Tulisan ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm


                        MENGENANG TRAGEDI 65
                        Kepala Ayah Dipenggal di Depan Mataku



Kisah yang disajikan oleh Sadewa di bawah ini adalah salah satu saja di
antara beberapa ratusan ribu (bahkan, mungkin jutaan !) kisah nyata tentang
berbagai kejadian yang menyedihkan atau mengharukan sekitar peristiwa 65.
Sebenarnya, kisah yang kurang lebih sejenis atau serupa masih banyak sekali
yang bisa ditemukan di seluruh Indonesia. Sejak Suharto turun dari
kedudukannya sebagai presiden dan pimpinan tertinggi Orde Baru, sedikit demi
sedikit mulai muncul terbuka kisah-kisah tentang kejadian-kejadian di
sekitar peristiwa 65 ini.



Tetapi, masih banyak sekali kisah-kisah tentang peristiwa 65 yang terpendam
atau tersembunyi sampai sekarang. Padahal, munculnya kisah-kisah nyata itu
sehingga diketahui oleh orang banyak adalah mutlak penting sekali, untuk
menunjukkan watak sebenarnya atau sifat jahat Suharto beserta para pembangun
Orde Baru lainnya. Mengangkat atau menyebarluaskan kisah-kisah nyata tentang
kejahatan Orde Baru adalah bagian yang penting dari usaha untuk
menjadikannya sebagai pendidikan bangsa.



Peristiwa 65 adalah gudang besar sejarah yang berisi berbagai kisah nyata
tentang kebiadaban dan kekejaman yang mengerikan, menyedihkan, menakutkan,
(atau juga memuakkan !) yang pernah dilakukan oleh Suharto dkk beserta
pendukung-pendukungnya terhadap sejumlah besar sekali golongan kiri dan
simpatisan-simpatisan Bung Karno. Sampai sekarang, masih terdapat banyak
orang, dimana-mana,  yang bisa menceritakan dengan sejelas-jelasnya dan
sejujur-jujurnya pengalaman mereka ini.



Sebagai contoh, wawancara  singkat Sumarsono (nama samaran) kepada Sadewa
seperti yang ditulis di bawah ini merupakan bukti kuat tentang betapa
sewenang-wenangnya serta betapa kejamnya aparat (baca : Angkatan Darat)
waktu itu terhadap orang-orang yang dianggap kiri atau pengikut PKI. Dan
seperti yang diketahui oleh banyak orang, kejadian semacam yang dialami ayah
dan ibu Sumarsono di Pekalongan ini juga terjadi di banyak sekali daerah di
seluruh Indonesia. Dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Sumatera
Selatan, sampai Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan,
Sulawesi dan tempat-tempat lainnya.



Jadi, sekarang ini masih banyak sekali saksi hidup dari kalangan eks-tapol
dan para korban 65 beserta sanak saudaranya yang bisa menceritakan kembali
apa yang sudah terjadi dengan sebenarnya sekitar peristiwa 65 itu. Sebagian
kecil sekali di antara mereka sudah ada yang mau, dan sudah berani,
berbicara tentang perlakuan sewenang-wenang dan tidak bermanusiawi yang
mereka alami. Tetapi sebagian terbesar dari mereka masih belum bisa
melakukannya, oleh karena  berbagai faktor atau sebab.



Padahal, terungkapnya sebanyak-banyaknya berbagai kisah nyata tentang
peristiwa 65  itu adalah penting – dan berguna sekali !!! - bagi kehidupan
bangsa dan generasi selanjutnya. Perbuatan kejam secara besar-besaran – dan
biadab -  yang dilakukan terhadap jutaan orang tidak bersalah apa-apa itu
adalah aib bangsa kita,  dan merupakan pelajaran berharga , yang tidak boleh
terulang lagi di kemudian hari.Untuk tidak mengulangi lagi, perlulah kiranya
diketahui dengan baik dan jelas apa-apa  saja dari kebiadaban yang sudah
terjadi.



Dari segi ini kelihatanlah bahwa pengungkapan kisah-kisah mengenai peristiwa
65 adalah tindakan yang mempunyai tujuan luhur bagi kehidupan bangsa, dalam
rangka usaha bersama untuk benar-benar menjunjung tinggi-tinggi Pancasila
(Pancasila menurut jiwa aslinya, yaitu jiwa Bung Karno, dan bukannya menurut
“Pancasila” palsu yang  selama lebih dari 32 tahun dikoar-koarkan secara
munafik oleh Suharto beserta para pendukungnya).



