Tulisan ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm


            Njoto, Wakil Ketua CC PKI
            yang mati dalam sunyi


Dalam rangka memperingati peristiwa 65, berikut di bawah ini disajikan
artikel atau tulisan yang disiarkan oleh Radio Nederland (siaran bahasa
Indonesia) mengenai kasus Wakil Ketua II CC PKI , Njoto, yang dibunuh oleh
Angkatan Darat secara sembunyi-sembunyi. Tulisan radio Nederland ini telah
disiarkan kembali oleh Radio KBR68H (Jakarta) pada tanggal 28 Agustus 2008.

Penyajian kembali tulisan singkat tentang Njoto ini, untuk menunjukkan -
sekali lagi , dan untuk kesekian kalinya – bahwa Suharto dkk dalam Angkatan
Darat telah membunuh secara sewenang-wenang dan tanpa dasar hukum atau
pengadilan, sejumlah besar pimpinan PKI dan berbagai ormas seperti SOBSI,
BTI, Gerwani, Pemuda Rakyat, HSI dll baik di tingkat nasional maupun daerah.

Di antara mereka yang dibunuhi, ditangkapi dan dipenjarakan secara
besar-besaran ini terdapat banyak tokoh perjuangan melawan kolonialisme
Belanda dan Jepang,dan banyak yang menjadi motor gerakan revolusioner di
bawah pimpinan Biung Karno. Dengan dibunuhinya mereka ini dan dilumpuhkannya
kekuatan revolusioner yang mendukung politik Bung Karno maka bangsa dan
rakyat Indonesia telah menjadi loyo dan rusak seperti yang kita saksikan
dengan jelas sekali sekarang ini.

Pembunuhan Njoto secara sewenang-wenang, seperti halnya pembunuhan banyak
kader dan aktifis golongan kiri lainnya merupakan dosa berat dan aib besar
bangsa Indonesia, yang perlu dicatat dalam sejarah rakyat.

Siaran Radio Nederland tersebut adalah sebagai berikut :

Namanya singkat: Njoto. Sebagai menteri negara di tahun 1960an, ia
mengesankan banyak orang, termasuk Bung Karno. Bukan saja piawai di panggung
politik, tapi juga memiliki pengetahun yang lengkap tentang sastra, musik
hingga sepak bola.
Ia seorang jenius yang tak pernah diketahui kabar kematiannya. Ia dibunuh
akibat hura hara politik akhir September 1965, ketika Partai Komunis
Indonesia dituduh mendalanginya.
Bayi pun dipenjara

Svetlana Dayani: "Saya tidak melihat disiksanya, tapi kita kan mendengar
suara. Mendengar jeritan orang, mendengar segala macam, hardikan-hardikan
pemeriksa. Kalau pagi mereka ke luar dari ruang pemeriksaan dengan badan
yang sudah, ada yang dipapah, ada yang sudah tidak bisa berjalan. Harus
diseret-seret. Mengerikan. Nggak cuma laki-laki masalahnya, juga
perempuan.Lihat sendiri"

Saat itu Svetlana Dayani belum lagi 10 tahun. Belum faham benar apa yang
sebenarnya terjadi. Tapi Svetlana beserta keenam adiknya sudah harus
merasakan kejamnya hidup dalam penjara. Gelap. Pengap. Adik bungsunya saat
itu malah masih menyusu.
Svetlana Dayani: "Ikut semua sampai bayinya yang umur tiga bulan itu"

Mereka adalah anak-anak Njoto, menteri zaman Bung Karno dan Wakil Ketua CC
Partai Komunis Indonesia, PKI. Huru hara politik 30 September 1965 membuat
mereka harus ikut merasakan pengapnya penjara Kodim Jakarta. Tiga bulan
bersama Soetarni, ibu mereka.
Setelah bebas dari tahanan Kodim, Soetarni, istri Njoto, kembali ditangkap
dan ditahan. Dari satu penjara ke penjara lain. Antara lain di Wonogiri,
Semarang, Bukit Duri Jakarta, dan di Plantungan, Jawa Tengah. Sementara
Njoto sendiri hilang tanpa jejak sejak 16 Desember 1965.

Soetarni: "Masih nyusuin saya. Tapi setelah saya karena kaki saya diambil
itu, ndak keluar air susunya. Saya lapor ke komandannya. Saya minta susu.
Karena itu mendadak ndak keluar. Tiba-tiba ndak keluar. Dimintakan sama-sama
orang tahanan. Saya tahunya.. waduh kok kasian amat, orang ditahan kok
dimintain suruh njatah aku susu"
Kini, meski sudah renta, ingatan Soetarni masih segar. Ketika tertawa,
giginya terlihat berderet putih. Tinggal di sebuah rumah sederhana di
Rawamangun Jakarta Timur, Soetarni banyak menghabiskan waktunya dengan
membaca. Berbagai buku dilahapnya, mulai soal politik sampai komik pemberian
cucu.

