Saya sangat sedih membaca kisah ini. Dari beberapa buku yang saya 
baca dan dari beberapa cerita yang saya dengar dari orang yang sudah 
dewasa ketika terjadi peristiwa G-30-S, yang melakukan pembunuhan 
terhadap anggota dan simpatisan PKI adalah kalangan Islam termasuk 
Barisan Ansor (Bansor) dan setelah PKI dibubarkan perburuan terhadap 
anggota dan simpatisan PKI dimotori juga oleh kalangan Islam.
Saya duga gambaran PKI jahat, Gerwani jahat dibangun oleh kelompok 
yang berkuasa waktu itu dan tentara hanyalah sebagian dari kekuatan 
politik tetapi arus massa yang merusak PKI adalah Islam sehingga 
gambaran bahwa PKI jahat, Gerwani Jahat, datang dari kalangan Islam 
tentu melalui pejabat negara yang berkuasa gambaran itu disandingkan 
dengan gamabran bahwa Islam mulia.
Sejarah harus ditulis ulang dengan jujur dan dibuka dengan jelas 
siapa sebenarnya yang jahat. Jika melihat kelakuan Islam sekarang 
sebenarnya semakin jelas siapa sebenarnya yang jahat atau ajaran 
mana yang sebenarnya jahat.
Negara komunis di dunia ini sudah hampir tidak ada lagi dan negara 
komunis sudah berubah menjadi negara demokrasi yang maju, China dsb. 
Tetapi negara Islam semakin terpuruk dan semakin jahat dengan 
melindungi para teroris. Jadi sebenarnya dapat dilihat dengan jelas 
ajaran mana yang sebenarnnya jahat dan merusak masyarakat.
Tapi sayangnya banyak keluarga anggota dan simpatisan PKI sekarang 
malah berlindung di balik Islam padahal kepercayaan itu yang sudah 
membuat mereka menjadi susah. Mungkin perlu informasi yang lebih 
terbuka sehingga mereka dapat bebas memilih mana yang benar.
Salam Damai dari Kalsel


--- In zamanku@yahoogroups.com, "mediacare" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dan Anggota Gerwani Itu Ternyata....
> Rabu, 19-03-2008 14:00:19 oleh: Ida Puji 
> Kanal: Opini 
> 
> Masih ingatkah anda tentang pelajaran sejarah mengenai G30/S PKI? 
> 
> Dulu ketika masih bersekolah tiap tanggal 30 September murid-murid 
diajak pergi ke gedung bioskop menonton film pemberontakan G30/S 
PKI. Dan tiap keluar dari sana saya selalu merinding. Kejam sekali 
para pemberontak itu ya? 
> 
> "PKI itu tak bermoral, mereka atheis," begitu seringkali guru 
sejarah (masa itu) memberikan penjelasan. Iya percaya lah, orang 
dari filmnya juga begitu.
> 
> Anggapan seperti itu telah berada di kepala saya sampai saya duduk 
di bangku kuliah. Baru ketika Orde Baru tumbang muncul wacana-wacana 
baru berkaitan dengan peristiwa tersebut. Tapi jujur saat itu saya 
masih sering dibuat bingung karenanya. 
> 
> Bulan november tahun lalu saya dan rekan berkunjung ke sebuah 
desa, Lanjaran namanya. Desa tersebut terletak di kecamatan Musuk 
kabupaten Boyolali, letaknya di lereng gunung Merapi. 
> 
> Ketika peristiwa 65 terjadi, kawasan tersebut merupakan basis PKI. 
Setiap lapan (35 hari) di desa itu diadakan sebuah pertemuan ibu-ibu 
yang bernama Wiji Asih. Di sana selain ada kegiatan untuk memajukan 
peran wanita, mereka saling membagikan pengalaman sehubungan dengan 
tragedi yang mereka alami. Sebagian kecil dari ibu-ibu yang hadir 
dalam pertemuan tersebut adalah mereka yang terlibat langsung dan 
sebagian besarnya adalah anak cucu mereka yang ketika itu masih 
kecil -dan bahkan ada yang belum lahir- namun sampai sekarang masih 
menanggung beban. 
> 
> Anak cucu anggota PKI sampai sekarang masih belum sepenuhnya dapat 
dipulihkan hak-haknya. Belum lagi mereka harus menanggung stigma 
negatif dari masyarakat masyarakat akibat peristiwa yang mereka 
sendiripun tidak pernah mengerti apa itu. 
