Kesatuan Wujud
Seri ke 24 Belajar Tasawuf
Oleh : Ferry Djajaprana


Dalam perjalanan spiritual para salik biasanya akan berakhir pada kesatuan mistik (the mystical union) dengan Tuhannya. "Banyak jalan menuju Roma", demikian kata pepatah, yang artinya untuk mencapai kesatuan wujud banyak pula jalannya. Ada banyak tokoh Sufi yang telah mencapai kesatuan wujud, tetapi caranya antara satu dengan yang lainnya berbeda-beda.

Sebenarnya persatuan mistik yang dialami oleh para Sufi hakikatnya sama, hanya saja karena dialami oleh orang per orang, dengan tingkat pengetahuan yang berbeda , maka konsep-konsep yang muncul dari merekapun seolah-olah berbeda. Perbedaan yang mereka rasakan adalah fenomena saja bukan esensial.

Contoh Sufi yang popular memiliki paham Kesatuan Wujud (wahdat al Wujud) adalah Al Hallaj. Seorang guru Sufi abad sembilan, Al Hallaj pernah mengalami kondisi penyatuan wujud dengan Tuhan-nya, dengan mengaku bahwa dirinya adalah "Kebenaran" atau lebih popular disebut dalam Bahasa Arab "Ana Al Haqq". Klaim ini merupakan hasil proses perjalanan spiritualnya menuju Tuhan akan tetapio klaimnya dianggap sesat pada abad 11 sehingga akhirnya dihukum mati. Walaupun Al Hallaj dianggap sesat, tetapi Rumi membela Al Hallaj dalam bukunya yang berjudul "Fihi Ma Fihi", yang menurutnya ungkapan Ana Al Haqq adalah merupakan ungkapan seorang muslim sejati.

Orang yang telah secara tulus menyatakan klaim bahwa dirinya adalah Kebenaran dipandang telah mencapai kedekatan dengan Tuhan. Ia telah menghilangkan dualitas dan jarak antara Tuhan dengan dirinya. Sedangkan pengakuan bahwa "aku adalah Hamba Allah" merupakan tahapan iman yang rendah, karena sebutan hamba masih mengandung dualitas dan terasa adanya jarak antara salik dengan Tuhan-nya. Pengakuan ini melambangkan manusia yang "belum dewasa", sementara Al Hallaj telah memaksimalkan potensial kesadarannya. Dalam persatuan antara manusia dengan Tuhannya Al Hallaj mengalami fana dan baqa dalam Tuhan. Maka terjadilah keseluruhan manusia dalam Tuhan, sebagaimana tetes air yang bersatu dalam lautan. Tidak ada perbedaan antara seorang Hamba dengan Tuhannya. Jadi, menurut Rumi "Bukan Abu Manshur yang menyatakan "Aku Adalah Tuhan" di tiang gantungan, tetapi Allah.

Kesatuan wujud atau kesatuan mistik yang dialami oleh Al Hallaj ini biasa disebut doktrin Al Hullul.

Doktrin yang kedua adalah doktrin Ittihad, konsep Ittihad popular dibawakan oleh Abu Yazid Al Bisthami. Ittihad dalam persatuan mistik ini mengandaikan adanya perpisahan pada awalnya, dengan alasan tidak mungkin adanya persatuan tanpa perpisahan. Jadi, dalam konsep ittihad ada dua wujud yang mulanya berpisah, kemudian bersatu dalam sebuah peleburan.
Pernyataan Abu Yazid  :
"Engkaulah yang kuinginkan,
Karena Engkau lebih dari kelimpahan,
Lebih dari kemurahan
Dan melalui Engkau, telah kudapatkan kepuasan di dalam Engkau.
Karena Engkau adalah milikku,
Telah kugulung catatan-catatan kelimpahan dan kemurahan.

Janganlah Engkau jauhkan aku dari Mu,
Dan janganlah Engkau berikan aku yang lebih rendah dari-Mu".

Setelah perjumpaan dengan Tuhannya, maka Abu Yazidpun kehilangan dirinya. Dalam keadaan hilang dan fana seperti itu, maka syahadatnya yang terkenal "Maha Suci Aku", atau "Tidak ada Tuhan selain Aku", terungkap dari mulutnya. Ketika Abu Yazid mengungkapkan seperti ini , ia tidak bisa dibedakan lagi dengan Tuhan-nya.

Konsep hullul Al Hallaj adalah mirip konsep inkarnasi di dalam Agama Hindu. Persamaan kedua konsep ini adalah mengandaikan adanya dua entitas yang yang terpisah dan berbeda pada awalnya, tetapi pada saat perpaduan mistik, keduanya melebur dalam kesatuan tunggal (wahdat al Wujud), sehingga tidak dapat dibedakan keduanya.

Perbedaan kedua konsep ini, pada ajaran ittihad, kita bias membayangkan seorang hamba yang menuju Pencipta dari dunia rendah menuju langit, dalam konsep Hullul, Sang Khalik yang turun menemui atau mengisi hati hamba-Nya.

Rumi memiliki pandangan lain, baginya konsep peleburan itu tidak seperti "tetes air yang melebur kepada samudera", dimana esensi seorang hamba larut pada Tuhannya. Menurut Rumi, esensi sang hamba tidak musnah, sekalipun sangat tidak efektif, dan hanya sifat-sifatnya saja yang lebur pada sifat-sifat Tuhannya. Lihat bait puisi Rumi berikut :

"Tidak ada Darwisy di dunia, seandainya ada seorang Darwisy,
Darwisy tersebut sebenarnya  tidak ada.

Ia hanya ada dalam keagungan esensinya,
tetapi sifat-sifatnya telah lebur dalam esensi-esensinya.

Ia hanya ada dalam kelangsungan esensinya,
Tetapi sifat-sifatnya telah  menjadi tiada dala sifat-sifat Tuhan.

Seperti nyala lilin ketika dating matahari, ia sebenarnya tidak ada,
Sekalipun ada  dalam perhitungan formalnya.

Esensi nyalanya ada,
Sehingga jika engkau menyalakan kapas diatasnya, kapas tersebut akan terbakar oleh percikan apinya.
Tetapi pada hakikatnya ia tiada, karena lilin-lilin itu tidak memberimu cahaya:
Sang mentari telah membuatnya tiada".

Jakarta, Akhir Agustus 2008
http://ferrydjajaprana.multiply.com
http://tasawuf.multiply.com

Penulis bisa dihubungi melalui email : [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke