> "Iman K." <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Setelah kita mengetahui jenis ketundukan fisik
> dan ketundukan akal intelek, sebagaimana yang 
> kita lihat pada postingan sebelumnya yang diberi judul
> ┬śmereka yang disebut kafir" maka selanjutnya kita akan
> membahas jenis ketundukan yang ketiga, yakni ketundukan hati.


Intelek itu bukan akal, dan tidak sama dengan akal.
Iman itu bukan intelektual, bukan akal, melainkan angan2 beragama.
Hati itu adalah organ untuk menyaring racun dan bukan kepatuhan yang
bisa ditundukkan.


> Sesungguhnya realitas dari keimanan seseorang
> adalah terletak kepada ketundukan hatinya.
> Ketundukan fisik, lisan, akal dan intelek belumlah
> bisa dikatakan beriman jika tidak disertai dengan
> ketundukan hatinya. Ketundukan hati adalah ketundukan
> seluruh eksistensi seseorang terhadap KEBENARAN dan MENOLAK
> dengan tegas segala macam kebatilan dan pengingkaran
> terhadap kebenaran..
> 


Iman dan keimanan sama sekali bukan realitas melainkan angan2 umat
beragama tentang hal2 yang tidak ada.

Beriman itu bukan ketundukan, sekali lagi itu hanya angan2 beragama.
Hati itu bukan tempat berpikir, bukan sesuatu yang bisa ditundukkan,
karena hati itu hanyalah organ dalam tubuh manusia untuk menyaring
racun2 yang masuk ketubuh kita.

Islam itu bukan kebenaran melainkan ajaran2 terror2 biadab yang
menciptakan malapetaka bagi umat yang bukan Islam dan juga bagi umat
yang sesama Islam itu sendiri.

Islam itu agama yang melanggar HAM karena melarang umatnya menyembah
berhala, padahal HAM menjamin perlindungan semua umat termasuk umat
Islam untuk bebas memilih apa saja yang ingin disembahnya.

Ingat, seluruh negara2 dan bangsa2 didunia sekarang ini bersatu padu
untuk memerangi jihad teror2 Islam diseluruh dunia yang telah
melanggar nilai2 kemanusiaan yang universal yang dideklarasikan oleh
lembaga HAM dunia dalam melindungi seluruh umat manusia tanpa
membedakan agamanya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.



Kirim email ke