Puasa, Naik Haji, adalah contoh hukum Tuhan. Tapi kok ya bisa bersifat
1 dimensi? abis puasa rame2 berbuat anarkis, atau abis naek haji masih
aja kerjaannya ngebokis. 

ORang2 yg membayar pajak di AS kebanyakan sadar betul bahwa uang yg
mereka setor adalah untuk peningkatan kesejahteraan mereka juga. Atau
masyarakat di Thailand yg ramai2 menyumbangkan emas mereka kepada
pemerintah untuk membantu mengatasi kesulitan krismon di Thailand.
Bukankah ini bentuk hukum yg bersifat 2 dimensi menurut versi anda?

JAdi ga bisa dong dikotomi, kalo Tuhan itu 2 dimensi atau manuisa itu
1 dimensi. Ngaco betul anda ini..




--- In zamanku@yahoogroups.com, "Iman K." <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Salam...
> 
> Menjawab beberapa pertanyaan tentang hukum Tuhan vs Hukum manusia,
berikut pandangan saya tentang persoalan ini :
> 
> 
> 
> Salah satu perbedaan utama dari hukum Tuhan dan hukum manusia
adalah, Hukum Tuhan memiliki dua dimensi sedangkan hukum manusia hanya
memiliki satu dimensi. Hukum Tuhan memilik aspek spiritual sedangkan
hukum manusia tidak memiliki aspek ini, dengan kata lain hukum manusia
tidak pernah akan meningkatkan spiritualitas seseorang.
> 
>  
> 
> Hal ini mungkin akan lebih mudah dipahami jika kita ambil sebuah
perumpamaan hukum, katakanlah hukum tentang 'pajak'. Jika hukum pajak
buatan manusia ditetapkan, maka bagi sipembuat hukum yang penting
adalah bagaimana supaya siwajib pajak bisa memenuhi target kebutuhan
negara. 
> 
>  
> 
> Pemerintah [ sipembuat peraturan] tidak mau tahu apakah masyarakat
akan membayar pajak dengan sukarela atau terpaksa, bagi pemerintah
siapa saja yang tidak membayar pajak atau tidak patuh terhadap hukum
buatan pemerintah maka yang bersangkutan akan dianggap melanggar
hukum. Sebaliknya barang siapa membayar dengan sadar atau karena
terpaksa, maka itu sudah dianggap patuh dan diterima sebagai warga
negara yang baik. 
> 
>  
> 
> Tujuan pemerintah hanya untuk memperoleh pendapatan khas negara,
pemerintah tidak akan peduli apakah dia akan dikecam atau didemo atas
hukum yang dibuatnya, yang penting target pemerintah tercapai maka
semuanya akan dianggap baik saja.
> 
>  
> 
> Berbeda dengan hukum 'pajak' yang dibuat oleh Tuhan, didalam Islam
hukum 'pajak' ini dikenal dengan istliah 'zakat'. Hukum Tuhan tidak
mempunyai tujuan untuk memenuhi khas Tuhan dan dengan sendirinya yang
disebut 'patuh' atau tidak patuh juga tidak bisa diukur dengan
seseorang telah membayar atau belum membayar zakat. Hukum Tuhan
penekanannya kepada NIAT dan Nilai spiritual, Tuhan tidak akan
menerima zakat yang dibayarkan oleh siwajib zakat jika sipembayar
tidak rela dan ikhlas.
> 
>  
> 
> Begitu juga kalau kita lihat hukum-hukum yang lain, misalnya hukum
tentang membela negara. Jika hukum buatan manusia ditetapkan maka
tentara sebagai pilar utama alat bela negara di anggap 'patuh hukum'
jika tentara ikut berperang atas perintah pemerintah. Mengenai apakah
mereka berperang karena membela yang benar atau salah itu bukan
menjadi persoalan hukum sipenguasa, apakah mereka ikut berperang
karena kesadaran hati atau karena takut kepalanya ditembak oleh
komandanya itu bukan menjadi ukuran kepatuhan hukum. 
> 
>  
> 
> Sangat berbeda dengan hukum bela negara yang di bikin oleh Tuhan,
untuk urusan berperang membela negara Tuhan tidak menilai kepatuhan
mereka terhadap hukum berdasarkan atas keikutan mereka berperang saja,
tetapi yang dilihat adalah masalah substansi berperang itu sendiri,
apakah prajurit yang ikut berperang itu untuk membela yang benar atau
yang salah. Apakah prajurit yang ikut bertempur itu adalah atas
kesadaran sendiri atau karena terpaksa. 
> 
> 
> 
> Hukum Tuhan menilai 'kepatuhan' hukum itu secara utuh yakni kesatuan
antara jasmani [perbuatan] dan rohani [NIAT]. Hukum Tuhan menghendaki
semua hukum itu dilakukan dengan jiwa dan bukan tanpa jiwa. Dengan
kata lain hukum Tuhan itu tidak bisa dikerjakan hanya secara lahirih
saja tanpa ruh sedangkan hukum manusia tidak pernah menilai sisi ruh
(niat) si objek hukum.
> 
>  
> 
> 
> 
>  
> 
> Salam,
> 
> 
> 
> 
> 
> Iman K.
> 
> www.parapemikir.com
>


Kirim email ke