> 
> Satu yang membuat saya tercengang ketika berkenalan dengan salah 
satu pendiri Wiji Asih. Seorang wanita berumur 86 tahun, Sutiyem 
namanya sering dipanggil Mbah Suti. Ketika tragedi tersebut terjadi 
Mbah Suti sempat ditangkap akibat kegiatannya di Gerwani. 
> 
> Sempat terbayangkan, selama ini yang terpatri di benak saya bahwa 
Gerwani beranggotakan wanita-wanita tak bermoral yang ikut 
menganiaya para jenderal serta melakukan serangkaian tindakan 
asusila. Tapi kok yang saya hadapi....??? 
> 
> Belum 10 menit mendengarkan obrolannya saya langsung bisa 
mengatakan bahwa beliau adalah seorang wanita yang sangat cerdas. 
Dalam usia lanjut tersebut pemikiran beliau masih tetap tajam. 
Analisa-analisanya berkaitan dengan kegiatan demokrasi di masa 
sekarang masih sangat brilian. 
> 
> Mbah Suti mengaku mengenal Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sedar, 
organisasi yang melatarbelakangi terbentuknya Gerwani) ketika 
menjalankan profesinya sebagai penjual sirih di pasar. Latar 
belakang keikutsertaannya dalam gerakan wanita tersebut adalah untuk 
menggugat keberadaan poligami. Saat itu mbah Suti adalah istri 
ketiga. Seperti halnya keadan wanita-wanita lain pada masa itu yang 
hanya dianggap sebagai second class, poligami sangat merugikan 
wanita. Banyak wanita yang setelah dijadikan istri kesekian 
ditinggalkan begitu saja oleh suaminya padahal telah ada anak-anak 
yang lahir dari perkawinan tersebut. 
> 
> Gerwis berdiri pada tahun 1950 dan dua tahun kemudian didirikan 
cabang Musuk dengan Mbah Suti sebagai ketua. Pada tahun 1954 Gerwis 
berganti nama menjadi Gerwani. 
> 
> Keberadaan Gerwis Lanjaran yang merupakan anak cabang meluas. 
Banyak wanita yang ikut karena mulai sadar untuk diajak lebih maju. 
Salah satu kegiatan Gerwis yang mencolok adalah edukasi terhadap 
para wanita. Saat itu akses wanita untuk mengenyam bangku sekolah 
sangatlah minim. Prioritas utama pendidikan adalah untuk laki-
laki.Selain pendidikan Gerwis juga memiliki peran besar dalam aksi 
sosialnya berkaitan dengan meletusnya Gunung Merapi pada tahun 1954. 
> 
> Kegiatan Gerwani di Lanjaran sampai tahun awal tahun 1965 berjalan 
lancar. Namun ketika meletus peristiwa 65 keadaannya menjadi kacau 
balau. Desa Lanjaran yang dikenal merupakan basis kegiatan anggota 
PKI seperti BTI, Gerwani dan Lekra mulai terusik. Beberapa orang 
yang dikenal sebagai tokoh utama ditangkap aparat. Dari 19 orang 
yang tertangkap mbah Suti adalah satu-satunya perempuan. Setelah 
mendapat berbagai perlakuan buruk -salah satunya pelecehan seksual 
dengan diarak setelah ditelanjangi- mbah Suti akhirnya dibebaskan. 
> 
> Meskipun kejadian buruk tersebut telah berlangsung lebih 40 tahun 
tapi mbah Suti dan keluarganya masih mendapat banyak kesulitan 
karenanya. Meskipun demikian ketajaman pikiran mbah Suti masih belum 
berkurang. Bahkan ketika usia lanjut menderanya. Saya masih sering 
terkejut dengan kritik-kritik yang cerdas dan tepat sasaran yang 
sering beliau lontarkan. Saya juga terheran-heran ketika beliau 
masih bisa mengingat secara rinci waktu, orang-orang serta kejadian-
kejadian di masa lalu berkaitan dengan keaktifannya di Gerwis. 
> 
> Mbah Suti, aktivis Gerwani itu ternyata adalah organisator ulung. 
Yang sejak awal sudah memiliki visi mengangkat keberadaan perempuan. 
Layakkah jika disebut sebagai salah satu perintis gerakan perempuan 
di Indonesia? 
> 
> http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=7256&post=1
>


Kirim email ke