Jawa Pos, Minggu 5 Oktober 2008, hal. 7
 
Kebetulan yang Bukan Kebetulan
 
Oleh:
Audifax
Research Director di SMART Center for Human Re-Search & Psychological 
Development
 
 
“There’s no accident”, demikian kata Sigmud Freud. Intinya, tak ada kebetulan 
murni di dunia ini. Setiap kebetulan adalah ‘kebetulan yang bukan kebetulan’. 
Filosofi inilah yang coba diusung James Redfield lewat Celestine Prophecy. 
Redfield mengajak kita merasakan adanya energi Ilahi yang bekerja dan muncul 
lewat kebetulan-kebetulan. Inilah bukti bahwa alam semesta mendengar ketulusan 
doa tiap manusia dan membantu lewat serangkaian kebetulan.
 
Jauh sebelum konsep Law of Attraction dikemukakan Rhonda Byrne dalam ’The 
Secret’, Carl Gustav Jung sudah lebih dulu mengemukakan konsep sinkronisitas. 
Konsep Jung inilah yang tampak kental mewarnai trilogi novel ’Celestine 
Prophecy’ karya Redfield. Novel yang menjadi best seller di pergantian milenium 
itu telah menginspirasi banyak orang.
 
Pada Juni 2008,  Gramedia Pustaka Utama menerbitkan ’Celestine Vision’. Di buku 
ini Redfield memaparkan landasan teoritis dari novel ’Celestine Prophecy’. 
Dijelaskannya bahwa alam semesta adalah sistem dinamis yang digerakkan oleh 
aliran keajaiban-keajaiban kecil yang berlangsung secara terus-menerus. Bukan 
itu saja. Alam semesta juga merespon kesadaran kita melalui berbagai kebetulan 
yang dapat kita alami setiap saat.
 
Hidup adalah Kemungkinan
Kebetulan bisa menyangkut munculnya seseorang pada saat yang tepat dengan 
membawa informasi atau sesuatu yang memang kita cari. Bisa juga kesadaran 
mendadak bahwa hobi atau ketertarikan yang kita miliki di masa lalu, ternyata 
merupakan persiapan untuk menangkap kesempatan atau peluang kerja di depan mata.
 
Psikolog Swiss, Carl Jung, adalah pemikir modern pertama yang menjelaskan 
fenomena misterius ini. Ia menyebut dengan istilah sinkronisitas. Jung 
berpendapat sinkronisitas adalah prinsip sebab-akibat dalam alam semesta, hukum 
yang menggerakkan umat manusia menuju pertumbuhan kesadaran yang lebih besar.
 
Dalam ’Celestine Vision’, Redfield mengemukakan bahwa kunci paling penting 
dalam upaya memanfaatkan berbagai sinkronisitas dalam kehidupan kita, adalah 
tetap waspada serta meluangkan waktu untuk mengkaji apa yang sedang 
berlangsung. Kita mesti mulai melihat bahwa berbagai kebetulan dalam hidup 
kita, adalah misteri yang membawa kita berhadapan langsung dengan 
pertanyaan-pertanyaan spiritual yang lebih dalam tentang kehidupan.
 
Di sini kita bisa mensimetrikan pendapat Redfield dengan Martin Heidegger, yang 
mengungkapkan pemikiran bahwa barangsiapa mencari kedalaman, mulailah dengan 
yang dangkal-dangkal dan melihat kedangkalan dengan tatapan yang cermat dan 
dalam, maka kedalaman itu akan muncul dari hal-hal yang bersifat permukaan. 
 
Heidegger melihat bahwa manusia adalah entitas yang bergerak dalam pemahaman 
tentang Ada-nya di dunia. Maka dalam keseharianpun, manusia dapat memetik 
pemahaman tentang ‘Ada’ melalui kewaspadaan dan meluangkan waktu untuk mengkaji 
apa yang sedang berlangsung. Dalam ‘Being and Time’, Heidegger mengatakan ini 
sebagai mistik keseharian, yaitu bersikap mistis dalam keseharian; yang berarti 
menghayati keseharian secara mendalam sampai ke dasar-dasar Ada kita sendiri, 
dengan cara terus-menerus menanyakan Ada.
 
Sinkronisitas dan Energi Ilahi
Sinkronisitas bisa dirasakan ketika manusia bersikap mistis dalam keseharian 
seperti dimaksudkan Heidegger. Sinkronisitas adalah kesadaran tentang bagaimana 
hal-hal Ilahi terjadi dalam kehidupan kita. Dalam sinkronisitas, terjadi 
penyatuan antara transendensi dan imanensi. Tuhan tidak mengawang-awang di atas 
sana, melainkan hadir melalui kebetulan-kebetulan di keseharian. Kebetulan yang 
sejatinya merupakan jawaban atas doa kita.
 
