Syariat Islam Belum Bisa Jadi Solusi di Indonesia

KOMPAS, Kamis, 28 Agustus 2008 | 16:38 WIB


JAKARTA, KAMIS - Penerapan syariat Islam di Indonesia tak akan menjadi solusi 
dalam menyelesaikan masalah bangsa, jika pihak-pihak yeng melontarkan wacana 
itu masih terjebak dalam konteks Arabisasi Indonesia atas nama agama. Penerapan 
syariat Islam harusnya berpijak pada kondisi NKRI secara utuh di mana akhirnya 
nilai-nilai Islam dapat bertumbuh dengan fleksibel.

"Artinya, ketika norma Islam diterapkan di Arab itu sudah menjadi budaya Arab 
Islam, begitu pula ketika berada di Sunda jadinya budaya Sunda Islam," ujar 
Pimpinan Pesantren Luhur Al-Wasilah Garut, Tanthowi Djauhari Musaddad dalam 
seminar bertajuk "Islam, Radikalisme Beragama dan NKRI" di Fakultas Ilmu Budaya 
UI Depok, Kamis (28/8).

Menurut Tanthowi, konteks Arabisasi Indonesia itu muncul karena pemikiran itu 
kini lebih dipahami sebagai simbol budaya. "Agama harusnya hanya memberi aturan 
norma, bukan sekadar budaya seperti aturan baju dan simbol-simbol lain. Tapi 
ketika kita memakai pakaian dengan memahami makna harus menutup aurat, itu yang 
Islam," tandas Tanthowi.

Dengan kondisi demikian, syariat Islam tak dapat menjadi solusi di Indonesia 
sepanjang status teoritis idealisnya justru membuat kaku penerapannya. Oleh 
karena itu, Tanthowi melihat Pancasila dan UUD 1945 masih menjadi wujud budaya 
Indonesia Islami yang esensinya seirama dengan karakter dan dinamika hukum 
Islam.

Pancasila dan UUD 1945, menurutnya, menjamin setiap warga negaranya untuk 
melaksanakan ajaran agamanya masing-masing sehingga Islam akhirnya dapat hidup 
berdampingan dengan agama lain dengan nuansa kerukunan dan toleransi.


Kirim email ke