http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2008091522480315

      Selasa, 16 September 2008
     
     

21 Tewas di Pembagian Zakat! 


       
      "BERITA duka menyayat hati, 21 orang tewas terimpit dan terinjak dalam 
pembagian zakat di rumah Haji Syaikon, Pasuruan, Jatim!" ujar Umar. "Itu 
terjadi karena pembagian zakat tidak segera dilakukan! Pukul 08.30 ribuan warga 
telah berkumpul, tapi pembagian baru akan dilakukan pukul 10.00. Sekitar pukul 
09.00 gerbang rumahi terkuak seperti mau dibuka, dorongan dari belakang rak 
tertahan hingga banyak jatuh korban!"

      "Dari tahun ke tahun hal sama terjadi bukan diambil hikmahnya, malah 
jatuh korban lebih besar!" sambut Amir.

      "Itu membuktikan kebenaran ajaran mulia, untuk beramal harus dilakukan 
dengan ilmu--logos!" tegas Umar. "Seperti managemen sederhana, mulai dari 
organisasi orang yang ditugasi, mendata siapa saja yang berhak (mustahik), lalu 
siapkan zakatnya, baru petugas mengantar ke rumah penerima!"

      "Itu sesuai dengan amaran Kapolri Sutanto agar pemberian zakat 
disampaikan ke rumah penerimanya!" timpal Amir. "Saran Menteri Agama agar 
diberi kupon untuk mengambil, juga kurang tepat! Selain dengan pembagian kupon 
bisa dilego lebih murah ke pedagang seperti terjadi pada raskin, dalam 
pembagian BLT dengan kartu miskin jatuhnya korban terimpit dan terinjak juga 
sering terjadi!"

      "Berarti ilmu tentang kondisi masyarakat yang terpuruk, baik secara 
sosiologis maupun psikologis, layak diacu!" lanjut Umar. "Dari makin besarnya 
jumlah orang yang tidak malu lagi melabeli diri miskin--mustahik zakat--itu, 
rekor korban yang jatuh secara tidak langsung membantah klaim kalangan pemimpin 
bahwa mereka telah sukses mengentas kemiskinan dan pengangguran! Utak-atik 
angka kemiskinan-pengangguran bisa saja dilakukan, tapi kebenaran selalu punya 
cara sendiri untuk hadir!"

      "Karena itu, kelalaian sejenis Haji Syaikon bisa terjadi akibat gaung 
klaim kemajuan dari para pemimpin, membuat kewaspadaan pada akibat kemiskinan 
dan pengangguran melemah!" tegas Amir. "Itu tidak lepas dari klaim kemajuan 
para pemimpin, lebih-lebih jika klaim itu dibuat berdasar pada angka-angka yang 
disusun dengan tujuan ABS--asal bapak senang! Misal, dengan membuat standar 
garis kemiskinan dan pengangguran pada tingkat rendah sekali sehingga angka 
kemiskinan yang dihasilkan juga jadi amat rendah dari kenyataan sesungguhnya!"

      "Makin bernafsunya warga miskin meraih pembagian hingga tidak peduli ada 
sesama yang terjepit sampai mati, bisa jadi petunjuk betapa sulit hidup mereka! 
Pada realitas itu, selembar atau dua uang puluhan ribu yang akan dibagi, nilai 
efektifnya jadi tinggi sekali bagi mereka!" sambut Umar.

      "Jangankan buat penganggur melarat Jatim, di Lampung pun dengan upah 
minimum Rp625 ribu sebulan, berarti bekerja dari pukul 08.00 hingga pukul 17.00 
cuma bernilai Rp20 ribu, nilai zakat setara yang akan dibagikan itu juga cukup 
tinggi nilainya bagi warga miskin Lampung!" tegas Amir. "Maka itu, kewaspadaan 
serupa bagi orang-orang kaya di Lampung perlu agar nasib malang serupa duafa 
tidak terjadi di sini!"

      H.Bambang Eka Wijaya
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke