Roslan is a liar...

GP

2008/10/19 Roslan Salleh <[EMAIL PROTECTED]>

>   MEREKA YG JAHAT DAN MENYEBAR FITNAH......MEMANG ADIL DI HUKUM OLEH
> ALLAH.
> KAFIR HARBI.....YG MEMANG MEMUSUHI ISLAM SECARA TERANG-TERANGAN, MEMANG
> AMAT WAJAR DIHUKUM. MEREKA MMG BERNIAT MEROSAKKAN ISLAM APABILE ADANYA
> PELUANG.
> NAMUN KAFIR DZIMMI, YG BERSIKAP TOLAK ANSUR, TOLERAN, TIDAK MEMUSUHI UMAT
> ISLAM, MESTI DILINDUNGI DAN TIDAK BOLEH DISAKITI.
>
> MEMANG PELIK...TUHAN DIKATAKAN ADIL APABILA MEMBUNUH ANAKNYA......AGAR
> SEMUA UMAT KRISTEN BOLEH MASUK SYURGA, TERMASUK PENJENAYAH, PEROGOL DLL.
>
>
> *gkrantau <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
>  SEKEDAR KOMENTAR, bgmn Auloh yg katanya maha adil, maha pengampun
> mengajarkan kpd umat yg terbaik untuki membunuh kafiun. Sedang kaum kafirun
> tidak bisa melawan apalagi membunuh Muslim.
>
> Ini bukti nyata bhw ajaran mulia 'Tidak ada paksaan dlm Islam', 'Agamu-mu
> bagi kamu dan agama-ku bagiku' serta klaims bhw 'Islam adalah agama cinta
> damai' itu sekedar tipu daya yg dipake untuk menutupi kebengisan ajaran
> Islam.
>
> *Gabriela Rantau*
>
> --- In zamanku@yahoogroups.com, Crea†ure First <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > inilah ajaran damai...
> >
> > ========================
> >
> >
> >
> > KAJIAN
> >
> >
> >
> >
> > Judul
> > : Hukum Qishash Terhadap Kafir Dzimmi
> >
> > Kategori
> > : Sosial Politik
> >
> > Nama Pengirim
> > : Ginus Partadiredja
> >
> > Tanggal Kirim
> > : 2004-03-29 03:51:03
> >
> > Tanggal Dijawab
> > : 2004-03-29 15:07:05
> >
> >
> >
> >
> >
> > Pertanyaan
> > Assalamu'alaikum wr wb,
> >
> > Ustadz, ada dua pertanyaan yang muncul di pengajian kami, terkait dengan
> hukum
> > qishash di tafsir Ibnu Katsir QS 5:45 (yang tentunya terkait dengan QS
> 2:178):
> >
> > 1. Disebutkan dalam HR Bukhari dan Muslim, bhw Rasulullah SAW
> bersabda,"Laa yuqtalu
> > muslimun bi kaafiir. Artinya bahwa seorang muslim tak dapat dihukum bunuh
> krn
> > membunuh orang kafir. dan ini disepakati jumhur ulama. Benarkah demikian?
>
> > Bagaimana jika orang kafir dzimmi tsb tidak bersalah, dan muslim yang
> bersalah?
> > Bagaimana pula hukumnya bila terjadi sebaliknya, andaikata seorang kafir
> dzimmi membunuh
> > seorang muslim yang bersalah (dan dalam kasus itu, si kafir dalam posisi
> benar).
> >
> > 2. Hal lainnya terkait dengan kehidupan sehari-hari. Bgmn hukum
> qishashnya bila seseorang
> > menabrak mobil orang lain sehingga menyebabkan kerusakan pada mobil, atau
> luka, atau bahkan
> > menyebabkan orang yang ditabrak meninggal? Apakah qishashnya dilakukan
> dengan
> > cara yang sama, tidak bisa diganti dengan diyat, misalnya?
> >
> > Jazakumullahu khoyron katsiiro,
> >
> > Wassalamu'alaikum wr wb,
> > a/n pengajian di Brisbane
> > Ginus Partadiredja
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Jawaban
> > Assalamu `alaikum Wr. Wb.
> > Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil
> Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d
> >
> > 1. Jawaban Pertanyaan Pertama
> >
> > Seorang muslim tidak dihukum qishash karena membunuh seorang kafir.
> Pendapat ini dipegang oleh jumhur ulama. Dasarnya adalah hadits Rasulullah
> SAW yang Anda telah sebutkan dalam pertanyaan. Yaitu :
> >
> >
