Bush Gagal Mendapatkan Paket $700 Milyard
                                     
Setelah perdebatan dan tanya jawab yang lama, melelahkan, dan sangat
komplex, akhirnya suara Kongres yang terbanyak menolak permohonan
presiden Bush untuk mensupport perusahaan2 consultant perumahaan dan
asuransi dengan paket $700 milyard.

Yang menarik disini adalah bahwa kelompok yang paling banyak menolak
itu adalah partai Republik yaitu partai presiden Bush sendiri.  Dan
yang aneh para pendukung utamanya adalah partai Demokrat yang justru
memusuhi semua kebijaksanaan Bush.

Banyak masyarakat Indonesia tidak mengerti mengapa hal ini bisa
terjadi, malah mereka yang diracuni kebencian akibat dogma Islam
mendoakan bahwa Amerika mengalami kebangkrutan, padahal sebenarnya
paket yang diminta Bush justru untuk memperkuat Amerika.

Alasan Bush bahwa paket $700 milyard ini sangat penting untuk mencegah
stagnasi ekonomi yang terjadi di Amerika ini.  Dengan bantuan atau
tunjangan paket ini, maka perusahaan swasta bisa kembali berputar
sehingga membantu roda perekonomian Amerika.

Keterangan Bush inilah yang dijadikan landasan oleh kelompok2 pembenci
Amerika sebagai tanda2 kebangkrutan Amerika, padahal ekonomi dan
business Amerika khan bukan cuma real estate dan asuransi saja, juga
perusahaan real estate dan consultant maupun perusahaan asuransinya
bukan cuma satu yang mengaku bangkrut ini.  Masih ada jutaan
perusahaan real estate yang kecil, yang menengah dan yang raksasa,
juga ada puluhan juga perusahaan asuransi.

Memang betul Lehrer Brother dan AIG merupakan satu dari sekian juga
yang masuk dalam perusahaan besar namun bukan yang terbesar.

Bisnis perumahan di Amerika termasuk salah satu pemasukan pajak yang
terbesar bagi pemerintah Amerika, maka dengan lesunya bisnis
perumahaan, otomatis pajak yang masuk kepada pemerintah Amerika juga
menjadi lesu.

Sebagian besar masyarakat Amerika dari yang kelas terbawah hingga
menengah pasti pernah membeli rumah melalui cicilan dari pinjaman
bank.  Meskipun rumah itu masih dalam proses pencicilan, namun
statusnya sudah resmi dimiliki si pencicil sehingga pemilik rumah tsb
sudah wajib membayar pajak setiap tahunnya.  Jumlah pajak yang harus
dibayar itu kira2 1% dari harga pasar rumah tsb.  Akibatnya, makin
tinggi harga rumah, makin tinggi pula pajak yang diterima pemerintah,
makin jatuh harga rumah, makin jatuh juga pemasukan dana ke kas negara
Amerika.

Akibat hijrahnya perusahaan2 raksasa di Amerika ke Cina dan India yang
harga tenaga kerjanya jauh lebih murah mengakibatkan jutaan pekerja
kehilangan mata pencahariannya, akibatnya tidak mampu membayar cicilan
rumah sehingga rumahnya harus dijual oleh Bank atau oleh pemiliknya
untuk pelunasan sisa cicilan ini.  Namun karena banyaknya yang ingin
menjual rumahnya, otomatis harga rumah pun merosot tajam, dan pajaknya
juga jadi merosot dan pemasukan pemerintah juga merosot.

Presiden Bush merencanakan menanggulangi merosotnya harga rumah dengan
membelinya rumah2 tsb agar harganya bisa dipertahankan.  Dan untuk
membeli rumah2 inilah Bush membutuhkan dana sebesar $700 milyard
sehingga rumah ini kemudian bisa dijual pemerintah dengan harga
pasaran dan pajak rumahnya bisa dipertahankan tetap tinggi sehingga
pemasukan pemerintah juga lancar.

Dengan cara Bush ini, masyarakat malah diperkenankan untuk
mempertahankan rumahnya meskipun cicilannya terhambat tetapi pajak
yang dibayar tetap tidak jatuh karena harga rumah bisa dipertahankan.
 Partai Demokrat yang cendrung membela kepentingan rakyat kelas bawah
dan menengah tentunya mendukung rencana ini karena dengan cara2
seperti ini akan banyak perusahaan2 kelas bawah dan menengah bisa
tertolong sehingga membuka lapangan kerja yang lebih luas.

Dilain pihak Partai Republik yang mewakili para pengusaha besar dan
para kapitalis raksasa lebih menyukai kalo pajak turun menjadi rendah,
makin rendah makin baik.  Itulah sebabnya, Partai Republik terang2an
dengan suara bulat menolak rencana maupun usulan Bush untuk menunjang
perusahaan2 property yang bangkrut ini.  Sebaliknya, partai Demokrat
sebagian besar justru mendukungnya.

Hasilnya memang lucu, namun beginilah Demokrasi di Amerika berjalan
dimana masing2 kepentingan punya jurusannya sendiri2 dan suara
terbanyaklah yang akan menang karena kepentingan orang banyak belum
tentu merugikan kapitalist dan juga belum tentu menguntungkan kelas
bawah.  Kesemuanya itu tergantung sipengelola masing2 sesuai dengan
profesinya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke