Krisis Keuangan Global (Bag 2) 

It’s mentally sick, stupid!
(adapatasi dari frase politik yang populer digunakan Clinton ketika
berkampanye melawan George Bush Senior, it’s the economic, stupid!)


oleh : andreas iswinarto
(lanjutan gumaman Krisis Ekonomi Global
: Karl Marx di Aspal Jalan Dunia Datar. It’s the Capitalism,
Stupid!)
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/10/krisis-keuangan-global-karl-marx-di.html
 






Di dalam perkara krisis keuangan global
hari-hari ini……..



Tahukah anda dongeng tentang  kaisar
telanjang yang jadi ‘olok-olok’ anak-anak kecil yang polos dan
lugu, “Kaisar telanjang, Kaisah telanjang, Kaisar kentir (gila)”.
  Sementara sebagian orang-orang dewasa sibuk memarahi dan membungkam
anak-anak ini, sambil saling menipu diantara mereka dengan berlomba
mengelu-elukan kaisar seolah berbusana sangat indah, mewah dan akan
menciptakan trend mode adihulung. Sebagian lain tersenyum di dalam
hati (kecian deh lu katanya) dan  sebagian diam-diam mendukung
anak-anak kecil itu. Konon orang-orang kepercayaan kaisar yang 
pandai menjilat sekaligus memanipulasi kaisar berseru-seru sambil
mengancam, hanya orang-orang pintar dan bijaksana yang bisa melihat
keindahan pakaian kaisar yang dirancang oleh desainer ternama yang
lihai mengambil hati sekaligus menipu kaisar. Dan katanya hanya
orang-orang bodoh saja yang tidak bisa melihat kehebatan pakaian
kaisar.



Dan meminjam Karl Marx dan Engel
rupanya “ada hantu komunisme berkeliaran di batok kepala kaisar dan
halaman rumah sendiri……”



Seperti disampaikan oleh A Toni
Prasetiantono dalam artikelnya Meletusnya Gelembung Hampa (Kompas
Rabu, 8 Oktober 2008) salah satu sebab tarik ulurnya atau penentangan
dana talangan pemerintah adalah soal momok sosialisme di sebuah 
negeri yang mengaku dedengkot liberalisme dan kapitalisme. Seperti
dikatakan oleh Toni, “jika pemerintah menalangi semua bank yang
bangkrut, bank-bank investasi itu akan menjadi milik pemerintah.
Perekonomian yang serba pemerintah (etatisme) ini akan menimbulkan
kesan, perekonomian AS sudah beralih ke sosialisme”.  




Dengan menggunakan logika berpikir yang
sama kita bisa temukan fenomena ‘ada hantu komunisme di batok
kepala dan halaman rumah sendiri’ ini didalam diri Bill Gates dari
Microsoft dan banyak eksekutif, kapten korporasi lainnya. Dalam
menghadapi fenomena lahirnya komunitas kolaboratif atau kolaborasi
massal di (melalui)  web 2 seperti  jejaring sosial Flickr, MySpace,
You Tube dan Wikipedia juga open sources seperti Linux sebagai
‘komunis’ jenis baru yang terselubung. Sementara banyak korporasi
lain dengan perkembangan ini, mulai membayangkan, merancang,
membangun dan mendistribusikan produk dan jasa dalam berbagai cara
baru yang inovatif. Ini diungkapkan oleh Don Tapscott dan Anthony D.
William dalam bukunya Wikinomic yang edisi Indonesianya baru saja
diterbitkan Bhuana Ilmu Populer 2008. 