> > Dari Amru bin syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah SAW
> bersabda,†Orang Islam itu tidak dibunuh (diqishash) oleh sebab
> (membunuh)orang kafir†. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Tirmizy, Abu Daud)
> >
> > Hadits yang senada juga dari Abi Juhaifah dan diriwayatkan oleh
> Al-Bukhari, Ahmad dan ashhabus sunann kecuali Ibnu Majah.
> >
> > Jumhur Ulama : Qishash Harus Sekufu
> >
> > Sehingga wajarlah bila dalam bab qishash, para ulama jumhur sepakat
> mensyaratkan adanya takafu’ (kesetaraan) antara pembunuh dengan yang
> dibunuh. Setara dalam agama dan kemerdekaan.
> >
> > Maka bila seorang muslim membunuh seorang kafir, baik harbi atau zimmi,
> maka muslim itu tidak dibunuh secara qishahsh, sebab mereka tidak setara
> (sekufu) dalam agama. Sama halnya bila seorang tuan membunuh budak, maka
> tuan yang merdeka itu tidak dibunuh secara qishash.
> >
> > Namun ada satu yang menyendiri dalam masalah ini yaitu kalangan
> Al-Hanafiyah. Mereka tidak mensyaratkan urusan takafu’ ini, sebab mereka
> berangkat dari zahir ayatnya saja.
> >
> > Lebih jelasnya Anda bisa buka rujukan berikut :
> >
> >
> > Asyarhul Kabir Lidardir jilid 4 halaman 238 dan 231.
> >
> > Bidayatul Mujtahid jilid 2 halaman 391.
> >
> > Al-Qawanin Al-Fiqhiyyah halaman 345.
> >
> > Mughni Al-Muhtaj jilid 4 halaman 16.
> >
> > Al-Muhazzab jilid 2 halaman 173.
> >
> > Al-Mughni jilid 7 halaman 652 dan 658.
> >
> > Kasysyaaf Al-Qanna’ jilid 5 halaman 609.
> >
> > Siapa Yang Salah
> >
> > Tentang pertanyaan Anda bagaimana bila pembunuh yang muslim itu yang
> bersalah, maka pengadilan akan melihat apakah kasusnya dulu. Dan masalah
> kesalahan itu pun harus diteliti sejauh mana letak dan nilai kesalahannya.
> Ketika muslim itu membunuh kafir dan ternyata kafir itu dinyatakan tidak
> bersalah atau bersalah, maka pengadilan akan memprosesnya. Namun yang jelas,
> muslim itu tidak bisa dihukum qishash karena membunuh kafir, meski dia yang
> bersalah. Muslim itu bisa dihukum dengan membayar diyat dan lainnya namun
> tidak sampai dibunuh. Selian itu juga perlu diperhatikan apakah pembunuh itu
> termasuk sengaja, tidak disengaja atau mirip disengaja. Semua itu punya
> kajian khusus.
> >
> > Sedangkan bila kafir membunuh muslim dalam posisi kafir itu benar, perlu
> ditegaskan modus pembunuhannya. Apakah ketika dia membunuh muslim itu dalam
> posisi membela diri atau tidak ? Dan apakah juga termasuk pembunuhan
> sengaja, tidak disengaja atau mirip disengaja. Semua itu juga punya kajian
> khusus.
> >
> > 2. Jawaban Pertanyaan Kedua
> >
> > Dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan hilangnya nyawa
> manusia, hakim bisa meneliti motivnya. Adakah unsur kesengajaan atau semata
> kelengahan. Disini sekali lagi kita masuk kepada tiga jenis pembunuhan
> berikut ini.
> >
> > Jumhur ulama membagi pembunuhan menjadi tiga macam : pembunuhan disengaja
> (qatlul amd), pembunuhan setengah disengaja (al-qotlu syibhul amd) dan
> pembunuhan salah (al-qatlu al-khata').
> >
> > a. Pembunuhan Disengaja
> >
> > Pembunuhan disengaja adalah tindakan pelaku pembunuhan yang sengaja
> membunuh seorang manusia yang bebas darahnya, seperti seorang yang dengan
> sengaja membunuh dengan pistol atau senjata atau sarana lainnya. Qatlul Amd
> dapat terjadi dengan cara langsung atau dengan sebab, seperti merusak bagian
