Tulisan ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm

Catatan A. Umar Said


Peristiwa 65, Suharto dan Bung Karno


Menjelang datangnya ulangtahun peristiwa 65 akhir September, website
http://kontak.club.fr/index.htm secara berturut-turut akan  menyajikan
berbagai tulisan, artikel atau bahan-bahan yang berkaitan dengan kejadian
yang amat penting dalam seluruh sejarah bangsa Indonesia. Penyajian
bahan-bahan ini dimaksudkan sebagai usaha untuk mengajak orang untuk  tidak
saja mengenang kembali peristiwa besar yang merupakan pengkhianatan Suharto
dkk terhadap Bung Karno dan revolusi rakyat Indonesia dalam menentang
nekolim (neokolonialisme imperialisme) yang dikepalai oleh imperialisme AS.,
melainkan juga sekaligus untuk merenungkan kembali berbagai kebengisan dan
kebiadaban sejumlah golongan, yang di bawah pimpinan Angkatan Darat telah
melakukan pelanggaran HAM yang besar dan serius sekali, yaitu pembantaian
besar-besaran terhadap golongan kiri, terutama terhadap anggota-anggota dan
simpatisan PKI.



Pengkhianatan Suharto dkk terhadap Bung Karno yang sejak mudanya sudah
berjuang melawan anti-imperialisme dan juga pelanggaran HAM secara
besar-besaran terhadap golongan “kiri” perlu terus-menerus diingat oleh
bangsa kita, sehingga menjadi pelajaran berharga bagi generasi sekarang
maupun yang akan datang. Mengenang kembali pengkhianatan Suharto dkk
terhadap Bung Karno dan mengutuk pelanggaran HAM terhadap jutaan orang-orang
“kiri” yang tidak bersalah apa-apa sama sekali adalah suatu hal yang benar,
atau sikap yang adil dan bahkan terpuji. Sebaliknya, menyetujui atau
membenarkan pengkhianatan Suharto dkk terhadap Bung Karno adalah sikap
politik yang salah. Lebih-lebih lagi (!!!) , menyetujui, atau membenarkan,
atau  - bahkan ! -  hanya “berdiam diri” saja terhadap pelangggaran HAM yang
begitu besar terhadap orang tidak berdosa yang begitu banyak jumlahnya, dan
dalam waktu yang begitu lama pula, adalah suatu hal yang menunjukkan
kerendahan budi dan kebusukan iman.



Bangsa kita tidak beradab, kalau .....



Jelaslah kiranya bahwa bangsa kita tidak bisa menamakan diri sebagai bangsa
yang beradab atau bahkan tidak pantas sama sekali mengagungkan diri sebagai
bangsa terhormat selama masih menganggap bahwa pembantaian jutaan orang yang
dianggap “kiri” atau dituduh  anggota dan simpatisan PKI atau penganut
politik revolusioner Bung Karno adalah benar, atau sah, atau adil.  Atau,
jelaslah juga bahwa bangsa kita tidak  bisa dikatakan sebagai menghormati
Pancasila selama masih gembira (atau tidak peduli saja) atas berbagai macam
penyiksaan atau perlakuan  tidak manusiawi terhadap puluhan juta keluarga
korban peristiwa 65 yang tersebar di seluruh Indonesia.



Kita semua sama-sama bisa mengamati bahwa sekarang ini pandangan  berbagai
kalangan terhadap Bung Karno sudah mulai berobah, dan bahwa usaha Orde Baru
untuk merusak nama baik dan menghilangkan jasa-jasa besar bapak bangsa ini
sudah mulai mengalami kemunduran atau kegagalan. Sebaliknya, kita juga
sama-sama menyaksikan, dimana-mana,  bahwa dewasa ini citra Suharto dkk
bersama Orde Barunya sudah makin buruk. Banyak orang, sekarang ini, melihat
betapa besar bedanya antara sosok Bung Karno dan sosok Suharto, dan antara
politik anti-nekolim Bung Karno dan politik pro-imperialisme AS yang dianut
oleh Orde Baru. Kerusakan moral secara besar-besaran dan kebejatan akhlak
yang  menyebabkan keadaan politik, sosial dan ekonomi negara kita terpuruk
sampai dewasa ini di bawah pemerintahan SBY-JK adalah akibat dari sisa-sisa
sistem Orde Baru, yang diteruskan oleh berbagai pemerintahan pasca-Suharto.



Mengutuk Orde Baru demi rekonsiliasi nasional dan persatuan bangsa


Dari sudut pandang yang demikian inilah kita bisa melihat dengan jelas bahwa
mengenang peristiwa 65 dan mengekspose berbagai kejahatan atau keburukan
Suharto dkk dengan Orde Barunya adalah tugas penting dan kewajiban yang
utama sekali bagi seluruh kekuatan yang mendambakan adanya
perubahan-perubahan yang besar dan fundamental yang diperlukan untuk
mencapai masyarakat adil dan makmur. Bangsa kita tidak akan pernah bisa
menjadi bangsa yang terhormat selama masih belum meninggalkan sama sekali
segala keburukan dan kesalahan Orde Baru yang diteruskan oleh berbagai
pemerintahan. Perbaikan atau perubahan secara besar-besaran di negara kita
tidak mungkin akan terlaksana tanpa membongkar segala keburukan dan
kebusukan Orde Baru dan penerusnya atau pewarisnya.



