He.........He...... Gaby selalu mengulang masalah yang sama, tetapi kalau 
diajak diskusi dan saya jawab, dia akan lari terbirit-birit..........
 
Sebelum saya menjawab, coba saya akan bertanya dulu kepada Gaby, apakah dia 
bisa menjawab dengan baik...........
 
Bukalah Kitab Matius. Menurut Kepercayaan Kristen, KITAB MATIUS ditulis oleh 
matius. Tetapi coba anda bukan KITAB MATIUS 9 :
 
9:9 :Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius 
duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah 
Matius lalu mengikut Dia.
 
9:10 Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut 
cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.
 
Apabila anda membaca DUA AYAT diatas, maka akan jelaslah bahwa KITAB MATIUS 
ditulis bukan oleh MATIUS.
 
Kalau kitab itu ditulis oleh MATIUS, maka redaksinya di ayat 9 adalah 
"berdirilah Aku", bukan Berdirilah MATIUS.
 
di ayat 10 mestinya dituli " Makan di rumahku", bukan "makan dirumah matius".
 
He........he......... coba anda jelaskan dulu ayat diatas, sebelum saya jawab 
pertanyaan anda..........
 
Salam,

--- On Tue, 9/9/08, gkrantau <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: gkrantau <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [zamanku] Re: Kapan Allah pakai Kami dan kapan pakai Aku
To: zamanku@yahoogroups.com
Date: Tuesday, September 9, 2008, 6:52 AM






MUNGKIN SAJA ini bukti keindahan bahasa Al Qur'an!

Banyak ayat yg kalo disimak secara cermat agak membingungkan dlm arti 'siapa 
sebenarnya yg bicara'. Seblon terus aku ingin ngingatin bhw dlm Bahasa Arab spt 
juga dlm bahasa Ibrani - tidak ada kebiasaan mempergunakan 'royal we' untuk 
menunjukkan keagungan atopun untuk kesopanan.

1. Mnrt Islam setiap ayat dlm Qur'an adalah sabda Aulloh sendiri. Lalu apa 
cengli - masuk akal kalo Aulloh itu yg mengucapkan Al Fatiha?
2. Al Ahzab 33:56 'Allah and his angels pray for the prophet. Bless him then, 
you that are true belivers, and greet him with a worthy salutation.'  Nah, 
siapa yg ngomong ini?
3. Al An'am 6:114 Should I(Muhammad) seek a judge other than Allah when it is 
He who has revealed the Book for you with all its precepts? Those to whom We 
gave the scriptures know that it is the truth revealed by your Lord. Perlu 
dicatat bhw Muhammad yg mengatakan bagian permulaan ayat ini (bukan Aulloh) 
Kalimat ke-2 dinyatakan oleh Aulloh (WE) diakhiri dg penyebutan Aulloh sbg 
orang ketiga.
4. Ayat 115: Perfected are the words of your Lord in truth and justice. None 
can change His words. He hears all and knows all. Siapa yg ngomong ini?
5. Al Hijir 15:26-29 Dlm ayat2 ini subjectnya  berganti dari WE menjadi He. We 
created man from dry clay. Your Lord(He) said to the angels.
6. Al Mu'minun 23: 12-14 We created man from an essence of the clay; ...... 
Bless be Allah! Tidak mungkin Aulloh sendiri bilang 'Bless be Allah'!

Dan masih banyak lagi ayat2 yg tidak jelas siapa pembicaranya dan kalo dari 
contextnya jelas bhw yg ngomong itu Aulloh tapi tetep aja subjectnya bisa WE, I 
dan bahkan He. Selain itu kalian pasti ingat ada ayat di mana Aulloh elas2 
'bersumpah demi Matahari!'

