Refleksi: Apanya yang sakti?  Apakah karena banyak orang dibunuh dan  dihukum 
serta negeri dimiskinkan itu saktinya? 

Harian Komentar
29 September 2008 

      Sejarawan: Hari Kesaktian Pancasila Sebaiknya Ditiadakan 
     


Jakarta, KOMENTAR
Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila rencananya akan diselenggarakan 
pada 1 Oktober pukul 00.00 WIB dini hari. Hal ini dilakukan karena bertepatan 
perayaan Hari Raya Idul Fitri.  Hanya saja, sejumlah seja-rawan mengusulkan 
agar pelaksanaan Hari Kesaktian Pancasila untuk ditiadakan. "Lebih baik 
ditiadakan saja karena bermasalah," kata sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan 
Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam sebagai-mana dikutip detik.com, Minggu 
(28/09) kemarin.


Menurut Asvi, Hari Kesak-tian Pancasila tidak memiliki landasan yang kuat. 
Peringat-an 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila berma-salah dari sisi 
hukum maupun substansi. Dari sisi hukum, aturan tentang peringatan hari 
tersebut diatur dalam Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat 
tertanggal 17 September 1966 (Kep 977/9/1966) yang menetapkan tanggal 1 Oktober 
sebagai Hari Kesaktian Panca-sila yang harus diperingati Ang-katan Darat. 


Setelah ada usul dari Menteri/Angkatan Kepolisian, akhirnya dikeluarkan 
Keputusan Menteri Utama Bidang Pertahanan dan Keamanan Jenderal Soeharto 
(Kep/B/134/1966) tertanggal 29 September 1966 yang memerintahkan agar hari itu 
diperingati oleh 'seluruh slagorde angkatan bersenjata dengan mengikutsertakan 
massa rakyat'. "Jadi sesungguhnya tidak ada keharusan bagi para pejabat tinggi 
negara, baik itu presiden, wakil presiden, menteri, mau pun anggota DPR untuk 
meng-hadiri acara tersebut," terang Asvi.


Namun di era Orde Baru, upacara tersebut selalu diperingati secara menyeluruh 
karena surat keputusan menteri itu ditandatangani oleh Soeharto. "Masalahnya 
dulu kan yang mengeluarkan Menteri Utama Bidang Pertahanan dan Keamanan 
Jenderal Soeharto, jadi keterusan," lanjutnya. Pascareformasi, upacara tetap 
dilangsungkan karena tidak banyak orang yang tahu tentang landasan hukumnya 
sehingga mengira wajib dilak-sanakan. Dari sisi substansi, Hari Kesaktian 
Pancasila juga bermasalah. "Arti kesaktian itu sendiri tidak jelas. Kita memang 
perlu Pancasila. Tapi apakah Pancasila itu sakti atau tidak, kita tidak tahu," 
ujar Asvi.


Karena itu, Asvi menawar-kan dua opsi. Pertama, bila aspek yang ingin 
ditonjolkan adalah mengenang ketujuh korban, maka peringatannya sebaiknya 
digabung dengan Hari Pahlawan 10 November. Alasannya, ketujuh korban dimakamkan 
di Taman Ma-kam Pahlawan Kalibata pada 5 Oktober 1966 dan sudah diangkat 
sebagai pahlawan nasional. 


"Oleh sebab itu, selayaknya mereka dikenang bersamaan dengan pejuang lainnya 
pada peringatan Hari Pahlawan," kata Asvi. Jika yang ingin di-tonjolkan adalah 
Pancasila-nya, maka tawaran kedua Asvi adalah menggabung-kannya dengan 
peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni. Sementara itu, upacara dini hari Hari 
Kesaktian Pancasila yang jatuh berbarengan de-ngan Idul Fitri, hanya berlaku 
untuk Jakarta saja. Di dae-rah, TNI melakukan upacara pada pagi harinya. "Kalau 
dilaksanakan pukul 00.00 WIB itu hanya di Lubang Buaya, di daerah lain 
peringatannya paginya," kata Kapuspen TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen, Minggu 
(28/09) kemarin.


Sagom mengaku sudah mendapat undangan pe-ringatan Hari Kesaktian Pan-casila 
dari Mendiknas/Menbudpar yang bertindak sebagai panitia. Ia memastikan Panglima 
TNI Jenderal (TNI) Djoko Santoso datang ke upacara yang akan dihadiri Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono tersebut.
"Kalau tidak ada acara lain yang harus diutamakan, ka-rena diundang panglima 
pasti datang," kata Sagom.  Terkait adanya shalat Ied yang berbarengan dengan 
upacara memperingati Hari Kesaktian Pancasila, menurut Sagom, bisa disesuaikan. 
"Kalau bia-sanya kan digelar pagi itu setiap instansi termasuk juga TNI wajib 
melaksanakannya. Nah sekarang bareng dengan Idul Fitri, tentu daerah akan 
menyesuaikan," kata Sagom


Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dipastikan akan menghadiri 
upacara dini hari dalam rang-ka memperingati Hari Kesaktian "Presiden akan 
hadir," kata Mensesneg Hatta Rajasa sembari menambahkan, selain SBY, Wapres 
Jusuf Kalla dan para menteri juga rencananya akan hadir. Upacara akan 
dilangsungkan pukul 01.00 WIB selama setengah jam. Upacara yang biasanya ramai 
penuh suara anak-anak itu, kata Hatta, kali ini akan sepi. Pelaksanaannya juga 
akan lebih ringkas. Meski sepi suara anak-anak, namun upacara itu akan 
di-meriahkan dengan suara takbir yang menggema di malam hari raya.(dtc

Kirim email ke