Krisis Keuangan Picu Tragedi Kemanusiaan di AS

Selasa, 14 Okt 2008 13:35 

 Pemerintah AS kini bukan hanya dibuat pusing dengan kehancuran
ekonominya, tapi juga kelemahan mental sebagian rakyatnya yang tak kuat
menanggung beban krisis keuangan. Otoritas berwenang di AS mulai
khawatir melihat dampak krisis terhadap masyarakatnya, dan sekarang
sedang giat-giatnya menghimbau warganya yang mengalami stress agar
segera meminta bantuan.

Laporan Associated Press menyebutkan, di bebera tempat saluran telepon
hotline yang disediakan bagi mereka yang mengalami gangguan mental tak
henti-hentinya berdering, layanan konsultasi menerima banyak permintaan
konsultasi dan tempat-tempat penampungan bagi korban kekerasan dalam
rumah tangga banyak yang penuh.

"Beberapa orang mengatakan, apa yang terjadi saat ini mengingatkan pada
situasi emosional saat peristiwa serangan 11 September," kata Canon Ann
Malonee, seorang pastor dari Gereja Trinitas di New York.

Tidak tahu harus kemana mengadu karena krisis yang dialaminya, banyak
warga AS yang menelpon layanan hotline pencegahan bunuh diri. Organisasi
Samaritans di New York menyatakan, jumlah penelpon sejak setahun kemarin
meningkat 16 persen dan kebanyakan mengeluhkan masalah keuangan.
Sementara Switchboard di Miami menerima 500 telpon yang mengadukan
nasibnya karena harta bendanya disita.

"Banyak orang yang mengatakan pada kami bahwa mereka telah kehilangan
segalanya. Kehilangan rumah, atau menghadapi ancaman penyitaan,
kehilangan pekerjaan ...," kata Virginia Cervasio, direktur eksekutif
sebuah lembaga yang mendata kasus-kasus bunuh diri di Lee County,
sebelah baratdaya Florida.

Dan daftar tragedi menyedihkan korban krisis keuangan di AS pun makin
panjang. Di Massachusetts, seorang ibu rumah tangga mencoba menutupi
krisis keuangan yang dialaminya dari keluarga dan suaminya. Ibu rumah
tangga itu menulis surat ke perusahan hipotiknya berbunyi "Begitu Anda
menyita rumah saya, saya akan mati." Dan ibu rumah tangga bernama
Carlene Balderrama benar-benar membuktikan ancamannya. Ia bunuh diri
dengan meletuskan peluru ke tubuhnya.

Di Los Angeles, Karthik Rajaram, 45 juga bunuh diri, setelah sebelumnya
menembak istri, tiga anaknya dan ibu mertuanya. Dalam pesan yang
ditulisnya diketahui Karthik membunuh keluarga dan dirinya sendiri
karena kesulitan keuangan.

Kasus Karthik, mendorong pihak kepolisian dan aparat yang bertanggung
jawab terhadap kesehatan mental masyarakat mengeluarkan himbauan agar
mereka yang merasa bermasalah akibat krisis keuangan yang terjadi,
segera mencari bantuan. Kepolisian mengaku khawatir kasus Karthik akan
memicu gejala "meniru" apa yang dilakukan Karthik.

"Kita sedang berada dalam masa yang cukup berat dan butuh kekuatan untuk
tetap tegak berdiri," kata Kepala Deputi Polisi Michel Moore.

Tragedi lainnya terjadi di Tennessee pekan kemarin. Seorang perempuan
bernama Pamela Rose menembak dirinya sendiri, setelah deputi sherrif di
wilayah itu mengusir perempuan tersebut dari rumahnya yang akan disita.
Hal serupa dilakukan Addie Polk, seorang nenek berusia 90 tahun di
Akron, Ohio. Beruntung Polk selamat dan sekarang sedang dalam proses
pemulihan. Perusahaan hipotik Fannie Mae juga bersedia mencabut perintah
penyitaan rumah Polk, setelah mendapat bantuan dari anggota dewan dari
wilayah itu. Di Ocala, Roland Gore menembak istrinya dan seekor
anjingnya, membakar rumah dan bunuh diri, setelah rumahnya terancam
disita.

"Stress akibat persoalan keuangan membuat orang merasa tidak berdaya.
Mereka meyakini, keluarganya lebih baik mati daripada hidup tanpa
dukungan keuangan," kata Kristen Rand, direktur Violence Policy Center
di Washington D.C.

Sementara Dr Edward Charlesworth, seorang ahli psikologi klinis di
Houston mengatakan, krisis keuangan yang melanda saat ini memicu
kekhawatiran yang kronis di kalangan masyarakat yang terserang panik dan
merasa tak berdaya sekaligus marah dengan pemerintah mereka, karena
telah membuat mereka sengsara.

Secara statistik, memang belum jelas benar hubungan antara kasus-kasus
bunuh diri dengan memburuknya situasi perekonomian di AS dua tahun
belakangan ini. Tapi secara historis, kasus-kasus bunuh diri memang
meningkat ketika terjadi kesulitan ekonomi dan krisis ekonomi yang
melanda AS dan dunia saat ini disebut-sebut sebagai krisis terburuk
sejak Great Depression.

Setidaknya ada 500.000 data proses penyitaan dan jumlahnya dipekirakan
akan terus bertambah sampai tahun depan, meski pemerintah sudah
menggulirkan paket penyelamatan. Jika demikian, entah seberapa banyak
lagi tragedi kemanusiaan yang akan terjadi akibat lilitan masalah
keuangan. Dalam kondisi sulit seperti sekarang ini, sulit mengharapkan
kekuatan mental dari masyarakat yang terbiasa menjadikan uang sebagai
"dewa". (ln/AP/yh)  Mana pertolongan Yesus yg katanya tuhan ..????

<<stressx.jpg>>

Kirim email ke