Refleksi: Bukankah agama  mengatur untuk keindindahan hidup di dunia seberang  
dan ekonomi duniawi tidak termasuk pokok utamanya.  Seandianya ekonomi duniawi 
diutamakan berarti sejak lama  dunia beragama telah makmur aman sentosa, tetapi 
ternyata selama ini terjadi bunuh-bunuhan dan bakar-membakar, saling membom  
dan merusak antara satu dengan lain, akibatnya kemakmuran adalah hanya 
fatamorgana.

Jawa Pos 
Sabtu, 18 Oktober 2008 ] 


Antiserakah, Ekonomi Islam Nirkrisis 
Oleh Munrokhim Misanam * 


Sebelum melakukan telaah terhadap krisis yang sedang terjadi dari sudut pandang 
ekonomi Islam, marilah kita melakukan overview singkat terhadap prinsip dasar 
ekonomi Islam. Ekonomi Islam adalah suatu sistem yang built-in dalam kehidupan 
ini. Setiap hukum-hukum yang ada tidak diperoleh dari hasil pemikiran manusia. 
Pemikiran manusia hanya menjabarkan lebih lanjut sehingga menjadi suatu konsep 
yang operasional. 

Sebagaimana spirit dari setiap agama, Islam menuntun dan menuntut penganutnya 
untuk berperilaku sebagaimana yang ditentukan agar terbentuk suatu sistem 
kehidupan yang seimbang, keadilan demi mencapai harmoni. Untuk itu, prinsip 
dasar yang dikembangkan Islam bukan maksimisasi (maksimisasi kepuasan ataupun 
keuntungan), melainkan moderasi. 

Selain itu, sistem ekonomi Islam mempunyai spirit sosialis, tetapi di pihak 
lain menggunakan mekanisme yang sama yang digunakan ekonomi Barat, yaitu 
mekanisme pasar. 

Dalam Islam, mekanisme pasar dianggap sebagai hukum alam yang ikut menopang 
terselenggaranya kehidupan manusia. Oleh karena itu, pasar dibiarkan bergerak 
bebas sesuai dengan hukum-hukum alam tentang pasar. 

Namun, jika terjadi pergerakan dalam pasar yang akan merugikan masyarakat 
banyak, otoritas moneter diperbolehkan campur tangan, tetapi dengan skala 
secukupnya. Tidak berlebihan. Intervensi itu pun harus semaksimum mungkin 
dilakukan dengan mengikuti mekanisme pasar sehingga sifat market friendliness 
tetap terjaga. Pada prinsipnya, pasar boleh dibiarkan bebas, tetapi tetap 
dikawal oleh moral.

Antiserakah 

Berdasar deskripsi seperti di atas maka keserakahan tidak boleh terjadi dalam 
berekonomi dalam Islam. Hal itu berbeda dengan ekonomi Barat yang justru 
sebaliknya. Itu bisa dilihat dari pendapat Adam Smith, yang diangkat sebagai 
bapak ekonomi di Barat. Dalam bukunya yang terkenal sebagai The Wealth of 
Nation, dia dengan jelas mengatakan bahwa ekonomi bisa mengalami pertumbuhan 
dengan memperoleh dorongan dari keserakahan manusia. Maknanya, jika manusianya 
serakah, ekonomi akan bisa tumbuh, suatu konsep yang rasanya kurang tepat bagi 
kita sebagai bangsa Indonesia. 

Keserakahan itu pulalah yang memicu krisis di Amerika saat ini. Kelompok 
subprime customer sebenarnya belum benar-benar mampu untuk membeli rumah. Belum 
layak memperoleh kredit perumahan. 

Tetapi, karena dunia perbankan yang serakah ingin segera meraih pertumbuhan 
keuntungan yang cepat, mereka tetap diberi akses walaupun dengan perhitungan 
manajemen risiko yang memadai. Salah satu di antaranya adalah dengan selisih 
bunga yang tinggi dibandingkan dengan beban bunga yang dikenakan kepada prime 
customer. 

Hal itu sebenarnya sudah menjadi concern dari banyak pihak di Amerika. Mereka 
sebelumnya sudah mendesak pemerintah untuk segera turun tangan sebelum terjadi 
krisis. Namun, karena pemerintahan Bush yang khas Republican -sangat 
antiintervensi-, hal itu dibiarkan saja. 

