Ketika membaca sebuah ayat, di dalam kitab suci apapun, kita wajib mempelajari 
sejarah turunnya ayat tersebut. Mengapa Tuhan berkata seperti itu, sehingga 
kita bisa memahami kenapa ada ayat yang berbunyi seperti itu.
 
Sebagai sebuah kitab suci, yang kita jadikan pedoman hidup sepanjang masa, 
menurut saya, isinya harus memiliki fleksibilitas sehingga tetap bisa digunakan 
sampai kapanpun.
 
Jadi menurut saya, bukan masalah kita harus rela menjadi miskin tetapi yang 
lebih penting adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan harta kita untuk saling 
berbagi. Karena manusia hidup butuh sarana untuk terus mempertahankan 
kehidupannya, sehingga diperlukan usaha untuk mencari sarana itu salah satunya 
adalah harta untuk memenuhi kebutuhan hidup kita seperti makan dan minum.. 
Tanpa makan dan minum kita tidak mungkin bisa mempertahankan hidup kita. 
Sedangkan jika dengan sengaja tanpa usaha sedikitpun, kita membiarkan tubuh 
kita menderita karena tidak makan dan minum itu sama saja dengan mendzolimi 
diri sendiri. Dan dalam agama Islam mendzolimi diri sendiri sangat dimurkai 
oleh Allah.
 
Kemudian, miskin yang dimaksud oleh ayat di atas juga ada kriterianya, yaitu 
miskin tetapi selalu dalam keimanan kepada Tuhannya.


--- On Wed, 9/10/08, Hati Nurani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Hati Nurani <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [zamanku] Anda berani melakukan Re: Berbahagialah hai kamu yang miskin 
dan lapar
To: [EMAIL PROTECTED], zamanku@yahoogroups.com
Cc: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
"Teresia Stephany" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], "Vicky" <[EMAIL 
PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL 
PROTECTED], "wahyudi wirawan" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL 
PROTECTED], "zerafin_libra" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, September 10, 2008, 5:12 AM











Romo Maryo :
 
Lalu Yesus memandang murid-murid- Nya
dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang
empunya Kerajaan Allah.
============ ========= ========= ====
 
Bening :
Para pengkhotbah, juru dakwah sering bicara yang muluk-muluk, tetapi jarang 
sekali yang mampu Mempraktekkan Apa yang dibicarakan.
 
Ayat diatas menunjukkan bahwa " berbahagialah kamu yang miskin", adalah 
Perintah yang sangat Jelas, agar pengikut Nabi Isa adalah supaya Hidup miskin, 
jangan dilarang Kaya. 
 
Ayat diatas bukan penghiburan semata bagi yang miskin, tetapi adalah PERINTAH 
untuk hidup miskin. Buktinya, bagi mereka yang Kaya, dianjurkan untuk menjual 
harta dan membagikan hartanya untuk orang miskin. Mai bukti ???
 
Baca Markus 10:21 
 
Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: 
"Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan 
berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di 
sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.."
============ ========= ========= ===
 
Menjual harta dan hidup miskin adalah kalan para orang Suci yang hendak 
'bertemu" kepada Tuhan. Semua orang Suci yang hendak bertemu dengan TUHAN dan 
melalui Jalan Sufi, pastilah diperintahkan untuk meninggalkan Kehidupan dunia.
 
Contoh ketika Bupati Semarang yang bernama Adipati PANDAN ARAN, ketika sadar 
akan kesalahannya, lantas hendak mengikuti atau berguru kepada Sunan Kali Jaga, 
maka oleh Sunan Kalijaga untuk meninggalkan HARTA dan TAHTA, untuk mengikuti 
Jalan Rohani hendak bertemu TUHAN....... ...
 
Sanggupkah Pengikut Nabi Isa hidup MISKIN dan mengikuti Perintahnya yang 
JELAS-JELAS dan GAMBLANG tertulis dalam ALKITAB..... .
 
Salam,
 

--- On Tue, 9/9/08, Romo maryo <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: Romo maryo <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: [zamanku] Berbahagialah hai kamu yang miskin dan lapar
To: tedjasendjaja@ yahoogroups. com
Cc: the_untold_stories@ yahoogroups. com, [EMAIL PROTECTED] ps.com, 
tiensherbal@ yahoogroups. com, tulang-rusuk@ yahoogroups. com, "Teresia 
Stephany" <tazmania_love333@ yahoo.com>, via-dolorosa@ yahoogroups. com, 
"Vicky" <vicky.vidira@ leighton. co.id>, WartawanEkonomi@ yahoogroups. com, 
werdhiswara@ yahoo.com, widayat1950@ yahoo.com, wt-hrdga-owner@ yahoogroups. 
com, "wahyudi wirawan" <wahyudi_wirawan83@ yahoo.com>, [EMAIL PROTECTED] com, 
[EMAIL PROTECTED] .com, [EMAIL PROTECTED] .com, "zerafin_libra" <zerafin_libra@ 
yahoo.co. id>
Date: Tuesday, September 9, 2008, 6:38 AM






