•       Banyak orang menjadi sakit hati karena mendengar suara atau kritik
keras serta tajam dari sesamanya atau saudara-saudarinya. Dengan kata
lain kata-kata dari sesamanya atau saudara-saudarinya sangat menyentuh
dan mengesan serta mempengaruhi dirinya, terutama kata-kata yang
bersifat mengritik atau merendahkan dirinya. Begitulah kenyataan yang
sering terjadi dalam kehidupan bersama atau hidup beriman/beragama:
kata-kata dari sesamanya atau saudara-saudarinya lebih kuat dan lebih
kuasa dari kata-kata atau sabda Tuhan, padahal Tuhan Mahakuasa atau
maha segalanya, `Deus semper maior est' (=Tuhan senantiasa lebih
besar). Maka kami mengajak dan mengingatkan kita semua: marilah kita
renungkan sabda-sabda Tuhan agar kita dapat berkata : "Alangkah
hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi
perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar". Dalam
membacakan, mendengarkan dan merenungkan sabda-sabda Tuhan marilah
kita berpedoman pada nasihat St.Ignatius Loyola ini: "Bukan
berlimpahnya pengetahuan, melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam
kebenarannya itulah yang memperkenyang dan memuaskan jiwa"
(St.Ignatius Loyola: LR no 2).  Para santo atau santa, orang-orang
suci, pada umumnya juga tersentuh dan  tergerak  oleh ayat-ayat
tertentu dalam Kitab Suci, yang kemudian menjiwai hidup dan cara
bertindaknya; hal senada kiranya dicoba oleh para gembala atau uskup
dengan memakainya sebagai motto pelayanan atau penggembalaannya,
misalnya: "Dalam Nama Yesus", "Bertolaklah lebih dalam", dst. Saya
pribadi sangat terkesan dan berusaha untuk menghayati teks ini : "Di
dalam Dia kita beroleh keberanian" (Ef 3:12)  Bersama dan bersatu
dengan Tuhan kita senantiasa dapat mengalahkan dan mengatasi setan dan
aneka kejahatan, dan kita tidak akan takut dan gentar menghadapi aneka
macam bentuk ancaman maupun terror  dari orang-orang jahat.
•       "Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah,
supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita" (1Kor
2:12), demikian kesaksian Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita
semua orang beriman. Rasanya kesaksian Paulus ini bukan omong kosong,
melainkan sungguh merupakan suatu realitas atau kenyataan bagi kita
semua. Sebagai contoh perkenankan saya mengangkat masalah hubungan
suami-isteri maupun hidup imamat dan membiara. Baik suami maupun
isteri pada dasarnya kiranya menyadari bahwa masing-masing merupakan
anugerah atau `kado' dari Allah, Allah yang mempertemukan mereka
sehingga mereka saling mengasihi menjadi suami-isteri. Maka baiklah
kami mengajak rekan-rekan suami-isteri untuk hidup dan bertindak
dijiwai oleh `roh yang berasal dari Allah', Roh Kudus, sehingga hidup
dan bertindak dengan menghayati keutamaan-keutamaan "kasih, sukacita,
damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri."(Gal  5:22-23) di dalam hidup
sehari-hari dimanapun dan kapanpun. Baik hidup imamat maupun membiara
hemat saya juga dijiwai oleh Roh Kudus, yang menjadi nyata dalam
kharisma atau spiritualitas, yang harus dihayati dan digeluti terus
menerus. Maka kami mengingatkan dan berharap kepada rekan-rekan imam
maupun biarawan-biarawati untuk setia pada charisma atau spiritualitas
masing-masing, sehingga hidup dan bertindak tidak mengikuti selera
pribadi atau keinginan dan kemauan sendiri, sebagaimana masih terjadi
pada pribadi-pribadi tertentu. Dengan hidup atau dijiwai oleh Roh
Kudus, kira semua diharapkan "tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada
kita", yaitu hidup dan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai atau
menyertai kita. Segala sesuatu adalah kasih karunia atau anugerah
Allah, maka hendaknya difungsikan dan dinikmati sedemikian rupa
sehingga kita semakin dekat dengan Allah, semakin suci, semakin
mengasihi dan dikasihi oleh Allah maupun sesama manusia.



Jakarta, 2 September 2008


Kirim email ke