·   Kebanyakan orang dengan mudah menyampaikan kritik atau
mengomentari apa yang dilakukan oleh orang lain seenaknya, asal omong atau
komentar saja. Apapun yang dilihat atau didengar dikomentari atau dikritik
dengan nada sinis alias melecehkan atau merendahkan. Orang-orang yang bertindak
demikian hemat saya merasa dirinya adalah yang terbaik dan termutu sedangkan
yang lain ada ‘di bawah’nya. Mereka tertutup akan aneka kemungkinan dan
kesempatan untuk berubah atau tumbuh-berkembang. Maka marilah dengan rendah
hati, sabar dan lemah lembut kita tunggu dan kemudian kita cermati apa yang
dilakukan oleh orang yang berkata-kata: apakah yang mereka katakan juga mereka 
hayati
atau laksanakan. Dengan kata lain hendaknya kita menyampaikan kritik atau
penilaian terhadap tindakan atau perilaku, bukan kata-kata atau omongan. Dengan
besar hati dan rendah hati kita terima dahulu sepenuhnya apa yang dikatakan
oleh siapapun kepada kita atau apa yang kita dengarkan. Penilaian atau evaluasi
kita laksanakan atas perbuatan-perbuatan atau perilaku-perilaku, antara lain
dengan metode ‘pemeriksaan batin’. Langkah-langkah untuk pemeriksaan batin
kurang lebih sebagai berikut: (1) pertama-tama kita berdoa mohon terang/rahmat
Tuhan agar dapat melihat dengan tajam dan benar apa yang terjadi, entah yang
dihayati maupun yang bergerak di dalam batin atau hati, (2) kemudian dalam
rahmat/terang Tuhan kita melihat apa yang/kecenderungan baik dan buruk; kami
percaya pasti akan lebih banyak apa yang/kecenderungan baik daripada buruk, (3)
selanjutnya kita bersyukur dan berterima kasih atas apa yang baik dan kita
imani sebagai anugerah Allah serta menyesali apa yang buruk, (4) mohon rahmat
dan bantuan Tuhan untuk memperdalam dan mempertahankan apa yang baik serta
memperbaiki apa yang buruk atau bertobat, dan (5) akhirnya bersyukur dan
berterima kasih kepada Tuhan atas segala sesuatu yang telah terjadi dan
dinikmati. Kami percaya jika kita memiliki kebiasaan ‘pemeriksaan batin’ yang
baik, maka kita tidak akan begitu mudah memberi kritik atau komentar murahan
atau asal-asalan, dan kita senantiasa hidup dalam dan oleh kasih. Apa itu
kasih?

·   “Kasih itu
sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan
tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan
diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia
tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi
segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar
menanggung segala sesuatu.Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir;
bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap” (1Kor 13:4-8), demikian
ajaran kasih yang disampaikan oleh Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita
semua. Dari uraian perihal kasih di atas, rasanya yang mendesak dan up to date 
untuk kita hayati dan
sebarluaskan pada masa kini adalah ‘tidak
pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain’. Marah berarti melecehkan
atau merendahkan yang lain, menginjak-injak harkat martabat manusia alias
melanggar hak-hak asasi manusia. Sedangkan ‘menyimpan kesalahan orang lain’
berarti yang  ada di hati dan otak kita
adalah kesalahan dan kekurangan orang lain, dengan kata lain hati dan otak
orang yang bersangkutan sungguh kotor dan gelap. Marah dan ‘menyimpan kesalahan
orang lain’ bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat
dipisahkan. Maka marilah kita tidak mudah marah dan menyimpan kesalahan orang
lain, agar kita tetap ceria, gembira dan sehat wal’afiat, segar bugar, dan
dengan demikian kita dapat menghayati ajaran kasih sebagaimana dikatakan oleh
Paulus dalam kutipan di atas. Marilah kita ‘percaya
segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu dan sabar menanggung segala
sesuatu’.

 

Jakarta, 17 September 2008

Kirim email ke