-------- Original Message --------
Subject:        [RumahKita] Gusti Allah Tidak "nDeso"
Date:   Fri, 3 Oct 2008 20:06:26 -0700 (PDT)
From:   HINU E.



 
Rekan-rekan yang berbudi baik,
 
Saya kirimkan kembali berita dari milis tetangga setelah saya 'edit', 
agar lebih enak dibaca.
 
hes
 
 
 
Gusti Allah Tidak "nDeso"

Oleh: Emha Ainun Nadjib

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun," 
kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan 
menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid
untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang 
becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"
 
Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan."
 
"Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya.
 
"Ah, mosok Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun.
 
"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga 
tidak  ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan 
memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit 
point pribadi.
 
Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan 
tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu.

Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan:
kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau 
menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau 
memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.
 
Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana 
dari tiga orang ini.

Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun 
masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal 
al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, 
pelit, dan  mengobarkan semangat permusuhan.

Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka 
beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"
 
Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.

Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun 
masjid.

Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi 
menginjak-injaknya.

Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak 
Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih 
sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca Al-Quran.
 
Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. 

Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya 
dia  hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya 
adalah output sosialnya : kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta 
kasih, 
kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.

Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat, ikut misa, 
atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku 
yang santun dan berkasih sayang.
 
Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap.

Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih 
sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi ke kebaktian, 
ikut misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang 
yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang 
negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup 
bersih, maka itulah orang beragama.
 
Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan 
personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya.
 
Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah 
orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang 
yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya 
solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum 
tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.
 
Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial 
tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai mesjid, 
sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.
 
Ekstrinsik vs Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar 
berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang 
hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi
Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka."
 
Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.

Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah 
ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.

Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng 
memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain.
 
Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport. 
 
Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan 
intrinsik.
 
Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. 
Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia 
puasa, ikut misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih 
keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain
menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri.

Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.
 
Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan 
nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh 
ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan.
Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki 
pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan 
batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu
menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.
 
Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan 
egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari 
kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada 
kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. 
 
Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena 
itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan 
sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.
 
Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan 
ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; 
kemunafikan.

Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang 
bid'ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid'ah 
dalam urusan ekonomi dan politik.
 
Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, 
pencurian, dan penindasan.
 
Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh 
pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia 
dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu 
siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk 
kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, 
rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh 
menjadi contohnya. Ironis.
 
Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat 
Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi 
mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, 
dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka.
 
Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di 
atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti 
penyakit dan kekurangan gizi.
 
Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara 
keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat 
melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah 
ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban 
mencari sesuap nasi. Jutaan rupiah uang dipakai untuk naik haji berulang 
kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak 
dapat membayar biaya rumah sakit.
 
Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.
 
 
Sumber: Jalal Center
 
 
 
From: pbd
To: [EMAIL PROTECTED] com
Sent: Friday, October 03, 2008 10:59 AM
Subject: [abapdk] Gusti Allah Tidak "nDeso"
 

 

_,_._,___

Kirim email ke