Menyebarluaskan  segala tindakan biadab dan tidak manusiawi oleh Suharto
beserta para pendukung setia Orde Baru  - dan mengutuknya - adalah perlu
sekali dalam usaha untuk  membersihkan bangsa kita dari penyakit jiwa yang
parah atau iman yang sesat, yang bisa menyebabkan terjadinya
kebiadaban-kebiadaban luar biasa di sekitar peristiwa 65 dan sesudahnya.
Bangsa kita tidak bisa atau tidak pantas digolongkan sebagai bangsa
terhormat selama masih mendiamkan (bahkan menyembunyikan) berbagai
kekejaman yang berkaitan dengan  peristiwa 65.



  1.. Umar Said
Berikut adalah wawancara Sadewa (alamat E-mailnya :
[EMAIL PROTECTED]) dengan saksi hidup Sumarsono (nama samaran) yang
berasal dari daerah Pekalongan



 * * *





(Ringkasan transkrip wawancara dengan Sumarsono pada 4 Maret 2001 di
Jakarta. Atas permintaan narasumber, semua nama orang diganti tetapi tiga
huruf pertama tetap asli. Nama tempat semuanya asli.)



Aku lupa kapan presisnya. Tapi kira-kira dekat dengan akhir tahun  1965.
Malam itu sebuah truk warna abu-abu gelap berhenti di rumah orangtuaku,
Sukartono, yang tinggal di desa Kesesi tak jauh dari kota Kawedanan Kajen
Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah. Sebenarnya itu bukan rumah orangtuaku.
Ayah, ibu dan aku (anak tunggal) mengungsi di rumah itu dari desa Sebedug.
Desa ini terletak dekat jalan pertigaan. Kalau ke Utara sampai Wiradesa,
kalau ke Timur sampai Kecamatan Karanganyar dan kalau ke Selatan sampai kota
Kawedanan Kajen.



Kami mengungsi ke rumah saudara ayahku di Kesesi karena merasa tidak aman,
sebab sejak pecah peristiwa 30 September 1965 itu, banyak anggota BTI (atau
dituduh BTI) ditangkapi dan ditahan. Ada juga yang dari desa Sangangjaya,
Watubelah, Tambor, Kemploko dan lain-lain.



Malam itu, kami bertiga dinaikkan ke atas truk di mana sudah banyak orang
lain di atasnya. Beberapa di antaranya saling kenal dengan ayah ibuku. Truk
itu menuju ke kantor Kepolisian Kajen. Beberapa hari kami ditahan di tempat
itu yang letaknya tak jauh dari sebuah sungai.



Selanjutnya kami bertiga kembali dinaikkan truk menuju ke Pekalongan.
Seperti yang pertama, di atas truk sudah ada beberapa orang dengan tangan
terikat. Sebelum masuk kota Pekalongan truk menuju ke arah timur, dan
setelah sampai di luar kota membelok ke kiri menuju ke utara, lalu menyusuri
jalan kecil ke timur. Semua penumpang diam membisu. Di atas truk ada
"aparat" yang tak kuketahui jelas, polisi atau tentara, bercelana loreng
tapi bajunya hitam sipil dan pakai ikat kepala merah.



Setelah menempuh perjalanan cukup jauh di tempat sepi itu, si “aparat”
berteriak pada sopir sambil memukul-mukul atap truk. "Ini sudah sampai
Gamer. Ya, ini Gamer. Coba cari jalan ke utara arah pantai biar urusannya
gampang, ha, ha!"



Tentu saja aku tak tahu apa maksud kata-kata itu. Rupanya Gamer nama desa
yang terletak antara kota Pekalongan dan Batang, menyusuri daerah pantai.
Sepi, gelap, tapi sayup-sayup aku mendengar suara debur ombak. Rupanya truk
sudah mendekati pantai.



Truk berhenti, tapi hanya kami bertiga yang diturunkan. Yang lain dibiarkan
di atas truk. Pak "aparat" ikut turun. Ada satu "aparat" lagi turun dari
samping sopir. Dia membawa benda panjang yang dibungkus kain hitam. Di atas
truk masih ada tiga "aparat" lagi yang semua memakai pakaian polisi dan
tidak ikut turun. Mereka membawa senjata api. Kami digiring terus ke utara,
dan suara debur ombak semakin terdengar nyata.



Kami disuruh berhenti. "Ayo jongkok" perintah Pak "aparat" yang membawa
benda panjang dibungkus kain hitam itu. Kami bertiga jongkok. Tapi ayahku
diseret untuk jongkok agak terpisah.



