip-stereotip tertentu," kata mahasiswi dengan segudang prestasi 
itu di kampus setempat, Kamis.

Menjelang wisuda bersama 1.018 wisudawan di kampus setempat (22-23/8), peraih 
IPK 3,74 itu mengatakan hubungan baik antara etnis Tionghoa dengan masyarakat 
pribumi yang mayoritas beragama Islam sudah lama terjalin.

"Realitas itu bisa dilihat dari berbagai kebudayaan hasil akulturasi, baik 
berupa arsitektur, bahasa, masakan, kesenian dan lainnya," kata peraih rekor 
MURI dalam `Cover Concept 1001` itu.

Melalui karya itu, katanya, dirinya berharap orang akan memiliki pemahaman dan 
selanjutnya memiliki persepsi yang positif antara masyarakat pribumi dan 
Tionghoa, sehingga mempercepat bangsa Indonesia mencapai semangat 
multikulturalisme.

"Karya itu saya rancang menjadi buku yang mengisahkan akulturasi kebudayaan 
Islam Tionghoa di Surabaya, sehingga semangat multikulturalisme akan terbangun 
terus-menerus," katanya.

Dalam wisuda ke-54 itu, peraih cumlaude lainnya adalah Luciana Devi Soebjanto. 
Gadis kelahiran Surabaya pada 12 Desember 1985 itu meraih IPK 3,63 dan 
merupakan mahasiswa DKV angkatan 2004.

"Saya mengangkat tema Perancangan Buku Mengungkap Realitas Perjalanan Hidup 
Penderita HIV/AIDS (ODHA) di Surabaya, karena masih banyak masyarakat yang 
terjebak dengan informasi yang salah tentang HIV/AIDS sehingga penderita 
mengalami diskriminasi dan stigma negatif," kata pemilik hobby travelling, 
berenang, dan menggambar itu.

Sementara itu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menanamkan 
jiwa kewirausahaan (technopreneur) sejak dini kepada mahasiswa baru melalui 
pengukuhan 5.060 mahasiswa baru (maba) tahun 2008/2009 dengan menghadirkan 
motivator ulung dari Jakarta, Reza M Syarief.

Dalam acara yang dibuka rektor ITS Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD itu, Reza yang 
dinobatkan sebagai pemegang rekor pelatihan motivasi terlama di dunia oleh MURI 
itu berkali-kali mengajak para maba menggali pemikirannya agar berhasil di masa 
depan.

Untuk meraih kesuksesan, ia pun menawarkan dua lembar uang pecahan Rp10 ribu, 
sehingga mahasiswa pun ramai mengacungkan jarinya dan hanya beberapa mahasiswa 
yang akhirnya tergerak untuk maju mengambilnya.

"Nah itulah yang saya maksud, butuh action untuk sukses. Jadi, tak hanya 
kemauan saja," katanya.

Selain itu, ia menegaskan bila untuk sukses mahasiswa perlu merasakan 
pengalaman gagal. Ia menjelaskan tentang Micheal Jordan, peraih tiga kali 
penghargaan Most Valuable Player (MVP) yang mampu sukses setelah mengalami 300 
kali kekalahan sepanjang karirnya di ajang kompetisi bola basket.

"Biasanya orang yang sukses besar adalah orang yang sering gagal dan tidak 
takut mengambil keputusan," katanya, memotivasi.(*)

http://antara.co.id/arc/2008/8/22/diteliti-akulturasi-islam-tionghoa/



 

Kirim email ke