AKU PERCAYA bhw hukum manusia spt yg terungkap dlm falsafah nenek moyang
kita, yaitu TEPO SELIRO - in a nutshell bersifat spiritual dan tidak
hanya bersifat adil.

Gabriela Rantau

--- In zamanku@yahoogroups.com, "Iman K." <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Salam...
>
> Menjawab beberapa pertanyaan tentang hukum Tuhan vs Hukum manusia,
berikut pandangan saya tentang persoalan ini :
>
>
>
> Salah satu perbedaan utama dari hukum Tuhan dan hukum manusia adalah,
Hukum Tuhan memiliki dua dimensi sedangkan hukum manusia hanya memiliki
satu dimensi. Hukum Tuhan memilik aspek spiritual sedangkan hukum
manusia tidak memiliki aspek ini, dengan kata lain hukum manusia tidak
pernah akan meningkatkan spiritualitas seseorang.
>
>
>
> Hal ini mungkin akan lebih mudah dipahami jika kita ambil sebuah
perumpamaan hukum, katakanlah hukum tentang 'pajak'. Jika hukum pajak
buatan manusia ditetapkan, maka bagi sipembuat hukum yang penting adalah
bagaimana supaya siwajib pajak bisa memenuhi target kebutuhan negara.
>
>
>
> Pemerintah [ sipembuat peraturan] tidak mau tahu apakah masyarakat
akan membayar pajak dengan sukarela atau terpaksa, bagi pemerintah siapa
saja yang tidak membayar pajak atau tidak patuh terhadap hukum buatan
pemerintah maka yang bersangkutan akan dianggap melanggar hukum.
Sebaliknya barang siapa membayar dengan sadar atau karena terpaksa, maka
itu sudah dianggap patuh dan diterima sebagai warga negara yang baik.
>
>
>
> Tujuan pemerintah hanya untuk memperoleh pendapatan khas negara,
pemerintah tidak akan peduli apakah dia akan dikecam atau didemo atas
hukum yang dibuatnya, yang penting target pemerintah tercapai maka
semuanya akan dianggap baik saja.
>
>
>
> Berbeda dengan hukum 'pajak' yang dibuat oleh Tuhan, didalam Islam
hukum 'pajak' ini dikenal dengan istliah 'zakat'. Hukum Tuhan tidak
mempunyai tujuan untuk memenuhi khas Tuhan dan dengan sendirinya yang
disebut 'patuh' atau tidak patuh juga tidak bisa diukur dengan seseorang
telah membayar atau belum membayar zakat. Hukum Tuhan penekanannya
kepada NIAT dan Nilai spiritual, Tuhan tidak akan menerima zakat yang
dibayarkan oleh siwajib zakat jika sipembayar tidak rela dan ikhlas.
>
>
>
> Begitu juga kalau kita lihat hukum-hukum yang lain, misalnya hukum
tentang membela negara. Jika hukum buatan manusia ditetapkan maka
tentara sebagai pilar utama alat bela negara di anggap 'patuh hukum'
jika tentara ikut berperang atas perintah pemerintah. Mengenai apakah
mereka berperang karena membela yang benar atau salah itu bukan menjadi
persoalan hukum sipenguasa, apakah mereka ikut berperang karena
kesadaran hati atau karena takut kepalanya ditembak oleh komandanya itu
bukan menjadi ukuran kepatuhan hukum.
>
>
>
> Sangat berbeda dengan hukum bela negara yang di bikin oleh Tuhan,
untuk urusan berperang membela negara Tuhan tidak menilai kepatuhan
mereka terhadap hukum berdasarkan atas keikutan mereka berperang saja,
tetapi yang dilihat adalah masalah substansi berperang itu sendiri,
apakah prajurit yang ikut berperang itu untuk membela yang benar atau
yang salah. Apakah prajurit yang ikut bertempur itu adalah atas
kesadaran sendiri atau karena terpaksa.
>
>
>
> Hukum Tuhan menilai 'kepatuhan' hukum itu secara utuh yakni kesatuan
antara jasmani [perbuatan] dan rohani [NIAT]. Hukum Tuhan menghendaki
semua hukum itu dilakukan dengan jiwa dan bukan tanpa jiwa. Dengan kata
lain hukum Tuhan itu tidak bisa dikerjakan hanya secara lahirih saja
tanpa ruh sedangkan hukum manusia tidak pernah menilai sisi ruh (niat)
si objek hukum.
>
>
>
>
>
>
>
> Salam,
>
>
>
>
>
> Iman K.
>
> www.parapemikir.com
>

Kirim email ke