Refleksi:   Sedkit info. Pada tahun 1960-an Pemerintah Soekarno dan   
pemerintah Komunis  Polandia  membuat persetujuan untuk dibangun mesjid  di 
bahagian Timur Polandia untuk kaum muslimin disana, yang berunding  untuk itu 
dari pihak Indonesia ialah Dubes Indonesia bernama Maengkom beragama Katholik.  
Dari pihak Polandia yang menyetujui ialah Marian Rapacki (menteri luarnegeri 
Polandia) dan Jozef Cyrenkiewicz (perdana menteri). Kedua orang ini adalah  
Yahudi. 

Disepakati untuk dibangun mesjid, dengan syarat dari Polandia dikirim 30 pastor 
ke Indonesia. Pengiriman Pastor di lakukan, tetapi pembanguan mesjid tidak 
dijalankan, karena TNI mengambil alih kekuasaan negara  di Indonesia pada tahun 
1965 dan  biaya yang ditangung oleh Indonesia tak kunjung datang. 

Adanya orang Tatar di bahgian Timur itu karena raja Polandia Jan III Sobieski 
mempunyai regimen orang Tatar  beragama Islam sejumlah  kurang lebih 2000 yang 
kemudian berdiam di daerah Timur Polandia.   

http://www.antara.co.id/arc/2008/10/7/islam-di-negeri-asal-paus-johanes-paulus-ii/

07/10/08 14:33

Islam di Negeri Asal Paus Johanes Paulus II


Oleh Hazarin Pohan, Dubes RI untuk Polandia

Warsawa (ANTARA News) - Secara kasat mata, Islam tidak menonjol di Polandia. 
Maklum, negeri ini berpenduduk mayoritas Katolik. 

Umat Nasrani di negeri asal mendiang Paus Johannes Paulus II itu mencapai 95 
persen dari hampir 40 juta penduduk. 

Namun Islam telah berada di Polandia sejak 600 tahun silam dan memiliki tempat 
dalam sejarah panjang di negeri yang pernah hilang 123 tahun dari peta politik 
Eropa itu.

Jumlah umat Islam di Polandia berkisar antara 25-30 ribu, umumnya penganut 
aliran Sunni, di antaranya sekitar 3.000 - 5.000 berdarah Tartar. 

Seiring berkembangnya ekonomi, banyak kaum muda yang dinamis pindah dan menetap 
di wilayah utara, terutama di Gdansk. Kaum tua Tartar kebanyakan bertahan di 
permukiman asli mereka di kota-kota kecil di sekitar Byalistok.

Tidak banyak terdapat masjid di Polandia, cuma dalam bilangan jari. Namun 
seiring dengan berkembangnya jumlah penganut Islam dari Timur Tengah, Afrika 
dan Asia Selatan, rumah-rumah ibadah Muslim dalam bentuk mushalla juga 
berkembang pesat. 

Di kota-kota besar seperti Krakow, Wroclaw, dan Gdansk yang memiliki masjid, 
tempat ibadah itu memiliki multifungsi, sekaligus sebagai Pusat Kebudayaan dan 
Informasi Islam. 

Gdansk menjadi tempat yang khusus karena memiliki menara, meskipun azan tidak 
dikumandangkan. Namun, dalam peta Islam kota kecil Kryszyniany dan Bohoniki, di 
dekat Byalistok, memiliki tempat khusus bersejarah, karena di tempat itu 
terdapat dua mesjid tua yang kurang lebih sama tuanya dengan yang terdapat di 
Lithuania maupun Belarus.

Di Wroclaw, menurut Imam Ali Abi Issa yang menjadi Ketua sekaligus imam pada 
Pusat Kebudayaan Islam, suasana Ramadhan diisi dengan shalat tarawih, 
pengajian, dan shalat Ied bersama umat Islam setempat. 

Imam Ali sangat aktif menggerakkan dialog antar-agama, termasuk antara Islam 
dan Yahudi berkembang baik. Mayoritas kaum Muslim berasal dari negara-negara 
Arab. 

TKI yang berjumlah sekitar 15 orang juga sering hadir beribadah di mesjid. 
Dewan Kota Wroclaw sangat mendukung keberagaman dan toleransi yang pada 
gilirannya akan membentuk citra kota Wroclaw sebagai kota budaya internasional. 

Maklum, Wroclaw ingin mengimbangi kedudukan unggul Krakow sebagai kota budaya 
yang banyak menarik wisata dan investasi, dan keduanya terletak di bagian 
selatan Polandia. 

