Refleksi:   Seharusnya  dikirim pasukan  sapurata gurun pasir berinisial  FPI 
dan MMI  ke tempat kuntilanak bukan polisi,  sebab  FPI dan konco-konconya  
dikatakan bahwa mereka mempunyai tugas mulia dari langit biru untuk  sapu rata  
iblis bin seythan misyirik dari muka bumi.

Rupanya  NKRI telah menjadi surga bagi iblis bin seythan kerena sering 
dihinggapi bencana, 50 % pendduduk berotak tidak bere, disana sini murid-murid 
sekolah  diserang kerusurupan, kuntilanak etc.
----
Kuntilanak di Tanah Tinggi, Rumah Hantu di Pondok Indah
Kamis, 16 Oktober 2008 | 08:34 WIB


TEMPO Interaktif, Jakarta: Polisi di Ibu Kota Jakarta rupanya tak cuma sibuk 
mengurusi modus kejahatan yang kian canggih. Aparat di jajaran Polda Mtero Jaya 
ini juga tidak  hanya sibuk menjamin keamanan warga dengan patroli atau 
memberbentuk sistem manajemen modern. Mereka  masih harus mengurusi perkara  
yang berkaitan dengan klenik dan mahluk halus.

Heboh penampakan kuntilanak  di Tanah Tinggi, Kawasan Senen, Jakarta Pusat, 
tadi malam  untuk yang kesekian kali. Dugaan  makhluk halus yang  menghuni 
sebuah kamar kosong di Jalan Tanah Tinggi 12, Nomor D 187, RT 6/RW 8, Tanah 
Tinggi, cepat menyebar dan mengundang ratusan orang. Kemarin malam sampai dini 
hari tadi, warga terus berdatangan. Polisi kewalahan menjelaskan kepada warga 
bahwa tidak ada hantu kuntilanak. 

Kasus serupa pernah menimpa warga elite di Pondok Indah, Jakarta Selatan. 
Sebuah rumah tak berpenghuni, beberapa tahun lalu  dikabarkan dihuni  hantu. 
Penjual nasi goreng keliling tiba-tiba lenyap ketika berjualan di depan rumah 
tersebut. Ratusan orang berbondong-bondong menyaksikan hingga memacetkan lalu 
lintas di kawasan permukiman orang kaya raya tersebut. Belakangan diketahui, 
rumah itu ternyata dalam status agunan di sebuah bank.

Kembali ke Tanah Tinggi, aparat di Polsek Johor Baru, Jakarta Pusat, tadi malam 
 benar-benar kerepotan. Warga berdatangan dari Salemba, Kwitang, Senen, dan 
sekitarnya. Mereka datang dengan naik motor, angkutan umum, serta jalan kaki 
menuju rumah kosong milik  Susi Susanti.

Ayu, 15 tahun, warga Kwitang, datang bersama tiga rekannya dengan berjalan kaki 
pada pukul  23.00 WIB tadi malam "Saya tahu dari teman", kata Ayu kepada Tempo, 
dini hari tadi.  Dia  penasaran dengan kuntilanak yang konon  bisa dilihat 
langsung.

Ayu dan ketiga rekannya tak kesampaian rasa penasarannya. Setelah berjam-jam 
antre menunggu mahluk halus itu tak kunjung bisa dilihat. Suara mengaung yang 
sebelumnya terdengar, telinga Ayu juga tak terpuaskan.

Yang ia dengar malah Imbauan polisi agar massa bubar. "He... belum ngelihat 
disuruh pergi...enak saja," gerutu  Budi. Pemuda 17 tahun ini sama nasibnya 
dengan Ayu, kecele tak bisa memandang langsung kuntilanak.  Mansur, 55 tahun, 
Kepala Keamanan RT  setempat, saking kesalnya mengusir warga yang membandel.

Susi Susanti, pemilik rumah tak kalah heran. Ia sendiri bingung dengan hantu di 
rumahnya. Ia bertanya-tanya siapa biang  kehebohan ini. "Berita yang belum 
tentu benar itu  cepat menyebar," keluhnya kepada Tempo.

Amirullah

Kirim email ke