·   Entah besar atau kecil, mudah atau sulit, berat atau
ringan, banyak atau sedikit, hemat saya setiap orang atau pribadi memiliki
tugas atau pekerjaan yang harus dilaksanakan dengan baik dan sukses. Sabda
Yesus hari ini mengajak dan memanggil kita semua untuk melaksanakan tugas atau
pekerjaan apapun dan dimanapun sebaik mungkin, sehingga memuaskan diri kita
sendiri maupun sesama yang kena dampak tugas atau pekerjaan kita. Tugas atau
pekerjaan yang kita terima adalah kasih karunia atau anugerah Allah, yang kita
terima dari orang lain (orangtua, atasan, pemimpin, dst..), maka baiklah kita
hayati dan laksanakan sebagai anugerah Allah. Dengan kata lain segala tingkah
laku dan tindakan kita bagaikan ibadah: sarana-prasarana kerja kita hayati atau
perlakukan sebagai sarana ibadah, rekan hidup dan kerja kita hayati sebagai
rekan beribadah, suasana hidup dan kerja bagaikan suasana ibadah, dst.. Sikap
dan tindakan yang baik dalam beribadah antara lain mempersembahkan diri
seutuhnya kepada Tuhan dan aneka kegiatan selama ibadah, maka hendaknya sikap
dan tindakan yang demikian itu juga kita wujudkan dalam menghayati atau
melaksanakan tugas dan pekerjaan apapun dan dimanapun. Dengan demikian
diharapkan dengan dan melalui tugas atau pekerjaan kita semakin suci, semakin
mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan dan sesama kita. “Setiap orang yang 
mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia
berkelimpahan”(Mat 25:29), demikian sabda Yesus. Sekali lagi apapun yang
kita punyai atau miliki, marilah kita hayati sebagai anugerah Allah dan kita
fungsikan untuk membantu tujuan kita diciptakan, yaitu keselamatan jiwa kita
sendiri maupun sesama dan saudara-saudari kita. Hendaknya juga jangan meremehkan
tugas atau pekerjaan yang sederhana, sebagaimana harus dilakukan oleh para
pembantu atau pelayan rumah tangga atau kantor, seperti menyapu, mengepel,
menyiram tanaman, mencuci alat-alat masak dan makanan atau pakaian, dst…
Bukankah ketika pembantu atau pelayan cuti atau libur, kita yang dilayani dan
dibantu akan merasa kehilangan dan sadar betapa besar nilai kerja atau tugas
para pembantu atau pelayan?

·   “Apa yang
bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan
apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa
yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang
tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan
ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah” , demikian pesan 
atau peringatan Paulus kepada umat
di Korintus, kepada kita semua. Orang yang bermental duniawi atau bisnis memang
menilai lebih tinggi mereka yang kaya, bertitel sarjana/pandai, berpangkat atau
berkedudukan daripada yang miskin, bodoh dan rakyat biasa. Yang bodoh, lemah,
tidak terpandang dan tidak berarti bagi di mata dunia atau orang bermental
duniawi atau bisnis, pada umumnya adalah para pelaksana atau pekerja kasar yang
handal, rajin, tekun dst… Perhatikan dan cermati para penggali, tukang batu
beserta pembantunya, petugas kebersihan di kampong atau kota, buruh pabrik, 
dst.. Memang mereka yang pandai dan
berhikmat yang merencanakan atau merancangkan pekerjaan, namun tanpa para
pekerja kasar tersebut maka rencana atau rancangan tinggal dalam impian atau
tulisan serta tidak pernah menjadi kenyataana atau terwujud. Rasanya yang
unggul dalam hidup beriman atau hidup sehari-hari adalah para pelaksana atau
pekerja. Para pemimpin atau petinggi sering hanya mau mengdiri
undangan untuk berpesta, sedangkan undangan untuk bekerja kasar atau
gotong-royong membersihkan lingkungan hidup pada umumnya mereka mangkir dengan
berbagai alasan; dan mereka yang dinilai bodoh, tak berhikmat dan tak
terpandang di mata dunia yang harus bekerja. Undangan pesta yang dataing
pemimpin, sedangkan undangan bekerja yang datang anggota.

 

Jakarta, 30 Agustus 2008 
 

Kirim email ke