Islam Aliran Rebo Wage Menunggu Dijarah FPI ????
                              
Islam Aliran Rebo Wage biasanya disingkat sebagai Islam Aboge yang
penganutnya tersebar luas di Wonosobo.  Lebaran baru2 ini oleh para
pengikutnya hanyalah dianggap sebagai hari "Syukuran" yang
diselenggarakannya dengan menyajikan nasi tumpeng.

Kalo Islam MUI dan Islam Sunni lainnya mengadakan shalat Id, maka
penganut Islam Aboge ini tidak dibolehkan shalad Id karena mereka
cukup melakukan silaturahmi berupa "syukuran".  Yang menarik disini,
aliran Aboge ini punya cara menghitung sendiri dalam menentukan hari
lebaran ini, dan dari hitungan mereka inilah ditetapkan bahwa lebaran
itu pada hari jum'at beda dari hari yang ditetapkan Islam lainnya.

Kenapa aliran Aboge ini perlu kita cermati???  Hal ini untuk
membuktikan kepada semua pembaca bahwa Islam di Indonesia banyak
sekali ragamnya dan kesemuanya tidak sama dengan Islam dari Arab
seperti yang dipaksakan oleh MUI dan FPI selama ini.

Penganut Islam aliran2 kepercayaan seperti kejawen, Aboge, dll
bertebaran diseluruh Indonesia yang menjadi mayoritas bangsa ini.

Apa yang disosialisasikan di Wonosobo oleh Islam Aboge ini sudah jelas
sangat bertentangan dengan FPI, namun FPI belum siap untuk menjarahnya
karena masih banyak urusan dengan Islam Ahmadiah yang hingga kini
belum juga berhasil dimusnahkannya bahkan malah dilindungi pemerintah.
 Sebaliknya, FPI juga disibukkan karena beberapa pemimpin2nya dipenjara.

Kesimpulan apa yang bisa anda petik dari laporan wartawan Merdeka ini?
 Satu hal yang pasti, bahwa Islam di Indonesia adalah Islam mancaragam
yang tidak cuma menyembah Allah tapi juga menyembah berbagai berhala
yang kesemuanya ini dilindungi UU dan HAM Internasional dan tidak
boleh diseragamkan.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




http://www.suaramerdeka.com/
03/10/2008 23:37 wib - Daerah Aktual
Penganut Aboge Berlebaran Jumat

Wonosobo, CyberNews. Para penganut ajaran Alif Rebo Wage (Aboge), Desa
Binangun Mudal Kecamatan Mojotengah Wonosobo, menyelenggarakan
silaturahmi dan berlebaran, Jumat hari ini. Silaturahmi dilangsungkan
di masjid Al Huda setempat dengan ditandai pemotongan nasi tumpeng.

Syukuran atau silaturahmi menyambut Lebaran Idul Fitri, anggota
kepercayaan tersebut dihadiri sesepuh Aboge, Sarno Kusnandar, Kaur
Kesra Dusun Pandansari Mudal, Mubasir dan segenap pengikut ajaran itu.
Laki-laki, perempuan, tua maupun muda memadati ruang utama dan serambi
masjid. Syukuran diselenggarakan setelah penganut kepercayaan tersebut
melaksanakan puasa Ramadan.

Usai pemotongan nasi tumpeng, silaturahmi dilanjutkan dengan berjabat
tangan, di luar masjid. Kegiatan bersalaman dan saling bermaafan,
dilakukan tidak hanya anggota kepercayaan Aboge saja. Tetapi diikuti
ratusan warga sekitar. Sehingga rangkaian warga yang berjabat tangan
memanjang, mencapai 100an meter.

Acara saling jabat tangan dan bermaafan diiringi tetabuhan bedug atau
"drodag" yang dilakukan para remaja di serambi masjid. Selama jabat
tangan berlangsung, mereka melantunkan salawat.

Sesepuh Aboge, Sarno Kusnandar yang ditemui Suara Merdeka, Jumat
kemarin mengatakan, pada acara silaturahmi di masjid, saat ini tiap
keluarga tidak membawa makanan atau pun nasi tumpeng ke masjid. Hal
itu dimaksudkan sebagai sesuatu yang praktis saja. Tahun-tahun
sebelumnya, semua keluarga anggota Aboge selalu membawa makanan/nasi
ke masjid, sewaktu silaturahmi.

Dia yang juga Kepala Lingkungan Dusun Binangun menyebut tidak mendata
angka anggota kepercayaan tersebut. Namun Kusnandar mengklaim bahwa
jumlahnya tidak kurang dari 50 persen keluarga di Dusun Binangun tersebut.

Menurut dia, anggota kepercayaan Aboge tidak mengikuti salat Id. Untuk
menentukan Lebaran, penganut Aboge memiliki hitungan sendiri. Acara
syukuran dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang
diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa kepada mereka. Melalui acara itu,
mereka juga berdoa agar dijauhkan dari bencana dan mendapat berkah di
masa mendatang.

Kirim email ke