Sdr. mentari tolong beri saya penjelasan ttg apa yg saya baca dalam Quran

Pertama kali buka Quran, puluhan tahun lalu saya kaget kalau Maria 
diidentikkan dgn Miryiam saudara harun.
Kemudian saya membaca lagi, koq banyak kata kami digunakan Allah, ketika 
Allah berfirman.

Saya berhenti baca Quran lebih dalam.

Beberapa bulan lalu karena terlibat diskusi di Milis ini dan milist yg 
lain ttg Theology Islam/Kristen, saya buka Quran lagi, ibarat bangun 
dari mimpi saya baru pertama kali baca terjemahan nama-nama Surah, 
lagi-lagi saya kaget ada Surah bernama sapi Betina, Besi, Lebah, Bulan dll.

Tetap saja saya baca, sampailah saya pada surah yg membicarakan ttg hari 
kiamat. Di sana saya menemukan bahwa upah orang mukmin itu adalah 
bidadari, remaja yg seumur dan bagi para mukmin di surga akan disediakan 
dipan-dipan yg empuk, sambil dilayani putra-putra (BOY) yg cakep-cakep 
yg membawa minuman yg tak memabukkan dan surga itu dihiasi dgn pohon 
pisang yg berbuah lebat.

Saya tidak menemukan tempat dan keadaan muslimah di surga, yg disebut 
hanya nasib keberuntungan para mukmin (lelaki yg beriman).

Di Quran saya juga menemukan sendiri bahwa Allah menyodorkan sekian 
banyak perempuan kepada Muhammad. Setelah Allah menyodorkan siapa-siapa 
perempuan yg boleh dikawini Muhammad dalam ayat yg sama di tulis bahwa 
hal itu adalah kekcualian bagi Muhammad. Orang mukmin lain gak boleh 
mengawini perempuan-perempuan yg sederajat.

Misalnya Muhammad disodori Allah anak-anak perempuan dari saudara 
ayahnya laki-laki, dari saudara laki-lki oleh ibunya dari tawanan ddl. 
tapi orang mukmin gak demikian, gitu kira-kira pengertian saya.

Kini Gaby  menyingkapkan yg belum saya temukan sendiri, yaitu Adam 
tingginya 30 M.

Dapatkah anda menjelaskan semuanya ini?