"Kamu Sukartono sudah lama dicari-cari. Malam ini kamu harus mati" kata Pak
"aparat" dengan kasar. Dia membuka kain yang membungkus benda panjang itu
dan aku tahu ternyata benda itu sebuah golok atau pedang. Jantungku berdebar
kencang dan ternyata aku terkencing-kencing di celana. Ketika itu usiaku
baru 13 tahunan karena baru lulus SD. Aku sadar, ayahku akan dibunuh.



"Hei, lihat sana!" Bentak Pak "aparat" satunya lagi memaksa ibuku dan aku
memandangi ayahku yang sedang berjongkok menunggu maut. Ibuku menutupi wajah
dengan tangannya, tapi langsung ditendang. Golok itu berkelebat. Dan ibuku
jatuh menindih tubuhku yang ikut roboh. Aku masih sempat melihat bagaimana
kepala ayahku lepas dari lehernya. Sementara ibuku pingsan.



Peristiwa itu hanya berlangsung beberapa menit dan aku diseret dipaksa
berjalan kembali ke atas truk. Tapi aku tak melihat ibuku lagi. Aku
ditendang naik ke atas truk. Orang-orang yang tadi di atas truk masih utuh
tak ada yang berkurang. Tapi kedua Pak "aparat" tidak ikut naik. Mataku
mencari sosok ibuku di kegelapan malam namun tak terlihat. Apakah ikut
dipenggal? Lalu di mana kedua mayat orangtuaku? Aku ingat kata-kata Pak
"aparat" ketika mengajak si sopir truk mendekati pantai  "biar gampang
urusannya". Apakah artinya ayahku (dan mungkin juga ibuku) dibuang ke laut
sesudah dibunuh agar tanpa repot-repot menguburkan dan meninggalkan bekas?



Aku tak bisa berpikir. Truk berbelok ke arah Barat dan memasuki kota
Pekalongan, berhenti di depan sebuah penjara yang terletak berseberangan
dengan kali. Tengah malam itu semua penumpang disuruh turun dari truk,
langsung digiring masuk ke penjara yang kemudian kuketahui namana Penjara
Loji.



* * *

Mungkin ada duabelas tahunan aku menghuni penjara itu dan aku tetap tak
mendapat berita di mana gerangan ibuku, yang bernama Sumiarti, kalau masih
hidup, sampai saatnya aku dibebaskan. Yang aneh, di penjara itu namaku
"disulap" menjadi Sutrisno, anggota Pemuda Rakjat pelarian dari Kediri.
Itulah identitas yang harus kuakui setiap kali ada pemeriksaan. Padahal
namaku Sumarsono. Aku tahu apa yang disebut Pemuda Rakyat tapi jelas aku
tidak pernah menjadi anggotanya karena ketika masuk pejara itu aku baru
menginjak usia 13 tahunan. Kediri adalah nama kota di Jawa Timur yang hanya
kukenal dalam pelajaran sekolah. Tapi itulah yang harus kuakui sebagai "kota
kelahiranku".



Karena "pelarian dari Kediri", maka saat pembebasan aku digabungkan dengan
para tahanan yang akan dipulangkan ke Semarang. Mereka kelihatan gembira
akan kembali ke kampung halamannya. Kecuali aku yang  justru bingung. Dalam
perjalanan salah seorang teman berbisik: "Kalau kau memang bukan asal
Kediri, nanti ikut turun saja di Semarang, kita coba bertani di kampungku.
Aku orang Boja".



Ringkas kata, aku mengikuti ajakannya. Mungkin ada empat tahunan aku di
Boja, untuk kemudian kami berdua sepakat untuk sama-sama mengadu nasib ke
Jakarta sebagai kuli bangunan. Semula kami tetap berdua tinggal di bedeng,
sampai bisa mengontrak kamar dan setelah cukup mapan kami berpisahan untuk
membangun rumahtangga sendiri.



Kini kami berkeluarga dengan tiga anak. Usiaku (2001) 49 tahunan, tapi  aku
tak putus harapan, kiranya pada suatu saat masih bisa bertemu dengan ibuku,
Sumiarti yang tentunya sudah berusia lebih dari 75 tahunan dengan ciri-ciri
ada bekas luka di kaki kanannya.



Pewawancara: Sadewa48



* * *

No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.524 / Virus Database: 270.6.21/1667 - Release Date: 11/09/2008
18:55

Kirim email ke