Dalam Islam, seseorang tidak diperbolehkan mengonsumsi sesuatu dalam jumlah 
yang berlebihan (israf) walaupun secara finansial dia mampu melakukannya. Lebih 
tidak boleh lagi adalah mengonsumsi barang/jasa dalam jumlah yang berada di 
luar batas kemampuannya. 

Kelompok subprime customer yang nyata-nyata belum mampu untuk membeli rumah, 
menurut Islam, tidak diperbolehkan untuk melakukannya walaupun melalui 
kemudahan kredit. 

Di depan kita ketahui, pihak perbankan menerbitkan surat berharga yang 
di-back-up oleh kredit rumah (mortgage), yang kemudian menjadi pendorong 
intensitas krisis yang buruk. 

Menurut prinsip ekonomi Islam, terdapat dua hal yang dilanggar dalam kasus 
tersebut. Pertama, tindakan yang dilakukan sama halnya dengan ''menjual'' utang 
kepada pihak lain. Kedua, setiap lembar surat berharga yang diterbitkan harus 
mencerminkan produksi riil. Surat berharga yang di-back-up oleh utang 
(mortgage) sebagaimana yang dilakukan perbankan di Amerika tidak memenuhi 
ketentuan tersebut. 

Dukungan Legislasi 

Jelas sekali, jika prinsip ekonomi Islam -sebagaimana didiskusikan di muka- 
diterapkan, sangat mungkin tidak terjadi badai krisis seperti yang sedang 
dialami Amerika saat ini.

Untuk melakukan hal itu, perlu dukungan legislasi berupa peraturan perundangan 
yang merupakan payung hukum bagi setiap regulasi yang diambil. 

Dalam hal ini, harus ada regulasi mengenai subprime customer dalam kaitannya 
dengan kredit. Misalnya, jumlah cicilan plus bunga tidak boleh melebihi 
persentase tertentu dari total pendapatan. Jika ketentuan itu tidak terpenuhi, 
bank tidak diperbolehkan untuk memberikan kredit. 

Contoh lain, mengingat Islam melarang kegiatan spekulasi di bidang apa pun, 
perdagangan saham harus dibuat mekanisme tertentu. Dalam hal ini, jika terdapat 
pertanda terjadinya kegiatan spekulasi seperti rush selling, atau hal-hal yang 
lain, pasar harus segera ditutup sementara (suspended). 

Contoh yang lain, untuk menghindari bubble economic yang membahayakan 
perekonomian, perlu ada aturan tentang kewajaran transaksi, baik jumlah maupun 
harganya. Sebab, Islam melarang transaksi yang tidak wajar, baik dalam hal 
harga maupun jumlah. 

Contoh selanjutnya ialah transaksi valas yang ditujukan untuk kegiatan 
spekulasi harus memperoleh ''penalti'' berat dalam bentuk pajak progresif. 
Sebab, spekulasi dilarang dalam Islam. 

Rasa keadilan dari setiap manusia menuntut dilakukannya hal tersebut karena 
spekulan valas bisa meraup keuntungan dalam jumlah yang sangat besar dalam 
waktu singkat, sementara kegiatan spekulasi yang mereka lakukan berakibat 
memburuknya ekonomi semua masyarakat. Untuk itu, pemajakan tersebut diperlukan 
untuk meredistribusikan pendapatan kepada kelompok yang dirugikan, yaitu 
masyarakat dan rakyat. 

Jika semua nilai-nilai Islam dalam ekonomi diekspresikan dalam aturan formal, 
sangat mungkin perekonomian kita jauh dari ancaman krisis sebagaimana yang 
sedang terjadi. 

Semoga badai krisis keuangan di Amerika -yang sangat mungkin terulang dalam 
bentuk lain di masa-masa mendatang- mampu membuka mata kita untuk ikhtiar dan 
ijtihad. Yakni, perlunya penerapan sistem ekonomi yang mampu menciptakan 
kestabilan guna menciptakan keadilan dan harmoni.*** 

*. Munrokhim Misanam PhD, direktur Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas 
Islam Indonesia (FE UII) Jogjakarta. Alumnus Rensselaer Polytechnic Institute 
(RPI), New York, AS

Kirim email ke