Iedul Fitri 1429 H merupakan kesempatan ketiga berlebaran bagi penulis 
sekeluarga selaku Duta Besar Republik Indonesia di Warsawa. Lebaran yang jatuh 
hari Rabu, 1 Oktober 2008, berdasarkan pengumuman dari Masjid Warsawa. Shalat 
Ied dimulai jam 0900 pagi, dipimpin oleh Imam Emir Poplawski. Sang imam ini 
berdarah etnis Tartar, bangsa yang gagah berani dan telah bermukim di Polandia 
selama 600 tahun. 

Masjid Warsawa yang terletak di daerah pemukiman elit di bilangan Wilanow di 
Jalan Wiertnicza dan umat Islam bolehlah berbangga. Di Polandia tak gampang 
menemukan masjid. Lebih dari 95 persen rakyat Polandia beragama Katolik, 
sisanya Protestan, Ortodoks, Yahudi dan Muslim.

Kehidupan beragama pada zaman Komunis menjadi pengamatan intelijen, dan tidak 
dianjurkan. Pada era keterbukaan, kehidupan beragama menjadi lebih bergairah, 
dan Islam semakin berkembang.


Idul Fitri di Byalystok

Ketika Mufti Tomasz Miskiewicz, Ketua Dewan Persatuan Agama Islam Polandia 
menyampaikan undangan beridul fitri di Byalystok, wilayah timur Polandia, 
penulis langsung menyatakan akan datang, bersama isteri. 

Tidak saja karena berteman baik dengan Mufti Polandia itu, tetapi lebih khusus 
lagi karena Byalistok merupakan kota bersejarah, di mana selama 600 tahun umat 
Islam bermukim di kota itu. 

Masyarakat Muslim di kota itu adalah keturunan dari prajurit Tartar yang 
gagah-berani ketika berperang melawan Kerajaan Tetonik dalam pertempuran 
Grunwald di Malbork, utara Polandia pada tahun 1410. 

Nenek moyang mereka turut berperang membantu Jan Sobieski, panglima perang yang 
kemudian menjadi raja Polandia, melawan pasukan Ottoman dalam mempertahankan 
kerajaan Austro-Hongaria sebagai bastion kerajaan Kristen, pada pertempuran 
Wina pada tahun 1683, sehingga Sobieski diberi gelar oleh Paus dan pemimpin 
Eropa sebagai "the Savior of Vienna and Western European civilization". 

Itulah sebabnya, para pemimpin perang Tartar diberikan gelar kebangsawanan dan 
memperoleh tempat khusus di hati rakyat Polandia. Panglima-panglima perang dan 
perajurit Tartar juga dengan gagah berani membela Polandia, tanah air baru 
mereka, dalam pertempuran menghadapi serbuan Jerman dan Uni Soviet menjelang 
Perang Dunia II pada tahun 1939.

Mufti Tomasz selalu diundang oleh Presiden Polandia pada saat menerima 
tamu-tamu negara Muslim, dalam kunjungan ke Polandia. Beliau juga rajin 
mengunjungi acara-acara resepsi yang diselenggarakan oleh KBRI Warsawa. Mufti 
yang juga keturunan Tartar itu berusia 30 tahun, cukup berwibawa, lulusan 
Fakultas Hukum di Arab Saudi dan sangat aktif dalam memajukan masyarakat Muslim 
di Polandia.

Dia membangun tempat wisata agro di Byalistok, tempat tinggalnya. 


Disambut meriah

Setelah menempuh perjalanan dari Warsawa sejauh 200 km diiringi hujan sepanjang 
hari pada hari Sabtu (4/9), kami tiba di Byalistok berkumpul dengan sekitar 500 
masyarakat Muslim Tartar, tua-muda, termasuk anak-anak, yang datang dari 
berbagai penjuru Polandia, dan bahkan dari luar negeri.

Mereka memadati gedung Pusat Kebudayaan Bialystok, tempat acara berlangsung. 

Masyarakat Muslim di Polandia keturunan Tartar menyebut Idul Fitri sebagai Hari 
Ramadhan Bayram (Dni Bayram Ramadan), mungkin bayram diambil dari bahasa Turki 
yang berarti perayaan. Orang asing yang hadir barangkali kami dari Indonesia 
dan Dubes Azerbaijan, yang datang menyumbang konser lagu-lagu Islam oleh grup 
kesenian dari negerinya. 

Etnis Tartar, sebagaimana saudara-saudara mereka dari Asia Tengah dan Kaukasus, 
sangat ramah dan bersahabat. Semua hadir mengenakan pakaian terbaik, 
berwarna-warni. Sebagian ibu-ibu dan wanita muda berkerudung. 

Demikian pula kaum pria Tartar. Kami bertukar salam. Tidak tertinggal kesan, 
bahwa kakek-moyang mereka adalah pasukan perang berkuda bersenjata panah dan 
pedang yang gagah berani. Sayang, cuma dua duta besar dari negara-negara OKI 
yang hadir, Indonesia dan Azerbaijan. 

