Tulisan ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm

Catatan A. Umar Said


Kesaktian Pancasila atau kesakitan Pancasila ?





Judul tulisan ini mungkin terasa sebagai cemooh yang tak pantas, atau
kelakar yang tidak lucu, atau ungkapan sembrono yang hanya membikin marah
atau jengkel sebagian orang, terutama para pendukung Suharto beserta
rejimnya Orde Baru. Apa boleh buat, kalau begitu. Sebab, tulisan ini memang
sengaja untuk mencemoohkan “Hari Kesaktian Pancasila”. Bahkan lebih dari
itu! Tulisan ini dimaksudkan untuk menghujat – dan sekeras-kerasnya pula
! -- apa yang dinamakan oleh para pendukung rejim militer Orde Baru sebagai
“hari yang sakti”, yaitu tanggal 1 Oktober. Karena, apa yang dilakukan oleh
Suharto dkk dan para pendukung Orde Baru umumnya selama 32 tahun lebih,
adalah pelecehan Pancasila, pemalsuan Pancasila, perkosaan Pancasila,
penghinaan Pancasila, penyalahgunaan Pancasila, penyelewengan Pancasila
atau –- bahkan ! --pengrusakan Pancasila. Jadi, seperti yang sudah
disaksikan sendiri oleh banyak orang, selama masa Orde Baru (sampai sekarang
!) Hari Kesaktian Pancasila sama sekali  bukanlah sesuatu yang “sakti”
melainkan sesuatu yang “sakit”.



“Hari Kesaktian Pancasila” selama sekitar 40 tahun selalu diperingati di
Lubang Buaya, berdekatan dengan “Monumen Kesaktian Pancasila”, yang
didirikan oleh rejim militer Orde Baru untuk memperingati tewasnya 6
jenderal TNI sebagai akibat peristiwa G30S. Bahwa Suharto dkk memberi
penghargaan kepada perwira-perwira  yang menjadi korban dalam peristiwa G30S
adalah suatu hal yang wajar dan kiranya bisa dimengerti oleh banyak orang.
Namun, bahwa peringatan terhadap 6 jenderal yang tewas itu dijadikan ritual
yang  - dengan gagah tetapi salah -- diberi nama “Hari Kesaktian Pancasila”
adalah suatu kebohongan atau pemalsuan yang tidak boleh  --dan tidak
bisa!!! – ditolerir lagi oleh semua orang yang mempunyai fikiran jernih atau
nalar yang sehat. Kita semua hendaknya tidak membiarkan terus para pendukung
Suharto (rejim militer Orde Baru) berceloteh, atau membual, atau “omong
 gede” bahwa mereka menghargai Pancasila tetapi bersamaan dengan itu
menjalankan hal-hal yang sama sekali bertentangan (bahkan, memusuhi !)
dengan Pancasila-nya Bung Karno.



Mereka justru mengkhianati Pancasila


Perlulah kiranya selalu kita ingat bersama bahwa sejak 1970 sampai jatuhnya
Suharto (tahun 1998) peringatan hari lahirnya Pancasila (hari ketika Bung
Karno menyajikan kepada seluruh bangsa Indonesia gagasan besarnya itu)
dilarang oleh Kopkamtib. Jadi, lama sekali. Keterlaluan, bukan? Bagaimana
mereka bisa koar-koar menjunjung tinggi-tinggi Pancasila, tetapi memusuhi
penggagasnya,  yaitu Bung Karno ! Sebab, kalau dilihat dari berbagai segi
sejarah perjuangan bangsa, bisalah dikatakan bahwa Pancasila adalah satu dan
senyawa dengan Bung Karno, atau Bung Karno adalah Pancasila itu sendiri.
Artinya, Pancasila (yang asli !) tidak bisa dipisahkan dari Bung Karno,
apalagi dipertentangkan, seperti yang sudah dilakukan Suharto beserta para
pendukungnya.



Jadi,  sekali lagi perlu diulangi bahwa seperti yang sudah sama-sama kita
saksikan selama beberapa puluh tahun, para tokoh rejim militer Orde Baru
sering sekali bicara muluk-muluk atau bersuara lantang tentang Pancasila
dalam pidato-pidato atau tulisan mereka, tetapi dalam praktek menjalankan
hal-hal yang sama sekali berlawanan atau bahkan bermusuhan dengan jiwa asli
atau isi yang sebenarnya menurut gagasan penciptanya atau perumusnya, Bung
Karno. Suharto dkk bicara tinggi-tinggi soal Pancasila, namun mereka malahan
telah mengkhianati pencetusnya, menggulingkan kekuasaannya sebagai presiden,
menahannnya sebagai tapol, dan membiarkannya sakit parah dan wafat dalam
status sebagai tahanan.