Dalam bahasa
Hermawan Kertajaya di kompas.com melalui teknologi web 2 ini terjadi
proses horisontalisasi baik di lapangan bisnis hingga lapangan
politik. Hermawan memaparkan bahwa melalui Web 2 bukan  pola hubungan
dan komunikasi bukan “cuma bersifat One-to-Many atau
One-to-One, tapi sudah bersifat Many-to-Many. Dalam
lapangan bisnis tercermin dalam hubungan baru antara marketer dan
customer, maupun di langan politik antara politisi dan pemilih.
Hermawan misalnya bercerita tentang profil Perdana Menteri Cina Wen
Jiabao yang muncul di Facebook pada 14 Mei 2008, yang segera
mendapat kawan sekitar 14.000 orang dalam waktu cuma dua minggu serta
fenomena pemilu AS yang mendapat darah segar melalui teknologi web 2
(silah kunjung   
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/10/bag-1-uploading-searching-dan-wiki.html
(Kok jadi
melantur ya, tidak lain karena kebetulan nyambung dengan artikel saya
bagian pertama soal dunia datarnya Thomas L Friedman yang diantaranya
diakselerasi oleh  perkembangan pesat teknologi komputer, informasi
dan komunikasi. Friedman menyimpulkan up-loading sebagai factor
pendatar diantara 10 faktor lainnya. Mari kita kembali ke kaisar
telanjang sebelum kembali lagi ke perkara tak habis-habisnya Paman
Sam menciptakan hantu-hantu dan musuh-musuh baru.)
Soal Kaisar telanjang sebenarnya telah
saya singgung pada bagian pertama tulisan saya “Krisis Ekonomi
Global : Karl Marx Di Aspan Jalan Dunia Datar” menyangkut
intervensi pemerintah mengeluarkan dana talangan (bailout) yang
sekali lagi menegaskan tentang adanya mitos mekanisme pasar (pasar
bebas dan swa koreksi pasar) disatu sisi, disisi lain ketelanjangan
pemerintah Bush yang didukung parlemen untuk melindungi kepentingan
korporasi dan pemodal besar  (baca pula artikel Martin Manurung
“Neoliberalisme Kena Batunya” juga tulisan Ahmad Erani Yustika
Menelanjangi Neoliberalisme di Kompas). 




Dalam kurun waktu yang berabad kita
temukan juga cerita tentang kebohongan soal ide dan gagasan pasar
bebas, invisible hand juga pemalsuan sejarah berdasarkan penelusuran
dan kajian yang diantaranya dilakukan oleh Noam Chomsky dalam bukunya
Year 501. Uniknya kita kembali berjumpa dengan Columbus dan negeri
India.



Chomsky dirujuk oleh Wim F Werthim
dalam bukunya “Jalan Sosialisme Dunia Ketiga ; Pasar Protektif
versus Pasar Agresif”  (ISAI-PDAT-De Wertheim Stichting 2008).
Menurut Wertheim melalui Year 501 Chomsky mempertontonkan
kesinambungan keberhasilan cara “Utara” memaksakan dominasi
politik, ekonomi dan militer terhadap “Selatan” yang tidak putus
berlangsung sepanjang 5 abad sejak Columbus menemukan Benua Amerika.
Ia membuyarkan sejarah palsu bahwa Selatan dikalahkan di sektor
ekonomi oleh perdagangan bebas atau perekonomian pasar bebas.
Alih-alih dukungan pemerintah negara utaralah yang memenangkannya.
Hanya dengan dukungan negara, perekonomian Utara mencapai kedudukan
monopoli, di bidang industri juga pertanian, atas dan terhadap
perekonomian negara-negara selatan yang agraris.



Satu contoh kecil saja diulas bagaimana
akibat protes keras para pengusaha penenunan sutera di Middlesex
terhadap impor sutera tenunan India oleh East India Company (EIC),
pemerintah kemudian melarang impor sutera India ke Inggris sekaligus
mengenakan bea masuk yang semakin tinggi untuk semua produk katun
hasil manufaktur India. Chomsky sebenarnya membongkar apa yang
sesungguhnya terjadi dalam kasus Indonesia, Cina dan negara-negara
jajahan lainnya. 




