Oktober 1996 (saat mengikuti kuliah hukum acara pidana di FH-UI di Depok)
Harry Samputra Agus 
         
        
        








        


        
Alam semesta diciptakan bolak balik dalam arti pergi/berpindah dan 
pulang/kembali. Arus di bahasa universal juga bolak balik berpasang-pasangan. 
Namun mengapa dalam alur proses hukum  hanya searah. Kasus hukum dapat dilihat 
dalam perspektif mikro/ strategi kasuistik dari (para)pelaku  dan perspektif 
makro/grand strategy dari (para) pelaku. Kedua strategi ini harus dilakukan 
hubungan  bolak balik/check and balances secara terus menerus. Mengembangkan 
kasus selebar mungkin akan mendapatkan gambaran makro dari setiap kasus 
mengenai strategi kejahatan apa di baliknya. Yang dihubungkan dengan kejahatan 
delik hukum  yang sangat mikro. Mengelola dokumen intelejen di balik setiap 
kejahatan/strategi makro  merupakan terobosan untuk mengetahui terutama 
kejahatan ekstraordinari seperti korupsi dan kejahatan kepada kemanusiaan 
lainnya. Agar pembuktian menjadi menyeluruh. Membuka kedok strategi kejahatan  
secara makro juga tidak mengharuskan dokumen tertulis
 tetapi dengan kesaksian dengan praduga berkesalahan yang berada dalam alur 
hukum yang jelas baik itu modus kejahatan maupun membuka pengaburan bukti-bukti 
hukum yang dilakukan (para)pelaku menjadikan semua pelaku dari garis proses 
"grand strategy" yang sudah salah sampai pelaku kesalahan kasuistik menjadi 
terbuka. Setiap kesaksian para "pendosa" dilindungi  pada tingkatan dan tahapan 
apapun baik  dari pelaku strategi kejahatan makro sampai dari strategi 
kejahatan mikro. Pendekatan strategis menjadi penting karena semua kita memilki 
kehendak yang bisa berperilaku bebas atau dibuatkan alur/flow chartnya. Hukum, 
pembuatan mekanisme pembuktiannya juga dapat beralur sistematis atau bebas 
secara generalis. Pembuktian generalis dan sistematis juga harus dibolak balik. 
Agar saling melengkapi. Intelejen hukum Ini melapaui perdebatan yang tak 
kunjung habis tentang siapa yang harus membuktikan dan bagaimana mekanismenya 
karena dengan pendekatan "system
 engineering" semua varian kejahatan dapat dibuka baik semua 
instrumentasinya/instrumen kehendak dan perilaku di satu segi maupun 
perhitungan/penghisaban kadar /intensitas tangungjawab/kontribusi kejahatannya. 
Pembuktian bolak balik merupakan proses transparansi proses hukum yang secara 
logika matematis dapat dipahami oleh semua kalangan. Seperti halnya arus bolak 
balik positif dan negatif proses ini sangatlah sesuai dengan hukum TUHAN 
tentang kerapatan energi + dan energi - penggerak alam semesta.
Ukuran kejahiliyahan adalah apabila prosedur hukum belum/tidak sesuai dengan 
hukum universaliltas TUHAN dan inilah yang menjadi harapan semuanya dimana 
hukum di kembalikan menjadi hikmah yang memimpin/panglima segalanya.

Kapankah negaraku dipimpin pemimpin yang memahami hikmah berKetuhanan?
Tunggulah kehancuran bagi  para pemimpin zalim yang ada karena ahli hukum akan 
memimpin peradaban ini secara adil dan menyejahterakan.

Harry Samputra Agus
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indoneisa   
Angkatan 93'



      

Kirim email ke