> penting mobil seseorang yang berakibat pada kematian sopirnya atau yang
> menaikinya. Banyak lagi bentuk pidana yang sifatnya tidak aktif atau biasa
> disebut al-jara-im as-salbiyah (Pidana Pasif) yang masuk pada pembunuhan
> disengaja.
> >
> > Jika lebih dari seorang terlibat dalam pembunuhan, sedang mereka sengaja
> melakukannya , maka kondisi tersebut masuk dalam pembunuhan disengaja dan
> setiap orang terkena sangsi pembunuhan disengaja.
> >
> > Pendapat tersebut diikuti sebagian besar Fuqaha dan pendapat Umar ibnul
> Khattab r.a.. Diriwayatkan oleh Said ibnul Musayyib bahwa Umar ibnul Khattab
> membunuh tujuh orang penduduk San'a yang membunuh satu orang dan berkata:
> >
> >
> > Jika penduduk San'a membangkang maka akan aku bunuh semuanya†(Riwayat
> Imam Malik Az-Zi'liy Nasbur Rayah 4/353)
> >
> > b. Pembunuhan Setengah Disengaja
> >
> > Pembunuhan setengah disengaja adalah pembunuhan yang dilakukan seseorang
> secara tidak sengaja dan tidak bermaksud membunuhnya tetapi hanya bermaksud
> melukainya, tetapi menimbulkan kematiannya.
> >
> > Perbedaannya dengan qatlul amd ada dua, yaitu pada niat atau maksud
> pelakunya dan pada sarana yang dipakai. Dalam qatlul amd pelaku memang
> bermaksud membunuhnya dan sarana yang dipakai pun secara dominan dapat
> digunakan untuk membunuh seperti; pedang, pistol dan lain-lain.
> >
> > Adapun al-qatlu syibhul amd pelakunya tidak berniat membunuhnya dan alat
> yang digunakannya biasanya tidak membunuh. Pendapat ini diyakini oleh jumhur
> ulama sebagaimana dalil hadits dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw.
> bersabda:
> >
> >
> > Dua orang wanita dari suku Hudzail saling bunuh. Seorang diantara mereka
> melempar dengan batu dan membunuhnya dan janin yang ada dalam perutpun
> meninggal. Maka orang-orang datang pada Rasul Saw. meminta fatwa. Kemudian
> beliau memutuskan bahwa bagi mereka yang membunuh terkena sangsi dengan
> membayar diyat anaknya seorang hamba lelaki atau perempuan dan memutuskan
> untuk membayar diyat wanita bagi keluarga si pembunuhnya.†(HR Bukhori)
> >
> > c. Pembunuhan Salah
> >
> > Tindakan pelaku pembunuhan yang tidak ada maksud membunuh dan tidak pula
> menyakitinya tetapi terjadi korban karena kesalahan. Dan pembunuhan salah
> disebut pidana sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an:
> >
> >
> > Tidak boleh seorang mukmin membunuh mukmin lain kecuali karena salah.
> Barangsiapa membunuh karena salah maka harus memerdekakan budak mukmin dan
> membayar diyat yang diberikan kepada keluarganya ….†(an-Nisaa: 92).
> >
> > Praktek Di Saudi Arabia
> >
> > Di KSA, umumnya kasus tabrak mati ini tidak diqishash, sebab ada unsur
> ketidfak-sengajaan. Maka kepada pembunuh itu diberikan kesempatan untuk
> membayar diyat atau tebusan. Secara hukum fiqih, nilainya adalah 100 unta.
> Dan tentu saja harus ada kerelaan dari pihak keluarga korban untuk menerima
> diyat itu.
> >
> > Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
> > Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
> >
>
>
> __________________________________________________
> Anda Ber-Yahoo!?
> Bosan dengan spam? Mel Yahoo! mempunyai perlindungan spam yang paling baik
> http://my.mail.yahoo.com
>
> 
>



-- 
Salam, Great Pretender

Kirim email ke