Delegasi Indonesia dan Azerbaijan diberi kehormatan untuk duduk di barisan 
depan, dan diperkenalkan kepada hadirin sambil mempersembahkan seperangkat 
kembang yang indah dan diberi kesempatan berpidato, memperkenalkan Indonesia, 
negeri yang jauh dan indah di mana sekitar 220 juta umat Islam di sana juga 
sedang merayakan Idul Fitri. 

Penulis katakan, meskipun berjumlah kecil di Polandia namun jangan berkecil 
hati, karena umat Islam Indonesia adalah saudara-saudara kalian. Mereka 
menunggu kedatangan saudara-saudara Muslim dari Polandia. Sangat ramah, dan 
mereka memberikan tepukan meriah. Beberapa kaum ibu berbincang-bincang dengan 
Ny. Pohan yang senantiasa berjilbab untuk bertukar informasi mengenai tradisi 
Idul Fitri di berbagai suku-bangsa di Indonesia. 

Mereka terkesan dengan kemajuan umat Islam di Indonesia dan tradisi Idul Fitri 
yang dimulai dengan berziarah ke makam leluhur, makan pagi dan berdoa bersama 
keluarga sebelum shalat Ied, dan saling-berkunjung dan memaafkan, termasuk 
dengan teman dan tetangga. Suasana Ied berlangsung selama satu bulan penuh.


Di kota lain

Suasana Idul Fitri juga bergema di kota-kota lainnya seperti Wroclaw, Krakow, 
Lublin, Poznan dan Gdansk pada pusat-pusat kebudayaan Islam sekaligus berfungsi 
sebagai tempat ibadah. Di samping berfungsi sebagai pusat ibadah, tempat-tempat 
ini juga bermanfaat untuk dialog dan pertemuan dengan masyarakat yang ingin 
tahu tentang Islam serta dengan penganut agama lainnya untuk menguatkan citra 
toleransi beragama yang tinggi di Polandia.

Shalat Ied di Warsawa, misalnya, dilakukan di pagi hari dengan suhu dingin 10 
derajat celsius. Sebagaimana di Indonesia, dilaksanakan dua rakaat, dan 
dilanjutkan dengan khotbah dalam bahasa Arab dan Polandia. 

Imam fasih berbahasa Polandia karena memang lahir dan besar di Polandia. Imam 
mengumumkan, sebelum shalat dimulai, umat dipersilahkan untuk membayar zakat 
fitrah dan bersedekah.

Jam 8.30 pagi mesjid telah penuh sesak, sekitar 400 jamaah pria dan wanita 
dengan ruang terpisah telah mengambil tempat. Ada pula yang mengabadikan 
suasana bersukacita itu dengan kamera telepon genggam. 

Masjid Warsawa itu terdiri dari dua lantai: wanita beribadah di lantai atas 
sedangkan pria di lantai bawah. Sebagian ruangan dijadikan kantor, dan ruang 
depan dijadikan toko koperasi yang menjual berbagai keperluan umat Islam serta 
makanan kecil halal. 

Pada hari-hari kerja, ruangan digunakan untuk pendidikan dan pertemuan sosial 
termasuk melayani tamu-tamu yang menginginkan informasi mengenai Islam. 

Sudah lama masyarakat Muslim di Warsawa, berkeinginan untuk memiliki Masjid 
Raya, khususnya sejak zaman keterbukaan setelah runtuhnya Tembok Berlin, namun 
belum terwujud. Apalagi, di beberapa negara Eropa Barat tidak mudah urusan 
administratif untuk membuat rumah ibadah Islam, meskipun di berbagai kota besar 
Eropa terdapat ratusan ribu jamaah Muslim. 

Ibadah dijalankan di rumah-rumah bahkan di bekas-bekas gudang. Masjid Warsawa 
itu baru dalam beberapa tahun terakhir berfungsi, karena sebelumnya merupakan 
rumah vila yang dibeli umat Islam dari warga setempat. 

Di Polandia sekarang ini, umat Islam bebas menjalankan ibadah tanpa tekanan 
ataupun diskriminasi.

Menurut Emir Poplawski, imam pada mesjid di Warsawa, Islam tidak bermasalah dan 
bahkan disambut baik dengan hak dan kewajiban sosial yang sama dengan warga 
lainnya. Bahkan, karena peran yang bersejarah, Konstitusi Mei 1791 mengakui 
kedudukan etnis minoritas Tartar yang kebanyakan Muslim dengan posisi menjadi 
anggota parlemen (Sejm).

Kirim email ke