Lepas dari dominasi ekonomi Eropa
khususnya Inggris kemudian kita melihat cerita yang sama yang
dilakukan oleh pemerintah-pemerintah negara-negara maju yang dipimpin
oleh AS  melalui organisasi yang mereka kendalikan IMF, World Bank
dan WTO (sering dikatakan Unholy Trinity menurut saya lebih tepat
Evil Trinity). Sebuah cerita tentang intervensi negara-negara maju
dalam melancarkan akses korporasi pada tanah, bahan baku, buruh
murah, pasar, penghukuman segala bentuk  insentif fiskal dan moneter hingga 
segala bentuk kebijakan proteksionis lainnya.



Pembongkaran Pemalsuan Sejarah terkait
hampir semua negara maju terutama Inggris dan Amerika  juga dilakukan
oleh Ha-Joon Chang (seorang ekonom Cambridge yang juga bekerja
sebagai konsultan untuk Bank Dunia, ADB, berbagai badan PBB hingga
pemerintah Kanada, Jepang, Afrika Selatan, Inggris, hingga Venezuela)
dalam bukunya Bad Samaritans (Pustaka Utama Grafiti 2008).  Satu hal
yang mengesankan adalah testimoninya tentang bagaimana Korea yang
dianggap ‘murtad’ dari pakem neolib beranjak dari negara miskin
dan hancur lebur pasca perang Korea bisa melejit ke papan atas
ekonomi dunia. Juga cerita tentang pemain kuat seperti Jepang, Cina
hingga India. Tak lain ini adalah karena otonomi untuk menentukan
kebijakan ekonominya serta peran negara yang kuat untuk melindungi
dan kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri. 




Berikut ini adalah amsal yang digunakan
oleh Wertheim dalam bab pertama bukunya “Nomor Satu, Amerika:
Monopoli Merkantilis”



Seorang pecatur amatir menyatakan
kepada grandmaster Tartakower, bahwa diri sudah secara patuh
memainkan pembukaan yang belum lama direkomendasikan grandmaster
lainnya Loewenstein dalam sebuah majalah dengan hasil malapetaka.
Tartakower menjawab “Jangan kau memainkan yang ditulis Loewenstein.
Yang mesti kau mainkan adalah yang ia mainkan”



Pemain catur amatir ini adalah wajah
pemerintah lemah seperti di Indonesia dan saudara-saudara Asia
Afrikanya, negara-negara Amerika Latin dahulu, juga cerita tentang
negara-negara Eropa Timur yang didisiplinkan melalui kebijakan
neo-liberal yang akhirnya dengan cepatnya terpuruk jatuh ke wilayah
dunia ketiga.



Atau meminjam amsal dari Nietzhe (saya
kutip dari satu buku terbitan Marjin Kiri) 

“Kita telah meninggalkan daratan dan
sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang kita –
dan lagi, kita sudah menghanguskan daratan di belakang kita! Dan
kini, hati-hatilah, kau kapal mungil! Samudera raya mengelilingimu…….



Lalu apa yang dilakukan oleh Amerika
Serikat khususnya untuk mendisiplinkan pemerintah dan negara-negara
lain  yang membangkang, murtad dan memilih narasi dan pradigma
politik ekonomi yang lain?  John Perkins dalam bukunya “The
Economic Hit Man” dan juga semakin terang berderang melalui buku
Tim Weiner “Membongkar Kegagalan CIA : Spionase Amatiran Sebuah
Negara Adi Daya-Gramedia 2008 (yang menjadi perhatian utama saya
bukan keamatiran CIA, tetapi fakta telanjang tentang apa yang
dilakukan CIA dan pemerintah Amerika…………



bunuh, beli-sogok, danai aksi militer
(pemberontakan hingga kudeta), hingga cuci otak intelektual pecinta
tipu-tipu kapitalisme neoliberal yang nyatanya diingkari guru-gurunya
sendiri.



Dan Paman Sam adalah negri yang terus
menerus memusuhi ‘the other’ (memproduksi dan mereproduksi
musuh), bermegah diri, membangun benteng-benteng, menciptakan
kesetiaan konyol dan semangat chauvinistik warganya. 