Gabriela Rantau



--- In [EMAIL PROTECTED] .com, "tawangalun" <[EMAIL PROTECTED] ..> wrote:
>
> 
> 
> Dalam Al Qur'an sering kali ALLAH menyebut dirinya "kami", 
> tetapi ada juga Allah menyebut dirinya AKU. 
> Kapan Allah menggunakan kata KAMI dan kapan ALLAH menggunakan 
> kata AKU ? 
> Misalnya Allah berfirman dalam Surat Al Baqoroh, ketika 
> menceritakan Allah berfirman kepada malaikat bahwa Allah hendak 
> menciptakan ADAM " Sesungguhnya Aku hendak menciptakan khalifah di 
> bumi" 
> Mengapa dalam Ayat ini Allah menggunakan kata AKU ?, karena 
> proses penciptaan ADAM Allah tidak melibatkan UNSUR lain, jadi ALLAH 
> berfirman KUN atau JADILAH, maka ADAM langsung ada saat itu. 
> 
> Dan ketika ALLAH berfirman " KAMI WAHYUKAN KEPADAMU MUHAMMAD " 
> atau "KAMI CIPTAKAN MANUSIA" Allah menggunakan kata KAMI, karena 
> proses mewahyukan kepada Muhammad ada unsur lain yang terlibat 
> yaitu Malaikat JIBRIL. Allah mengutus Malaikat JIbril untuk memberi 
> wahyu kepada Muhammad, maka Allah menyebut proses pewahyuan ini 
> menggunakan kata KAMI. 
> 
> Juga dalam menciptakan MANUSIA, ALLAH melibatkan AYAH dan IBU 
> melakukan hubungan Sex dan akhirnya menjadi Janin. Sehingga proses 
> terjadinya BAYI, ALLAH melibatkan hubungan sex anatara ayah dan IBU, 
> maka Allah menyebut proses penciptaan Manusia menggunakan kata KAMI. 
> 
> Inilah indahnya AL Qur'an yang bisa dikupas secara detail, tanpa 
> ada kesalahan... .... 
> 
> Allah SWT Maha Esa, berarti Dia itu satu, bukan dua atau tiga. 
> Maha Suci Allah dari sifat lebih dari satu. 
> Allah SWT itu bukan manusia dan bukan pula makhluk hidup 
> dengan jenis kelamin. Maka Dia bukan laki-laki dan juga bukan 
> perempuan, bukan pula banci (naudzubillah minta dzalik). 
> 
> Adapun bahasa arab, memang punya 14 dhamir atau kata ganti 
> orang. Mulai dari huwa sampai nahnu. Huwa adalah kata ganti untuk 
> orang ketiga, tunggal dan laki-laki. 
> Di dalam Al-Quran, penggunaan kata ganti orang ini sering juga 
> diterapkan untuk lafadz Allah SWT. Al-Quran membahasakan Allah 
> dengan kata ganti Dia (huwa). Di mana makna aslinya adalah dia laki- 
> laki satu orang. Tetapi kita tahu bahwa Allah SWT bukan laki-laki 
> dan juga bukan perempuan atau banci. 
> Kalau ternyata Al-Quran menggunakan kata ganti Allah dengan 
> lafadz huwa, dan bukan hiya (untuk perempuan), sama sekali tidak 
> berarti bahwa Allah itu laki-laki. 
> 
> Penggunaan kata ganti huwa (yang sebenarnya untuk laki-laki) 
> adalah ragam keistimewaan bahasa arab yang tidak ada seorang pun 
> meragukannya. 
> Maka demikian pula dengan penggunaan kata nahnu, yang meski 
> secara penggunaan asal katanya untukkata ganti orang pertama, jamak 
> (lebih dari satu), baik laki-laki maupun perempuan, namun sama 
> sekali tidak berarti Allah itu berjumlah banyak. 
> 
> Orang arab sendiri akan terpingkal-pingkal kalau melihat cara 
> orang Indonesia berusaha menyesatkan orang lain lewat logika aneh 
> bin ajaib seperti ini, yaitu mengatakan Allah itu banyak hanya 
> lantaran di Al-Quran Allah seringkali menggunakan kata ganti kami 
> (nahnu). Betapa kerdilnya logika yang dikembangkan, niatnya mau sok 
> tahu dengan bahasa arab, sementara orang arab sendiri mafhum bahwa 
> bahasa mereka istimewa. 
> 
> Tidak semua kata nahnu (kami) selalu berarti pelakunya banyak. 
> Memang benar secara umum kata nahnu menunjukkan jumlah yang banyak, 
> tetapi orang yang bodoh dengan bahasa arab terkecoh besar dengan 
> ungkapan ini. Sebenarnya kata kami tidak selalu menunjukkan jumlah 
> yang banyak, tetapi juga menunjukkan kebesaran orang yang 
> menggunakannya. 
> 
> Misalnya, seorang presiden dari negara arab mengatakan 
> begini, "Kami menyampaikan salam kepada kalian", apakah berarti 
> jumlah presiden negara itu ada lima orang? Tentu saja tidak. Sebab 
> kata "kami" yang digunakannya menggambarkan kebesaran negara dan 
> bangsanya, bukan menunjukkan jumlah presidennya. 
> 
> Tukang becak di pinggir jalan pun tahu bahwa yang namanya 
> presiden di semua negara pastilah jumlahnya cuma satu, tidak mungkin 
> ada lima. Hanya orang bodoh saja yang mengatakan presiden ada lima. 
> Dan hanya orang bodoh tidak pernah makan sekolahan saja yang 
> mengatakan bahwa Allah itu ada banyak, hanya gara-gara Dia menyebut 
> dirinya dengan lafadz KAMI. 
> 
> Ini adalah logika paling gila yang pernah diucapkan oleh hewan 
> yang merayap di muka bumi yang mengaku bernama manusia. Dan 
> sayangnya, dengan logika jungkir balik tidak karuan seperti ini, 
> masih saja ada orang yang mau melahapnya mentah-mentah. Masih saja 
> jatuh korban kesesatan tidak lucu dari massa mengambang muslim. 
> 
> Dan sayangnya, masih saja ada yang berusaha memaksakan kpd 
> muslim,lihat Allah makai kata KAMI berarti Tuham lu kan trinitas juga.
> 
> Shalom,
> Tawangalun.
>
 














      

Kirim email ke