“Lalu Yesus memandang murid-murid- Nya
dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang
empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena
kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena
kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci
kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu
sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah,
sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek
moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai kamu
yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.
Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah
kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.
Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek
moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.” (Luk 6:20-26), demikian 
kutipan Warta Gembira hari
ini

 

Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

·   Sabda bahagia serta kutukan atau kritikan yang
disampaikan oleh Yesus pada hari ini kiranya baik sekali menjadi permenungan
atau refleksi kita. (1) Pertama-tama marilah kita refleksikan sabda bahagia,
ajakan untuk tetap berbahagia ketika dalam keadaan  miskin, lapar, 
menderita/menangis, dibenci,
dikucilkan atau dicela, sehingga hati, jiwa, akal budi atau tubuh kita ‘sakit’
atau ‘tersakiti’. Berada dalam keadaan yang demikian itu rasanya merupakan
kesempatan emas bagi kita untuk menyadari dan menghayati jati diri kita yang
sebenarnya, sebagaimana pernah dinyatakan oleh para Yesuit dalam Konggregasi
Jendral ke 32, yang berbunyi: “Yesuit
adalah orang yang mengakui dirinya pendosa, tetapi tahu bahwa dipanggil menjadi
sahabat Yesus seperti Ignatius dahulu; Ignatius minta kepada Santa Perawan,
‘agar menempatkan dia dia di samping Puteranya’, dan kemudian Ignatius melihat
Bapa sendiri minta kepada Yesus yang memanggul salib agar menerima si musafir
ini dalam kalangan sabahatnya” (KJ 32 dekrit 2.1). Kita semua bagaikan
musafir yang sedang mengarungi atau menempuh ‘jalan’ (panggilan atau tugas
perutusan), yang sarat dengan tantangan dan hambatan. Dari diri kita atau
mengandalkan diri yang lemah dan rapuh ini kiranya kita tak akan mampu
mengarungi atau menempuh ‘jalan’ tersebut, maka hendaknya menyadari dan
menghayati kelemahan dan kerapuhan diri serta membiarkan Allah hidup dan
berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. (2)  Bagi yang merasa 
‘kenyang,
tertawa/bersukacita , dipuji’ alias merasa dirinya hebat dan tak tertandingi
serta tidak butuh bantuan orang lain, hendaknya menyadari bahwa hal itu
merupakan benih kesombongan yang akan mencelakakan. Maka jika berada dalam
keadaan demikian itu hendaknya tetap rendah hati, artinya menghayati bahwa
semuanya itu merupakan anugerah Allah, yang harus kita fungsikan atau
manfaatkan sesuai dengan kehendak Allah.

·   “Saudara-saudara,
inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu
yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka
tidak beristeri; dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan
orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang
membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli” (1Kor 7:29-30),
demikian nasihat atau peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita
semua orang beriman. Peringatan atau nasihat ini kiranya mengajak dan
mengharapkan kita semua agar ‘merelativir’ atau ‘tidak memutlakkan’ segala
sesuatu yang kelihatan atau dapat dinikmati oleh pancaindera kita, misalnya
harta benda/uang, kenikmatan seksual, makanan dan minuman dst.. Semuanya itu
hendaknya dihayati sebagai sarana atau jalan bagi kita untuk semakin beriman,
semakin suci, semakin mengasihi dan dikasihi oleh Allah maupun sesama kita.
Untuk itu saya angkat empat motto hidup beriman atau menggereja: kemandirian, 
subsidiaritas, solidaritas dan
keberpihakan pada atau bersama yang miskin dan berkekurangan. Dua motto
terakhir yaitu ‘solidaritas dan keberpihakan pad atau bersama yang miskin dan
berkekurangan’ rasanya mendesak dan up to date untuk kita hayati dan
sebarluaskan pada masa kini, mengingat dan memperhatikan di satu sisi masih
banyak orang miskin dan berkekurangan dan di sini lain sementara orang kaya
hidup berfoya-foya tanpa batas. Maka dengan ini saya mengingatkan dan mengajak
mereka yang kaya untuk solider pada dan memperhatikan mereka yang miskin dan
berkekurangan. Hendaknya diingat dan dihayati bahwa kekayaan anda diperoleh
tidak terlepas dari mereka yang miskin dan berkekurangan melalui berbagai cara.

Jakarta, 10 September 2008


 














      

Kirim email ke