Refleksi: Megawati pernah bilang bahwa kalau zakat diterapkan,  Indonesia sudah 
lama makmur. SBY  baru-baru ini bilang zakat dapat mengurangi kemiskinan. Dua 
pernyataan tsb bagus,  cuma saja dilupakan bahwa penduduk  NKRI  230 juta, 
bukan 230 dan juga bukan  23 orang  dan satu tahun itu 12 bulan, jadi kalau 
hanya 1 bulan makmur atau satu bulan kemiskinan berkurang, bagaimana dengan 11 
bulan lainnya. 

Zakat diberikan berazaskan perasaan belas kasihan,  bukan hak bagi yang 
berkekurangan untuk mendapatkannya.. 

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0809/24/opi01.html

Cuci Dosa dan Uang Lewat Zakat?

Oleh
Maksun



Tak dapat disangkal, pada setiap bulan Ramadan, selebrasi keagamaan di Tanah 
Air begitu meriah. Banyak orang Islam merefleksikan keberagamaannya 
euphorically dan heroik. Di sepanjang jalan protokol kota-kota besar di 
Indonesia, misalnya, terbentang spanduk gerakan zakat sebagai bentuk kampanye 
agar umat Islam sadar atas kewajiban zakatnya. Semarak kampanye zakat ini 
memang menjadi usaha strategis umat Islam untuk menghimpun 'dana segar' zakat 
agar dapat dikelola secara profesional dan menjadi dana konsumtif serta 
produktif demi kemaslahatan umat. Itulah ajaran zakat yang dibayangkan dapat 
mengangkat perekonomian umat Islam. 
Namun dalam kenyataannya, meski sudah ada UU Pengelolaan Zakat No 38 Tahun 
1999, hinga kini zakat belum dikelola secara baik sehingga belum mencapai hasil 
yang maksimal dan optimal untuk pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi 
rakyat. UU ini tidak punya daya paksa untuk menembus benteng para muzakki 
(orang yang wajib zakat) agar mengeluarkan zakatnya.


Yang menarik sekaligus memprihatinkan, ada sebagian umat Islam yang menganggap 
bahwa uang (harta) yang diperoleh secara illegal alias haram, hasil korupsi 
misalnya, ketika dizakati uang hasil korupsi tersebut menjadi suci. Baginya, 
zakat dimaknai sebagai media cuci dosa dan cuci uang (money laundering) atas 
harta yang diperolehnya secara tidak halal itu. Pertanyaan-nya, benarkah uang 
hasil korupsi itu bisa otomatis menjadi suci dan pelakunya tidak berdosa lagi 
setelah dibayarkan zakatnya?


Epistemologi Zakat
Secara epistemologis, dalam Alquran disebutkan bahwa zakat adalah penyucian 
diri dan harta. Misi penyucian ini memiliki dimensi ganda. Pertama, sarana 
pembersihan jiwa dari sifat serakah pelakunya, karena ia dituntut berkorban 
demi orang lain. Kedua, zakat sebagai penebar kasih sayang kepada kaum tak 
beruntung dan penghalang tumbuhnya benih-benih kebencian dari si miskin 
terhadap si kaya. Dengan demikian, zakat dapat menciptakan ketenangan dan 
ketenteraman, bukan hanya bagi penerimanya, tapi juga pemberinya.


Allah SWT berfirman: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat 
itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. 
Sesungguhnya doa kamu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha 
Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS 9:103).
Jika dicermati, kata tuthohhiruhum dalam ayat itu bermakna membersihkan jiwa, 
sedangkan tuzakkihim berarti mengembangkan harta. Atas dasar ini, dengan 
berzakat maka ada dua manfaat yang diperoleh: jiwa menjadi suci dan harta makin 
berkembang, bukan malah terkurangi.


Berkembangnya harta ini dapat dilihat dari dua aspek. Pertama, aspek spiritual, 
sebagaimana firman Allah SWT: "Allah memusnahkan riba dan mengembangkan 
sedekah/zakat" (QS 2:276). Kedua, aspek ekonomis-psikologis, yaitu ketenangan 
batin pemberi zakat. Zakat akan mengantarkan pelakunya untuk berkonsentrasi 
dalam usaha dan mendorong terciptanya daya beli serta produksi baru bagi 
produsen.