Berarti di sini manusia mesti terlebih dulu membuat keputusan mengenai arah 
hidup dan selanjutnya peka terhadap kebetulan-kebetulan yang menuntun pada arah 
yang dituju. Dengan menyadari sinkronisitas, diharapkan kita tak lagi melempar 
tanggung jawab hidup kita ke atas langit, namun berani menghadapi dan 
memutuskan apa yang mau kita tuju.
 
Di sinilah kita diajarkan bertanggungjawab atas konsekuensi keputusan hidup. 
Melalui cara pandang Celestine, manusia diajak melihat bahwa alam semesta bukan 
bekerja atas dasar  ”Manusia berusaha, Tuhan menentukan”, melainkan “Manusia 
menentukan, Tuhan mengusahakan”. 
 
Jika penentuan dianggap ada di tangan Tuhan, maka tak ada tanggung jawab 
manusia atas hasil keputusannya sendiri. Padahal, justru manusia mesti 
menentukan terlebih dahulu apa yang diinginkannya. Jika keinginan itu selaras 
dengan keseimbangan semesta, maka energi Ilahi itu akan membantu (mengusahakan) 
tercapainya keinginan lewat kebetulan-kebetulan yang sejatinya bukan kebetulan.
 
 
Saya mengundang anda yang tertarik dengan fenomena ‘sinkronisitas’ ini untuk 
mendiskusikannya di milis Psikologi Transformatif.
 
 
Sekilas Mailing List Psikologi Transformatif
Posmodernisme atau Postrukturalisme, adalah aliran filsafat muncul setelah 
gebrakan pemikiran Friedrich Nietzche tentang matinya Sang Pusat atau segala 
Logosentrisme. Konsep ini memberi tempat pada pluralitas dan segala kemungkinan 
lain dari apa yang mampu terpikirkan oleh cara berpikir ’Aku’. Konsep 
postruktralisme ini kemudian disilangkan dengan Psikologi dan diterapkan dalam 
milis Psikologi Transformatif.
 
Mailing List Psikologi Transformatif adalah ruang diskusi yang didirikan oleh 
Audifax dan beberapa rekan yang dulunya tergabung dalam Komunitas Psikologi 
Sosial Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Saat ini milis ini telah 
berkembang sedemikian pesat sehingga menjadi milis psikologi terbesar di 
Indonesia. Total member telah melebihi 2200, sehingga wacana-wacana yang 
didiskusikan di milis inipun memiliki kekuatan diseminasi yang tak bisa 
dipandang sebelah mata. Tak ada moderasi di milis ini dan anda bebas masuk atau 
keluar sekehendak anda. Arus posting sangat deras dan berbagai wacana muncul di 
sini. Seperti sebuah jargon terkenal di psikologi ”Di mana ada manusia,  di 
situ psikologi bisa diterapkan” di sinilah jargon itu tak sekedar jargon 
melainkan menemukan konteksnya. Ada berbagai sudut pandang dalam membahas 
manusia, bahkan yang tak diajarkan di Fakultas Psikologi Indonesia.
 
Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat 
mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk 
mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual 
menuju ke sifat yang kontekstual. Di milis ini anda diajak untuk mengalami 
psikologi. 
 
Anda tidak harus berasal dari kalangan disiplin ilmu psikologi untuk bergabung 
sebagai member dalam mailing list ini. Mailing List ini merupakan tindak lanjut 
dari simposium psikologi transformatif, melalui mailing list ini, diharapkan 
diskusi dan gagasan mengenai transformasi psikologi dapat terus dilanjutkan. 
Anggota yang telah terdaftar dalam milis ini antara lain adalah para pembicara 
dari simposium Psikologi Transformatif : Edy Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry 
Tjahjono, Abdul Malik, Oka Rusmini, Jangkung Karyantoro,. Beberapa rekan lain 
yang aktif dalam milis ini adalah: Audifax, Leonardo Rimba, Mang Ucup, 
Goenardjoadi Goenawan, Prastowo, Prof Soehartono Taat Putra, Bagus Takwin, 
Amalia “Lia” Ramananda, Himawijaya, Rudi Murtomo, Felix Lengkong, Kartono 
Muhammad, Ridwan Handoyo, Dewi Sartika, Jeni Sudarwati, FX Rudy Gunawan, Arie 
Saptaji, Radityo Djajoeri, Tengku Muhammad Dhani Iqbal, Anwar Holid, Elisa 
Koorag, Kidyoti, Priatna Ahmad,  J.
 Sumardianta, Jusuf Sutanto, Stephanie Iriana, Lulu Syahputri, Lan Fang, Yunis 
Kartika, Ratih Ibrahim, Nuruddin Asyhadie, Arif Nurcahyo, Sinaga Harez Posma 
dan masih banyak lagi.
 
Jika anda berminat untuk bergabung dengan milis Psikologi Transformatif, klik:
 
www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif
 
Perhatian: Tidak ada moderator dalam milis ini sehingga upaya untuk masuk atau 
keluar dari milis ini mutlak tanggung jawab anda sendiri.
 
 
 


      

Kirim email ke