Seniman ketimbang politikus

Soetarni ingat betul pengalaman pahitnya. Walau pun istri Njoto, Soetarni
tak pernah aktif di PKI. Ia ibu rumah tangga biasa. Sebelum menikah,
Soetarni adalah atlet lari yang pernah tiga kali ikut Pekan Olahraga
Nasional PON mewakili Solo. Waktu itu, Soetarni lebih banyak kenal Njoto
sebagai seniman ketimbang politikus. Di mata Soetarni, Njoto adalah seorang
penyabar. Seingatnya, tak pernah sekalipun Njoto membentak atau bicara kasar
terhadapnya. Ia tak pernah menyesal menjadi istri Njoto.
Soetarni: "Karena peristiwa itu bukan salahnya, setahu saya, bukan salahnya
PKI. Saya tidak bisa membenci PKI juga ngga. Masih tanda tanya terus toh
selama ini. Ini peristiwa siapa sebetulnya siapa yang salah. Siapa yang
bikin. Masih belum jelas kan? Semua juga belum tahu. (Dan sebagai istri
petinggi PKI tidak pernah dengar kabar?) Tidak, baru belakangan-belakangan,
dari baca-baca ini"

Sementara bagi Svetlana, Njoto adalah ayah yang dekat dengan anak-anaknya.
Njoto selalu mengajak anak-anak mengenal kegiatan ayah mereka, mulai
kegiatan di kantor redaksi koran Harian Rakjat sampai nonton kesenian.

Svetlana Dayani: "Kalau malam kita suka diajak ke kantor Harian Rakjat.
Melihat proses membuat surat kabar, macam-macam. Diajak sampai lihat
percetakannya. Diajak dia kerja. Kalau ada kegiatan dengan seniman juga
begitu. Kita biasa datang ke acara seni, liat ludruk segala macam. Kesenian
dari luar negeri. Terus kalau ada kegiatan dengan Lekra mungkin ke daerah,
ke Bali. Kalau sedang libur kita ikut. Jadi saya tahu ayah ya seperti itu"
Untuk urusan buku, Njoto juga selalu memanjakan anak-anakmya. Di rumahnya
yang luas di Jalan Malang, Menteng, Jakarta Pusat, Svetlana masih ingat
tumpukan buku Njoto sampai langit-langit rumah. Njoto punya kursi khusus
untuk menjangkau buku-buku itu.
Menyembunyikan jati diri

Penderitaan anak-anak tak selesai walau pun keluar dari penjara.
Bertahun-tahun Svetlana juga harus menyembunyikan namanya yang berbau Rusia.
Svetlana Dayani: "Saya harus selalu menyembunyikan jati diri saya yang
sesungguhnya. Tidak pakai Svetlana. Nama lengkap saya kan Svetlana Dayani.
Sejak peristiwa itu ketika saya mau sekolah lagi ibu saya tidak mengizinkan,
saya harus membuang nama Svetlananya. Jangan dipakai. Karena dari saya dan
adik-adik itu, nama saya memang yang paling mencolok sekali, svetlana"

Padahal Svetlana berarti cahaya. Tapi cahaya itu seolah redup begitu orde
baru berkuasa dan mengharamkan PKI sampai anak cucu anggotanya. Anak-anak
Njoto dan anak-anak anggota PKI lain hidup menderita, tak bisa menjadi
pegawai negeri, bahkan ada yang sulit menikah lantaran calon mertua tahu
mereka anak PKI.
Saat peristiwa 65 meletus, Njoto sedang berada di Medan untuk urusan
kenegaraan. Beredar santer desas desus PKI dalang pembunuhan para jenderal
di Lubang Buaya. Aktivis PKI dicari-cari. Ada yang ditangkap lalu dibawa ke
tahanan dan dipenjara bertahun-tahun, tanpa diadili. Banyak yang ditangkap
lalu dibunuh. Pecah pembantaian massal terhadap ribuan orang yang dituduh
PKI.