Bukan itu saja! Sebagian terbesar politik dan praktek-praktek rejim militer
Orde Baru (dengan penyokong utamanya Golkar dan militer) selama puluhan
tahun  tidaklah mencerminkan jiwa atau isi Pancasila, yaitu : Ketuhanan Yang
Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, dalam permusyawaratan perwakilan,
dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dari pengalaman yang
berpuluh-puluh tahun, nyatalah dengan jelas bahwa apa yang dilakukan Suharto
dkk selama 32 tahun adalah penyelewengan (kalau bukan pembunuhan) jiwa agung
dan tujuan luhur yang terkandung dalam Pancasila-nya Bung Karno.

Mereka tidak menyelamatkan negara melainkan “menjerumuskan”-nya

Peringatan “Hari Kesaktian Pancasila” adalah salah satu di antara banyak
sekali praktek-praktek rejim militer Orde Baru (yang masih diteruskan sampai
sekarang oleh para pendukung setianya) yang dimaksudkan sebagai usaha untuk
terus-menerus menjatuhkan citra Bung Karno beserta para pendukung utamanya,
yang terdiri dari golongan kiri pada umumnya, dan golongan PKI pada
khususnya. Secara langsung atau tidak langsung, dan dengan berbagai jalan
dan bentuk, digambarkan bahwa “Pancasila” mereka yang “sakti” telah
menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia dari kesalahan-kesalahan Bung
Karno yang “bersekutu” dengan PKI.

Padahal, seperti yang kita semua sama-sama saksikan, justru karena mereka
telah menyalahgunakan, atau memalsu, atau melecehkan Pancasilanya Bung Karno
itulah keadaan negara bangsa dan negara kita menjadi sangat semrawut dan
bobrok sekali dewasa ini. Justru karena mereka (Suharto dkk) mengkhianati
Bung Karno sebagai presiden dan Panglima Tertinggi Angkatan Perang dan
Pemimpin Besar Revolusi,  maka mereka sama sekali tidak pantas – dan juga
sama sekali tidak berhak !!! – untuk menggembar-gemborkan sebagai golongan
yang menjunjung tinggi Pancasila dan “menyelamatkan bangsa dan negara”.
Sebaliknya, seperti yang disaksikan oleh kita semua, perkembangan situasi di
Indonesia sejak kudeta merangkak yang dilakukan Suharto dkk sampai sekarang
menunjukkan dengan jelas bahwa justru mereka itulah yang telah menjerumuskan
bangsa dan negara ke dalam jurang kebobrokan dan kebusukan.

Karena mereka telah memusuhi ajaran-ajaran atau gagasan besar Bung Karno,
termasuk mencampakkan jiwa asli atau isi utama Pancasila hasil pemikirannya,
maka negara kita sekarang berada dalam krisis yang multi-dimensional atau
bersegi banyak. Di antara berbagai krisis atau persoalan besar yang dihadapi
rakyat dan negara kita adalah : dikangkanginya asset negara yang
penting-penting oleh kekuatan asing, kelumpuhan negara dan bangsa menghadapi
neo-liberalisme, kerusakan moral atau iman di berbagai kalangan atas,
rusaknya persatuan bangsa karena persoalan agama dan kesukuan, merajalelanya
korupsi dimana-mana, hilangnya kepedulian atau kepekaan rasa terhadap
kemiskinan sebagian terbesar rakyat, dibiarkannya pengangguran sampai
beberapa puluh juta orang, merosotnya patriotisme atau nasionalisme
kerakyatan.

“Hari Kesaktian Pancasila” adalah anti-Bung Karno

Para pendukung Orde Baru menggembar-gemborkan “Hari Kesaktian Pancasila”
dengan tujuan yang berlawanan sama sekali dengan gagasan besar dan otentik
yang terkandung dalam Pancasila-nya Bung Karno. “Hari Kesaktian Pancasila”
yang diselenggarakan di Lubang Buaya  pada intinya adalah berjiwa atau
berorientasi anti-Sukarno,atau anti-kiri umumnya, termasuk anti-PKI.

Dalam kaitan ini perlulah kiranya kita semua (termasuk orang-orang yang
masih tertipu oleh Orde Barunya Suharto bahwa “Hari Kesaktian Pancasila”
adalah sesuatu yang luhur dan mulia) mengerti dengan gamblang  bahwa secara
keseluruhan,  Pancasila-nya Bung Karno adalah kiri. Dengan mengingat bahwa
sejak mudanya ia sudah menerjunkan diri dalam perjuangan anti-kolonialisme
Belanda dengan elan (semangat) revolusioner dan  jiwa NASAKOM, maka jelaslah
bahwa ia menggagas Pancasila dalam tahun 1945 pun dengan latar-belakang
fikiran kiri dan revolusioner.

