Posted by: "noni marlini" [EMAIL PROTECTED]   noniemarlini 
Mon Aug 25, 2008 7:54 am (PDT) 


Tentang Hizbut Tahrir di Indonesia

Mungkin sebagian teman-teman heran, kenapa saya seperti terobsesi untuk
melakukan kritik terhadap kelompok bernama Hizbut Tahrir (HT) itu.

Ketika masih di Jakarta dulu, saya sering sekali melakukan "tour" ke
sejumlah kampus untuk menghadiri sejumlah diskusi yang diadakan oleh beberapa
kelompok mahasiswa. Selain ke kampus, saya juga sering mendatangi forum-forum
diskusi di tingkat kabupaten. 

Sungguh di luar dugaan saya, bahwa Hizbut Tahrir cukup mendapatkan pengaruh
yang lumayan di sejumlah kampus. Kalau saya katakan "lumayan" bukan
berarti besar sekali. Tetapi sebagai pemain baru, gerakan ini cukup sukses
menanamkan pengarus di sejumlah kampus, seperti IPB di Bogor, misalnya. 

Yang mengherankan, saat diundang diskusi ke sebuah pesantren kecil di kota 
Tuban, saya bertemu juga dengan beberapa aktivis HT
di sana.
Sepanjang diskusi, mereka membuat "onar" dengan cara bertanya yang
sangat agresif dan meneriaki seseorang yang berpendapat berbeda. Saya tak
menduga bahwa mereka bisa mempunyai pengaruh hingga ke wilayah kabupaten.

Memang secara umum, pengalaman berdiskusi dengan kalangan fundamentalis di
beberapa tempat sangat tidak menyenangkan, karena mereka sama sekali tak
mengikuti cara-cara berdiskusi yang beradab.

Suatu saat saya pernah diundang ke Universitas Muhammadiyah Malang dalam sebuah
diskusi yang juga menghadirkan salah seorang cendekiawan Muhammadiyah, Dr.
Syafiq Mughni. Dalam diskusi itu ada sejumlah aktivis HT yang hadir dan, sekali
lagi, membuat "onar" dengan cara mereka sendiri, antara lain dengan
teriakan-terakan Allahu Akbar. Pak Syafiq sampai terheran dan berujar, kok
Universitas Muhammadiyah jadi begini.

Pemandangan yang sangat lucu terjadi pada sebuah diskusi yang diadakan oleh
Kedutaan Amerika di Hotel Hilton (sekarang berubah menjadi Hotel Sultan [untung
bukan Hotel Khalifah]) beberapa tahun lalu. Saat itu, saya menjadi moderator,
dan diskusi dilangsungkan dalam bahasa Inggris. Seorang aktivis HT
"ngacung" dan bertanya dalam bahasa Arab. Ketika saya peringatkan
bahwa sebaiknya memakai bahasa Inggris atau Indonesia saja, dia ngotot.
Pertanyaannya sama sekali tak berkenaan dengan isi diskusi. Pokoknya meracau
saja.

Rupanya, kelompok HT memang memakai strategi yang unik, yaitu dengan cara
mengirim aktivis mereka ke sejumlah diskusi publik untuk mengampanyekan ide
mereka tentang "khilafah". Walaupun diskusinya tidak berkaitan dengan
tema itu, mereka paksakan saja saat sesi tanya-jawab untuk melontarkan isu
tersebut. 

Strategi ini ternyata merupakan metode yang sengaja mereka praktekkan di
mana-mana. Kalau anda membaca buku karangan mantan aktivis HT di Inggris yang
"sadar" dan keluar dari organisasi itu, yaitu Ed Husein yang menulis
buku "The Islamist" itu (buku ini sudah terbit dalam edisi Indonesia
oleh Penerbit Alvabet, Jakarta), anda akan tahu bahwa cara serupa juga mereka
terapkan di Inggris di sejumlah kampus. 

Strategi lain yang baru saya sadari belakangan adalah dengan cara memakai
literatur fikih dan ushul fikih klasik untuk mendukung ide-ide mereka. Strategi
ini saya kira mereka tempuh untuk menghadapi kalangan pesantren di Indonesia 
yang
akrab dengan khazanah fikih dan ushul fikih itu. Saya senang dengan strategi
mereka yang satu ini, karena dengan demikian mereka akan dengan mudah
dipatahkan melalui tradisi fikih dan ushul fikih sendiri yang sangat kaya itu. 