Jadi, sekali lagi perlu ditekankan dalam tulisan kali ini, bahwa mengutuk
Suharto beserta rejim Orde Barunya adalah sama sekali bukanlah hanya karena
pelampiasan perasaan balas dendam, atau hanya membuka luka-luka lama yang
parah sekali karena berbagai penderitaan bagi puluhan juta orang, dan bukan
pula dengan tujuan untuk menyengsarakan keluarga Suharto beserta
pendukung-pendukung setianya. Mengenang peristiwa 65 atau membelejedi
(menelanjangi) kejahatan-kejahatan Suharto dkk adalah langkah penting untuk
benar-benar meletakkan dasar-dasar bagi terjadinya rekonsiliasi nasional,
dan betul-betul memupuk persatuan bangsa atas landasan yang adil bagi semua.



Sebab, rekonsiliasi nasional yang sejati dan persatuan bangsa yang
sungguh-sungguh hanyalah bisa dijalin kalau segala kesalahan besar Suharto
beserta dosa-dosa parah Orde Barunya sudah dibongkar habis-habisan atau
dikutuk sekeras-kerasnya. Adalah omong kosong belaka atau bualan besar saja
kalau ada kalangan yang berbicara tentang rekonsiliasi nasional atau
persatuan bangsa tetapi membiarkan dosa-dosa Suharto dkk dengan Orde
Barunya, karena  sekarang makin terbukti bahwa ia (beserta
pendukung-pendukung setianya)  telah membikin kerusakan-kerusakan parah
terhadap negara dan sebagian besar rakyat Indonesia. Dan juga jelaslah bahwa
rekonsiliasi nasional atau persatuan bangsa sulit dijalin, kalau puluhan
juta keluarga korban peristiwa 65 masih tetap terus dibiarkan dirundung
berbagai penderitaan yang sudah mereka alami selama lebih dari 40 tahun.



Kami tidak bersalah dan kalianlah yang berdosa



Perbaikan atau perubahan besar di bidang politik, sosial dan ekonomi yang
bisa menguntungkan kepentingan rakyat banyak di Indonesia hanyalah akan
tercapai dengan memberantas segala sisa-sisa buruk dari sistem Orde Baru
yang diteruskan oleh berbagai pemerintahan sesudah Suharto. Artinya,  -
dengan kalimat lain -  untuk bisa mambawa Indonesia ke arah masyarakat adil
dan makmur, orang-orang yang bermoral rendah dan bermental Orde Baru harus -
untuk selanjutnya - dicegah mengurus negara, baik di Pusat maupun di daerah.



Peristiwa 65 akan kita peringati tahun ini ketika sudah makin berkurang
kalangan atau golongan yang masih berani berkaok-kaok dengan terang-terangan
mengagung-agungkan Suharto dan memuji-muji “kehebatan” rejim Orde Baru.
Sesudah Suharto dipaksa “turun dari tahta”nya sejak tahun 1998, sedikit demi
sedikit terbongkarlah macam-macam kejahatan rejimnya, baik yang merupakan
pelanggaran HAM yang amat serius maupun korupsi dan penyalahgunaan
kekuasaan, yang terutama dilakukan oleh kalangan militer dan Golkar. Oleh
karena itu, boleh dikatakan,  bahwa sekarang ini,  membela Suharto dkk atau
membela Orde Baru sudah mulai menjadi “sikap yang aneh”.



Sebaliknya, orang dari berbagai kalangan dan golongan (termasuk yang tadinya
mendukung Suharto karena terpaksa atau karena sebab-sebab lainnya) makin
banyak yang berani mengutuk rejim Orde Baru dan yang melihat perbedaaan yang
besar sekali antara sejarah perjuangan revolusioner Bung Karno dengan
sejarah pengkhianatan Suharto dkk terhadap rakyat dan revolusi. Juga, makin
banyak orang yang melihat bahwa karena akibat sikap politik Suharto beserta
para pendukung setianyalah maka keadaan negara kita begini ambrul-adul dan
dilanda berbagai masalah besar, sehingga sebagian terbesar dari rakyat
Indonesia yang 230 juta ini mengalami berbagai penderitaan. Banyak orang
yang menyaksikan atau  mengalami sendiri bahwa kehadiran Suharto beserta
Orde Barunya selama 32 tahun merupakan halaman hitam yang penuh dengan dosa
atau aib besar dalam sejarah bangsa Indonesia.



Karenanya, sekarang dalam tahun 2008 ini,  para pendukung Bung Karno dan
kaum kiri beserta keluarga korban peristiwa 65, berhak dan pantas dengan
suara yang lantang dan galak berteriak: “Kami sama sekali tidak bersalah
apa-apa, tetapi justru kalianlah yang bersalah dan berdosa !”. Dengan makin
terbongkarnya banyak sekali borok-borok yang busuk karena merajalelanya
korupsi dan  penyalahgunaan kekuasaan yang kebanyakan dilakukan oleh
orang-orang bermoral bejat dari kalangan pendukung Orde Baru dan anti-Bung
Karno, maka makin mulai matanglah situasi bagi seluruh kekuatan demokratis
(terutama dari kalangan muda) yang mendambakan perubahan besar dan
fundamental di Indonesia untuk bangkit bersama dan melancarkan seruan
“Minggirlah kalian yang bermental Orde Baru,   perusak negara! Indonesia
tidak membutuhkan orang-orang macam kalian. Kamilah yang akan  membangun
masyarakat adil dan makmur di Indonesia Baru !!!”.





Paris, 5 September 2008































No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.524 / Virus Database: 270.6.16/1652 - Release Date: 04/09/2008
18:54

Kirim email ke