Siapa tahu dalam penemuan berikut kita akan dikejutkan oleh fosil-fosil 
manusia purba yg tingginya 30 M????????
Mentari Pagi wrote:
>
> Ketika membaca sebuah ayat, di dalam kitab suci apapun, kita wajib 
> mempelajari sejarah turunnya ayat tersebut. Mengapa Tuhan berkata 
> seperti itu, sehingga kita bisa memahami kenapa ada ayat yang berbunyi 
> seperti itu.
>  
> Sebagai sebuah kitab suci, yang kita jadikan pedoman hidup sepanjang 
> masa, menurut saya, isinya harus memiliki fleksibilitas sehingga tetap 
> bisa digunakan sampai kapanpun.
>  
> Jadi menurut saya, bukan masalah kita harus rela menjadi miskin tetapi 
> yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan harta kita 
> untuk saling berbagi. Karena manusia hidup butuh sarana untuk terus 
> mempertahankan kehidupannya, sehingga diperlukan usaha untuk mencari 
> sarana itu salah satunya adalah harta untuk memenuhi kebutuhan hidup 
> kita seperti makan dan minum. Tanpa makan dan minum kita tidak mungkin 
> bisa mempertahankan hidup kita. Sedangkan jika dengan sengaja tanpa 
> usaha sedikitpun, kita membiarkan tubuh kita menderita karena tidak 
> makan dan minum itu sama saja dengan mendzolimi diri sendiri. Dan 
> dalam agama Islam mendzolimi diri sendiri sangat dimurkai oleh Allah.
>  
> Kemudian, miskin yang dimaksud oleh ayat di atas juga ada kriterianya, 
> yaitu miskin tetapi selalu dalam keimanan kepada Tuhannya.
>
>
> --- On *Wed, 9/10/08, Hati Nurani /<[EMAIL PROTECTED]>/* wrote:
>
>     From: Hati Nurani <[EMAIL PROTECTED]>
>     Subject: [zamanku] Anda berani melakukan Re: Berbahagialah hai
>     kamu yang miskin dan lapar
>     To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
>     Cc: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
>     [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
>     "Teresia Stephany" <[EMAIL PROTECTED]>,
>     [EMAIL PROTECTED], "Vicky"
>     <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED],
>     [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
>     [EMAIL PROTECTED], "wahyudi wirawan"
>     <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED],
>     [EMAIL PROTECTED], "zerafin_libra" <[EMAIL PROTECTED]>
>     Date: Wednesday, September 10, 2008, 5:12 AM
>
>     Romo Maryo :
>      
>     Lalu Yesus memandang murid-murid- Nya
>     dan berkata: _/*"Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena
>     kamulah yang
>     empunya Kerajaan Allah.*/_
>     ============ ========= ========= ====
>      
>     Bening :
>     Para pengkhotbah, juru dakwah sering bicara yang muluk-muluk,
>     tetapi jarang sekali yang mampu Mempraktekkan Apa yang dibicarakan.
>      
>     Ayat diatas menunjukkan bahwa " berbahagialah kamu yang miskin",
>     adalah Perintah yang sangat Jelas, agar pengikut Nabi Isa adalah
>     supaya Hidup miskin, jangan dilarang Kaya.
>      
>     Ayat diatas bukan penghiburan semata bagi yang miskin, tetapi
>     adalah PERINTAH untuk hidup miskin. Buktinya, bagi mereka yang
>     Kaya, dianjurkan untuk menjual harta dan membagikan hartanya untuk
>     orang miskin. Mai bukti ???
>      
>     Baca Markus 10:21
>      
>     Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu
>     berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu:
>     pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada
>     orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga,
>     kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku..."
>     ============ ========= ========= ===
>      
>     Menjual harta dan hidup miskin adalah kalan para orang Suci yang
>     hendak 'bertemu" kepada Tuhan. Semua orang Suci yang hendak
>     bertemu dengan TUHAN dan melalui Jalan Sufi, pastilah
>     diperintahkan untuk meninggalkan Kehidupan dunia.
>      
>     Contoh ketika Bupati Semarang yang bernama Adipati PANDAN ARAN,
>     ketika sadar akan kesalahannya, lantas hendak mengikuti atau
>     berguru kepada Sunan Kali Jaga, maka oleh Sunan Kalijaga untuk
>     meninggalkan HARTA dan TAHTA, untuk mengikuti Jalan Rohani hendak
>     bertemu TUHAN....... ...
>      
>     Sanggupkah Pengikut Nabi Isa hidup MISKIN dan mengikuti
>     Perintahnya yang JELAS-JELAS dan GAMBLANG tertulis dalam
>     ALKITAB..... .
>      
>     Salam,
>      
>
>     --- On *Tue, 9/9/08, Romo maryo /<[EMAIL PROTECTED] com>/* wrote:
>
>         From: Romo maryo <[EMAIL PROTECTED] com>
>         Subject: [zamanku] Berbahagialah hai kamu yang miskin dan lapar
>         To: tedjasendjaja@ yahoogroups. com
>         Cc: the_untold_stories@ yahoogroups. com, [EMAIL PROTECTED]
>         ps.com, tiensherbal@ yahoogroups. com, tulang-rusuk@
>         yahoogroups. com, "Teresia Stephany" <tazmania_love333@
>         yahoo.com>, via-dolorosa@ yahoogroups. com, "Vicky"
>         <vicky.vidira@ leighton. co.id>, WartawanEkonomi@ yahoogroups.
>         com, werdhiswara@ yahoo.com, widayat1950@ yahoo.com,
>         wt-hrdga-owner@ yahoogroups. com, "wahyudi wirawan"
>         <wahyudi_wirawan83@ yahoo.com>, [EMAIL PROTECTED] com,
>         [EMAIL PROTECTED] .com, [EMAIL PROTECTED] .com,
>         "zerafin_libra" <zerafin_libra@ yahoo.co. id>
>         Date: Tuesday, September 9, 2008, 6:38 AM
>
>
>
>         “Lalu Yesus memandang murid-murid- Nya
>         dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena
>         kamulah yang
>         empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang
>         ini lapar, karena
>         kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini
>         menangis, karena
>         kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak
>         Manusia orang membenci
>         kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta
>         menolak namamu
>         sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan
>         bergembiralah,
