wIRAJHANA :
 
coba lihat di 
[15:26] Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat 
kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. 

bENING :
 
Ayat diatas adalah menceritakan bahwa TUHAN menciptakan MANUSIA, sedangkan kata 
ADAM adalah "dalam tanda kurung", berarti ini adalah tambahan penterjemah yang 
bisa salah. Tuhan menciptakan manusia, diperlukan Unsur lain, yaitu AYAH dan 
IBU, sehingga Allah menggunakan kata KAMI. Berbeda ketika Allah menciptakan 
ADAM, maka Allah menggunakan kata AKU.
 
adapun kata "tanah liat Kering dan Lumpur hitam, adalah nama unsur kimia yang 
dalam istilah modern adalah Carbon dan sebagainya.
 
Salam,
--- On Mon, 9/8/08, wirajhana eka <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: wirajhana eka <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [zamanku] Re: Kapan Allah pakai Kami dan kapan pakai Aku
To: zamanku@yahoogroups.com
Date: Monday, September 8, 2008, 3:54 AM






Orang arab sendiri akan terpingkal-pingkal kalau melihat cara 
orang Indonesia berusaha menyesatkan orang lain lewat logika aneh 
bin ajaib seperti ini, yaitu mengatakan Allah itu banyak hanya 
lantaran di Al-Quran Allah seringkali menggunakan kata ganti kami 
(nahnu). Betapa kerdilnya logika yang dikembangkan, niatnya mau sok 
tahu dengan bahasa arab, sementara orang arab sendiri mafhum bahwa 
bahasa mereka istimewa. 
---

Ini menarik pak...padahal orang2 yang mengerti bahasa arab sendiri bingung 
dengan Qur'an

Pernah baca As suyuti?

Dikatakan Umar dan Abu bakar yang sahabat nabi saja bingung...jadi Apakah orang 
arab juga mentertawakan khalifah2 yang rashidun itu juga?

Nah, kalau tujuan allah itu memberi petunjuk harusnya simple dong...aku ya 
aku..kami ya kami...kan konon ia sendiri menyatakan tiada tuhan selain allah...

namundemikian  dengan adanya variasi kata aku dan kami...ini juga merupakan 
petunjuk penting bahwa Qur'an bermasalah dan memerlukan tafsir dan Hadis

bukan cuma itu...

Ini jelas bukan permasalahan kata ganti..orang ketiga..namun benar2 jamak..dan
Memang benar terjadi bahwa ada unsur lain yang ikut untuk bersekongkol (saya 
menggunakan kata ini dengan sengaja..).. untuk ikut mengajarkan. .

dalam contoh anda misalnya
anda katakan tiada unsur lain yang membentuk... maka digunakan kata 'aku'..anda 
keliru

Tawang:
Misalnya Allah berfirman dalam Surat Al Baqoroh, ketika 
menceritakan Allah berfirman kepada malaikat bahwa Allah hendak 
menciptakan ADAM " Sesungguhnya Aku hendak menciptakan khalifah di 
bumi" 

Mengapa dalam Ayat ini Allah menggunakan kata AKU ?, karena 
proses penciptaan ADAM Allah tidak melibatkan UNSUR lain, jadi ALLAH 
berfirman KUN atau JADILAH, maka ADAM langsung ada saat itu. 
--
coba lihat di 
[15:26] Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat 
kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. 

dengan menggunakan logika anda...karena Ia menggunakan kata kami..maka proses 
penciptaan melibatkan unsur lain 
jadi..kami itu adalah Allah+Tanah liat kering?

Jelas bukan....bahwa allah saja masih bermasalah dan kebingungan menyebutkan 
dirinya itu siapa?

tunggal atau jamak..

namun sudah berani2nya meminta kepada para yang maha mulia manusia2 untuk 
menyembahnya sebagai satu2nya junjungan..

terlalu.

tawangalun <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:




Dalam Al Qur'an sering kali ALLAH menyebut dirinya "kami", 
tetapi ada juga Allah menyebut dirinya AKU. 
Kapan Allah menggunakan kata KAMI dan kapan ALLAH menggunakan 
kata AKU ? 
Misalnya Allah berfirman dalam Surat Al Baqoroh, ketika 
menceritakan Allah berfirman kepada malaikat bahwa Allah hendak 
menciptakan ADAM " Sesungguhnya Aku hendak menciptakan khalifah di 
bumi" 
Mengapa dalam Ayat ini Allah menggunakan kata AKU ?, karena 
proses penciptaan ADAM Allah tidak melibatkan UNSUR lain, jadi ALLAH 
berfirman KUN atau JADILAH, maka ADAM langsung ada saat itu. 

