http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008091209392114
      Jum'at, 12 September 2008
     
     

Lantunan Ayat Suci Ingatkan Masa Kecil 


      BANDAR LAMPUNG--Islam adalah agama yang indah, bersih, dan damai. Itulah 
ungkapan Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto 
memaknai agama Islam. Keindahan dan kebersihan Islam itu ia rasakan masa 
kecilnya saat berada di lingkungan pesantren K.H. Ghalib di Pringsewu, 
Tanggamus.

      Lewat keindahan itulah yang ingin dia abadikan dalam kesehariannya. 
Terinspirasi dengan jasa-jasa K.H. Ghalib yang menghabiskan usia dengan 
mengajar mengaji anak-anak di kampungnya. Sugeng meneruskan warisan ilmu itu 
dengan membeli lahan perkebunan pada 1996 di Fajar Baru Pagelaran, Pringsewu.

      Sugeng mendirikan musala kecil di tengah perkebunan. Kemudian dia 
menggaji ustaz untuk mengajar anak-anak yang tinggal di kelompok-kelompok rumah 
(umbul-umbul) membaca Alquran dan salat. Pijakan kakinya di tanah kebun itu 
mengembalikan ingatannya akan tanah kampung yang basah setiap dia berangkat 
mengaji ke pesantren Kiai Ghalib bertelanjang kaki.

      Saat itulah Sugeng melepas semua atribut kebesarannya sebagai rektor 
Unila dan rutinitas pekerjaannya. Dia hadir sebagai dirinya yang asli, anak 
kampung berkaus oblong, celana pendek dan bertelanjang kaki. Dia telusuri 
perkebunan itu bersama istri yang setia mendampinginya.

      "Di bulan puasa saya sering ke kebun. Gemericik air dan lantunan ayat 
suci Alquran dari mulut anak-anak itu mengingatkan saya dengan suasana di masa 
kecil. Saya menemukan ketenangan dan kedamaian," kata alumnus Institut 
Pertanian Bogor itu.

      Menurut dia, kondisi Islam di zaman sekarang sangat berbeda dengan masa 
kecilnya. Kini banyak umat yang memahami ajaran Islam secara keliru sehingga 
Islam tidak lagi hadir sebagai agama yang damai dan menyejukkan, tetapi sarat 
kepentingan dan konflik antargolongan.

      Setiap akhir pekan, sambil menunggu beduk magrib saat berbuka tiba, 
Sugeng menikmati kesendirian di kebun itu. Malam harinya, dia melaksanakan 
salat tarawih berjemaah di Masjid Alwasii' atau di rumah bersama anak istrinya. 
Bapak tiga anak itu tidak terlalu percaya dengan peristiwa yang bersifat mistik.

      Menurut dia, semua kejadian sudah diatur Sang Khalik. Dia tidak mudah 
terpengaruh dengan mitos-mitos dan takhayul. Tidak percaya mistik, tapi berarti 
tidak percaya dengan hal gaib.

      Suatu saat dalam perjalanannya ke Irian Jaya bersama rombongan saat 
melakukan survei, dia dikejutkan dengan peristiwa aneh. Saat tidur di sebuah 
rumah di tengah hutan, ranjang digoyang-goyang dengan kencang oleh sesuatu.

      "Ya, itu perbuatan jin. Jin dan setan kan adalah makhluk ciptaan Allah 
juga. Mereka memang ada. Kami ketakutan, sambil membaca kalimat Allah kami 
pindah tempat tidur," tutur dia mengenang.

      Kalau memang disebut sebagai peristiwa spiritual, lanjut Sugeng, ada satu 
kejadian yang menyadarkannya tentang kehidupan, yaitu di masa kecilnya, dia 
pernah dengan sengaja melempar burung pipit di samping rumah sampai mati. 
Tiba-tiba dia mendengar cicitan anak-anak burung di atas pohon. Sugeng menyesal 
dengan penuh rasa bersalah dia memanjat pohon dan mengambil anak burung itu 
untuk dipelihara.

      "Saya baru sadar ternyata binatang juga punya kehidupan, punya keluarga. 
Sejak saat itu, saya tidak pernah membunuh binatang," ujarnya. Bahkan, kejadian 
itu juga membuat Sugeng sedapat mungkin menghindari makanan berupa daging 
karena tidak tega melihat hewan dibunuh. n RIN/L-
     

<<bening.gif>>

Kirim email ke