Meski mereka memakai fikih dan ushul fikih, cara mereka mendekati kedua
disiplin itu adalah dengan melakukan "ideologisasi" , yakni mengunci
fikih dan ushul fikih pada perspektif tertentu secara kaku, mengabaikan watak
"polifonik" atau "polisemik" dari keduanya. Cara mereka
seperti ini akan menjadi "boomerang" bagi mereka sendiri. Fikih dan
ushul fikih sama sekali tak bisa di-fiksasi, karena wataknya yang sejak awal
sangat lentur dan "fluid". 

Menurut saya, meski kelompok HT sama sekali tak besar, tetapi ini adalah
kelompok yang sangat mengancam di masa mendatang. Kelompok ini memang tidak
memakai metode kekerasan, tetapi cara-cara indoktrinasi mereka sangat kondusif
untuk lahirnya kekerasan. Mereka memakai metode konfrontasi dengan membagi
dunia secara hitam putih, dunia Islam dan dunia kafir. 

Kalau anda baca pamflet-pamflet mereka yang secara agresif mereka sebarkan,
entah melalui majalah bulanan atau buletin mingguan pada hari Jumat, mereka
dengan "ngoyo" --tetapi kadang-kadang lucu dan menggelikan- - mencoba
menganalisa peristiwa-peristiwa politik, baik domestik dan internasional,
dengan cara yang sangat klise, yaitu mengembalikan seluruh masalah di dunia ini
kepada kapitalisme, sekularisme, dan demokrasi, seraya mengajukan alternatif
sistem khilafah sebagai solusi. 

Dalam pandangan mereka, semua hal bisa diselesaikan dengan syari'ah Islam,
mulai dari problem WC rusak (maaf, jangan terkecoh, ini hanya ungkapan yang
saya pakai secara metaforis saja!) hingga ke sistem perdagangan dunia yang tak
adil.

Saya sedang membaca kembali semua literatur HT yang ditulis oleh Taqiyyuddin
al-Nabhani dan Abdul Qadim Zallum. Seluruh karangan mereka lengkap saya temukan
di perpustakaan Universitas Harvard. Tidak mudah membaca buku kedua pengarang
ini. Bukan karena sulit, tetapi karena isinya membosankan dan penuh dengan
"non-sense". Saya heran, bagaimana mungkin anak-anak muda bisa
tergoda dengan ideologi yang non-sense seperti ini.

Saya kira, salah satu penjelasannya adalah bahwa ideologi HT ingin tampil
sebagai ideologi revolusioner yang hendak menjadi alternatif atas kapitalisme
dan demokrasi. Anak-anak muda yang sedang mengalami fase "sturm und
drang", fase pubertas intelektual dan mencari "bentuk", mungkin
mudah tertarik dengan ideologi yang hendak menampilkan diri sebagai "Che
Guevara" dengan baju Islam ini.

Saya tak menyalahkan anak-anak muda itu. Tugas kaum intelektual Muslim lah
membongkar kepalsuan ideologi HT dengan menampilkan interpretasi yang beragam
mengenai Islam, terutama interpretasi sejarah Islam yang hendak dimanipulas
oleh kalangan HT. Beberapa kalangan terpelajar Muslim yang belajar di
universitas Barat, tetapi tidak terdidik dalam studi Islam yang sistematis,
juga ada yang jatuh kedalam "perangkap" kelompok ini. Saya sungguh
heran, bagaimana kaum terpelajar yang berpikir secara rasional bisa percaya
pada "non-sense" seperti dikemukakan oleh HT itu. 

Beberapa kalangan pesantren di Jawa Timur, saya dengar, juga ada yang sudah
mulai terpengaruh. Saya kira, taktik HT yang juga memakai literatur fiqh
al-siyasah (fikih politik) klasik seperti al-Ahkam al-Sulthaniyya karangan Imam
al-Mawardi (w. 1058 M), dalam beberapa kasus, membuahkan hasil. Sejumlah kiai
dan santri yang tak mengerti peta perkembangan ideologi Islam internasional,
dengan gampang "ditipu" oleh kelompok ini dengan retorika yang
sengaja dibuat begitu rupa sehingga seolah-olah berbau fikih. 