Malangnya Karl Marx   yang menghantui
Pam Sam yang dikiranya sudah mati sejak runtuhnya tembok berlin dan
runtuhnya pemerintah komunis di Uni Soviet yang dirayakan dengan
megah oleh  Fukuyama melalui “The End Of History” masih terus
hidup dan berkembang sesuai dengan konteks zamannya. 




Bahkan ini terjadi di halaman belakang
negeri Paman Sam, wilayah yang dalam kurun waktu panjang berada
dibawah kendali mereka dan wilayah yang dihisapnya yakni Amerika
Latin. Pasang naik pemerintah-pemerintah yang kental dengan élan
kerakyatan kita sebut saja sosialisme baru Amerika Latin. Wajah
sosialisme yang egaliter sekaligus demokratis, banyak diantaranya
bertumbuh melalui persinggungannya dengan ‘teologi pembebasan’,
inilah yang lebih menakutkan bagi Paman Sam. Pemerintah kiri yang
menang tidak melalui senjata, kekerasan, tetapi menang melalui kotak
suara dan kesadaran beriman yang baru ‘option for the poor’



Sementara itu produksi dan reproduksi
musuh baru diwakili oleh  Huntington ketika dia memangggungkan
benturan peradaban masyarakat yang lain (Islam dan Cina) vs Barat.



Kembali meminjam Thomas L Friedman ini
kisah tentang dua angka penuh makna 9 dan 11. 11/9 (9 November) 
yakni tanggal penghancuran tembok Berlin dan 9/11 aksi terorisme 
yang menghancurkan World Trade Center. Silahkan anda merenungkan
tentang kedua tanggal penting dalam sejarah ini, dan meneguhkan tekad
kita untuk terciptanya dunia yang adil dan damai. Ingatlah pula ‘the
power tend to corrupt’ entah itu disisi kanan atau yang berada di
sisi kiri atau disisi manapun. 




Dan saya yakin kita harus  temukan
keseimbangan antara liberte, egalite, fraternite untuk dunia baru
itu……….



Inilah yang saya katakan hantu
komunisme, reproduksi musuh yang aneh di batok kepala. Hantu itu
adalah bagian dari kodrat dirinya yang ditolak dan diingkari. Hantu 
dalam rupa pengingkaran atas kodrat bahwa ada sisi baik di dalam diri
manusia, alih-alih hanya homo economicus atau ekstrimnya binatang
ekonomi dengan hukum rimba persaingan bebasnya. Bahwa ada aspek
egaliter dan fraternite dalam eksistensi kemanusiaan, panggilan hidup
dan fitrah manusia, bukan hanya mengumbar liberte dengan mengabaikan
dua lainnya. 




Karena dengan mengagung2kan liberte dan
monomer-sekiankan egalite dan fraternite akan sampai pada cerita
tentang keserakahan dan ketamakan sebagai iman vis a vis dengan
keimanan ‘option for the poor’, iman untuk mengembalikan manusia
kepada fitrahnya.






(bersambung)



salam pembebasan






andreas iswinarto 










Link artikel : 




Krisis Ekonomi Global : Karl Marx  di
Aspal Jalan Dunia Datar dan 10 Artikel Pilihan tentang krisis ekonomi
global.
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/10/krisis-keuangan-global-karl-marx-di.html
 

Uploading, Searching dan Wiki (Web 2)
untuk Perubahan Sosial
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/10/bag-1-uploading-searching-dan-wiki.html


Meletusnya Gelembung Hampa - A Toni
Prasetiantono  

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/08/01012297/meletusnya.gelembung.hampa
 

Neoliberalisme Kena Batunya – Martin
Manurung
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/08/01015541/neoliberalisme.kena.batunya
Menelanjangi Liberalisme - Ahmad
Erani Yustika
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/13/00254845/menelanjangi.liberalisme








      

Kirim email ke