34 artikel menarik seputar Tan Malaka

http://ruangasadirumahkata.blogspot.com/2008/09/tan-malaka-bapak-republik-revolusi.html
 


Majalah Tempo dalam edisi khusus Kemerdekaan mengangkat profil Tan Malaka : 
Bapak Republik Yang Dilupakan. Tidak tanggung-tanggung edisi Tan Malaka ini 
terdiri dari 26artikel yang ditulis oleh wartawan Tempo dan 8 kolom/opini yang 
ditulis oleh pengamat/pakar dari Asvi Warman Adam hingga Ignas Kleden. 

Beberapa petikan penting soal Tan Malaka, sehingga terlalu gegabah kalau kita 
mengabaikan edisi khusus tempo ini, mengabaikan Tan Malaka .....

”Ia menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, 
jauh lebih dulu dibanding Mohammad Hatta, yang menulis Indonesia Vrije 
(Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag 
(1928), dan Bung Karno, yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933)”.

“Buku Naar de Republiek dan Massa Actie (1926) yang ditulis dari tanah pelarian 
itu telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Tokoh pemuda 
radikal Sayuti Melik, misalnya, mengenang bagaimana Bung Karno dan Ir Anwari 
membawa dan mencoret-coret hal penting dari Massa Actie.”

“Bagi Yamin-yang kemudian bergabung dengan Tan dalam kelompok Persatuan 
Perjuangan-Tan tak ubahnya Bapak Bangsa Amerika Serikat, Thomas Jefferson dan 
George Washington: merancangkan Republik sebelum kemerdekaannya tercapai”

"W.R. Supratman sudah membaca seluruh buku Massa Actie itu," kata Hadidjojo. 
Muhammad Yaminlah yang memaksa Sugondo memberikan waktu bagi Supratman 
memainkan lagu ciptaannya di situ. Lalu bergemalah lagu Indonesia Raya, lagu 
yang terinspirasi dari bagian akhir Massa Actie: "Lindungi bendera itu dengan 
bangkaimu, nyawamu, dan tulangmu. Itulah tempat yang selayaknya bagimu, seorang 
putra tanah Indonesia tempat darahmu tertumpah”

“Ia hidup dalam pelarian di 11 negara. Ia memiliki 23 nama palsu. Ia diburu 
polisi rahasia Belanda, Jepang, Inggris dan Amerika Serikat”.

“Ketika memperingati sewindu hilangnya Tan Malaka pada 19 Februari 1957, Kepala 
Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution mengatakan pikiran Tan 
dalam Kongres Persatuan Perjuangan dan pada buku Gerpolek (Gerilya Politik 
Ekonomi) menyuburkan ide perang rakyat semesta. Perang rakyat semesta ini, 
menurut Nasution, sukses ketika rakyat melawan dua kali agresi Belanda. 
Terlepas dari pandangan politik, ia berkata, Tan harus dicatat sebagai tokoh 
ilmu militer Indonesia. “

“....jika saya tiada berdaya lagi, maka saya akan menyerahkan pimpinan revolusi 
kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner, Tan Malaka. 
(testamen Soekarno)”

“Di seputar Proklamasi, Tan menorehkan perannya yang penting. Ia menggerakkan 
para pemuda ke rapat raksasa di Lapangan Ikada (kini kawasan Monas), 19 
September 1945. Inilah rapat yang menunjukkan dukungan massa pertama terhadap 
proklamasi kemerdekaan yang waktu itu belum bergema keras dan "masih sebatas 
catatan di atas kertas". Tan menulis aksi itu "uji kekuatan untuk memisahkan 
kawan dan lawan". Setelah rapat ini, perlawanan terhadap Jepang kian berani dan 
gencar”. 

Ketua Partai Komunis Indonesia, D.N. Aidit, mengatakan sumber kegagalan 
pemberontakan 1926 antara lain kurang persiapan dan minim koordinasi. "Tapi, 
selain itu, ada orang seperti Tan Malaka, yang tidak melakukan apa pun, hanya 
menyalahkan setelah perlawanan meletus," kata Aidit. Dia juga menyebut Tan 
sebagai Trotskyite, pengikut Leon Trotsky (lawan politik Stalin), "sang pemecah 
belah". 

”Musso bersumpah menggantung Tan karena pertikaian internal partai”.

"Kongres memberi tepuk tangan yang ramai pada Tan Malaka, seolah-olah telah 
memberi ovasi padanya," tulis Gerard Vanter untuk harian De Tribune. "Itu 
merupakan suatu pujian bagi kawan-kawan kita di Hindia yang harus melakukan 
perjuangan berat terhadap aksi kejam." (Konggres Komintern ke 4)

Tan Malaka adalah Che Guevara Asia – Harry Poeze (penulis gigih Biografi Tan 
Malaka)


Silah mengakses ke seluruh 34 artikel tersebut dibawah ini, klik

http://ruangasadirumahkata.blogspot.com/2008/09/tan-malaka-bapak-republik-revolusi.html
 

Semoga bermanfaat

Salam hangat
Andreas Iswinarto


Artikel seputar Tan Malaka :
DIA YANG MAHIR DALAM REVOLUSI , Jalan Sunyi Tamu dari Bayah, Kisruh Ahli Waris 
Obor Revolusi, Si Mata Nyalang di Balai Societeit, Gerilya Dua Sekawan,  Kerani 
yang Baik Hati, Naskah dari Rawajati, Bolsyewik yang Terbuang, Peniup Suling 
bagi Anak Kuli, Bertemu Para Bolsyewik Tua, Dukungan untuk Pan-Islamisme, 
Gerilya di Tanah Sun Man, Penggagas Awal Republik Indonesia , No Le Toqueis, 
Jawa!, Tumpah Darahku dalam Sebuah Buku,  Macan dari Lembah Suliki, Cita-cita 
Revolusi dari Tanah Haarlem, Sobatmu Selalu, Ibrahim, Trio Minang Bersimpang 
Jalan, Perempuan di Hati Macan, Wawancara Setelah Mati, Persinggahan Terakhir 
Lelaki dan Bukunya, Misteri Mayor Psikopat, Tan Malaka, Sejak Agustus Itu, Tan 
Malaka: Nasionalisme Seorang Marxis, Tan Vs Pemberontakan 1926-1927, Republik 
dalam Mimpi Tan Malaka, Pemberontak dari Alam Permai Minangkabau , Madilog: 
Sebuah Sintesis Perantauan, (Bukan) Seseorang dalam Arus Utama Revolusi , 
Warisan Tan Malaka




      

Kirim email ke