Menghilang
Tanpa Njoto, pada 1 Oktober Soetarni terpaksa mengungsi bersama anak-anaknya
dari rumah satu ke rumah lain. Seingat Soetarni, semenjak peristiwa itu,
hanya sekali Njoto menemuinya.
Soetarni: "Masih nengok sekali di Gunung Sahari. Sekali saja (Bilang apa?)
Wah sudah lupa ya. Ya, jaga anak-anak saja. Biasanya mesti begitu kalau mau
ditinggal ke luar negeri. Jaga anak-anak kalau ada kesulitan hubungi oom
ini, oom itu. Kawan-kawannya"

Setelah pertemuan hari itu, Njoto menghilang. Soetarni tak pernah lagi
mendengar beritanya. Kabarnya ia ditembak mati, tapi Soetarni juga tak
pernah melihat jazad suaminya. Anak-anaknya pun tak pernah tahu kabar ayah
mereka. Bahkan sekedar foto pun mereka tak punya, karena rumah mereka pun
ikut dijarah. Tak ada yang tersisa.
Njoto adalah salah satu dari Tiga Serangkai orang muda pemimpin Partai
Komunis Indonesia tahun 1965. Selain Njoto ada juga Aidit dan Lukman. Selain
sebagai Wakil Ketua II CC PKI, Njoto juga seorang penyair, essais dan
penulis naskah pidato Bung Karno. Di kantor redaksi Harian Rakjat Njoto
menulis editorial, pojok atau kolom.

Tidak anti agama
Njoto seorang komunis tulen. Tapi ia tidak anti agama. Salah seorang
sahabatnya, Joesoef Isak bercerita, Njoto pernah mengusahakan seorang ibu
untuk naik haji ke Mekah. Saat itu tak sembarang orang bisa berangkat ke
Mekah walau punya uang.
Joesoef Isak: "Dulu orang naik haji berebutan. Ada jatahnya. Walau pun punya
duit kalau gak dapat jatah gak bisa. Teman saya Tom Anwar, wartawan Bintang
Timur. Ibunya udah 60 tahun, sudah tua. Kepingin naik haji. Kedengaran sama
Njoto. Njoto orang PKI yang dibilang iblis, gak kenal Tuhan, itu
mengusahakan satu jatah untuk ibunya Tom Anwar. Jadi ibunya Tom Anwar
kemudian 20 tahun lagi saya ketemu, dia udah umur 80 tahun, tidak pernah dia
lupakan, bisa haji berkat Njoto"

Di mata Joesoef Isak, pengetahuan Njoto di banyak bidang tergolong
paripurna. Njoto tahu banyak, mulai politik, musik sampai bola. Joesoef Isak
yang saat itu wartawan harian Merdeka justru kenal Njoto karena musik.

Joesoef Isak: "Bicara mengenai sepak bola, dia akan bicara sebagaimana
seorang pelatih sepak bola profesional. Sistem grendel, sistem 421. Itu.
Jadi dia serba mendalam. Bicara mengenai musik. Dari kroncong, floklor
musik-musik rakyat Maluku, Ambon, Batak yang memang indah ya. Dia bisa
bicara mengenai Beethoven, mengenai Wagner, mengenai Berlioz, Edvard Grieg,
Sibelius, Antonin Dvorak"
Genjer-genjer

Di bidang musik Njoto bukan sekedar tahu. Ia juga pandai memainkan berbagai
instrumen, dari gitar sampai piano. Teman bermain musiknya antara lain
adalah Jack Lesmana, salah seorang pelopor sekaligus pemusik jazz ternama
Indonesia.

Suatu ketika, saat berkunjung ke Banyuwangi, Jawa Timur, pada 1962 dia
disuguhi lagu Gendjer-Gendjer. Nalurinya sebagai seniman muncul dan
memprediksi lagu itu akan tenar. Ramalan Njoto benar, lagu rakyat itu
menjadi hit yang diputar di TVRI dan RRI.
Joesoef Isak boleh jadi salah seorang dari sedikit rekan Njoto yang saat ini
masih hidup. Usianya kini 80 tahun. Di zaman Orde Baru ia mendirikan penebit
Hasta Mitra yang menerbitkan roman Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Njoto anak tertua dari tiga bersaudara, dilahirkan di Bondowoso pada tanggal
17 Januari 1927. Sejak muda Njoto telah menunjukkan bakat sebagai aktivis
politik ulung. Joesoef Isak bercerita saat Njoto juga pernah bergabung dalam
Komite Nasional Indonesia Pusat KNIP, padahal usianya saat itu baru 16
tahun.

Joesoef Isak: "Dia sudah jadi komunis masih masa muda. Karena itu waktu
republik berdiri, 1945, 1946, 1947, dia pimpin PKI, jadi fraksi PKI. Dia
sudah ketuanya. Dia cerita pada saya. Umurnya 16. Jadi dia korup dua tahun.
Isyunya saat itu KNIP perundingan dengan Belanda. Apa mau kompromi apa tidak
dengan Belanda. Paling garis besar saja saya tahu soal-soal itu. Yang
mendetail saya ndak banyak tahu"
Karir politik Njoto terus melambung. Pada pemilu pertama tahun 1955, Njoto
sudah berada di barisan pemimpin PKI.

