adalah porsea
kali terakhir aku menangis

kupikir itu menjadi tangis yang akan membawaku kesana....

ternyata aku tidak kesana
tidak lagi disini pula

kuingat
rintik hujan menerpa
gelombang nyanyi
dan air mata
dan melesat wajah-wajah perempuan bambu runcing
dan merah putih

sementara melintas anak-anak berseragam sd putih merah
dengan nyanyi 'darah juang'

barisan wajah-wajah keras yang rela berakhir
sebagai bahan baku pabrik
'begitu mereka pernah berujar'
aku tahu pula doa dilantunkan
bahkan oleh Uskup yang mencinta dan rela mati disana

dan
truk-truk pabrik tetap melenggang di tengah keramaian
hari bumi dan paskah
tetap mengiris batin
serpih demi serpih

lantas
lahirkah anak sungai baru?
atau hanya tumpah dan mengalir
kedalam selokan busuk
atau kubangan kerbau
atau mengisi anak-anak sungai mati
atau sungai-sungai beracun
atau jadi air yang mengalir ke pabrik
untuk bahan pemrosesan pulp paper

aku yakin sungai baru telah lahir di tanah porsea

tapi anak sungai baru
di dalam batinku?

puih,
bukan kematian itu sendiri yang kutakuti

tapi kematian
......... sebelum cukup 'menjadi'

sesungguhnya aku sering menggiring
pikiran dan rasaku

di jalan kepedihan dan kesedihan

aku bahkan sering berpikir
aku memiliki ketabahan dalam kepedihan
tidak dalam kegembiraan

dan aku harus berhenti disini
karena kata-kata dapat membentuk hati
hati tidak membentuk kata-kata
atau sebenarnya aku tidak berkata apa-apa
dan tidak berhati apa-apa

sret.... hilang bentuk
tiada bentuk

2003 

andreas iswinarto
email : [EMAIL PROTECTED]
blog  : http://lenteradiatasbukit.blogspot.com



      

Kirim email ke