Kalau kita cermati gagasan-gagasan Bung Karno yang besar dan progresif yang
terkandung dalam kata-kata di  Pancasila-nya: Kemanusiaan yang adil dan
beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan, dan Keadilan sosial,  maka kita
semua bisa melihat bahwa apa yang dilakukan oleh Suharto dengan Orde Barunya
selama 32 tahun adalah betul-betul pengkhianatan besar-besaran terhadap
Pancasila yang asli. Sebab, hanya orang-orang yang jiwanya tidak sehatlah
yang masih bisa  -- atau masih berani !!! -- mengatakan bahwa Orde Baru
telah mempraktekkan Kemanusiaan yang adil dan beradab (harap ingat :
pembantaian jutaan orang tidak bersalah dalam peristiwa 65, penangkapan
ratusan ribu orang selama puluhan tahun, dan menyengsarakan terus-menerus,
sampai sekarang,  keluarga korban 65 yang puluhan juta orang jumlahnya).

Juga hanya orang-orang yang nalarnya rusak-lah  yang terus-menerus
mengatakan bahwa pemerintahan Orde Baru (dan semua pemerintahan yang
berikutnya)  telah dan sedang mentrapkan Kerakyatan, kalau kita ingat bahwa
lembaga-lembaga negara (antara lain : DPR, DPRD, Mahkamah Agung, dan aparat
birokrasi dikuasai oleh anasir-anasir korup dan bermental anti-rakyat). Dan
hanya orang-orang yang imannya sesatlah yang tidak segan-segan mengatakan
bahwa semua pemerintahan pasca-Sukarno menjunjung tinggi-tinggi prinsip
Keadilan sosial, kalau kita saksikan bahwa selama ini sebagian terbesar
rakyat kita hidup di bawah 2 dollar sehari, sedangkan segolongan orang-orang
sebangsa Tommy Suharto dan Tutut bergelimang dengan uang triliunan Rupiah.

Perlu kita sama-sama renungkan juga bahwa Bung Karno merumuskan sila pertama
Pancasila (Ketuhanan Yang Maha Esa) dengan pengertian agama (Islam, Katolik,
Kristen dll) yang progresif, yang berkemanusiaan, yang adil dan beradab,
yang menjunjung tinggi-tinggi kerakyatan dan keadilan sosial (jadi sama
sekali berlawanan dengan praktek-praktek FPI atau ajaran golongan Islam
fundamentalis Indonesia lainnya). Patutlah kita semua ingat bahwa Bung Karno
sejak masih mahasiswa sudah terjun dalam gerakan Islam yang progresif atau
kiri, anti-kolonialis, dan bersahabat dengan orang-orang komunis juga,
karena ia anggap mereka sebagai kawan seperjuangan.

Apa yang dikemukakan di atas itu adalah untuk mengajak kita semuanya melihat
bahwa “Hari Kesaktian Pancasila” yang diselengggarakan di Lubang Buaya itu
sebenarnya atau pada intinya adalah hanya salah satu di antara banyak upaya
sebagian golongan militer pendukung Suharto beserta sisa-sisa kekuatan Orde
Baru lainnya untuk melanjutkan terus-menerus politik mereka yang salah
selama ini, yaitu memerosotkan citra  Bung Karno dan sekaligus memukul
gerakan kiri, dan terutama PKI. Itu semuanya perlu mereka lakukan, untuk
menutupi dosa-dosa mereka yang besar dan banyak sekali yang telah dilakukan
sejak 1965.

Pancasila adalah pemersatu bangsa dan juga kiri

Bahwa jiwa asli Pancasila adalah kiri, baiklah disajikan ulang apa yang
dikatakan oleh penggagasnya, Bung Karno, seperti yang dapat kita baca dalam
dua jilid buku “Revolusi belum selesai”. Dalam buku tersebut  dapat dibaca
kumpulan pidato-pidato Bung Karno sesudah peristiwa G30S, yang banyak
menyinggung masalah Pancasila. Berikut adalah satu bagian kecil sekali dari
pidato beliau dalam sidang paripurna Kabinet Dwikora di Bogor pada tanggal 6
November 1965 (yaitu kita-kira sebulan lebih setelah terjadinya G30S, ketika
para pembesar militer pendukung Suharto mulai menggunakan Pancasila untuk
menyerang Bung Karno) :

