Sementara ini Islam adalah agama rituil, bukan sebuah filosofi.
Artinya selama rituil tidak salah, everybody boleh klaim keISlamannya.
Cerita di bawah sama sekali tidak menunjukkan mana Islam yg benar mana
yg salah. Si pelaku honour killing dan si aktivis anti honour killing,
masih dipercaya keIslamannya. Jadi Islam bukanlah isu sentral disini.

Sama saja dengan kasus FPI dan ahmadiyah. Katanya mereka bukan Islam.
FPI melambangkan anarkis dan kekerasan, Ahmadiyah melambangkan
kesolehan, kesabaran dan kedamaian. Tapi diantara keduanya mana yg
seluruh umat pilih sebagai bukan Islam? 

Islam bukanlah agama yg membedakan mana yg benar dan salah, tapi agama
yg membedakan mana yang kami (Islam) dan mana yang bukan (kafir).

Islam secara baik dan benar hanya dilakukan oleh JIL.


--- In zamanku@yahoogroups.com, bhirawa moerdaya
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Siapapun yang belum mengenal Islam hendaknya tidak berpandangan
negatif dulu tentang Islam. Silahkan baca berita terlampir. Semoga
tercerahkan.
>  
> salam,
> bhirawa_m
> penganut buddhisme
>  
> Pilih Suami, Lima Perempuan Dikubur Hidup-hidup
> Kompas.com/SAS
> 
> 
> ISLAMABAD, TRIBUN - Polisi Pakistan sedang menyelidiki pembunuhan
terhadap lima perempuan yang mencoba memilih suami sesuai keinginan
mereka. Anggota legislatif setempat membela pembunuhan ini yang
dianggap sebagai tradisi turun temurun.
> 
> Para perempuan itu, tiga di antaranya masih remaja, ditembak,
dilempar ke parit lalu dikubur hidup-hidup sekitar setahun lalu.
Pembunuhan semacam ini kerap disebut pembunuhan demi kehormatan.
Polisi mengatakan telah menahan tiga orang kerabat perempuan itu yang
dianggap bertanggung jawab.
> 
> Di sejumlah kawasan yang konservatif, perempuan yang menikah atau
berhubungan dengan pria tanpa sepengetahuan keluarga dianggap sebagai
penghinaan. Biasanya, para perempuan itu menebus "kesalahan" itu
dengan nyawanya.
> 
> Pembunuhan bulan lalu itu diduga terjadi setelah para korban
mengabaikan keputusan para tetua suku. Tiga di antaranya minta
dinikahkan lewat pengadilan umum. Namun ketika kasus ini dibawa ke
parlemen, seorang politisi asal provinsi Baluchistan mengatakan bahwa
hanya orang yang melakukan perbuatan amoral lah yang takut.
> 
> "Ini tradisi yang berlangsung ratusan tahun dan saya akan terus
mempertahankannya," kata Israr Ullah Zehri, yang mewakili Baluchistan,
tempat tinggal para korban, dalam sidang parlemen, Sabtu (30/8).
> 
> Pernyataan Israr itu membuat anggota parlemen lainnya marah dan
mengancam akan melakukan penyelidikan atas pembunuhan itu. Hasilnya,
pengadilan tinggi Baluchistan, Senin (1/9), memerintahkan penyelidikan
dan menyeret pelakunya ke meja hijau. Asif Warraich, kepala kepolisian
Baluchistan, pada hari yang sama mengumumkan penahanan tiga tersangka.
> 
> Pernyataan Israr itu juga menyulut aksi protes oleh 60 aktivis di
depan parlemen. Mereka mengatakan, menghukum orang dengan mengubur
mereka hidup-hidup bukanlah sebuah kehormatan. "Kami mengutuk tindakan
barbar ini. Ini berlawanan dengan Islam, melawan kemanusiaan, dan
melawan kebudayaan beradab," kata Mohammed Ibrahim, senator partai
Islam, Islamist Jamaat-e-Islami.
> 
> Sanaullah Baloch, pemimpin nasionalis dari Baluchistan, membantah
pengadilan brutal itu melekat dalam budaya setempat. Ia malah menuduh
pemerintah gagal menyediakan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang
lebih baik bagi perempuan dan gadis di kawasan yang masih terbelakang
namun kaya sumber daya alam itu. "Masyarakat yang terpinggirkan secara
sosial dan ekonomi selalu frustrasi," kata Baloch
> 
> Para aktivis hak asasi manusia mengatakan, kelima perempuan itu
diculik di bawah todongan senjata api oleh enam orang di desa Baba
Kot. Mereka dipaksa naik mobil lalu dibawa ke sebuah ladang. Di situ
mereka dipukuli dan ditembak. Setelah dilempar ke parit, tubuh mereka
ditutup batu dan lumpur meski masih bernapas.
> 
> Para aktivis mengatakan, penyelidikan itu akan berlangsung lama dan
sulit, karena para tetua suku terlibat. Pembunuhan demi kehormatan ini
diyakini banyak yang tidak dilaporkan. Komisi HAM Pakistan mengatakan
174 perempuan menjadi korban kejahatan jenis ini selama 2005. Angka
itu meningkat setahun kemudian, 2006, menjadi 270 dan 280 kasus pada
2007. Sedangkan angka pada lima bulan pertama 2008 sudah mencapai 107.
Kelompok-kelompok pembela HAM mengatakan, hanya sedikit pelaku yang
dihukum. (*)
> 
> 
> 
>      
___________________________________________________________________________
> Dapatkan alamat Email baru Anda!
> Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
>


Kirim email ke