·   “Perawan dari
Nazaret itu sejak pertama dalam rahim dikaruniai dengan semarak kesucian yang
sangat istimewa” (Vatikan II: LG no 56). Semua anak yang masih berada dalam
rahim rasanya suci adanya, memang ketika dilahirkan tiba-tiba diketahui ada
yang cacat phisik (menurut hemat saya karena orangtua atau ibunya). Maria 
dikarunia semarak kesucian yang sangat
istimewa antara  lain karena ia
dikandung oleh seorang ibu, Anna,  yang
suci, sehingga Maria terpilih menjadi Bunda Penyelamat Dunia, mengandung
seorang anak karena Roh Kudus. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan Pesta
Kelahiran SP Maria hari ini kita mawas diri: (1) Pertama-tama saya mengajak dan
mengingatkan para ibu/perempuan untuk senantiasa menjaga kesucian dirinya, baik
tubuh maupun jiwa, tidak mencemari diri dengan berbagai cara atau gaya hidup 
yang tidak sehat. Kesucian dan kesehatan
orangtua, khususnya ibu, kiranya akan terwariskan pada anak-anak. (2) Kita
semua ketika dalam rahim dan dilahirkan dalam keadaan suci atau Allah menyertai 
kita, maka baiklah kita,
entah saat ini telah berusia berapapun, back
to basic, kembali ke dalam keadaan semula ketika masih berada dalam rahim
dan baru saja dilahirkan: suci, menarik, mempesona, senyum, bergairah dst..
Mungkin seiring dengan pertambahan usia dan pengalaman-pengalaman masing-masing
dari kita telah dicemari oleh aneka bentuk kejahatan atau kemerosotan moral;
jika demikian adanya kiranya tidak ada kata terlambat untuk memperbaharui diri
alias bertobat, agar Allah senantiasa
menyertai kita, dan kita hidup dari dan oleh Roh Kudus, yang membuahkan
keutamaan-keutamaan “kasih, sukacita,
damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Memang untuk memperbaharui diri atau
bertobat kita butuh rahmat atau bantuan Ilahi.

·   “Kita tahu
sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan
kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil
sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula,
mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran
Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak 
saudara” (Rm 8:28-29), demikian kesaksian iman Paulus kepada
umat di Roma, kepada kita semua orang beriman. “Allah turut bekerja dalam 
segala sesuatu, terutama dalam diri manusia
yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya, untuk mendatangkan
kebaikan”. Marilah kita imani dan hayati kebenaran ini! Kita semua
dipanggil untuk mendatangkan kebaikan kapanpun dan dimanapun melalui atau
dengan cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari alias memandang dan
menyikapi siapapun sebagai saudara sejati. Memang untuk itu kita sendiri
senantiasa harus dalam keadaan baik, dan kiranya masing-masing dari kita
memiliki lebih banyak kebaikan daripada kejahatan atau keburukan. Marilah kita
lihat dan berdayakan kebaikan-kebaikan yang ada pada diri kita masing-masing,
kita bagikan atau sharingkan kepada sesama dan saudara-saudari kita. Hendaknya
disadari dan dihayati bahwa kebaikan atau kebenaran yang ada dalam diri kita
bersifat relative, tidak mutlak. Kebaikan atau kebenaran yang ada pada diri
kita akan semakin baik dan benar jika saling berbuat baik, saling mengasihi
satu sama lain. Marilah juga  kita sadari
dan hayati bahwa kebaikan atau kebenaran yang ada pada diri kita semata-mata
bukan hasil usaha atau jerih payah kita, melainkan pertama-tama dan terutama
merupakan anugerah Allah, karya Allah dalam diri kita yang hina dina dan rapuh
ini.

Jakarta, 8 September 2008


Kirim email ke