Lebih dari itu, menurut Marcel Boisard, zakat memberi kemenangan terhadap 
egoisme diri atau menumbuhkan kepuasan moral karena telah ikut mendirikan 
sebuah masyarakat Islam yang lebih adil. Dalam bahasa Roger Geraudy, zakat 
adalah satu bentuk keadilan internal yang terlembaga, sehingga dengan rasa 
solidaritas yang bersumber dari keimanan itu seseorang dapat menaklukkan 
egoisme dan kerakusan diri.


Maka, zakat tidak sekadar menjangkau hubungan teologis dengan Tuhan, tapi juga 
merefleksikan kehidupan sosial. Parameternya adalah orang yang memiliki 
kesadaran hidup yang transendental seharusnya merefleksi ke dalam kesadaran 
horisontal, seperti peduli terhadap masyarakat sekitar. Memang, dalam Islam 
zakat dimaksudkan sebagai ajaran sosial, selain sebagai ibadah ritual yang 
ditujukan untuk menyucikan jiwa atas harta yang diperolehnya. Yang jelas, efek 
sosial ajaran zakat amat mengena pada kepedulian terhadap masyarakat yang tidak 
mampu secara ekonomis maupun politis (mustadh'afin).

Cuci Dosa dan Uang
Seperti disebutkan di awal, makna zakat yang sarat nuansa sosialnya itu 
acapkali disalahmanfaatkan oleh sebagian umat Islam, sehingga kehilangan makna 
substansialnya. 
Pertama, zakat yang bermakna penyucian harta (tazkiyat al-mal) sering kali 
disalahartikan secara sepihak oleh orang-orang yang bergelimang harta dan para 
pejabat negara. Oleh mereka, zakat sekadar dijadikan sebagai cara untuk 
menyucikan hartanya yang telah diperoleh dari hasil korupsi dan praktik 
kemaksiatan lainnya. Konkretnya, zakat dijadikan sebagai media sin and money 
laundering (penyucian dosa dan uang) dari praktek haram.


Dengan pemaknaan ini, zakat jelas kehilangan makna substansinya untuk 
menyucikan diri dari harta yang diperoleh dengan cara halal. Padahal, harta 
yang diperoleh dari praktek korupsi selamanya tidak akan tersucikan dengan 
hanya membayar zakat. Sebab, agama bukanlah arena penyucian terhadap segala 
praktik haram yang telah dilarang oleh agama itu sendiri. Lebih dari itu, agama 
justru memberikan justifikasi teologis bahwa orang yang telah melakukan korupsi 
mendapatkan laknat dari Tuhan dan tidak mendapatkan keberkahan dalam hartanya.


Kedua, korupsi sesungguhnya telah mengingkari makna ajaran zakat yang secara 
sosial bertujuan menciptakan keadilan sosial (social and economical justice). 
Bukankah harta yang dikorupsi adalah uang rakyat, yang di dalamnya terdapat hak 
kaum fakir-miskin dan mereka yang perlu mendapat perlindungan ekonomi ? 


Di manakah letak kepedulian sosialnya, jika ia mengorup harta orang banyak demi 
memperkaya diri sendiri. Karena itulah, korupsi adalah salah satu bentuk 
penyimpangan sosial dari makna zakat yang bertujuan menciptakan keadilan, 
kesejahteraan, dan kemakmuran.
Dalam konteks ini, korupsi berarti penindasan terhadap kaum lemah dan 
perampokan terhadap harta orang banyak. Di sinilah zakat memberikan motivasi 
teologis betapa harta kita hendaknya diperoleh dengan cara yang halal, bukan 
mengambil harta orang banyak dengan cara yang haram.


Walhasil, apa pun alasanya, jika harta kita tidak diperoleh dengan cara yang 
halal, meskipun telah dibayarkan zakatnya, maka tidak secara otomatis menjadi 
suci. Inilah yang mestinya kita sadari bersama bahwa makna ritual zakat harus 
benar-benar dapat menyucikan harta dan menciptakan keadilan sosial. Zakat 
bukanlah media cuci dosa dan uang dari segala praktik haram. 

Penulis adalah dosen Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo Semarang.

Kirim email ke