>         sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara
>         demikian juga nenek
>         moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah
>         kamu, hai kamu
>         yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh
>         penghiburanmu.
>         Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan
>         lapar. Celakalah
>         kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita
>         dan menangis.
>         Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara
>         demikian juga nenek
>         moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.” (Luk
>         6:20-26), demikian kutipan Warta Gembira hari
>         ini
>
>          
>
>         Berrefleksi
>         atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
>         sederhana sebagai
>         berikut:
>
>         ·   Sabda bahagia serta kutukan atau kritikan yang
>         disampaikan oleh Yesus pada hari ini kiranya baik sekali
>         menjadi permenungan
>         atau refleksi kita. (1) Pertama-tama marilah kita refleksikan
>         sabda bahagia,
>         ajakan untuk tetap berbahagia ketika dalam keadaan  miskin,
>         lapar, menderita/menangis, dibenci,
>         dikucilkan atau dicela, sehingga hati, jiwa, akal budi atau
>         tubuh kita ‘sakit’
>         atau ‘tersakiti’. Berada dalam keadaan yang demikian itu
>         rasanya merupakan
>         kesempatan emas bagi kita untuk menyadari dan menghayati jati
>         diri kita yang
>         sebenarnya, sebagaimana pernah dinyatakan oleh para Yesuit
>         dalam Konggregasi
>         Jendral ke 32, yang berbunyi: “Yesuit
>         adalah orang yang mengakui dirinya pendosa, tetapi tahu bahwa
>         dipanggil menjadi
>         sahabat Yesus seperti Ignatius dahulu; Ignatius minta kepada
>         Santa Perawan,
>         ‘agar menempatkan dia dia di samping Puteranya’, dan kemudian
>         Ignatius melihat
>         Bapa sendiri minta kepada Yesus yang memanggul salib agar
>         menerima si musafir
>         ini dalam kalangan sabahatnya” (KJ 32 dekrit 2.1). Kita semua
>         bagaikan
>         musafir yang sedang mengarungi atau menempuh ‘jalan’
>         (panggilan atau tugas
>         perutusan), yang sarat dengan tantangan dan hambatan. Dari
>         diri kita atau
>         mengandalkan diri yang lemah dan rapuh ini kiranya kita tak
>         akan mampu
>         mengarungi atau menempuh ‘jalan’ tersebut, maka hendaknya
>         menyadari dan
>         menghayati kelemahan dan kerapuhan diri serta membiarkan Allah
>         hidup dan
>         berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. (2)  Bagi
>         yang merasa ‘kenyang,
>         tertawa/bersukacita , dipuji’ alias merasa dirinya hebat dan
>         tak tertandingi
>         serta tidak butuh bantuan orang lain, hendaknya menyadari
>         bahwa hal itu
>         merupakan benih kesombongan yang akan mencelakakan. Maka jika
>         berada dalam
>         keadaan demikian itu hendaknya tetap rendah hati, artinya
>         menghayati bahwa
>         semuanya itu merupakan anugerah Allah, yang harus kita
>         fungsikan atau
>         manfaatkan sesuai dengan kehendak Allah.
>
>         ·   “Saudara-saudara,
>         inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena
>         itu dalam waktu
>         yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku
>         seolah-olah mereka
>         tidak beristeri; dan orang-orang yang menangis seolah-olah
>         tidak menangis; dan
>         orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan
>         orang-orang yang
>         membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli” (1Kor
>         7:29-30),
>         demikian nasihat atau peringatan Paulus kepada umat di
>         Korintus, kepada kita
>         semua orang beriman. Peringatan atau nasihat ini kiranya
>         mengajak dan
>         mengharapkan kita semua agar ‘merelativir’ atau ‘tidak
>         memutlakkan’ segala
>         sesuatu yang kelihatan atau dapat dinikmati oleh pancaindera
>         kita, misalnya
>         harta benda/uang, kenikmatan seksual, makanan dan minuman
>         dst.. Semuanya itu
>         hendaknya dihayati sebagai sarana atau jalan bagi kita untuk
>         semakin beriman,
>         semakin suci, semakin mengasihi dan dikasihi oleh Allah maupun
>         sesama kita.
>         Untuk itu saya angkat empat motto hidup beriman atau
>         menggereja: kemandirian, subsidiaritas, solidaritas dan
>         keberpihakan pada atau bersama yang miskin dan berkekurangan.
>         Dua motto
>         terakhir yaitu ‘solidaritas dan keberpihakan pad atau bersama
>         yang miskin dan
>         berkekurangan’ rasanya mendesak dan up to date untuk kita
>         hayati dan
>         sebarluaskan pada masa kini, mengingat dan memperhatikan di
>         satu sisi masih
>         banyak orang miskin dan berkekurangan dan di sini lain
>         sementara orang kaya
>         hidup berfoya-foya tanpa batas. Maka dengan ini saya
>         mengingatkan dan mengajak
>         mereka yang kaya untuk solider pada dan memperhatikan mereka
>         yang miskin dan
>         berkekurangan. Hendaknya diingat dan dihayati bahwa kekayaan
>         anda diperoleh
>         tidak terlepas dari mereka yang miskin dan berkekurangan
>         melalui berbagai cara.
>
>         Jakarta, 10 September 2008
>
>
>
>  


------------------------------------

Ingin bergabung di zamanku? Kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Klik: http://zamanku.blogspot.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/zamanku/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/zamanku/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke