http://www.poskota.co.id/redaksi_baca.asp?id=1695&ik=32

Selasa 30 September 2008, Jam: 6:15:00 

Mengarak Dukun Cabul

Karnaval 17-an sudah lama berlalu, tapi di Desa Gempolrejo Kecamatan Tunjungan 
(Blora) terlihat arak-arakan ramai, diiringi suara gamelan dan kendang segala. 
Apa itu? Ternyata warga sedang mengarak pelaku mesum ke kantor polisi. Di leher 
tersangka Dayat, 53, tergantung pula tulisan: Dukun Cabul! 

Semula warga Desa Gempolrejo tak pernah curiga ketika Dayat yang warga desa itu 
juga mengobati seseorang. Sebab profesi sehari-hari dia memang menjadi 
paranonormal, yang konon ahli mengobati berbagai penyakit termasuk menjadi 
konsultan nasib dan peruntungan. Cuma ketika cara pengoabatan atas diri Ny. 
Sawitri, 35, demikian mencurigakan, penduduk mulai bertanya-tanya. "Kenapa 
pengobatan itu selalu berlangsung larut malam?" begitu komentar para penduduk 
menyoroti sepak terjang dukun Widayat. 

Hal-hal yang makin memicu kecurigaan tersebut, wanita istri Darkum, 43, 
tersebut memang cukup cantik di kelasnya. Lelaki normal cap apapun, pasti suka 
menatap wajah dia berlama-lama. Apa lagi jadi dukun yang merawat penyakitnya, 
pasti semakin betah saja karena memoperoleh legitimasi untuk itu. Cuma yang 
dipertanyakan warga, kenapa penyakit tersebut sudah berminggu-minggu di tangan 
Widayat kok tidak kunjung sembuh juga. Warga pun menduga-duga: jangan jangan, 
jangan jangan, jangan.. bobor! 

Beberapa warga melapor pada pamong desa bahwa setiap keluar rumah Darkum, dukun 
Dayat selalu di antara pukul 23-24.00. Itu pun selalu lewat pintu belakang, dan 
perginya secara sembunyi-sembunyi. Kenapa dia musti takut? Penduduk pun mulai 
mengira-ngira, yang dikait-kaitkan dengan kejadian yang sering ditayangkan TV 
maupun dimuat surat kabar. "Kalau ketemu dukun cabul, kasih sekali Mbak Witri," 
begitu komentar warga yang simpati. 

Sekali waktu, warga pun ada yang nekad mengintip praktek dukun Dayat. Ternyata, 
di kamar itu terapi pengobatannya sungguh lain dari yang lain. Bukan dipijit 
atau dimandikan air kembang dari tujuh sungai, tapi tubuh Sawitri dikupas 
habis, kemudian digauli bak istri sendiri. Kalau begini caranya, jangankan 
sebulan, sewindu pun pak dukun pasti senang-senang saja meski tanpa honor. Sang 
pengintip itu pun langsung melaporkan hasil temuannya ke pamong desa. 

Sebetulnya dukun Dayat sudah lama ditegur keamanan desa, agar memilih waktu 
pengobatan yang tepat, jangan larut malam begitu. Namun si dukun ngeyel, 
sehingga untuk sementara dibiarkan saja. Tapi setelah ada laporan minir begini, 
tentu saja penduduk desa tak mau membiarkan terus. Maka ketika dia datang 
praktek lagi ke rumah Ny. Sawitri, sebelum mengobati langsung ditangkap dan 
diserahkan ke Polsek Tunjungan. Yang menarik tapi juga kasihan, di sepanjang 
jalan menuju polsek yang berjarak 5 Km tersebut, Dayat dikawal ratusan warga 
lengkap dengan tabuhan kendang dan gamelan, sementara lehernya juga ditulisi: 
dukun cabul! 

Kasihan deh lu, dukun cabul dianggap ledek ketek!

Kirim email ke