Dan ketika ALLAH berfirman " KAMI WAHYUKAN KEPADAMU MUHAMMAD " 
atau "KAMI CIPTAKAN MANUSIA" Allah menggunakan kata KAMI, karena 
proses mewahyukan kepada Muhammad ada unsur lain yang terlibat 
yaitu Malaikat JIBRIL. Allah mengutus Malaikat JIbril untuk memberi 
wahyu kepada Muhammad, maka Allah menyebut proses pewahyuan ini 
menggunakan kata KAMI. 

Juga dalam menciptakan MANUSIA, ALLAH melibatkan AYAH dan IBU 
melakukan hubungan Sex dan akhirnya menjadi Janin. Sehingga proses 
terjadinya BAYI, ALLAH melibatkan hubungan sex anatara ayah dan IBU, 
maka Allah menyebut proses penciptaan Manusia menggunakan kata KAMI. 

Inilah indahnya AL Qur'an yang bisa dikupas secara detail, tanpa 
ada kesalahan... .... 

Allah SWT Maha Esa, berarti Dia itu satu, bukan dua atau tiga. 
Maha Suci Allah dari sifat lebih dari satu. 
Allah SWT itu bukan manusia dan bukan pula makhluk hidup 
dengan jenis kelamin. Maka Dia bukan laki-laki dan juga bukan 
perempuan, bukan pula banci (naudzubillah minta dzalik). 

Adapun bahasa arab, memang punya 14 dhamir atau kata ganti 
orang. Mulai dari huwa sampai nahnu. Huwa adalah kata ganti untuk 
orang ketiga, tunggal dan laki-laki. 
Di dalam Al-Quran, penggunaan kata ganti orang ini sering juga 
diterapkan untuk lafadz Allah SWT. Al-Quran membahasakan Allah 
dengan kata ganti Dia (huwa). Di mana makna aslinya adalah dia laki- 
laki satu orang. Tetapi kita tahu bahwa Allah SWT bukan laki-laki 
dan juga bukan perempuan atau banci. 
Kalau ternyata Al-Quran menggunakan kata ganti Allah dengan 
lafadz huwa, dan bukan hiya (untuk perempuan), sama sekali tidak 
berarti bahwa Allah itu laki-laki. 

Penggunaan kata ganti huwa (yang sebenarnya untuk laki-laki) 
adalah ragam keistimewaan bahasa arab yang tidak ada seorang pun 
meragukannya. 
Maka demikian pula dengan penggunaan kata nahnu, yang meski 
secara penggunaan asal katanya untukkata ganti orang pertama, jamak 
(lebih dari satu), baik laki-laki maupun perempuan, namun sama 
sekali tidak berarti Allah itu berjumlah banyak. 

Orang arab sendiri akan terpingkal-pingkal kalau melihat cara 
orang Indonesia berusaha menyesatkan orang lain lewat logika aneh 
bin ajaib seperti ini, yaitu mengatakan Allah itu banyak hanya 
lantaran di Al-Quran Allah seringkali menggunakan kata ganti kami 
(nahnu). Betapa kerdilnya logika yang dikembangkan, niatnya mau sok 
tahu dengan bahasa arab, sementara orang arab sendiri mafhum bahwa 
bahasa mereka istimewa. 

Tidak semua kata nahnu (kami) selalu berarti pelakunya banyak. 
Memang benar secara umum kata nahnu menunjukkan jumlah yang banyak, 
tetapi orang yang bodoh dengan bahasa arab terkecoh besar dengan 
ungkapan ini. Sebenarnya kata kami tidak selalu menunjukkan jumlah 
yang banyak, tetapi juga menunjukkan kebesaran orang yang 
menggunakannya. 

Misalnya, seorang presiden dari negara arab mengatakan 
begini, "Kami menyampaikan salam kepada kalian", apakah berarti 
jumlah presiden negara itu ada lima orang? Tentu saja tidak. Sebab 
kata "kami" yang digunakannya menggambarkan kebesaran negara dan 
bangsanya, bukan menunjukkan jumlah presidennya. 

Tukang becak di pinggir jalan pun tahu bahwa yang namanya 
presiden di semua negara pastilah jumlahnya cuma satu, tidak mungkin 
ada lima. Hanya orang bodoh saja yang mengatakan presiden ada lima. 
Dan hanya orang bodoh tidak pernah makan sekolahan saja yang 
mengatakan bahwa Allah itu ada banyak, hanya gara-gara Dia menyebut 
dirinya dengan lafadz KAMI. 

Ini adalah logika paling gila yang pernah diucapkan oleh hewan 
yang merayap di muka bumi yang mengaku bernama manusia. Dan 
sayangnya, dengan logika jungkir balik tidak karuan seperti ini, 
masih saja ada orang yang mau melahapnya mentah-mentah. Masih saja 
jatuh korban kesesatan tidak lucu dari massa mengambang muslim. 

Dan sayangnya, masih saja ada yang berusaha memaksakan kpd 
muslim,lihat Allah makai kata KAMI berarti Tuham lu kan trinitas juga.

Shalom,
Tawangalun.



 














      

Kirim email ke