Lekra

Di bidang sastra dan kebudayaan, Njoto ikut mendirikan Lembaga Kebudajaan
Rakjat, Lekra. Ia juga ikut membuat Piagam Lekra. Amarzan Loebis, anggota
Lekra, mengatakan organisasi ini dulunya menekankan konsep sastra yang
berpihak pada rakyat.
Amarzan Loebis: "Saya kira konsep Njoto ya jelas, seperti konsep Lembaga
kebudajaan Rakjat ya sastra itu ya sastra yang memihak. Dan pemihakan sastra
itu adalah pada orang-orang yang tertindas dan terjajah. Konsep sastra kita
itu, kalau bisa disimpulkan menurut bahasa sekarang ya sastra pembebasan,
sastra yang berusaha membebaskan orang, membebaskan manusia dari penindasan,
penjajahan dan dengan sendirinya dari kebodohan. Kalau ada pertunjukan
sandiwara, kalau itu cenderung memihak siapa? Rakyat atau kelompok yang
menindas rakyat? Kalau cerita sandiwara itu menindas rakyat, itu bukan model
cerita yang kita sambut gembira. Juga cerita-cerita yang tidak menyarankan
optimisme"

Lekra pernah berpolemik keras dengan sejumlah seniman yang tergabung dalam
Manifesto Kebudajaan, Manikebu. Sebuah perdebatan paling seru dalam sejarah
budaya Indonesia. Kelompok Manikebu yakin seniman harus bebas dalam
menciptakan karya yang didasarkan pada rasa kemanusiaan. Sementara
seniman-seniman Lekra mendukung garis politik Bung Karno bahwa politik
sebagai panglima. Karena itu seniman juga harus ambil bagian dalam politik
mendukung Bung Karno.
Soekarno yang waktu itu dekat dengan Lekra dan PKI akhirnya melarang
kelompok Manikebu. Joesoef Isak, kawan Njoto mengatakan, sejak awal Njoto
tidak setuju pelarangan itu. Polemik Lekra versus Manikebu, kata Njoto,
harusnya diperdebatkan dan masyarakat yang menilai.

Joesoef Isak: "Dia bilang manikebu enggak bisa dihapus dengan peraturan,
dengan tanda tangan, dengan statement, lalu hilang. Manikebu adalah suatu
wawasan. Wawasan itu tak bisa hilang dengan tanda tangan di atas kertas.
Harus dilawan dengan polemik, dengan debat. Terbuka, biar rakyat terlibat.
Biar lihat sendiri, menilai mana yang bener mana yang tidak bener. Dalam hal
itu sikap Njoto cukup demokratis"
Penulis pidato BK

Njoto juga salah seorang penulis naskah pidato Bung Karno. Menurut Joesoef
Isak Soekarno suka gaya tulisan Njoto karena sesuai dengan gaya pidatonya.
Joesoef Isak: "Sebenarnya kalau soal pidato Bung Karno, bukan hanya Njoto,
tapi Roeslan Abdoelgani juga nulis, Soebandrio menulis. Jadi tiga orang.
Tapi masing-masing, setelah Soekarno pidato, mereka lihat berapa persen
mereka dipakai. Njoto bilang, waktu bicara 63/64 Bung Karno hebat. Njoto
sudah bilang, Suf, tinggal kerikil-kerikil saja. Hampir semua dia punya"

Ada banyak alasan mengapa Soekarno suka Njoto. Amarzan Loebis adalah
wartawan Tempo bekas anggota Lekra yang pernah ditahan di Pulau Buru.
Amarzan Loebis: "Pertama masalah "ideologis" dan masalah habit. Masalah
ideologis saya melihat Bung Njoto lebih sebagai nasionalis daripada seorang
marxis. Bung Karno sendiri kan mengakui bahwa marhanenisme adalah marxisme
yang diterapkan di Indonesia. Jadi ketemunya di situ saya pikir, ya. Pada
Njoto ada ideologi marxis yang cenderung nasionalis. Pada Bung Karno jelas
ada ideologi nasionalis cenderung marxis. Jadi ketemu. Kemudian dari segi
habit, ya keduanya kebetulan sama-sama gemar musik, gemar lukisan dan
mengerti lukisan, gemar sastra. Hal-hal seperti itu. Jadi mudah menjadi
dekat"

Kepada orang-orang dekatnya, Njoto mengaku tak tahu menahu soal gerakan 30
September yang menurut orde baru didalangi PKI. Saat itu Njoto bahkan sedang
ada di Medan, mengikuti sebuah tugas kenegaraan. Sampai kini tak jelas kabar
kematiannya. Mungkin ia telah mati. Mati dalam sunyi.

* * *





No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.524 / Virus Database: 270.6.19/1663 - Release Date: 09/09/2008
19:04

Kirim email ke