Kelompok ini dilarang di sejumlah negeri Arab dan Eropa, tetapi menikmati
kebebasan yang penuh di Indonesia,
bahkan berhasil mengadakan konferensi khilafah internasional pada 12 Agustus
2007  di Senayan. Tak kurang dari Ketua Umum Muhammadiyah, Dr. Din
Syamsuddin, ikut menghadiri konfrensi itu dan memberikan sambutan. Isu
Ahmadiyah yang menghangat di tanah air beberapa waktu lalu merupakan
"lahan basah" yang dengan cerdik dipakai oleh sejumlah tokoh HT untuk
menghimpun "credit points" di mata umat.

Bersama kelompok-kelompok lain seperti FUI dan FPI, HT dengan agresif
melancarkan kampanye pembubaran Ahmadiyah di Indonesia. Salah satu tokoh
mereka, Muhammad Al-Khaththath yang berhasil "menyusup" menjadi
pengurus MUI Pusat, tampil sebagai salah satu figur sentral dalam kampanye ini.
Isu Ahmadiyah memang isu yang sangat murah untuk meraih "credit
points" di mata umat, tanpa resiko apapun. 

Menurut saya, harus ada usaha yang sistematis untuk melawan secara intelektual
ideologi HT. Ada
kecenderungan yang sangat kuat ke arah totalitarianisme dan fasisme dalam
ideologi ini yang sangat berbahaya bagi umat Islam. 

Kelompok ini jauh lebih berbahaya ketimbang kelomopok salafi yang umumnya hanya
menekankan "puritanisme dan kesalehan individual". Mereka juga
berbahaya persis karena sikapnya yang "konfrontatif" terhadap sistem
politik yang ada di Indonesia:
mereka menolak menjadi partai politik dan ikut pemilu karena menganggap
demokrasi sebagai sistem kafir, padahal mereka sendiri adalah sebuah partai
(terbukti dengan nama mereka, "hizb"). Karena berada di luar sistem,
mereka bisa bertindak di luar kontrol. 

Yang mengherankan adalah sikap pemerintah Indonesia yang bertindak secara
kurang tepat dalam dua kasus berikut ini. Sementara dalam kasus Ahmadiyah,
pemerintah takluk pada tekanan kaum Islam fundamentalis, termasuk Hizbut
Tahrir, untuk membubarkannya, pada kasus Hizbut Tahrir memperlihatkan
kelonggaran yang luar biasa.  Memang SKB Ahmadiyah tidak membubarkan
kelompok itu, tetapi hanya sebatas membatasi kegiatannya. Karena tidak puas,
kelompok-kelompok fundamentalis ini, di masa mendatang, tentu akan terus
melakukan tekanan agar membubarkan Ahmadiyah.

Padahal jelas sekali tujuan akhir HT bertentangan sama sekali dengan tujuan
negara Indonesia.
HT ingin menggantikan Indonesia
sebagai negara plural berdasarkan Pancasila dengan negara khalifah atau negara
Islam universal. Sementara tujuan kelompok Ahmadiyah sama sekali tak ada yang
bertentangan dengan tujuan negara Indonesia. 

Meskipun saya sendiri bersikap bahwa setiap kelompok, aliran, sekte, dan mazhab
apapun harus diberikan kebebasan untuk berserikat dan menyatakan pendapat di 
Indonesia
sesuai dengan mandat konstitusi kita. Baik Ahmadiyah, Hizbut Tahrir, dan
kelompok-kelompok lain haruslah diberikan kebebasan yang sama. Saya hanya mau
menunjukkan paradoks kebijakan yang ditempuh pemerintah.

Meskipun saya menganjurkan agar semua kelompok diberikan kebebasan berpendapat,
tetapi kita, terutama masyarakat sipil, harus terus-menerus melakukan kritik
atas ideologi atau paham yang menyebarkan kebencian pada kelompok atau aliran
yang berbeda, yang tujuan akhirnya berlawanan dengan tujuan negara Indonesia,
seperti kelompok HT ini. 

Dalam beberapa "note" mendatang, insyaallah saya akan berusaha
menulis sejumlah kritik atas ideologi negara khilafah yang dilontarkan oleh HT.

Ulil Abshar Abdalla

Kirim email ke