“Jangan kira, Saudara-saudara, kiri is alleen maar (keterangan : bahasa
Belanda, yang artinya : hanyalah ) anti-imperialisme. Jangan kira kiri hanya
anti-imperalisme, tetapi kiri juga anti-uitbuiting (penghisapan). Kiri
adalah juga menghendaki satu masyarakat yang adil dan makmur, di dalam arti
tiada kapitalisme, tiada exploitation de l’homme par l’homme, tetapi kiri.
Oleh karena itu saya berkata tempo hari, Pancasila adalah kiri. Oleh karena
apa ? Terutama sekali oleh karena di dalam Pancasila adalah unsur keadilan
sosial. Pancasila adalah anti-kapitalisme. Pancasila adalah
anti-exploitation de l’homme par l’homme. Pancasila adalah anti-exploitation
de nation par nation. Karena itulah Pancasila kiri” (Revolusi belum selesai,
halaman 77).

Dalam sidang pimpinan MPRS ke 10 di Istana Negara, 6 Desember 1965 (jadi dua
bulan sesudah G30S) Bung Karno mengatakan :” Apakah tidak benar kalau saya
berkata bahwa di waktu yang akhir-akhir ini, Pancasila dipergunakan sebagai
satu barang an sich.Aku Pancasila! Maksudnya apa orang yang berkata demikian
ini ? Aku antikomunis. Perkataan dipakai untuk sebetulnya men-demonstreer
anti kepada Kom. Padahal Pancasila sebetulnya tidak anti-Kom. Kom dalam arti
ideologi sosial untuk mendatangkan di sini suatu masyarakat yang
sosialistis. Kalau dikatakan, ya aku Pancasila, tetapi dalam hatinya
anti-Nasakom. Pancasila dipakai untuk mengatakan aku Pancasila, tetapi aku
anti-Nas. Aku Pancasila tetapi aku anti-A.

Pancasila adalah pemersatu, adalah satu ideologi yang mencakup segala. Dan
aku sendiri berkata, aku ini apa? Aku Pancasila. Aku apa ? Aku perasan
daripada Nasakom. Aku adalah Nasionalis, aku adalah A, aku adalah sosialis,
kataku. Tetapi banyak orang memakai Pancasila ini sebagai hal yang anti.”
(Revolusi belum selesai, halaman 217).

 Pancasila-nya Bung Karno perlu kita angkat kembali

Mengingat itu semuanya nyatalah bahwa « Hari Kesaktian Pancasila » yang
diselenggarakan  di Lubang Buaya (dan di tempat-tempat lainnya di Indonesia)
adalah sebenarnya bertentangan sama sekali dengan jiwa asli Pancasila-nya
Bung Karno dan ajaran-ajaran besarnya yang lain.   Karena itulah tulisan ini
sependapat dengan usul atau fikiran yang sudah mulai muncul supaya ritual
yang hanya menyebar racun persatuan bangsa ini ditiadakan atau dihapuskan
saja untuk selanjutnya. Tetapi, kalau sisa-sisa Orde Baru masih mau tetap
mengadakannya, ada juga baiknya ! Sebab, seperti halnya diaporama beserta
« Monumen Pancasila, » -nya, akhirnya itu semua akan merupakan boomerang
bagi mereka, karena banyak orang (terutama generasi yang akan datang) akan
bisa melihat dengan jelas kebohongan dan tujuan yang tidak luhur yang
dikandungnya. Diaporama dan segala macam monumen yang didirikan oleh rejim
militer ini pastilah akan menjadi “senjata makan tuan” bagi mereka sendiri.

Jadi, kita semua melihat bahwa  Pancasila sudah dikotori atau dibikin busuk
seperti comberan (dan memuakkan!) oleh Suharto dan konco-konconya selama
puluhan tahun dengan macam-macam praktek (antara lain indoktrinasi  paksaan
Penataran “Penghayatan dan Pengamalan Pancasila”, dan cekokan berupa seminar
atau rapat-rapat dll). Karenanya, sudah banyak orang yang bukan saja
membenci Suharto dengan Orde Barunya, melainkan juga tidak menghargai
Pancasila lagi.

Karenanya, adalah tugas kita bersama dewasa ini, dan untuk selanjutnya,
untuk mengangkat kembali Pancasila dari comberan yang dibikin oleh rejim
militer Suharto. Pancasila-nya Bung Karno perlu kita junjung tinggi-tinggi,
kita kumandangkan lagi, dan kita dudukkan di tempat yang luhur dan mulia
sebagaimana mestinya, sebagai pemersatu bangsa yang berjuang untuk
masyarakat yang betul-betul demokratis, adil dan makmur.

Paris, 7 Oktober 2008

No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.524 / Virus Database: 270.7.6/1711 - Release Date: 06/10/2008
17:37

Kirim email ke